"Ya aku tau Di kita akan nikah, tapi bagaimana lagi ini adalah tugasku," kata Hendra.
Benar kata Hendra, ini adalah tugasnya dan tak ada alasan untuk menolak hal itu. Bagaimanapun dia harus melaksanakan tugasnya walau ada angin p****g beliung sekalipun. Raganya adalah milik negara dan aku entah menjadi nomor keberapa dalam hidupnya.
Satu resiko yang harus aku terima karena aku telah berani menjadi pasangan dari seorang abdi negara. Ya, resiko yang benar-benar membuatku mau tak mau harus merelakan semua waktu kebersamaan dan bahkan saat tanggal pernikahan sudah ditentukan yang hanya tinggal menghitung bulan saja.
Dulu saat bersama Wilman aku tak merasakan semua resiko ini. Tapi kali ini aku benar-benar merasakan resiko menjadi pasangan seorang abdi negara.
"Di ...," terdengar suara Hendra yang begitu halus dan lembut hingga membuatku harus menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan.
"Ya Hen aku tahu, maaf ...," kataku entah antara menyesal atau kecewa karena usahaku untuk menahan kepergian Hendra gagal.
"Ni bukan salahmu, aku mengerti bagaimana perasaanmu Di," kata Hendra lagi.
Andai saja saat ini Hendra ada di hadapanku, maka aku pasti sudah memeluknya dengan erat dan membasahi dadanya dengan tangisanku. Ya, menangis sepertinya akan menjadi satu jalan yang sangat mudah untuk melepaskan semua kerinduanku, kekecewaanku, dan semua rasa yang ada di hatiku.
Tapi sayang sekali, walau Hendra ada di sampingku pun, sisi lain dari diriku akan menolak untuk melakukan hal tersebut. Bagaimanapun aku harus terlihat tegar dan kuat saat dia akan pergi bertugas.
Dan lagi, akhirnya aku hanya dapat menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Bagaimana pun aku harus mampu menghadapi semua resiko atas keputusan yang ku ambil ini.
"Tidak apa Hen, semua sudah resiko yang harus aku hadapi," kataku sambil berusaha mengikhlaskan semuanya.
"Ya sudah aku tutup dulu, aku harus menyiapkan semuanya," kata Hendra yang langsung menutup telponnya.
Kini aku hanya bisa merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit bercat putih.
Perlahan aku coba memejamkan mataku untuk menerima sebuah kenyataan yang sepertinya akan lebih sering aku alami saat telah menikah nanti.
Aku baru saja akan memejamkan mataku saat tiba-tiba ponselku berbunyi dengan sangat nyaring. Aku sudah mengira jika itu adalah telpon dari Hendra, tapi ternyata aku salah, itu adalah telpon dari Ria.
"Ya Ri," sapaku saat mengangkat telpon darinya.
"Liburan yuk ke Pulau Z," kata Ria tanpa basa-basi sedikit pun.
"Liburan? Mau sih tapi aku kan sudah kerja Ri, mana bisa aku meninggalkan pekerjaanku," tolakku karena mengingat jika aku memiliki satu tanggung jawab yang harus aku laksanakan.
"Cuti saja paling kita di sana hanya seminggu saja Di," bujuk Ria.
"Ya ... gimana ya Ri, gak enak soalnya kalau aku cuti selama itu," jawabku yang masih saja mencoba untuk menolak ajakan Ria.
"Ayolah, sebelum kamu nikah sama Polisi itu, kita habiskan waktu sama-sama sekedar cuci mata atau berjemur di pantai," kata Ria yang masih berusaha memaksaku untuk ikut bersamanya.
Ria memang tidak bekerja, dia memilih untuk bekerja pada keluarganya hingga dia dapar cuti sesering yang dia mau. Sedang aku, walau aku bekerja pada restoran milik Hendra, aku tetap menjunjung profealsionalisme kerja. Aku tak boleh seenaknya hanya karena aku adalah calon istri pemilik restoran, aku harus tetap memposisikan diri sebagai karyawan yang baik.
Tapi apa salahnya jika aku berlibur sejenak dan melupakan semua tekanan batin yang aku rasakan karena Hendra akan pergi bertugas? Lagi pula benar kata Ria, mumpung aku belum menikah dan belum di sibukkan dengan kegiatan Ibu Bhayangkari, rumah, dan restoran.
"Aku telpon dulu calon suami dan Bosku," kataku setelah terdiam beberapa saat.
"Lagamu telpon Bos, yang jadi Boskan calon suamimu sendiri Di," kata Ria dengan sedikit bercanda.
Aku sedikit kaget saat mendengar perkataan Ria. Bagaimanapun aku tak pernah mengatakan kepada siapapun jika Hendra adalah pemilik restoran tempatku kerja. Tapi dari mana Ria tahu semua itu?
"Dari mana kamu tahu semua itu Ri?" tanyaku kaget.
"Tahulah, aku pernah datang ke resto tempatmu kerja dan saat itu kamu lagi sama Hendra sambil ngasih beberapa petunjuk," jawab Ria.
Ya, tidak jarang aku dan Hendra memberi pengarahan kepada para karyawan mengenai pelayanan atau hal lainnya. Biasanya hal itu kami lakukan saat Hendra sedang lepas tugas.
"Ya sudah aku telpon Hendra dulu dan meminta izin padanya," kataku yang langsung menutup telpon dari Ria.
Aku tidak lamgsung menelpon Hendra. Aku hanya menatap nomor kekasih hatiku. Aku terlalu takut jika telponku akan menganggu dia yang sedang bersiap.
Sebenarnya tidak izin pun tak masalah karena Hendra pasti akan mengizinkanku untuk pergi berlibur. Ya, aslinya pekerjaanku tidak mengikatku, bahkan Hendra membolehkanku untuk tidak masuk kerja jika aku sedang tidak mau bekerja.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Hendra agar bisa di balasnya ketika dia sedang santai.
"Hen, Ria ngajak aku liburan ke pulau Z selama seminggu, boleh gak kalau aku ikut sama dia liburan ke pulau?"
Setelah mengirim pesan itu, aku segera menyimpan kembali ponselku di atas tempat tidur karena aku tahu jika Hendra pasti akan lama membalasanya. Tapi ternyata aku salah karena beberapa menit kemudian ponselku berdering menunjukkan ada panggilan baru masuk dan itu dari Hendra.
"Ya Hen," kataku saat mengangkat telponnya.
"Kamu beneran mau liburan ke pulau?"
"Ya hanya jika kamu mengizinkanku Hen."
"Hanya berdua sama Ria?"
"Gak tahu sih soalnya dia gak bilang apa-apa."
"Ya boleh sih asal kamu jaga diri baik-baik di sana."
"Lalu Resto?"
"Gak apa-apa kan ada anak-anak ini, nanti biar aku telpon anak-anak supaya kerja yang bener."
"Ya Hen, soal keuangan bisa aku kontrol dari laptopku."
"Kamu kan lagi liburan, gak usah kontrol-kontrol kerjaan!"
"Gak apa-apa Hen."
"Ya sudah bagaimana kamu saja. Aku tutup dulu ada kerjaan."
Setelah Hendra menutup telponnya aku hanya dapat terdiam membisu. Bukan karena Hendra mengizinkanku liburan, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang Hendra sembunyikan dan ada kekhawatiran saat dia tahu jika aku akan berlibur ke pulau Z. Tapi aku sendiri tak tahu apa tu.
Aku ingin bertanya, tapi pasti Hendra tak akan menjawabnya dan dia akan mengelak semua pertanyaanku dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan tak ada yang dia sembunyikan dari. Tapi entahlah, rasa ini begitu kuat hingga membuatku benar-benar tak nyaman dengan semua pemikiranku.