PART 4

1206 Words
    Diva mengomel terus dalam hati, menyumpahi Sang Jenderal Besar alias Kepsek di sekolah ini. Karena dia telah memberikan hukuman yang berpotensi akan membuatnya terkena penyakit lordosis sebelum waktunya. Yaitu mengepel lantai seluruh koridor sekolah! Bisa kalian bayangkan betapa luasnya koridor tersebut. Dari area kelas 12 sampai kelas 10, bahkan area gudang pun juga harus dipel. Astaga, ini penyiksaan paling kejam yang pernah diterima. Diva lebih memilih lari keliling lapangan 10 kali daripada melakukan ini. Tentu saja dia tidak sendiri, dia bersama si nenek konde Arista yang menjadi dalang keributan mereka.     Diva menatap sengit Arista yang sedang mengepel di bagian ujung kelas 10 dan dia membalasnya dengan tak kalah sengitnya. Arista adalah rival utamanya di sekolah ini. Tidak ada alasan apa pun atau dendam masa lalu. Dia itu ratu bully, jadi Diva tidak terlalu menyukainya. Kalian juga tahu pasti kalau ada orang yang 'sok' di sekitar kalian padahal otak melompong itu sangat-sangat menyebalkan. Seperti biasa nenek konde ini mem-bully Diva karena ketahuan naksir Rendi. Bahkan, cewek itu mempermalukan Diva dan Rendi di depan semua anak-anak. Karena tidak tahan dengan ocehannya, Diva mengambil tong sampah dan melemparkan isinya pada cewek mulut besar itu. Akhirnya keributan pun terjadi.     Diva tidak tahu siapa yang memanggil Pak Danang, tetapi yang pasti setelah sampai di ruangannya, dia sukses terkena hukuman paling berat akibat akting Arista yang begitu teraniaya membuatnya semakin terpojok dan parahnya Pak Danang mempercayainya. "Tadi saya cuma menyoraki Diva yang ketahuan jalan sama Rendi. Ya, gitu deh, Pak. Kalau ada pasangan baru kita kan suka minta PJ, gitu. Tapi Diva tiba-tiba melempar sampah ke arah saya. Saya tidak terima dong, akhirnya kami ribut." Arista menjelaskan dengan terisak-isak sambil membersit hidungnya. Astaga, jorok banget ini cewek. Pintar akting pula. Kalau kaya gini yang ada Diva yang disalahkan. Padahal pelaku utamanya bukan dia. "Bohong dia, Pak. Arista dulu yang memancing keributan, jadinya..." "Tapi tidak dengan membuang sampah ke arahku juga kali." Diva melihati si nenek konde bingung, kok suaranya jadi manja-manja jijik gitu, ya? "Lo duluan yang mulai jelas gue nggak terima." "Hey..." "DIAM!!" Mereka seketika terdiam mendengar suara Pak Danang. "Kalian berdua sama-sama salah karena telah mengganggu ketertiban sekolah. Jadi, kalian akan mendapat hukuman. Dan hukumannya adalah mengepel seluruh lantai koridor di sekolah ini." ujarnya tandas. "Apa?!!" Diva dan Rista berteriak. Pak Danang tidak terusik dengan teriakan mereka, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan beginilah akhirnya, Diva kebagian mengepel paling banyak sementara nenek konde hanya mendapat bagian mengepel koridor kelas 10. Gadis itu melihat Arista yang sudah selesai dengan pekerjaannya, dia tampak menenteng tasnya setelah meletakan peralatan di gudang. Dia berjalan ke arah Diva dengan senyum mengejek yang terkembang. Gadis itu melihatinya tajam, gara-gara ini anak satu, dia jadi dihukum berat seperti ini. "Makanya jadi anak yang disiplin, rajin, jangan suka melanggar. Dihukum ‘kan jadinya. Hahaha." Perkataannya itu menyulut amarahnya, pengen banget rasanya Diva pukul dia pakai gagang pel ditangannya. Tapi dia masih sedikit waras untuk tidak melakukannya. Tanpa disangka tiba-tiba cewek itu mengotori lagi lantai dengan tanah yang entah dari mana dia mendapatkannya. Hal itu sukses membuat mata Diva melotot, pekerjaan gue...! "Bersihin tuh lantai sampai bener-bener mengkilat." katanya lalu pergi begitu saja. Diva menggeram kesal. Awas nanti, lihat pembalasanku nenek konde! Gadis itu melihati lagi lantai yang kotor, astaga kapan penderitaan ini akan berakhir? ***         Diva menghela napas lelah, setelah berkutat dengan mesin pembersih lantai tadi, akhirnya pekerjaannya selesai juga. Hari sudah semakin sore setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul empat. ‘Astaga, tuh kepsek baru ngasih hukumannya nggak kira-kira. Remuk semua badanku.’ Diva berdiri di halte melihat ke arah kanan dan kiri menunggu angkutan lewat. Dia berdecak kecil, menunggu angkutan lewat sama saja kayak menunggu datangnya keajaiban. Lama dan tidak mungkin. Kenapa bisa begitu? Karena jam segini angkutan umum jarang lewat di depan area sekolah. Jadi tidak heran jika dia menunggu sampai lumutanpun angkutannya enggak bakal lewat. Bagaimana bisa pulang kalau kayak gini? Apa dia telepon Papa saja, biar dijemput? Ya kali bisa pulang cepet, Papa ‘kan orangnya ngaret. Bisa-bisa baru subuh sampai rumah. Apa jalan kaki saja? Ribet banget sih, paling mau pulang doang. Ini nih nasib jadi jomblo, enggak ada yang antar-jemput, pergi kemana pun selalu sendiri. Kalau lagi darurat begini, mau minta tolong siapa? Diva masih berkutat dengan pikirannya sendiri saat sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapannya. Kaca mobil tersebut terbuka menampilkan sosok angkuh yang telah bersikap kejam kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Jenderal Besar Pak Danang. "Mau pulang?" Lo pikir? Dia ingin menjawab seperti itu namun cepat sadar siapa orang yang ada di depannya kini. "I...Iya, Pak." Jawabnya sengaja tergagap. Pak Danang terlihat membuka pintu penumpang. "Masuklah." "Ta... Tapi, Pak?" "Mau pulang apa tidak. Ini sudah sore. Saya akan antar kamu. Kalau tidak mau ya sudah, silakan menginap di sini." Lelaki itu terlihat akan menutup pintu dan segera Diva mencegahnya. "Eh.. Eh Pak. Tunggu. Saya ikut. Saya ikut!!" pekiknya terburu-buru membuka pintu mobil lebih lebar dan masuk.     Di dalam mobil yang hening ini telah tercipta atmosfer mencekam dalam diri Diva. Suara yang keluar hanya mesin mobil dan pertanyaan Pak Danang yang menanyakan alamat rumahnya, dan tanya tersebut terjadi lima belas menit yang lalu. Setelah itu diam membisu. Gadis itu bergerak gelisah tidak nyaman karena keheningan ini entah kenapa membuat jantungnya berdebar aneh. "Bisakah kamu diam. Kamu seperti ulat bulu menggeliat menjijikkan." cela pria itu. Diva langsung diam mendengar suara tersebut, "S...say... Saya..." "Kenapa kamu mendadak gagap?" Dia tergelagap, "Ah. I..itu, Pak. Saya kebelet pipis." katanya cepat. Pak Danang terlihat menaikkan alis, "Tadi pagi kamu tiba-tiba mendadak mules setelah bertemu dengan saya. Dan sekarang kamu pengen pipis. Terus setelah ini apalagi kalau kamu bertemu dengan saya? Muntah?" "Iya, efek samping setiap ketemu sama bapak tuh kaya gini. Jadi, mending jauh-jauh deh." “Apa kamu bilang?" "Eh, nggak. Nggak kok, Pak. Berhenti di SBPU, ya. Saya mau ke toilet, sudahenggak tahan." Pak Danang hanya menggelengkan kepalanya lalu mengarahkan mobilnya ke SPBU terdekat. "Dasar gadis cilik aneh." desisnya dengan suara lirih. Namun Diva masih bisa mendengar. ‘Kuping gue antik banget ya, bisa dengar suara kecil itu. Apa jangan-jangan nih kuping sudah membesar kayak kuping gajah? Oh, No...’ ***     Gadis itu keluar dari toilet umum setelah selesai dengan hajatnya. Dia tidak berbohong soal kebelet tadi. Dia memang benar-benar ingin pipis. Berjalan ke arah parkiran, dia melihat Pak Danang yang berdiri di samping mobilnya. Kalau seperti ini dia merasa punya pacar beneran. Soalnya ditunggui pacarnya dengan setia. Apa? Pacar? Hilangkan pikiran gila itu Diva! "Sudah?" tanyanya. Gadis itu hanya mengangguk. Belum sempat Diva memasuki mobil, perutnya tiba-tiba berbunyi. Sialan! Malu-maluin banget ini perut, berbunyi tidak pada waktunya. Diva meringis dan Pak Danang melihatinya aneh. "Kita cari makan dulu. Saya tidak mau kamu mati kelaparan di mobil saya." katanya sambil lalu. Diva melongo, di tempatnya berdiri dia tidak tahu akan melakukan apa. Shock dengan tawaran ini. Sampai sebuah tangan menarik lengannya, menyadarkan dia dari dunia perlamunan. "Jangan banyak melamun, nanti cepat tua." Kalimat terakhir yang ia dengar sebelum Pak Danang membawanya masuk ke mobilnya. Dan hari itu dia habiskan waktu bersama Pak Danang. Iya, bersamanya. Soalnya dia baru sampai rumah jam sepuluh malam dan diomeli Papa. Untung Jenderal Besar adalah orang yang bertanggung jawab sehingga dia terhindar dari hukuman. Ngapain saja dia sama Pak Danang? Oh, biarkan itu menjadi rahasia antara Diva dan Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD