Pak Suryo diam mendengar penjelasan yang keluar dari mulut kepala sekolah anaknya. Ekspresinya kentara sekali bahwa pria ini sedang menekan emosinya dalam-dalam. Mungkin bila ia sampai tidak tepat waktu, putrinya pasti akan habis terbakar oleh ledakan kemarahan kepala sekolahnya. Diliriknya sang istri yang juga melakukan hal yang sama. Diam-diam pria paruh baya itu mengembuskan napas. Kejadian barusan sungguh mengejutkannya. Pagi ini saat dirinya sedang bekerja, ia mendapat telepon dari pihak sekolah anaknya dan mendapat kabar yang membuat penyakit darah tingginya naik. Diva mencuri? Sungguh, semua itu diluar dugaannya.
Selama ini pria itu tahu pergaulan seperti apa yang dijajaki putrinya. Dan selama dalam pengintaiannya, putrinya masuk kategori dengan batas kenakalan yang masih wajar, karena walaupun sering membuat semua orang di sekitarnya kesal. Putrinya masih punya kesopanan dan tidak sampai membuat orang lain merugi. Putrinya juga tidak sampai terjerumus ke hal-hal negatif seperti yang melanda kebanyakan remaja saat ini. Meski sering kali putrinya lepas dari pantauan, pria itu tahu bahwa Diva bisa menjaga diri. Lagi pula dirinya memang tidak membatasi Diva dalam menemukan jati diri. Toh, setiap remaja pasti mengalami perkembangan moral dan sosial yang menurut Teori Konvergensi William James (1742-1804) bahwa perilaku manusia dipengaruhi baik oleh pembawaan maupun oleh lingkungan. Jadi, remaja itu akan berperilaku sesuai dengan perkembangan pembawaannya di dalam maupun luar lingkungannya. Oleh karena itu perlu diarahkan, dan menganut teori tersebut Pak Suryo menganggap telah berhasil menaklukkan Diva. Walau ada beberapa kecacatan yang dimiliki putrinya. Hal itu masih bisa diperbaiki, selama Diva mampu memosisikan dirinya untuk terhindar dari hal-hal yang tak patut ditiru dan merugikan. Namun sekarang kabar ini sungguh membuatnya tidak mampu berkata. Berikut dengan bukti yang terpampang jelas membuat beliau yakin ada yang salah disini.
"Jadi, seperti itulah kejadiannya, Pak. Saya juga tidak mengerti kenapa anak Bapak melakukan ini. Maka untuk lebih jelas. Kita bisa mendengar langsung penjelasan dari putri Bapak. Agar kita bisa menentukan tindakan apa yang harus diambil."
Diva yang sedari tadi menunduk lantas menengadahkan kepalanya menatap ketiga orang tersebut bergantian dengan pandangan bersalah.
"Ceritakan semua kronologisnya sampai kamu membuat onar dan mempermalukan orang tuamu." ujar Pak Danang datar.
Gadis itu tampak menelan ludah, susah payah dikeluarkannya suara yang mendadak tercekat di tenggorokannya membuat rasa sakit yang sukses menghambat pernapasannya. Akhirnya Diva menceritakan semuanya dari mulai permainan balapan hingga berakhir disini dengan sejujur-jujurnya.
"Arista membantu kamu? Kamu tidak bohong, kan? Justru dialah yang membeberkan semuanya. Dan saya ragu bila dia juga terlibat."
"Tapi, Pak. Memang semalam saya bersama Arista, video itu aku tidak tau berasal dari mana. Seharusnya ada dia disana."
"Jangan membuat penyangkalan Diva. Buktinya ada amplop berisi uang ditangan kamu. Masih mau menyangkal?"
"Pak, saya..."
"Diva! Diam." tegur Pak Suryono tegas.
Diva mengatupkan kembali mulutnya menghindari tatapan tajam ayahnya.
"Saya selaku orang tua dari Diva meminta maaf untuk segala keributan dan kerugian yang terjadi di sekolah ini. Saya siap menerima konsekuensi apa pun yang Anda putuskan pada anak saya, termasuk hukuman DO dari sini. Saya bersedia. Untuk Diva biar saya yang menempanya lagi agar setidaknya dia bisa mengubah perilakunya." Sang Ayah berkata dengan nada penuh penyesalan di dalamnya.
Danang terdiam sejenak mengamati Diva dan kedua orang tuanya bergantian, sesungguhnya gadis manis ini tidak sepenuhnya salah. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara mencari jalan keluar disaat sedang terimpit. Apalagi dia sudah kelas 12 yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Dan bila dia di DO untuk kesalahan yang sebenarnya fatal dan dia sudah mengakui kesalahannya, sangat disayangkan bila dia harus putus sekolah. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk memperbaiki sikap Diva. Karena dia juga tahu dan yakin, gadis ini adalah gadis baik-baik. Kembali memandang Pak Suryo, pria itu berujar,
"Baiklah, Pak. Saya juga meminta maaf karena hal ini. Saya juga tidak akan menghukum sampai dia keluar dari sekolah ini. Karena saya menyadari dengan orang tua yang menitipkan anaknya ke sekolah ini, itu berarti kami juga bertanggung jawab atas segala kelakuan anak didik kami. Apalagi guru adalah orang tua kedua bagi seorang anak sehingga kami juga berperan dalam membentuk kepribadian anak didik kami. Maka dari itu mari Pak kita sama-sama mendidik, memberi arah, mengajar, menempa anak-anak kita agar berjalan lurus sesuai aturan. Jadi, saya tidak akan mengeluarkan anak Bapak. Tapi Diva harus..." Jeda sejenak sebelum dilanjutkan perkataannya,
"Diva harus diawasi langsung di bawah pengawasan saya. Bagaimana?"
Kali ini Mamanya Diva yang menjawab,
"Saya setuju, Pak. Itu akan lebih baik buat anak saya. Dan terima kasih karena telah memberi kesempatan pada anak kami."
"Baiklah, terima kasih telah mempercayakan anak Anda pada saya, pada sekolah ini. Dan hukuman permulaan untuk Diva yaitu dia mendapat skors selama dua minggu dan berlaku mulai besok. Dan saya harap selama masa itu baik Bapak ataupun Ibu bisa memperhatikan tingkah putrinya agar kejadian ini tidak terulang lagi."
"Tentu. Kami tahu apa yang akan kami lakukan." jelas Pak Suryono.
Setelah itu keluarga Pak Suryo berpamitan untuk pulang. Sementara Diva sendiri mengembuskan napasnya. Ah, hidupnya akan berubah setelah ini.
***
"Radiva." panggil Pak Danang ketika gadis itu sedang berjalan lesu ke arah kelasnya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Diva harus kembali ke kelas karena masa hukuman skors dimulai besok. Jadi hari ini dia akan menjalani sekolah seperti biasa. Diva berhenti menghadap pada kepala sekolahnya.
"Ya, Pak?" jawabnya tertunduk.
Pak Danang berjalan mendekatinya, emosi yang sempat terpancar di wajahnya menguar jelas namun saat ini emosi itu meredam. Hanya wajah kaku dan dingin menghiasinya. Walau begitu Diva tetap harus berhati-hati karena sedikit saja dia menyulut api maka akan terjadi kobaran besar yang mengobrak-abrik segalanya.
"Belajar lebih baik, kamu sudah kelas 12. Sebentar lagi akan ujian. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk hal sepele nanti kamu yang menyesal di kemudian hari. Makanya sebelum terlambat ubah segala perilakumu itu dan jadilah orang yang membanggakan kedua orang tuamu." katanya menasihati setelah di depan cewek itu.
Diva hanya diam mencerna perkataan orang ini. Pak Danang umur boleh masih muda tapi kalau lagi memberi wejangan begini, Diva merasa seperti dinasihati sama Papanya. Pantas umur segini sudah jadi kepala sekolah. Pemikirannya kolot.
"Apa?" tanya pria bertubuh tinggi itu.
"Tidak, tidak. Saya cuma lagi mikir perkataan Bapak." jawabnya kemudian.
"Kembali ke kelas." Ia tidak menanggapi dan langsung berbalik pergi.
Diva melihati sampai punggung itu menghilang. Lalu dia kembali berjalan, langkahnya semakin berat ketika menyadari bahwa disini bukan hanya kepala sekolah dan guru-guru yang memandangnya murka. Namun teman-temannya juga sama. Ia ingat saat digiring ke ruangan Pak Danang tadi, diantara semua pandangan yang mencemooh dirinya terdapat tatap kecewa dari mata para sahabatnya. Tatapan yang tidak pernah dilihatnya sejak bersama mereka dua tahun lalu, kali ini ia menyadari bahwa keadaan akan berubah. Dimana tali yang dulu mengikatnya kuat kini terlepas karena untaian angin. Terlepas akibat kebodohannya sendiri. Cewek itu tidak menyadari berapa lama ia berjalan sampai sebuah tarikan kuat entah dari mana menyentaknya dari lamunan. Tangan kirinya digenggam oleh tangan seseorang yang begitu familier baginya. Mendongak, ia melihat Farhan yang tadi menariknya. Diva menelan ludah pasalnya baru kali ini dia melihat muka Farhan tanpa ekspresi disana yang membuatnya menerka-nerka apa yang ada di pikiran sahabatnya ini. Namun sekali lagi dia bukan cenayang, dia hanya manusia yang hanya mampu melihat dan mendengar apa yang nyata di depannya.
"Kalau jalan, mata tuh liat ke depan jangan nunduk. Lo hampir aja nabrak tembok tadi." katanya membuyarkan segala pemikiran Diva.
Cewek itu akan membalas perkataannya seperti biasa yang mereka lakukan, namun belum satu kata pun terucap cowok itu berbalik pergi. Membungkam mulut dan juga hati Diva. Salah, bila dia berharap semuanya masih wajar seperti biasanya. Menghirup napas dalam cewek itu mengamati sekelilingnya, pantas saja ditarik oleh Farhan dia berada diujung koridor kelasnya. Jika tadi dia tidak ditarik bisa dipastikan dirinya akan terjun bebas ke bawah sana. Akhirnya ia berjalan memasuki kelasnya.
Setelah mengetuk pintu dan masuk kelas, Diva disambut oleh tatapan tidak mengenakan dari penghuninya. Dia tahu pasti tatapan ini akan sering tertuju dan mau tidak mau dia harus terbiasa dengannya. Guru yang melihatnya langsung menyuruh duduk, karena dia tidak suka membuang-buang waktu. Duduk bersebelahan dengan Santi, cewek itu mencoba berbicara melalui mata. Namun sahabatnya tidak menanggapi, diam dengan mata tertuju ke depan. Tak mau repot melihatnya. Menggigit bibir bawahnya, ditolehkannya kepala ke belakang dimana temannya yang lain duduk. Responsnya sama kembar tiga tidak mau repot meliriknya. Akhirnya dia melihat lagi ke arah depan. Diva akan coba mendekati mereka lagi nanti waktu istirahat.
Tanpa disadari oleh Diva, kelima temannya diam-diam melihati dia. Sebenarnya mereka telah berpikir dan berencana untuk membantu Diva, tapi cewek itu lebih memilih menyeberang ke jembatan yang kokoh penuh tipuan daripada bertahan oleh topangan tangan. Mereka menyesal dengan perbuatan Diva. Mereka sedih, namun ini yang harus mereka lakukan. Karena cewek itu telah menoreh luka pada persahabatannya. Dan bila mereka membiarkannya yang ada Diva akan melonjak. Sehingga inilah yang terjadi, menjauhi Diva entah sampai kapan. Rasa kecewa yang mendominasi membuat kelima orang itu tidak ingin memberi kesempatan lagi. Lalu, bagaimana dengan hidup Radiva selanjutnya?
Apakah dia bisa melewati, ketika dunia berbalik menyerangnya?