Setelah Allice mendengarkan ucapan kakeknya dari kalung pemberiannya. Allice pun memikirkan apa yang Raja bicarakan kepadanya tentang kutukan penyihir.
"Apa ada kaitannya dengan kalung ini?" Tanyanya dengan memegang kalung yang ia kenakan. Dirinya pun kembali untuk beristirahat.
Malam ini Allice beristirahat tidak tenang, dirinya gelisah dengan kembali terbangun dan berjalan menuju ruang tengah. Ada suara dari luar rumah dengan beberapa sinar dari dalam hutan.
"Sinar apa itu? Kenapa malam-malam seperti ini ada sinar dari dalam hutan," Allice memperhatikan sinar tersebut dari dalam rumah, tak ada satupun orang di rumah padahal sebelum beristirahat ia masih mendengar Viscount dan Raja berbincang di ruangannya.
Allice pun keluar dari dalam rumah, menyusuri hutan dan mendekati asal cahaya yang bersinar dari dalam hutan. Hanya ada suara pria yang terdengar memanggil nama Raquel.
"Dia wanita yang kumaksudkan, Allice akan melepaskan kutukan, hanya ia yang tahu cara melepaskan kutukannya," ucap Raquel di hadapan John yang berdiri di hadapannya.
Melihat Raquel berdiri di hadapan John membicarakan wanita yang ia maksudkan di Kota Aster.
Allice pun berlari ketika melihat Raja John Bennedict berbicara dengan Raquel. Seorang wanita dewasa yang kini berbicara di hadapan John Bennedict.
"Jangan sakiti Raja kami, jangan sakiti Yang Mulia Raja," Allice mendekati Raquel dengan menghalangi Raja John Bennedict.
"Allice, jangan kemari. Biarkan ia berbicara denganku," Raja mencoba melindungi tubuh Allice dari Raquel yang saat ini berada di hadapannya.
Allice pun melepaskan kalung yang ia pakai dengan mengeluarkan sinar terang. "Ini, kau menginginkan kalungnya. Aku tahu kau menginginkan kalungnya. Ini adalah pemberian kakekku, aku tahu kau menginginkan kakekku. Tapi jangan pernah menyakiti Yang Mulia Raja."
"Allice, pergilah kembali ke rumah. Kau jangan disini," teriak Raja John di hadapan Raquel.
Raquel pun mengambil kalung yang diberikan oleh Allice. Kalung dengan berisikan Arlion, kalung tersebut berubah menjadi cahaya berwarna putih dengan sosok pria tampan di hadapannya.
"Kakek, apakah ini kakek?" Tanya Allice di hadapan Raquel.
Seorang pria menggenggam jari jemari Raquel di sana, wajahnya tersenyum dengan menatap wajah Allice. "Terimakasih Allice. Berkatmu kami bersatu kembali."
Cahaya Raquel dan Arlion pun menghilang setelah Allice memberikan kalung tersebut. Tak lama kemudian Raja John Bennedict terjatuh di atas rerumputan.
"Yang Mulia Raja."
Beberapa penjaga pun tidak sadarkan diri di sekeliling Allice termasuk Viscount Miguela.
Tak lama hawa kantuk dari Allice pun datang. Allice pun tak sadarkan diri dengan jatuh pingsan di sisi Raja John Bennedict.
Dua hari kemudian.
Beberapa pelayan tengah mempersiapkan beberapa gaun dan juga beberapa hiasan untuk Allice.
Setelah ia memberikan kalung miliknya kepada Raquel dan melepaskan kutukan dari Raquel kepada John Bennedict.
"Selamat pagi Tuan Putri Allice. Hari ini adalah hari pernikahan anda dengan Pangeran Jorsh," ucapan dari salah satu pelayan membangunkan Allice saat ini.
Allice pun menyipitkan pandangannya dengan memeriksa sekeliling ranjang, mendengar beberapa suara yang berbicara akan pernikahan. Tak lama Allice pun terbangun dari tidurnya, "Pernikahan?"
"Benar Tuan Putri Allice. Anda akan menikah bersama Pangeran Jorsh. Pernikahan anda akan berlangsung hari ini bersamaan dengan pernikahan Yang Mulia Raja John bersama Tuan Putri Isabel."
"Pernikahan? Kenapa aku berada di kamar yang mewah seperti ini?"
"Selamat datang di Agresia Tuan Putri Allice. Anda akan menikah bersama Pangeran Jorsh, kami di tugaskan untuk membantu Tuan Putri Allice berhias."
Allice pun pasrah di dandani oleh beberapa pelayan yang menghiasi dirinya.
Tak lama pesta pernikahan berlangsung.
Dari jauh Raja Amung melihat pernikahan keduanya. Senyumannya terlihat ketika ia melihat Allice memakai gaun disana.
Para Peri Andeleusia mengelilingi Raja Amung yang melihat Allice dari jauh.
"Kenapa anda tersenyum Yang Mulia Raja? Sedangkan Allice menikah dengan Pangeran Jorsh."
"Ia akan selalu menjadi milikku, lagipula tidak akan bertahan lama, karena Allice selalu menjadi milikku," ucap Raja Amung dengan menyaksikan pernikahan keduanya.
"Tapi saat ini ia menjadi istri Pangeran Jorsh," jawab beberapa Peri Andeleusia mengelilingi tubuh Raja Amung.
"Allice akan selalu menjadi milikku walaupun ia bersama pria lain," jawabnya kembali dengan menjawab beberapa Peri Andeleusia.
Tak lama Raja Amung pun kembali ke Wilayah Andeleusia bersama para Peri Andeleusia.
Beberapa keluarga bangsawan menyambut bahagia pernikahan Yang Mulia Raja John dan juga Pangeran Jorsh.
"Terimakasih Allice, karena sudah menyelamatkan Yang Mulia Raja. Yang Mulia Raja pun sudah setia bersamaku," ucap Isabel menatap wajah Allice.
"Maafkan aku Allice, aku tidak bisa menikahimu. Tapi kau sekarang bersama Pangeran Jorsh, setelah ini ia akan menjadi Raja di Afresia. Aku akan bersama Isabel di Kerajaan Agresia."
Pangeran Jorsh tersenyum ketika melihat Allice yang saat ini menjadi istrinya.
**
Beberapa pohon berbicara dengan menghibur Raja Amung, salah satu Pohon Andeleusia mengeluarkan sinar untuk membuat Raja Amung selalu bahagia.
Raja Amung berjalan melewati beberapa pohon menuju pohon besar Andeleusia. Ketika bersedih beberapa rumput pun layu setelah Raja Amung melewatinya. Para Peri Andeleusia mengembalikan rumput layu tersebut kembali seperti semula.
"Jangan bersedih Yang Mulia Raja. Lagipula perjalanannya memang seperti ini. Anda sudah menunggunya dengan sangat lama, reinkarnasinya terlahir kembali," ucap salah satu pohon yang berbicara kepada Raja Amung.
Para Peri Andeleusia pun bernyanyi untuk Raja saat ini. Menghibur Raja karena mate abadinya menikah bersama pria lain, "Ia adalah wanita yang di takdirkan untuk anda. Anda jangan bersedih Yang Mulia Raja. Kami tahu anda tersenyum tetapi hati anda terluka, bagaimanapun Allice adalah mate abadi Yang Mulia Raja Amung."
"Benar, ia adalah mate abadi Yang Mulia Raja Amung. Mulai sekarang Allice akan selalu bisa melihat peri, ia tidak boleh berlama-lama bersama Pangeran Jorsh," ucap salah satu Peri Andeleusia yang terbang mengelilingi Raja Amung.
"Kalian berisik sekali, istriku menikah dengan pria lain. Ia sudah bereinkarnasi bagaimanapun ia adalah istriku. Ini karena Raquel, ia menginginkan Arlion, bagaimanapun Allice adalah milikku," Raja Amung kembali bersedih dengan berdiri di sisi pohon andeleusia.
Para Peri Andeleusia pun menatap wajah Raja Amung, mereka mengambil beberapa bunga untuk Raja Amung supaya Raja Amung tidak bersedih, "Yang Mulia Raja jangan khawatir, kami para peri akan membawa Allice untuk anda. Ia adalah reinkarnasi mate abadi Yang Mulia Raja Amung."
"Apalagi Yang Mulia Raja Amung sudah menunggu puluhan ribu tahun, selama ini ia selalu sendiri dan sekarang mate abadinya menikah dengan Pangeran lain, Pohon Andeleusia harus memberikan berkat kepada Yang Mulia Raja Amung, jangan pernah membuat Yang Mulia Raja Amung bersedih," ucap para Peri Andeleusia yang beramai-ramai mendatangi pohon andeleusia yang saat ini mengeluarkan sinar.
"Kalian menyuruhku memberikan berkat kepada Yang Mulia Raja? Lagipula ia akan datang ke Andeleusia. Ia akan bertemu dengan anda Yang Mulia Raja Amung."
"Anda lihat kan Yang Mulia Raja, anda memiliki ikatan bersama Allice, jadi anda jangan pernah bersedih, ingat perkataan pohon andeleusia, ia akan datang untuk anda," beberapa peri pun kembali terbang dengan mengeluarkan sinar di hadapan Raja Amung.
Dari jauh Raquel datang dengan mendekati Raja Amung. Ia tahu bahwa Amung pasti akan bersedih melihat Allice harus menikahi Pangeran Jorsh terlebih dahulu.
"Kau tahu, siklus reinkarnasi Allice memang seperti ini. Jangan bersedih Amung. Ia akan bersamamu setelah siklus perjalanan bersama Pangeran Jorsh sudah selesai."
Raja Amung berjalan beberapa langkah menjauhi Raquel, dirinya berbicara dengan nada datar. "Aku selalu mengalah, bahkan wanita yang di takdirkan untukku bersama pria lain. Bagaimanapun ia adalah milikku, selama ini aku menunggunya. Ia adalah milikku, Raquel."