PART 1

1321 Words
Jam beker berdering nyaring, bersahut-sahutan dari beker dekat nakas sampai jam yang tergantung di dinding. Semuanya berbunyi secara bergantian setiap satu menit. Tetapi tidak mengusik tidur nyenyak seseorang yang masih terbuai dalam mimpinya. Pintu terbuka menampilkan sosok anak kecil sekitar usia 7 tahun memasuki kamar tersebut. Kedua tangannya menutupi telinga karena sungguh suara jam beker itu bisa buat kuping jadi budek. Dengan tergesa dia menuju ranjang seseorang yang masih tertidur. Anak itu berdecak, bagaimana mungkin dari 10 jam beker yang terpasang tidak bisa membangunkannya. Kakaknya ini benar-benar pemalas. Kemudian anak itu mengambil segelas air di atas nakas dan dengan sekuat tenaga dia menyiramnya ke wajah gadis yang masih tertidur lelap. Mamanya pernah bilang kalau mau membangunkan kakaknya ini harus pakai strategi, karena walaupun sudah disiram segelas air gadis ini tidak akan bangun. Maka ambillah satu gayung air, kalau masih tidak bangun, ambil seember air, kalau masih tidak mempan minta bantuan pak satpam untuk mengangkat gadis ini lalu ceburkan ke laut. Dan mungkin hari ini Tuhan sedang berbaik hati padanya, karena gadis itu langsung gelagapan saat air itu menyiram wajahnya. Padahal dia sedang mimpi indah, yaitu bermimpi tengah berciuman dengan Ian Somerhalder, aktor favoritnya. "Ahhhh..... Iaan!!" jeritnya. "Udah jam 7. Dasar kebo!" balas sang adik juga menjerit. "Apa...??!!" Tanpa pikir panjang gadis itu langsung turun dari kasur. Tapi yang turun bukan kakinya dulu melainkan badannya. Gadis itu terjungkal ke depan dan sukses mendarat ke lantai dengan sempurna. "Aahh... Sial. Siapa yang membelit kakikuuu??!!” Anak kecil itu hanya tertawa melihat tingkah konyol kakaknya. Dengan sekuat tenaga gadis itu melepas belitan selimut di kakinya lalu berdiri, dan segera memasuki kamar mandi. Sang adik yang bernama Disa ini hanya melihatinya masih dengan sisa tawa, dia lalu beranjak keluar kamar kakaknya ketika mendengar suara keras dari dalam kamar mandi. Gubraaak!!! Sontak langkahnya terhenti, beberapa saat kemudian. "Aaahh... Siapa yang naruh bath up disini??!!" teriak suara dari dalam. Disa semakin tertawa terbahak. Oh, astaga, kakaknya memang gila. *** Cewek itu berlari sepanjang jalan, karena hari ini dia telat. CATAT, TELAT. Sengaja di capslock biar kalian tahu rasanya terlambat tuh gimana. Semua ini terjadi gara-gara Diva nekat ikut trek-trekan sampai tengah malam. Apalagi di rumah dia juga harus mendapat amarah habis-habisan dari papa soal kelakuannya yang ini ketahuan olehnya. Nasib jadi anak nakal memang. Alhasil, sekitar pukul tiga pagi Diva baru bisa menyentuh kasur. Setelah papa menungguinya mengerjakan tugas sekolah sampai selesai, sebagai bentuk hukuman atas kenakalan anak itu. Dan inilah dampaknya, Diva berlari menuju sekolah. Segala macam fasilitas untuk dia dicabut oleh papa selama sebulan. Huh, menyebalkan. Untung dia masih diberi uang saku, walaupun hanya cukup untuk jajan bakso semangkuk dan es teh. Sudahlah yang penting sekarang harus cepat sampai ke sekolah. Dia melirik jam tangan putihnya dan di sana menunjukkan pukul... "Astaga. Telat bin banget!" serunya mempercepat lari. Karena hari sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Lalu gadis itu berbelok ke sebuah tikungan, di sana terdapat pangkalan ojek langganannya. Dia melihat uang di saku kemeja, ternyata hanya cukup untuk ongkos ojek pulang pergi. Tidak apalah nanti dia bisa nodong uang teman-teman atau adik kelas. Good idea. Sebenarnya Diva tidak masalah dengan terlambat begini. Sudah biasa dilakukan. Bolos, terlambat, tidak mengerjakan tugas dan sederet kenakalan lain pernah dilakukan. Keluar masuk ruang BP sudah biasa banget. Malah sampai khatam sama ceramahnya Ibu BP bila sedang menghukumnya, yang kebanyakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dan sekarang alasan utama kenapa dia harus cepat ke sekolah adalah... Bukan, bukan karena gebetan. Tapi karena hari ini adalah hari dimana kepala sekolah baru akan bekerja. Dan karena hal itulah Diva akan memberi kesan baik padanya, sebelum orang itu tahu kelakuan aslinya. Tapi sepertinya rencana itu gagal karena dia telat. Yah, hidup kadang tidak sesuai dengan ekspetasi. Kepala sekolah yang lama sudah purna alias pensiun, maklum sudah tua atau jangan-jangan beliau tidak betah menghadapi bebal muridnya itu? Sepertinya begitu. Karena Diva sudah sering membuat orang-orang tua di dekatnya jantungan. Durhaka banget, ya. But, this is me. Kata Diva begitu. Tidak ada alasan khusus, keluarganya baik-baik saja. Dia bukan dari keluarga broken home, apalagi ABG yang broken heart. Dia hanya menyukai hidup yang penuh dengan tantangan. Dan hidup diluar batas toleransi masyarakat adalah tantangan untuknya. Makanya tak heran bila dia tercetak seperti ini. Walaupun begitu Diva tidak menganut free s*x, no drug, no alcohol, no smoke and etc. Karena baginya hal itu akan merusak masa depannya sebagai putri bangsa yang kelak akan membanggakan negara ini. Yah, impian yang sangat mustahil. Kembali ke realitas, Diva sudah sampai di pangkalan ojek. Tanpa berkata apa pun gadis itu langsung naik ke salah satu motor. Bang ojek tersentak kaget karena ulahnya. "SMA 1 BP. Tancap!!" katanya menyuruh. "Dasar neng lelet." cibir tukang ojek yang sudah mengenalnya. Lalu bang ojek tancap gas melaju dengan kecepatan penuh. Sesuatu yang sangat disukai Diva. *** Gadis itu berlari menuju ke koridor utama sekolah dengan keringat bercucuran, napas tersengal, dan lelah yang luar biasa. Bagaimana akhirnya dia bisa masuk ke lingkungan sekolah? Inilah bakatnya sebagai anak nakal yang pasti bakalan mendapat juara satu bila mengikuti lomba lompat tinggi. Yap, dia memanjat gerbang sekolah yang tingginya ngalahin tembok berlin. Nggak. Nggak. Bohong. Yang pasti skill memanjatnya ini sudah terasah baginya. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Diva memanjat lewat gerbang depan dan bukannya pintu belakang sekolah? Karena ada dua alasan (1) Mas-mas security yang jaga tidak ada di pos. (Bodo amat terekam CCTV). (2) karena upacara sudah selesai. Jadi, dia berani menyelinap ke sekolah tanpa ketahuan.             Dia terus berlari menuju halaman karena kebetulan kelasnya berada di ujung sana yaitu XII IPS 2, cocok banget memang, sudah bengal, rajin bolos, g****k, anak IPS pula. Mungkin inilah kenapa anak IPS sering dilabel yang jelek-jelek. Dia berhenti di tengah lapangan sambil membungkuk mencoba mengambil napas yang hampir habis karena terus berlari. "Saya baru tahu di sekolah ini ada siswa yang suka terlambat secara terang-terangan." ucap sebuah suara bariton dengan nada yang tajam dan keras. Diva tersentak mendengarnya, kemudian gadis itu mendongak untuk melihat siapa pemilik suara itu. Dan dia sungguh sangat menyesal kenapa harus melewati halaman, karena ternyata upacara belum selesai. Diulangi lagi biar gereget. UPACARA BELUM SELESAI!! Silakan kalian copypaste. Yang pasti saat ini muka Diva sudah merah, kayak tomat yang lagi matang-matangnya atau mungkin busuk. Karena kepiting rebus sudah terlalu mainstream. Astaga, cewek secantik itu disamain dengan tomat busuk! Diva hanya menyengir menatap pria di depannya. Yang dia yakin itu pasti guru baru, tapi kok penampilannya beda sendiri, ya? Selanjutnya dia melihat sekeliling, tawa-tawa tertahan terpancar dari wajah para siswa yang sudah keringatan, kucel dan jelek banget. Lalu pandangannya beralih ke pria yang masih menatap tajam dirinya. Ya ampun, dia ganteng banget Tuhan. Diva melirik ke standmic di depan lelaki itu, pantas suaranya keras pakai mic ternyata. "Kamu. Kemari!" Diva terkejut, akhirnya gadis itu menuruti perintah untuk maju sampai di depannya dengan kepala tertunduk. Kali ini dia akan mencoba menjadi siswa baik-baik. "Radiva Maharani." katanya membaca name tag pada kemeja sang gadis. Diva hanya diam tidak menanggapi sambil tetap menunduk, jujur orang ini punya aura membunuh alias sense of killing yang bikin bulu kuduk merinding. Dan karena itulah Diva sedikit takut padanya. "Lihatlah saya!" ucap pria itu tegas. Dengan perlahan Diva mendongak, dan lagi-lagi dia harus menyesal menatap pria ini. Bukan, bukan karena jelek, tapi ini orang ganteng banget. Serasa lihat Chico Jericco dan ini tiruannya, tapi sayangnya cowok ini galak. Dan sepertinya Diva pernah melihat dia. Tapi dimana, ya? Yang pasti bukan di TV. Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya, mengingat pernah bertemu orang ini apa belum. Ketika sebuah suara membuyarkan lamunannya, "Karena saya masih baru disini. Kamu saya beri hukuman yang ringan." ucap pria itu sambil tersenyum. Senyum yang mengandung banyak makna, astaga kenapa Diva jadi merinding dan berdebar tidak karuan begini? Dia hanya diam menunggu apa yang akan diucapkan oleh pria itu, "Kamu saya hukum untuk membersihkan ruangan saya, ruang guru, ruang TU, baik itu menyapu, mengepel dan jendela-jendelanya juga harus dibersihkan." Dan karena kalimatnya ini, cewek itu merasa ingin pingsan di tempat. Serius!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD