CHAPTER 7 ; Love in the air

1124 Words
CHAPTER 7 : Love in the air “Kau sudah sampai?” Alex menoleh dan mendapati seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Alex melembutkan raut wajahnya dan menjawab dengan anggukan. “Duduklah dulu, para pelayan masih menyiapkan hidangan. Aku tidak tahu kau akan datang sepagi ini” Sambut Martha dengan hangat. Karena orangtua Alex yang meninggal saat pria itu masih sangat muda, keluarga Soverall memiliki peran besar dalam merawatnya. Karena itu pula Alex bisa mengenal Jessica saat gadis itu masih sangat kecil. . Alex menuruti perkataan Martha untuk duduk, sementara matanya berkeliaran seakan mencari sesuatu. Martha tersenyum kecil saat melihat hal tersebut, “Jessica sudah bangun, dia sedang belajar dikamarnya.” Ucap Martha sembari memperbaiki posisi duduknya agar lebih condong pada Alex. “Kau tahu, akhir akhir ini dia belajar terus menerus, bahkan aku mendapat laporan dari sekolahnya bahwa beberapa guru mengadakan tes ulang untuknya karena mengira dia berlaku curang, but you know what? Putriku memang jenius! Dia mencapai nilai sempurna setelah berkali kali mengulang tesnya” Alex terkekeh, ia tidak terkejut dengan hal tersebut karena ia sudah lebih dulu mengetahuinya. Tentu saja seluruh anak buahnya harus langsung memberitakan semua hal yang menyangkut Jessica secepat mungkin. Bayi perempuannya memang yang terbaik. Martha yang sudah biasa berbicara ‘sendiri’ dengan Alex melanjutkan perkataannya, “Dan melihat hubungan kalian yang semakin membaik membuatku semakin bahagia” Alex menerbitkan senyumnya. Diapun sangat bahagia. “Ah! Mengapa aku menahanmu disini?! Pergilah, kau tahu dimana kamar Jessica kan? Bila tidak ada jawaban saat kau mengetuk pintunya maka masuk saja, dia sama seperti orang tuli saat sedang belajar dan mengenakan earphone-nya” lanjut Martha dengan gerutuan. Alex terkekeh pelan lalu mengangguk, “Terima kasih” ucapnya seraya bangkit dari duduknya. . Tok tok tok.. Persis seperti yang dikatakan Martha, tidak ada jawaban. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya Alex memutuskan untuk memasuki pintu bercat broken white tersebut. Sebelum ia menekan kenop pintu ia menatap sebuah tulisan yang dibuat dengan sangat elegan, berbanding terbalik dengan isinya. Tutup pintu setelah membukanya! Atau kusumpahi kau memiliki bisul!! Alex terkekeh lalu menekan kenopnya. Setelah memasuki kamar Jessica yang suhu udaranya lebih rendah dibanding diluar ia segera menutup kembali pintunya. Tentu saja ia tidak ingin memiliki bisul atau sejenisnya. “Jessica?” Panggil Alex. Kamar Jessica memang luas, jadi saat ia memasuki kamarnya ia tidak dapat langsung melihat kasur dan lainnya. Yang ia lihat hanyalah lorong penuh dengan kaca full body, dibagian kiri terdapat sebuah pintu yang lumayan besar sedangkan di bagian kanan barulah terlihat tempat tidur dan barang lain yang biasa dijumpai di kamar seorang gadis. Tidak jauh dari tempat tidur dengan sprei soft mocca, Alex dapat melihat buku berserakan dan Jessica yang tengah fokus mengerjakan sesuatu. Alex mengintip dan melihat bahwa Jessica sedang mengerjakan soal Matematika. Ia tidak bisa menahan kekehannya saat mendengar dumelan Jessica saat ia lupa salah satu rumus. “Kau harus mengkalinya terlebih dahulu dengan ini lalu setelah itu kau menjumlahkan semuanya” “AHHH!!!!” ** Jessica mengerutkan dahinya saat ia lupa salah satu rumus dasar matemtika. Sungguh bagaimana bisa ia mengingat semua rumus sulit dan melupakan yang mudah?! “Kau harus mengkalinya terlebih dahulu dengan ini lalu setelah itu kau menjumlahkan semuanya” “AHHH!!!!” Mendengar suara bariton tepat disebelah telinganya dan sebuat tangan besar yang tiba-tiba terjulur, Jessica hampir saja terjengkang.   “Kau… astaga aku hampir terkena serangan jantung!!” Pekik Jessica sembari melepas earpods-nya. Jessica dapat melihat raut khawatir dan bersalah, “Maaf aku benar benar tidak bermaksud membuatmu terkejut, aku hanya ingin membantumu” Jessica tidak menjawab, ia sedang fokus menenangkan jantungnya. Bukan hanya karena terkejut namun ia juga malu! Sungguh siapa yang mengizinkan mereka dalam satu kamar seperti ini!! “Apa kau baik baik saja?” tanya Alex sembari menarik tangan Jessica yang semula berada di dadanya. Jessica terkekeh untuk mencairkan suasana. “I’m okay” Sebelum Alex lebih khawatir Jessica lebih dahulu mengalihkan pembicaraan. “Kau sudah sampai? Aku tidak tahu kau akan sampai sepagi ini” ucap Jessica sembari melihat jam dinding yang menunujukan pukul 9 pagi. Alex mengangguk sekilas, “Pekerjaanku selesai dengan cepat” Masih dengan posisi Jessica terduduk dan Alex yang masih berdiri, gadis itu meraih tangan Alex agar ia mensejajarkan tinggi mereka. Tangan kanan Jessica meraih wajah lelaki dihadapannya itu . “Kau terlihat kelelahan, mengapa tidak beristirahat dahulu?” Ucapnya khawatir. Binar bahagia langsung muncul di wajah tampan pria itu, sesaat setelah Jessica mengutarakan kekhawatiran-nya. “I’m fine, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu sebelum kau melaksanakan ujian” ucap Alex. Jessica terkekeh lagi, “Akhir akhir ini kosa katamu terus bertambah” Tanpa menunggu jawaban, Jessica menyeret pria itu menuju kasurnya. “Tidurlah terlebih dahulu, aku tahu kau kurang tidur” ucap Jessica. “Aku datang kesini bukan untuk tidur J” Balas Alex yang kini sudah duduk ditepi ranjang Jessica. “Tapi tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang. Jam makan siang masih 3 jam lagi, dan aku harus melanjutkan latihan soalku” Bujuk Jessica. “Aku bisa membantumu” ucap Alex dengan cepat. Jessica terdiam sebentar. Ia memang ingin Alex membantunya belajar, kapan lagi ia bisa belajar dengan pria pintar dan tampan secara bersamaan? Jessica segera menggeleng saat pikiran kotor mulai memasuki otaknya, Alex harus istirahat sekarang! “Baiklah, bagaimana bila aku mengerjakan Latihan soalnya terlebih dahulu dan kau akan menilai hasilnya?” Tawar Jessica. Alex terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk patuh. Jessica tersenyum lalu membantu Alex membuka jasnya, “Tidurlah sembari menungguku mengerjakan soal, aku tahu kau lelah” Ucap Jessica lembut. “Aku akan berbaring sebentar lalu membantumu” balas Alex. . Jessica terkekeh saat melihat wajah polos Alex yang tertidur seakan semua raut dinginnya itu tidak pernah ada. Saat ini Jessica sudah menyelesaikan semua soalnya dalam waktu 1 setengah jam dan dalam kurun waktu itu pula Alex telah berada dalam alam mimpinya. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jessica dan gadis itu benar-benar ingin segera membicarakannya dengan Alex. Pada awalnya Jessica memaklumi bila Alex kelelahan karena pekerjaannya, memang tidak mudah menjadi orang sukses, apalagi Alex mempertahankan bisnisnya sendiri tanpa relasi keluarga lainnya. Jessica memaklumi hal tersebut, hingga beberapa menit yang lalu ia teringat sesuatu. Darius…. Nama itu tiba-tiba terus berputar di otaknya. Darius adalah alasan dibalikk penurunan kinerja perusahaan Alex dimasa depan. Dan untuk pertama kalinya perusahaan Alex terancam bangkrut karena ulah Darius. Tapi Jessica hanya mengetahui sebatas nama, ia bahkan tidak tahu apa yang membuat Darius sangat membenci Alex. Meskipun ia berasal dari masa depan namun itu tidak menghapus kenyataan bahwa ia tidak memiliki informasi lengkap. Diperkiraannya, saat ini Alex belum mengetahui dalang sebenarnya dari korupsi besar besaran di salah satu cabang terbesar perusahaannya di negara N. Darius belum bergerak, tapi pionnya sudah mampu membuat Alex kualahan. ‘Siapa dia sebenarnya?’ *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD