PART 2

1877 Words
    Ini penyiksaan! Benar-benar penyiksaan! Orang itu, yang ternyata adalah Kepala Sekolah baru di sini dengan kejamnya menghukum Diva untuk membersihkan ruangannya, dan ruangan para guru. Astaga! Padahal ruangan tersebut luas sekali. Apalagi ruang guru dua kali lebih luas dari lapangan bola —mungkin, tidak pernah dihitung juga—, tetapi yang pasti membersihkan ruangan tersebut sungguh menguras tenaga. Membuat badan gadis itu remuk, Diva merasa sudah seperti nenek-nenek sakit pinggang karena kelamaan membungkuk, dampak dari hukumannya ini. Dan ini semua gara-gara headmaster sadis itu. Huh, headmaster sialan! Berbagai macam sumpah serapah Diva tujukan ke Kepala Sekolah yang sok itu —tentunya dalam hati—. Kesal setengah mati, baru juga sehari sudah bikin susah orang. Bagaimana nanti kalau sudah seminggu? Sebulan? Setahun? Atau bahkan mungkin selamanya? Oh, dia pasti akan mati berdiri. Dan lagi, saat gadis itu membersihkan ruang guru dengan sengaja para guru mengotori kembali lantai yang sudah dibersihkan sehingga Diva harus membersihkan kembali. Mereka senang banget kayaknya karena Diva melakukan hukuman ini. Biasanya bila sedang dihukum dia pasti akan kabur dan lolos dari hukuman, walaupun keesokan harinya diuber-uber lagi. Ya ampun, dia benci dengan kepsek itu. Sangat! Iya memang ini salahnya, tapi seharusnya dikira-kira, dong. Tadi saja siswa yang telat cuma disuruh hormat pada bendera kebanggaan sampai jam istirahat. Nah, Diva? Sungguh kejam dunia ini. Apa dia kelewat nakal banget ya sampai segininya? Halah sudahlah yang penting sekarang pekerjaannya cepat selesai dan dia bisa pulang, menjatuhkan diri di tempat tidurnya yang empuk. Dia benar-benar lelah, Tuhan. Dan sekarang sudah ia putuskan bahwa orang itu, Kepala Sekolah yang kejam itu, resmi jadi musuhnya. CATAT! MUSUH! Diva bahkan tidak keberatan bila setiap hari harus berhadapan dengannya. Dia masih menggerutu panjang lebar dalam hati, ketika sebuah deheman keras terdengar di belakang. Gadis itu pun menoleh dan melihat Pak Kepsek yang galak berdiri tepat di belakangnya. "Eh... Pak." katanya tersenyum kikuk. Berdiri dengan posisi tegak menghadap Pak Kepala yang baru dia tahu namanya adalah Danang. Danang tidak tahu siapa kepanjangannya. Pria itu melihat ke sekeliling ruangannya. Menyentuh sedikit meja kerja dengan jarinya, memastikan masih ada debu yang menempel atau tidak. Dia mengangguk-anggukan kepala, kayaknya pekerjaan Diva sudah pas dan sesuai seleranya. "Baiklah, kau boleh pergi." katanya singkat. Lalu duduk di singgasananya. Diva mendumal sebal padanya. Nggak ada gitu pujian yang keluar dari mulutnya, dia ‘kan sudah menyelesaikan semua ini dengan baik. Jarang banget dia mau melakukan hal kayak gini, loh. Lagian Diva kesambet setan apa, ya? Kok nggak kabur saja dari tadi, seperti yang sering dia lakukan biasanya. Hah, sudahlah. Saatnya pulang. Dengan repot Diva membereskan beberapa alat tempur untuk bersih-bersih ke dalam sebuah rak yang ada rodanya, lalu mendorongnya keluar. Belum mencapai pintu, sebuah suara memanggil dan membuat langkahnya terhenti. "Diva." panggil Pak Danang dengan suara baritonnya yang sedikit serak-serak becek. Gadis itu berbalik badan, "Iya, Pak?" tanyanya. "Jangan pernah mengikuti balapan liar seperti semalam, atau kamu akan di DO dari sekolah ini dan tidak bisa masuk di sekolah mana pun." katanya tanpa menatap Diva. Gadis itu ternganga mendengarnya, bagaimana bisa Pak Danang mengetahui bahwa dia sering ikut balapan liar. Apa jangan-jangan dia cenayang? "Kamu tentu ingat dengan apa yang kamu lakukan pada saya." katanya menaikkan sebelah alis. Diva tampak bingung dengan ucapannya ini. Sesaat kemudian dia teringat sesuatu. Pada malam saat dirinya balapan, dia tidak sengaja menabrak seseorang. Karena ketakutan akhirnya dia memilih meninggalkan orang yang ditabrak. Ya, Diva adalah pelaku tabrak lari pada saat balapan. Dan orang di depannya ini adalah korbannya. Sebelum kabur, dia memang sempat melihat wajah Pak Danang yang jatuh terduduk. Pantas saja dia merasa pernah melihat orang ini. Ternyata Pak Danang adalah korbannya waktu itu. Astaga, Diva! Kamu telah melakukan tindakan kriminal. Bagaimana ini? Jangan-jangan Pak Danang mau melaporkannya ke polisi. Oh, Ya Tuhan dia benar-benar takut. Bagaimana dengan papa, mama, adik, dan teman-teman sekolah bila sampai dia masuk penjara? Ahh, apakah ini karma untuk anak nakal sepertinya? Apalagi melihat wajah Pak Danang yang saat ini mirip iblis sedang menatapnya dan dugaannya sangat kuat kalau dia mau memasukkan Diva ke penjara. Ya, Tuhan lindungilah dia. "Saya beri kamu kesempatan untuk memperbaikinya. Memperbaiki sikap kamu tentunya. Karena sebenarnya kamu itu siswi yang baik, hanya salah pergaulan saja. Dan kalau sampai saya masih memergoki kamu mengikuti balapan liar lagi, saya jamin kamu akan keluar dari sekolah ini. Sekarang kamu boleh pergi." kata Pak Danang lugas sukses membuatnya bungkam tidak banyak berkata. Diva hanya mengangguk lemah padanya, lalu keluar dari ruang kepala sekolah. ***     Diva mengembuskan napas yang tanpa sadar ia tahan sejak tadi. Setelah keluar dari ruangan terkutuk itu, dia merasa lega. Saat di dalam ruangan tadi dia merasa seperti berdiri di ruang sidang dan tinggal menunggu eksekusi. Dia berjalan ke arah gudang, tempat biasanya Mang Darjo menyimpan peralatan kebersihan. "Sudah selesai, Neng?" tanya Mang Darjo dengan logat sundanya yang kental ketika berpapasan dengannya di koridor. "Udah, Mang. Capek." keluhnya. "Ahh, si eneng, baru juga sehari sudah ngeluh. Mang Darjo nih setiap hari bersihin ruangan, bahkan sudah bersihin halaman saja nggak pernah ngeluh." "Iya, Mang. Tapi harusnya dikira-kira, gitu. Masa cewek sekece aku harus bersihin ruangan. Oh, mau dikemanain mukaku sebagai tukang palak ini." "Apa palak? Palak bukannya hantu yang lagi nge-trend itu, ya. Kalau dilihat-lihat neng Diva agak mirip, sih,sama palak-palak itu." cengir Mang Darjo. "Ahh... Mamang. Tega banget, sih!" teriaknya sebal. Lalu beranjak meninggalkan tempat itu setelah melayangkan pukulan kecil ke bahu Mang Darjo yang tertawa keras bisa mencela Diva. Awas saja, akan dia balas nanti.     Selanjutnya ia berjalan menuju ke arah kantin, ingin makan dulu. Sesampai divsana, dia melihat teman-temannya yang terdiri dari Nia, Ria, Lia, Santi, dan Farhan sedang cekikikan bergosip, entah apa yang dibicarakan. Lalu diavmenghampiri mereka, duduk di sebelah Farhan dengan bunyi 'buk' yang keras saat menduduki kursi seketika menghentikan tawa mereka. Gadis itu mengambil minuman yang entah milik siapa dan meminumnya sampai tandas. Kelima temannyavmelongo melihat dia karena aksinya ini terlihat seperti tidak minum selama setahun. "Eh... Eh... Minuman gue..." rengek Farhan di sebelahnya.     Diva menatapnya datar. Sebenarnya hingga saat ini gadis itu masih bingung dengan jenis kelamin Farhan, dia cowok tapi kemayu. Ganjennya minta ampun dan ini yang membuat cowok-cowok di SMA ini takut deketin kelompok mereka karena pasti sudah digoda dulu sama Farhan. Makanya, jangan heran kenapa geng mereka masih jomblo semua. Sedih juga punya teman transgender begini. Lalu di depan Diva duduk kembar tiga. Aslinya tidak kembar, sih, hanya saja nama mereka yang berbeda pada huruf depan jadi akhirnya dijuluki kembar 3. Di sebelah Farhan cewek paling anteng namanya Santi, mukanya polos banget. Buat yang baru kenal dia pasti mengira bahwa dia adalah anak baik-baik. Tapi, nyatanya sama seperti Diva, bengal dan susah diatur. Dan dia ini termasuk parah karena pernah terjerat narkoba dulu. Tapi sekarang dia bukan pemakai lagi. Walaupun mereka berlima 'cacat' semua, tapi mereka selalu jujur satu sama lain. Tidak ada rahasia diantara mereka. Kecuali Farhan yang punya bisul di punggungnya dan hanya Diva saja yang tahu. Mereka berlima menatap Diva antara kasihan dan mengejek karena hukuman tadi. "Jadi, bagaimana rasanya membersihkan ruangan seluas itu?" tanya Ria dengan cengiran menyebalkannya. "Kok bisa sih lo telat, gitu? Lewat gerbang depan pula. Hebat." kini Lia yang bersuara. "Terus. Terus. Gimana rasanya bisa satu ruangan sama Pak Kepsek yang ganteng itu? Kalau gue jadi elo, gue akan dengan senang hati melakukan apa pun perintahnya. Asal bisa bersama dengan Pak Danang." Nia yang paling centil di sini mulai nyerocos panjang. Dia memang yang paling genit sama cowok. Diva hanya bergumam menanggapi mereka semua, dan membuat mereka mendengus sebal padanya. "Pesenin gue mie ayam." Perintah cewek itu pada Farhan yang langsung beranjak memenuhi permintaannya.     Geng mereka tidak punya nama. Terserah orang-orang mau menamai apa, yang penting mereka tetap satu. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Indonesia. Yah, dia berbakat menjadi bupati yang sedang berkampanye tapi tidak terpilih. Dan di geng ini pula Diva yang berperan sebagai pemimpinnya. Makanya jangan heran kenapa Farhan menuruti perintah gadis itu. Geng ini terbentuk secara alami, bukan ditunjuk, pilihan atau apa pun. Mereka berenam dulu satu kelompok saat MOS, sejak masa-masa di 'gojlok' kakak kelas hingga saat ini. Meski dulu tidak satu kelas, mereka selalu menyempatkan diri keluar bersama saat istirahat ataupun pulang. Dan kabar bahagianya, saat ini mereka satu kelas. Sehingga jangan heran bila kelas mereka jadi heboh alias sering bikin masalah. Mereka bukan geng yang ditakuti, mereka hanya sekumpulan siswa yang tidak berperilaku baik dan agak tidak disukai di sekolah ini. Mereka juga punya rival, tapi itu akan diceritakan nanti setelah Diva makan. Gadis itu menyantap mie ayamnya yang sudah terhidang di meja dengan lahap. "Kamu seperti gelandangan belum makan sebulan." cela Santi. Diva mengedikan bahu, terus menikmati makanannya. Mereka berlima hanya mendengus, lalu tak mengusik acara makannya lagi. Mereka kembali bergosip, sepertinya meneruskan pembicaraan yang tadi sempat terpotong. "Jadi, katanya dia itu masih single. Terus punya usaha toko buku gitu. Maklum ya, kepsek. Usahanya tidak jauh-jauh dari pembukuan." cerita Nia sambil cekikikan tidak jelas. Diva melihati mereka dengan kening berkerut. "Kalian lagi ngomongin siapa, sih?" "Ini, kita lagi ngomongin Pak Danang. Kepsek baru kita, Nia terobsesi banget sama dia. Sampai dia nyari info gitu. Nggak tau dapat dari mana nih anak. Bisa cepet gitu taunya." jelas Ria. "Lo? Naksir sama kepsek galak bin sadis kayak iblis itu?" tanyanya sambil menatap Nia. "Hey, jangan ngatain my lovely kepsek iblis, ya." Nia melotot tidak terima. "Dia memang kejam, tau. Lo nggak tau, sih." Diva balik melototi Nia. Akhirnya mereka berdebat panjang lebar mengenai sang kepsek baru. Nia tetap kekeuh sama pendiriannya, dan Diva mengompori dia supaya percaya bahwa orang itu kejam banget. Hingga akhirnya perdebatan mereka berhenti karena jeritan Lia yang memang mempunyai suara yang melengking. "STOP!!" "Kalian ini. Ya ampun. Udah deh. Ngapain sih debatin hal nggak penting gini. Mau Pak Danang baik, jelek, jahat, atau apalah, terserah. Yang pasti dia tetap Kepala Sekolah kita dan kita harus hormat sama dia." ucap Lia sedikit lebih tenang. Farhan mengangguk setuju. "Betul itu. Kita memang cacat kelakuan. Tapi, kalau sama guru apalagi kepala sekolah harus dihormati juga." "Cih. Kayak elo suka nurut aja sama guru-guru di sini." ledek Santi. Farhan menyengir, "Setidaknya kita bisa memberi kesan baik dulu pada Pak Danang." "Udahlah. Ngapain sih ngomongin Pak Danang terus. Kayak nggak ada bahan lain yang lebih seru buat dibicarain." kata Diva kesal dengan obrolan tentang kepsek baru itu. Mereka terdiam, "Habisnya Pak Danang itu tipe orang yang sayang banget buat dianggurin." Nia terkekeh. Diva memutar bola mata, "Nggak ada yang nanya gitu, kenapa gue terlambat?" "Nggak!" jawab mereka serempak. "Paling lo telat juga karena ikutan balap liar terus dihukum sama bonyok." ucap Farhan. Gadis itu meringis, "Ahh,  kalian tau banget tentang aku ternyata." Mereka memalingkan muka. Sudah mulai muak dengan pujian yang biasa ini. "By the way, kenapa kalian belum pulang?" tanyanya lagi, menyadari bahwa teman-temannya masih di sekolah, padahal bel pulang sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu. "Nungguin elo lah, bego." gemas Ria. "Eh, nungguin gue?" "Iya, kita kan udah janjian mau ngelaksanain hukuman buat Farhan karena kalah taruhan, lo lupa?" Diva menepuk keningnya, "Eh, iya. Gue lupa. Gue kesel banget sama tuh kepsek sampai lupa kalo kita udah janjian." "Jangan terlalu kesel, ntar suka loh." "Apaan, sih. Basi lo." dengusnya. "So, kita kesana sekarang?" "Yoiii..." "Okey, Lets go." teriaknya semangat. Mengomando mereka.      Akhirnya gadis itu melewati hari seperti biasanya. Dan dihukum Papa seperti biasanya, karena pulang terlambat. Oh, anak nakal yang malang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD