PART 7

1576 Words
    Cewek itu mondar-mandir bagai setrikaan membuat kelima temannya yang melihatnya menjadi kesal. "Lo diem deh, Div. Nggak capek apa bolak-balik kaya gitu terus. Gue yang ngelihat aja udah capek dan pusing." Farhan berkata menghentikan pergerakan cewek itu. "Lo nggak tau, sih. Gue bingung banget ini. Darimana coba dapet duit segitu mana tinggal besok pula." keluhnya. "Salah lo sendiri pake nerima taruhan itu segala. Kena akibatnya kan lo." "Gue gedek aja sama tuh orang. Lagian dia songong banget. Sebel gue." "Setidaknya biarpun dia songong. Dia dapat membuktikan keahliannya itu benar, bukan khayalan." "Lo sebenarnya dukung gue atau dia sih, Han?" "Gue nggak dukung siapa pun. Cuma ngomong fakta." Diva berdecak, "Jadi, gue harus gimana? Minjem duit lo pada?" "Gila! Enggak! kalo gue pinjemin itu artinya gue nggak jajan sebulan." Ria berkata sakartis. "Pelit amat lo sama temen sendiri." "Bukan gitu Div, kita udah peringatin. Lo nggak denger. Lo tau sendiri Bayu bukan cowok sembarangan. Lo pake iyain segala. Jadi ini konsekuensi yang harus lo terima." Lia berbicara dengan nada bijak. "Tapi gue harus gimana? Tinggal besok ini." "Terus kalau misal lo nggak bisa bayar. Konsekuensi lain apa?" "Dia minta gue jadi pacarnya." "Ya udah, lo jadi pacarnya aja ribet amat." sela Nia. Diva melotot, seketika histeris. "Gue nggak mauu! Mendingan gue nyebur ke sumur daripada jadi cewek dia. Ogah gue. Nggak. Nggak. Nggak." Farhan tiba-tiba berdiri, dia berkata dengan nada marah, "Ya udah, lo pikir sendiri gimana caranya. Gue nggak ikut-ikutan." Cowok itu akhirnya beranjak keluar dari kamar Diva. "Eh, Han. Lo mau kemana?" "Cabut!" "Bantuin gue. Jangan ngilang gitu, Ah!" Farhan hanya mengibaskan tangannya tidak peduli. "Pada ngerasa enggak, sejak kejadian malam itu si Farhan jadi aneh?" Santi yang sejak tadi diam bersuara. Diva menoleh menatap temannya itu lalu mengernyitkan dahi bingung. Iya. Farhan memang aneh. Menggeleng, dia lalu menatap teman-temannya satu per satu. "Jadi, kalian mau bantuin nggak?" "Enggak!!" jawabnya serempak. "Huhh.. Dasar temen. Datengnya cuma ada maunya doang!" "Salah lo sendiri. Kita cuma pengen lo hati-hati. Tapi lo nggak denger. Ya udah, sekarang serah lo." "Kompak bener lo pada."     Cewek itu mengerut saat teman-temannya bersuara bersama. Nyaris seperti paduan suara yang nadanya sumbang tidak enak didengar. ***     Fortuner putih milik Sang Kepala Sekolah tersebut terparkir rapi di area parkiran yang sudah disediakan. Pria itu turun dari mobil lalu berjalan menuju ruangannya. Kemeja batik yang dikenakannya tak ayal membuat beberapa pasang mata yang melihatinya kagum karena sangat pas pada tubuhnya yang tegap. Sekolah ini mempunyai aturan berseragam sesuai dengan aturan yang dikeluarkan pemerintah. Sehingga tidak heran jika bukan hanya setelan jas yang menjadi seragam resmi.     Pria itu akan berbelok ke arah ruangannya ketika dilihatnya terjadi keributan di depan ruang TU. Ingin mengetahui masalah yang terjadi ia melangkah mendekati sumber keributan. Dilihatnya Bu Mariska salah satu pegawai TU menangis histeris dan beberapa orang tengah menenangkannya. Dan aksi yang terjadi di depan ruangan tersebut menjadi tontonan para siswa yang memang baru saja datang. Tatap-tatap simpati dan kasihan pada Bu Mariska tercetak pada wajah mereka. Bu Linda guru BP yang sejak tadi mencoba menenangkan rekannya langsung beranjak ketika dilihatnya Pak Kepala Sekolah mendekat. Kejadian pagi ini membuat ibu itu gusar dan marah, ia mengutuk siapa pun yang melakukan tindakan kriminal ini. Belum juga Pak Danang mengeluarkan pertanyaan, lontaran dari Bu Linda membuatnya terdiam dan berpikir panjang kenapa hal ini bisa terjadi? "Tidak usah basa-basi, Pak. Saya hanya mau mengatakan bahwa bagian TU telah dicuri. Dan kehilangan sejumlah uang." "Kapan waktu kejadiannya?" tanya Pak Danang setelah terdiam beberapa lama mengawasi sekitar TU. "Perkiraan terjadi semalam, Pak."     Pria itu tidak menanggapi, ia berjalan ke dalam TU melirik sekilas pada Bu Mariska. Ia melihati sekeliling, dirinya merasa aneh karena ruangan ini masih begitu rapi seperti biasanya. Tidak ada jejak peninggalan perampokan atau apa pun itu. Tapi bila memang benar apa yang dikatakan Bu Linda tadi, sudah dipastikan si pencuri sangat berbakat. Apalagi ditambah dengan laporan Pak Tomo dan beberapa pegawainya yang telah memeriksa kondisi ruangan bahwa tidak ada yang menghilang selain uang di laci penyimpanan Bu Mariska dan CCTV yang terpasang dalam keadaan sengaja dirusak. Baik Pak Danang dan para pegawai sepakat untuk tidak melapor pada pihak berwajib, karena bisa dipastikan orang yang melakukan ini adalah orang dalam yang mengetahui seluk beluk sekolah ini. Maka akhirnya mereka akan menyelidiki sendiri siapa pelakunya, kecuali bila keadaan mengancam, pihak sekolah terpaksa menyerahkan kasus ini pada polisi. Setelah mengecek kondisi ruangan, pria itu keluar dan menghampiri Bu Mariska selaku bendahara sekolah untuk menenangkannya. "Ibu tidak perlu khawatir, pelakunya pasti akan ketemu. Saya tidak akan menyalahkan ibu. Lebih baik ibu pulang dan istirahat. Biar disini saya yang mengurus." ujar pria itu. Ibu Mariska hanya mengucapkan terima kasih karena tidak disalahkan. Sungguh dia kaget setengah mati ketika pagi ini melihat laci mejanya yang terkunci rapat harus terbuka lebar dan uang SPP milik siswa sudah menghilang. Setelah kejadian ini ia berjanji untuk tidak teledor sehingga merugikan sekolah yang telah mempercayakannya selama ini. Pak Danang menghela napas, ada saja kejadian yang membuat umurnya pendek seketika. Padahal kejadian ini baru pertama kalinya terjadi di sekolah ini. Dan hal inilah yang membuat kepalanya mendadak pusing karena harus memikirkan strategi bagaimana mencari pelaku tersebut.Apalagi uang bulanan dari siswa inilah yang akan dialokasikan untuk kepentingan sekolah. Bila menghilang tentu saja akan menghambat jalannya sekolah. Akhirnya pria itu memerintahkan untuk mengadakan rapat dadakan pagi itu juga.     Seorang gadis yang berdiri di belakang dinding salah satu kelas seketika mengeluarkan senyum culasnya melihat kejadian ini. Ditangannya kini terdapat sebuah bukti yang kuat untuk mengungkap sang pelaku. Dan dengan cara inilah dia akan berada di atas angin. Dipuncak ketinggian yang coba didakinya namun gagal karena rivalnya cukup kuat. Meskipun namanya tidak bergaung seantero sekolah namun bukti ini akan membuatnya bersinar dan yang pasti apa yang diinginkannya akan menjadi kenyataan. Karena langkahnya semakin mudah. Dan aksi ini akan terjadi hari ini juga, dia tidak ingin menunggu lama. Membuat lawan jatuh dan kita tertawa di atasnya sepertinya menyenangkan. ***     Diva menunggu dengan gelisah di depan sebuah gudang yang tidak terpakai. Ia membawa segepok uang yang akan diberikannya pada Bayu, imbalan atas kekalahannya malam itu. Dia menyesal. Sungguh, karena ini melanggar prinsipnya. Namun cewek itu tidak punya pilihan lain. Bisikan setan dari Arista dan teman-temannya yang tidak membantu membuatnya nekat melakukan ini. Didesak oleh suatu keadaan yang mengimpit, membuat manusia kadang lupa bahwa yang dilakukan itu salah. Membuat manusia mencari jalan pintas yang akhirnya merugikan dirinya sendiri. Dan itulah yang sering terjadi di dunia ini. Tidak usah terlalu jauh, Diva sebagai contohnya cukup membuktikan bahwa manusia itu tempatnya salah dan tidak sempurna. Cewek itu menggigit bibirnya resah. Memandangi uang yang didapatkannya dengan cara tidak halal. Dia tidak berani meminta pada orang tuanya karena pasti akan ditanya ini itu yang membuatnya tersudut. Akhirnya dia melakukan ini. Semalam ditengah kekalutannya, Arista menelepon. Rivalnya tersebut memang mengetahui taruhannya dengan Bayu, sebab itulah si nenek konde memberi tips mendapat uang secara cepat. Dan 'boom' uang itu telah sampai ditangannya dalam waktu semalam saja. Bagaimana caranya? Tentu dirinya yang mencuri uang TU dan dibantu Arista untuk melancarkan aksinya. Nekat? Memang sangat. Dan cewek itu sangat menyesal. Lalu apa yang akan dilakukannya setelah ini?     Sebuah tepukan di punggungnya membuatnya terkejut. Dia berbalik dan melihat Bayu sudah berdiri di hadapannya dengan senyum miring. Tanpa berbicara apa pun cewek itu menyerahkan amplop cokelat padanya yang langsung disambut dengan senang hati oleh Bayu. "Cepet juga lo dapetnya. Ngepet dimana?" "Bukan urusan elo yang penting kita impas. Dan gue nggak punya utang sama elo." tandasnya.     Bayu tidak menanggapi, dia melihati Diva, cewek yang ditaksirnya sejak pertama masuk SMA ini dengan pandangan lembut. Dia tahu cara apa yang dipakai cewek ini untuk memenuhi taruhannya. Sebenarnya hal itu hanya gertakan saja agar dirinya bisa memiliki cewek ini, karena pasti Diva akan menerimanya karena tidak mampu memenuhi syaratnya. Namun semua dugaannya meleset, cewek itu mati-matian berusaha mencari cara yang berpotensi membunuhnya perlahan. Tapi melihat kegigihan cewek ini untuk menghindarinya membuat sebagian hatinya mendingin, sakit tak kasat mata menyerang jantungnya detik itu juga. Cowok itu meringis menyadari bahwa usahanya tidak membuahkan hasil, malah semakin menjauhkan gadis yang ingin digenggamnya. Namun bila dia bisa melindunginya didetik terakhir, tak apa akan dilakukannya itu. Mengembuskan napas tanpa mengalihkan tatapan cowok itu meraih tangan Diva, dikembalikannya amplop itu padanya. Cewek itu kebingungan dengan ulah Bayu, maksudnya apa? "Kenapa dikembaliin?" "Gue nggak butuh itu." "Lah, terus ini...?" "Sekolah kita udah heboh banget karena ini baru pertama kalinya kecolongan. Dan pihak sekolah sudah tau siapa yang membuat kekacauan ini. Sehingga..." Bayu tidak melanjutkan kalimatnya menyadari wajah cewek di depannya memucat. "Jadi, Pak Danang sudah tau kalau..." "Hmm... Pas rapat tadi katanya ada informan yang tiba-tiba masuk ke ruangan rapat dan membeberkan segalanya. Awalnya gue juga nggak tau tapi pas liat sendiri bukti itu gue jadi tau. Dan mereka sedang nyari elo." "Informan? Jadi, Arista yang..." "Lo dijebak." Diva melemas saat itu juga, dia tahu saat ini hidupnya berada diambang kematian. Seharusnya dia tidak mempercayai perkataan Arista, seharusnya dia pertimbangkan wejangan sahabat-sahabatnya untuk berbuat hati-hati. Tapi apa, dia tidak melakukannya dan malah mengambil jalan yang membahayakan dirinya sendiri. Dan kini menyesal pun tiada guna karena semua sudah terjadi. Tinggal menunggu eksekusi kapan dirinya akan dihukum mati. "Diva!"Seruan seseorang membuyarkan segala keheningan dan lamunan dua orang disana. Cewek itu menegang dan dirasakannya Bayu meremas tangannya memberi kekuatan. Di depan sana Sang Kepala Sekolah melihatinya dengan ekspresi murka. Kentara sekali bila pria itu sedang menahan gejolak emosi yang siap meledak. "Ke ruangan saya sekarang! Orang tuamu sedang dalam perjalanan kesini." ucapnya lalu berbalik pergi. Dan cewek itu seketika limbung. Tamat sudah riwayatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD