PART 5

1475 Words
    Diva berjalan santai di area koridor sekolah sambil menyapa beberapa teman yang lewat. Dan sayangnya mereka tidak membalas sapaan dia, malah melihatinya aneh dengan muka lempengnya. Bahkan ada yang cuek abis, enggak nengok sama sekali. Hey, padahal dia sudah kece pagi ini. Asem banget memang! Tapi walaupun begitu, tidak menyurutkan senyumnya yang terkembang lebar kali ini. Iya. Diva sedang bahagia. Ingat, BAHAGIA! Kenapa dia bisa se-bahagia ini? Jawabannya cuma satu, karena tadi dia satu angkot dengan Rendi. Dan yang lebih membahagiakan lagi cowok itu tepat duduk di depannya, bahkan menyapanya, dan cowok itu tahu namanya. Astaga, kalau naik angkot bisa dapat hikmah sebesar ini Diva rela naik angkot setiap hari. Sungguh.     Dan untuk pertama kalinya dia bisa mengobrol dengan Rendi lebih lama. Walaupun kelihatan kalem tapi cowok berkacamata itu bisa melawak juga. Dan bila diperhatikan dari dekat muka Rendi terlihat biasa saja, polos banget, standar tapi bila tersenyum, bisa melelehkan hati Diva seperti keju mozarella. Jadi, inilah kenapa dia tersenyum terus sepanjang jalan seperti orang gila. "Apakah itu kebiasaan kamu senyum m***m sendirian tidak tahu tempat?" tanya seseorang di samping gadis itu. Diva menghentikan langkah, menoleh dan melihat Pak Danang yang berdiri disebelahnya. Dia mencebik kesal, kurang ajar banget ini orang masih pagi sudah ngatain. "Siapa yang senyum sendiri, sih?" "Kamu, tentu saja." "Ih, Bapak sok tau." "Bukan sok tapi kenyataan," ia menjawab masih dengan muka datarnya. "Kamu persis seperti orang gila yang sedang kasmaran." lanjutnya. "Orang gila mana ada yang kasmaran?" "Ada, banyak." "Buktinya?" "Tidak perlu bukti atau mencari contoh jauh-jauh. Di sekolah ini juga banyak ditemukan orang gila." Diva yang mengerti maksudnya seketika melotot tidak percaya. "Astaga. Pak Danang waras, ‘kan? Kurang ajar banget ngatain muridnya orang gila. Ntar guru-guru sini kalau yang terlibat kasmaran Bapak panggil orang gila juga? Sadis banget, sih." desisnya. Ia tampak memutar bola matanya, "Siapa yang bilang murid disini orang gila?" "Bapak barusan." "Kalau semua disini gila namanya bukan sekolah lagi tapi rumah sakit jiwa. Dan saya ikutan gila gara-gara kamu." "Ya sudah, Pak. Disini ganti yayasan rumah sakit saja. Enggak usah dijadiin sekolah. Dan saya jadi bisa nggak berangkat sekolah. Simple, kan?" "Apa katamu?" "Eh tidak, Pak. Tidak, bercanda. Hehe." ujarnya terkekeh kecil karena Pak Danang akan menunjukkan taringnya. Diva baru menyadari hal kenapa Pak Danang bisa muncul tiba-tiba disini. Apa jangan-jangan dia hantu yang tiba-tiba datang tidak diundang. Ih, ngeri. Tapi kakinya masih napak di tanah, kok. Jadi safe, aman. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya, "Ngomong-ngomong Bapak kenapa tiba-tiba kesini? Ini area kelas 12. Ruang kepsek sampai sini jauh loh, Pak." Ekspresinya kembali normal, lalu menjawab, "Mencari kamu." "Gue?" Danang hanya mengangguk. Diva seketika panik. Ampun bikin salah apa lagi? Sampai pagi begini Pak Danang repot mencari dia kesini. Jangan-jangan setelah ini dia akan diberi hukuman. Oh, Tuhan lindungi hamba-Mu yang cantik jelita itu. "Ini buat kamu." Pak Danang mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya lalu menyerahkannya pada Diva yang otomatis menghentikan aksi paniknya. Tanpa sadar gadis itu menghela napas lega karena tidak jadi dihukum. Diva mengernyit bingung melihat benda yang disodorkan Pak Danang. "Cokelat? Maksudnya?" tanyanya heran. "Buat kamu." Dia menerima bungkusan cokelat tersebut, "Astaga, Pak. Sadar. Ini tuh bukan valentine. Ngapain ngasih cokelat begini segala??!" jeritnya. "Ngenes banget ya hidup kamu. Sampai ngira saya ngasih cokelat valentine. Tentu saja bukan untuk itu." "Jangan bicara gitu dong, Pak. Saya merasa jones banget tau." Pak Danang menghela napas, "Itu cokelat sebagai tanda terima kasih." "Terima kasih untuk apa?" "Karena kamu telah membantu saya waktu itu." "Oh, yang itu. Ah, biasa saja kali, Pak." "Kamu pintar akting ternyata." kekehnya. "Masalah akting mah kecil, Pak. Kalau saya jadi bintang film. Saya pasti sudah ngalahin Nina Dobrev. Sayangnya tidak ada produser yang tertarik sama tubuh bantet ini." Pak Danang hanya tertawa kecil. "Sudah masuk kelas sana. Belajar yang benar." ucapnya sebelum berbalik meninggalkan koridor.     Diva melihatinya sampai punggung Pak Danang hilang dari sana. Matanya kini tertuju pada cokelat ditangan. Lima batang cokelat biasa yang sering dijual di pasaran terlihat menggiurkan baginya. Apalagi dalam keadaan uang pas-pasan begini. Senangnya, terasa sedang berada di surga. Jadi, benar apa yang dikatakan Mama. Kalau menolong orang itu yang ikhlas. Pasti suatu saat ada balasannya. Tersenyum kecil, lalu dia beranjak menuju kelas. ***     Diva melahap cokelat dengan suka cita. Nikmat banget rasanya. Sudah beberapa hari ini dia tidak makan cokelat karena uang saku dipotong. Apes memang. "Makan cokelat mulu. Emang kenyang?" Farhan berbicara. Dia diam melihati Farhan. Perasaan dari tadi orang-orang senang banget tiba-tiba muncul kayak setan. Apa ini sekolah sudah beralih fungsi, ya? "Heh. Bengong lagi. Kesambet entar." "Apaan, sih. Lagi nikmat juga. Ganggu aja." "Lo mah nikmat enggak dibagi-bagi." "Apanya yang dibagi-bagi?" tanya Nia yang sudah duduk manis di depan Diva dengan sepiring siomay. Kapan nih anak muncul? Lalu ketiga teman yang lain menyusul dan ikut duduk. "Ini Diva punya cokelat banyak nggak dibagi. Pelit dia." adu Farhan. "Ngutil cokelat dimana lo?" Santi bertanya. "Eh, gue nggak ngutil, ya. Ini tuh dikasih." "Orang mana yang mau mengasihani Diva hingga ngasih cokelat segala. Apa dia katarak?" cela Farhan. Yang lain tergelak mendengarnya. "Untung gue lagi baik hati. Kalo nggak nih garpu udah gue colok ke mata elo." "Sadis banget, Div. takuutt..." Farhan berlagak ngeri. Dan ekspresinya itu pengen banget  dilempar pakai sampah. "Eh, jangan gitu Han. Lo nggak tau, sih, siapa orang yang ngasih tuh cokelat. Dia bela-belain ke area kelas 12 loh, cuma buat ketemu Diva." Ria terkikik, mengedipkan sebelah matanya. Diva menatapnya tajam, maksudnya apa coba ngomong gitu. "Siapa gitu yang dateng nyamperin Diva?" Lia bertanya. Ria tampak tersenyum lebar, Diva mencoba memperingati lewat tatapan mata. Dan Ria tidak terpengaruh. "Masa lo pada nggak tau, sih. Tadi pagi tuh rame banget di koridor kelas 12. Lo semua pada kemana emang? Sampai ketinggalan berita heboh ini." "Ri, nggak usah berlebihan deh. Rame apa coba." Sungut Diva. "Apaan sih apaan?" Nia ikut mengompori. "Jadi nih ya. Tadi tuh Diva..." "Apaaa??" mereka semakin penasaran. "Riaaa." "Dikasih cokelat sama Pak Danang." katanya cepat. "What?! Demi apa?!" "Lo pada enggak tau kan. Tadi gue liat sendiri. Banyak anak-anak yang liat juga." "Dalam rangka apa Pak Danang ngasih lo cokelat?" "Kok bisa, sih. Lo pake ajian apa emangnya?" "Lo ada hubungan ya sama dia. Kenapa nggak cerita-cerita. Tega lo sama gue." "Diva lo penghianat." Tanya mereka beruntun. Diva hanya menggeleng pasrah. Yang terakhir Nia aneh banget. Siapa juga yang berkhianat. "Nih, gue jelasin. Gue. Nggak. Ada. Hubungan. Apa-apa. Sama Pak Danang." "Terus itu cokelat?" Dia menghela napas lagi, "Minggu lalu waktu gue dihukum sama nenek konde, gue pulangnya kesorean. Akhirnya dianterin sama Pak Danang pulang. Tapi di tengah jalan gue kelaperan. Alhasil, Pak Danang ngajak gue makan. Tapi sialnya di tempat kami makan Pak Danang ketemu sama mantannya atau apalah gitu. Terus dia minta gue buat berpura-pura jadi sepupu jauhnya biar dia bisa lepas dari tuh cewek. Ya, gue mau nggak mau ikutin permainannya. Gue pura-pura jadi sepupu baik hati tapi galak. Dan si cewek pergi nggak ganggu lagi. Soalnya gue berhasil ngusir dia. Lo lo pada kalau liat muka Pak Danang waktu itu lucu banget. Gue jadi kasihan liatnya." ceritanya panjang lebar. "Oh, jadi karena itu tadi Pak Danang nyamperin elo." Santi menjawab. Diva hanya bergumam. "Ih, tapi tuh cewek siapa sih? Kegatelan banget sampai Pak Danang nyari bekingan untuk melindungi dia." "Mukanya itu persis kayak seseorang. Dan gue kayak pernah liat. Cuma lupa dimana." katanya menerawang. "Udahlah. Nggak usah dipikirin. Terus tuh cokelat mau lo bagi nggak?" Farhan masih berusaha ternyata. "Nooo.. Ini punya gue. Gue lagi nggak punya duit buat beli cokelat lagi tau." "Pelit. Orang pelit rejekinya sempit." "Bodo." Farhan misuh-misuh tidak jelas sedangkan Diva kembali memakan cokelatnya, dan yang lain kembali melanjutkan makannya.     Tiba-tiba keheningan yang tenteram di meja mereka rusak karena gebrakan keras yang membuat mereka terlonjak. Ternyata Bayu, cowok rese alias bandel di sekolah ini. Dia juga termasuk salah satu orang yang tidak suka sama Diva. Suka banget nge-bully dia dan teman-teman. Tidak tahu masalahnya apa. Lagipula Diva juga tidak suka sama model orang kaya gini. "Apa?" tanya gadis itu kalem. "Arena 1, jam 11. Malam ini." jawabnya lugas tanpa prolog. "Gue lagi males begituan." "Lo takut?" Diva melotot pada cowok yang kini tersenyum mengejek dengan kedua tangan bersedekap. "Siapa yang takut?" "Kalau gitu. Jam 11 nanti lo harus disana. Nggak usah nyari alasan bertele-tele. Toh, lo juga tahu caranya kabur dari rumah, kan?" Dari dulu orang ini selalu cari masalah dengannya. Ada saja hal yang bikin Diva muak sama dia. Sombong tapi melompong. Akhirnya sambil menahan emosi cewek itu menerima tawarannya. "Apa taruhannya?" "Div, nggak usah gila, deh." Santi berusaha mencegah. "Lima juta. Kalau gue kalah lo dapet tuh duit. Tapi kalo elo yang kalah..." ia menggantungkan kalimatnya. "Lo yang harus bayar." "Oke. Deal." Tanpa pikir panjang cewek itu menyetujuinya. Diva dan Bayu berjabat tangan tanda bahwa siap untuk bertanding. "Gue tunggu. Dan jangan sampai telat." katanya sebelum pergi. "Diva lo gila!!" seru teman-temannya. "Udah terlanjur." katanya tidak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD