PART 3

1575 Words
    Pagi ini seperti biasa Diva akan berangkat ke sekolah. Dia keluar dari kamar lalu berjalan menuju ruang makan. Kamarnya berada di lantai bawah dekat ruang tamu. Kenapa tidak di lantai atas saja? Biasanya ‘kan cewek-cewek kece kayak dia kamarnya pasti di lantai dua. Alasannya sederhana, biar nanti kalau mau kabur lewat jendela lompatnya tidak ketinggian dan mengurangi dampak patah tulang. Anehnya lagi Papa Suryono tidak berniat membuat tralis pada jendela kamar anaknya sehingga Diva bisa leluasa keluar rumah malam-malam. Akibatnya dia sekarang menjadi ahli melompat dan memanjat. Parah? Emang.     Diva menarik kursi lalu duduk dihadapan Baginda Raja Sury yang tengah meminum kopinya pelan-pelan. Nama papanya aneh? Enggak. Sebenarnya tidak aneh, Diva sendiri yang menamainya begitu. Nama asli Papa itu Suryono Soekamto, kayak nama ahli sosiologi, ya? Iya, tapi walaupun begitu papanya bukan ahli sosiologi, biologi, antropologi, meteorologi, klimatologi, morfologi, dan ogi-ogi lainnya, apalagi ahli spiritual atau metafisik. Bukan, papanya itu ahli dalam bidang reproduksi yang mana objek penelitiannya adalah sang mama, sehingga dalam waktu sekian detik, menit, jam, hari jadilah Diva dan adiknya. Oke, ini masih pagi jangan mikir ngawur. Gadis itu melirik jam tangan putih kesayangannya yang menunjukkan pukul enam pagi. Pantas belum ada sarapan masih terlalu pagi ternyata. "Tumben kamu masih pagi begini sudah rapi. PR-nya belum dikerjakan?" Papa bertanya tepat sasaran. Diva hanya terkekeh pelan. Senangnya karena Papa bisa tahu kebiasaan anaknya, jadi terharu. Dia melihat Sang Papa melipat koran lalu menghadap serius padanya. Kalau sudah begini Papa pasti akan memberi wejangan tiada akhir yang sukses bikin kepala meledak. Sebelum itu terjadi, Diva berdiri sambil mencomot dua lembar roti tawar lalu berlari keluar. "Sorry, Pa. Diva udah telat, nih!!" teriaknya sambil terus berlari menghindari kejaran Papa. "Diva! Awas ya kalau nanti kamu pulang. Papa beri hukuman kamu!" teriakannya masih terdengar di belakang. Namun dia tidak peduli.     Sampai ujung kompleks gadis itu berhenti lalu menarik napas panjang, menetralkan degup jantung karena lari maraton pagi ini. Pantas saja badannya kurus kering kayak ikan asin begini, orang setiap harinya lari-lari terus. Baik lari dari hukuman, lari dari kejaran Papa, lari saat terlambat, dan lari dari kenyataan. Yang terakhir kayaknya yang bikin capek dan badan nggak gemuk-gemuk, deh. Lupakan itu. Dia terus berjalan santai sampai ke jalan raya. Biasanya dia dan Disa akan diantar sekolah sama Papa yang juga akan berangkat kerja. Namun karena hari ini dia berangkat pagi, akhirnya dia memilih naik angkot saja. Ongkosnya memang cukup untuk naik angkot bukan naik taksi. Maklumlah masih pada masa hukuman. Diva memang dilarang membawa kendaraan sendiri ke sekolah karena belum cukup umur, Papa bilangnya begitu. Maka dari itu untuk memuaskan rasa penasaran akibat tidak mengendarai kendaraan, dia sering mengikuti balapan liar. Bahkan pernah sampai ditangkap polisi, namun hal itu tidak membuatnya jera. Dan itulah kenapa Papa menjadi lebih keras padanya. Dan lagi-lagi dia memberontak, tidak menaati aturannya. Bengal? Iya, terus lo mau apa?     Diva menghentikan angkot jurusan ke sekolahnya, tangannya masih memegang roti tawar lalu memakannya rakus tanpa peduli tatapan aneh di sekitarnya. Terserah kata mereka, yang penting perut terisi. Sampai di sekolah dia turun lalu berjalan santai setelah membayar tarif angkot. Hari memang masih pagi jadi belum banyak yang berangkat. Hanya terlihat satu dua siswa yang terkenal rajin sudah berada di area sekolah. Berjalan melalui halaman utama, dia teringat kejadian tiga hari yang lalu saat dirinya terlambat dan dihukum. Sejak saat itu dia memang tidak pernah melihat Pak Danang lagi. Ngapain juga Diva mikirin manusia tampang datar itu? Menggelengkan kepala, dia berjalan cepat menuju kelas karena ada PR yang belum dikerjakan, itulah alasannya datang pagi ini. PR Akuntansi yang sukses membuatnya mual, sehingga akhirnya dia perlu pembukuan milik yang lain agar PR-nya ini selesai dan menyenangkan hati Bu Tere, guru Akuntansi yang sayangnya cantik tapi galak. Tapi perjalanannya terhenti ketika melihat sosok yang pada hari pertama bersikap kejam. Sosok itu berjalan angkuh ke ruangannya bak model-model Calvin Klein. Anjrit, tuh orang pantesnya jadi model bukan kepala sekolah, batinnya. Diva jadi mengerti kenapa Nia bisa kesengsem berat sama ini model. Eh, kok dia jadi ngelihatin si model, ya? "Sedang apa kamu berdiri disitu?" tanya suara berat yang membuyarkan lamunannya. "Eh... Nggak... Nggak kok, Pak, saya cuma lagi mikir." Jawab Diva terbata. "Mikir apa?" "Bapak kok pagi banget sudah di sini, rajin banget. Lagi pencitraan ya, Pak?" "Kamu juga datangnya pagi sekali. Kenapa tidak siangan saja. Biar saya hukum?" ucapnya sambil melihati Diva tajam. Gadis itu meringis, ini orang serem banget sumpah, "Hehehe. Maaf, Pak. Permisi saya mendadak mules." Katanya sambil berlari cepat melewati Pak Danang. Diva terus berlari menuju kelas, soalnya dia bisa merasakan punggungnya seperti ditembus pisau akibat tatapan tajam Pak Danang. Benar-benar menakutkan. Oh, Tuhan kapan dia gemuk kalau setiap waktunya dipakai untuk maraton begini? Desisnya dalam hati. ***     Diva sedang melihati seseorang yang duduk manis di pojok perpustakaan dengan menopang dagu. Tanpa sadar gadis itu tersenyum sendiri saat melihatinya. Hal seperti ini sudah dia lakukan entah sejak kapan, yang pasti pemandangan indah di depan inilah yang membuatnya betah berlama-lama berada di dalam sarang para kutu buku. Padahal anak remaja nakal sepertinya paling anti sama yang namanya perpustakaan, soalnya bisa menyebabkan alergi, gatal-gatal, diare, gangguan pernapasan, kanker, gangguan kehamilan dan janin. Ini kenapa jadi ngomongin efek samping pada iklan rokok, ya? Sudahlah, yang pasti saat ini semua penyebab itu sekuat mungkin Diva lawan demi pujaan hati yang duduk manis di depannya alias empat meja dari meja yang didudukinya. Mata cowok itu, hidungnya, tatanan rambutnya, keseriusannya saat membaca buku, ahh benar-benar... "Hmm... Sudah kuduga, nih, perempuan hode nyantol di sini." ujar seseorang mengikuti sebuah gaya yang saat ini sedang tenar. Diva meliriknya sinis, "Apa sih lo? Ganggu orang aja." katanya tidak peduli lalu melihat ke depan lagi. Gadis itu merasakan tempat duduk di sebelahnya di tempati oleh Farhan. "Eh, lo tuh cewek aneh. Dimana-mana cewek tuh sukanya sama model cowok tinggi, putih, ganteng, tajir. Dan rata-rata jabatannya ketua osis, kalau nggak yang paling keren ketua tim basket. Atau kalau ada yang suka jenis badboy, ada tuh pemimpin tawuran di sekolah ini, nggak kalah gantengnya dari yang lain." "Tapi gue nggak suka." Jawabnya malas tanpa mengalihkan pandangan. "Iya. Gue tahu. Tapi lihat dulu dong model cowok kayak gimana yang lo taksir itu. Kalo lo naksir cowok tipe-tipe ketua kelas kita masih mending, deh. Nah ini, astaga, gue nggak tahu tuh anak pake jampi-jampi apa sampai bikin lo katarak begini." "Cinta itu bukan katarak, Han. Tapi buta." "Iya. Tapi yang bagusan dikit kek, masa iya lo naksir cowok model gigi kawat terus selfie." "Apa lo bilang?" Diva melotot pada Farhan yang sejak tadi merecoki kegiatannya. "Gigi kawat terus selfie." "Siapa maksud lo?" "Tuh..." dia menunjuk dengan dagunya ke arah cowok yang jadi objek penglihatan Diva. "Eh, dia nggak pakai gigi kawat, ya." Gadis itu melotot marah. "Lo bener-bener udah picek, ya. Pantes si nenek konde ngeledek lo terus. Selera lo gitu." "Hahahahahaha..." Santi yang sejak tadi diam melihati Diva dan Farhan kini mengeluarkan suara tawanya yang hampir mirip kuntilanak. Dia senang banget kayaknya. "Yang dibilang Farhan bener, Div. Lo yang aneh. Kalo kaya gitu lebih baik lo naksir Farhan aja, deh. Setidaknya walaupun melenceng, dia masih punya jakun dan otot kawat. Bukan gigi kawat." katanya tertawa lagi. "Serah lo berdua, deh." Diva berkata sebal. Memang salah, ya? Naksir cowok cupu berkacamata tebal, walau enggak tinggi tapi kan enggak pakai gigi kawat. Lagipula cinta bisa jatuh ke siapa saja bukan? Diva melihati Rendi lagi, cowok paling culun di sekolah ini. Iya juga, sih. Seleranya aneh. ***     "Baiklah, Bu. Nanti sore Danang mampir ke rumah. Ibu mau dibawain apa?" Pria itu mematikan ponselnya setelah pembicaraan dengan ibunya selesai. Ia menghela napas lalu berkonsentrasi pada pekerjaannya.     Danang Atmadja, Kepala Sekolah baru di SMA 1 Budi Pekerti ini terlihat sedang menekuri beberapa laporan tentang kegiatan sekolah dan juga aturan yang akan dilakukan pada masa kepemimpinannya. Walaupun begitu dia tidak mengubah aturan yang dibuat oleh kepala sekolah yang lama, dia hanya mengaplikasi beberapa aturan dan menghapus aturan yang dirasa kurang cocok baginya. Pada usianya yang baru mencapai 27 tahun jabatan sebagai Kepala Sekolah adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya. Apalagi dia menjabat di sekolah negeri dan bukan sekolah swasta yang elite. Maka dari itu dia dijuluki sebagai kepala sekolah termuda. Karena untuk ukuran sekolah negeri butuh waktu yang lama agar bisa mencapai jabatan tersebut. Sehingga sering sekali kita menemui seorang kepsek yang berumur 40-an ke atas.     Danang mengawali kariernya dimulai dari menjadi guru mata pelajaran TIK di daerah Bekasi selama lima tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah. Untuk itulah Danang berusaha melakukan pekerjaannya sebaik mungkin agar tidak mengecewakan orang-orang yang telah mempercayainya. Konsentrasinya terhadap pekerjaan buyar ketika tanpa permisi seseorang membuka pintu ruangannya lalu tergopoh menghampirinya. "Pak, ada keributan di area kelas 12." Salah seorang siswa yang menjabat sebagai bendahara OSIS  ini menemuinya dengan raut panik. Tanpa pikir panjang Danang beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat menuju arena keributan diikuti siswa tersebut. Sesampainya di area kelas 12, lelaki itu berhenti melihat dua orang siswi tengah ribut dan tidak ada yang mencoba melerainya. "Ada apa ini?" Suaranya yang tenang, dalam, dan tajam seketika menghentikan keributan tersebut. Kedua siswi itu menoleh ke arah sumber suara dan mereka terkejut saat melihat Pak Danang berdiri tidak jauh dari mereka. Mata lelaki itu menyipit saat mengenali salah satu dari siswi tersebut, lagi-lagi bocah cilik dan tengil ini bikin ulah. Apa lagi sekarang yang dilakukannya? "Kalian berdua, saya tunggu di ruangan saya." desisnya lalu berbalik meninggalkan kerumunan itu. Baik Diva dan Arista mengerut takut karena akan berurusan dengan kepala sekolahnya. Hukuman apa yang akan mereka dapat kali ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD