PART 10

1879 Words
    "Disa! Jangan lari jauh-jauh, entar kalau kamu ilang gimana? Kamu ‘kan langka, ini supermarket gede. Disaaa!!"     Diva menjerit ketika adiknya berlari kencang mengelilingi supermarket ini. Membuatnya kewalahan dan lupa dengan tujuan bisa berada di sini. Dia merasa sedang bermain film action yang mana adegannya dia tengah berlari mengejar musuh plus troli penuh belanjaan yang didorong. Apalagi, kalau bukan mengejar adik nakalnya, Disa. Akhir pekan hari ini Diva mendapat tugas untuk belanja bulanan di supermarket. Sementara Mama membereskan rumah, dan Papa sedang dinas keluar kota. Jadi tidak ada yang bisa disuruh menjadi sopir untuk bisa ke tempat ini. Belum juga mengambil pesanan belanjaan yang disuruh Mama, Diva harus kelelahan mengejar-ngejar sang adik yang suka hilang sendiri. Sehingga membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan semua belanjaannya. Dan kini dia menghilang lagi, lepas dari pandangan saat Diva tengah mengambil s**u kotak. Napasnya terengah karena mengitari supermarket yang besar ini. Anak satu itu kemana lagi menghilangnya, kalau sampai hilang bisa runyam ini. Merepotkan banget Tuhan punya adik satu. Kalian pasti berpikir kalau Diva pasti panik karena adiknya tiba-tiba menghilang. Jawabannya tidak sama sekali. Loh, kok jahat banget Div? Tidak usah heran, dulu kejadian seperti ini juga pernah dia alami, Disa pernah menghilang saat sedang rekreasi ke Ragunan. Sekeluarga panik semua karena anak kecil itu menghilang tanpa jejak, sampai mencari bala bantuan untuk mencarinya. Dan saat semua telah berpencar mencari keberadaannya, Diva menemukan adiknya tengah bermain bersama saudara-saudaranya di kandang monyet. Tidak jauh dari tempat dimana pertama kali dia menghilang. Makanya walaupun peluh menetes, jantung berpacu, napas memburu, gadis itu tidak khawatir. Karena adiknya tidak akan pergi jauh dari sini. Lagi pula kalaupun diculik, penculiknya pasti tidak akan tahan sama kelakuannya. Adiknya mempunyai kelebihan menangis sekeras-kerasnya sampai seratus orang yang berada di sekitarnya mendengar semua. Jadi, jangan remehkan adik dari seorang Radiva Maharani.     Diva berputar berkeliling sampai akhirnya ia melihat wujud adiknya bersama seorang laki-laki. Disa tengah menyengir lebar pada orang itu sambil menggenggam cokelat ditangannya. Tunggu. Dari mana dia mendapat cokelat itu? Dari belakang Diva melihat punggung laki-laki itu agak lebar, rambutnya terpotong rapi dan kalau berdiri sepertinya dia cowok tinggi, melihat dari segi posturnya. Dia lalu mendekat pada dua orang itu yang masih asyik bercanda. Mengira-ngira siapakah orang ini? Kalau ganteng bolehlah buat dijadiin gebetan. "Om, di belakang ada monyet nyasar." celetuk Disa tiba-tiba ketika Diva sampai di dekat mereka. Apa? Jadi adik satu tukang merepotkan ini ngatain kakaknya sendiri monyet? Diajarin siapa coba dia bisa kurang ajar gitu? Diajarin elo lah Div, siapa lagi. ‘Kan elo biangnya mencela. "Hey, kamu itu adiknya monyet. Artinya kamu termasuk jenis monyet juga. Jadi tidak usah mencela." balasnya. Disa hanya mencibir, laki-laki yang bersama adiknya menolehkan kepalanya ke belakang. Dan gadis itu melongo setengah mati, Tuhan nikmat manakah yang ia dustakan? Saat ini di depannya berdiri cowok paling ganteng yang pernah dlihatnya. Setelah Papa pastinya. Raut mukanya datar kayak tembok kamar. Tapi kalau sudah senyum, astaga, boleh dibawa pulang nggak nih orang satu? "Kakaknya?" dia bertanya. Ya ampun suaranya saja merdu banget. Serasa mendengar suara Adam Levine, syahdu banget. Bahasa gue kenapa jadi dangdut gini, ya? Diva terkejut saat tangan lelaki itu menepuk pundaknya. Sedikit tergagap ia langsung menjawab pertanyaannya. "I... Iya.. Di...a adik saya." Fix, Diva persis pelawak gagap yang terkenal itu. Jangan-jangan dia masih saudaraan lagi sama itu pelawak? Diva tersenyum lega saat lelaki itu menjawab pernyataannya, membuat ia membuang segala pikiran melantur yang sudah meluas bak Samudera Atlantik. "Lain kali diawasi adiknya, ya. Jangan biarin berkeliaran sendiri. Nanti bila terjadi apa-apa bagaimana? Kamu juga ‘kan yang harus bertanggung jawab." "Maaf, Pak eh Mas, eh salah, Om. Adik saya bandel, kebiasaan gitu. Saya juga nggak panik, soalnya adik saya nggak bakal ilang. Lagi pula kalaupun dia hilang, dia pasti sudah di bagian pusat informasi bersama seorang security." "Kok begitu?" "Soalnya Disa kalau jalan di tempat umum gini dan tidak menemukan jejak keluarganya, dia bakalan datengin pos satpam minta bantuan buat ditunjukkan arah ke bagian informasi. Alasannya mau nyari mama sama kakak yang hilang." aku menjawab panjang lebar yang hanya dibalas senyum simpul olehnya. "Kamu lucu." Dan karena lontaran dua kata yang terasa biasa ini ternyata sukses membuat pipi gadis itu memanas sampai level suhu 50° C, mungkin, jika diukur pakai termometer. "Kalau aku lucu, berarti aku punya bakat jadi pelawak, dong. Kalau begitu aku bisa masuk TV dan ngalahin pelawak gagap itu. Tapi nggak mau ah, entar orang-orang pada pindah haluan ngefans sama aku. Kasihan pelawak senior, nggak dapet jatah." Dia hanya terkekeh mendengar ucapan konyolnya. Mungkin orang ini berpikir kenapa bisa bertemu manusia mirip alien begini? "Arga." Kekehan kecil lelaki itu dan senyum nista dari Diva terhenti ketika suara berat menyelip di antara ruang udara di sekitar mereka. Serentak keduanya membalikkan badan. Dan mata Diva melebar seketika saat melihat orang yang tadi memanggil Om Arga ini. Ya Tuhan, dunia memang tidak selebar daun kelor. Tapi kenapa diantara segala jenis manusia di dunia, dia lagi-lagi harus bertemu si setan darat pengacau hidupnya. Apakah bumi ini volumenya mengecil sampai-sampai dia harus bertemu lagi dengan manusia jahat tak punya hati ini? Pantas tadi Diva merasa kenal dengan suara serak-serak bin becek ini, ternyata Pak Kepsek yang beberapa hari lalu ia recoki rumahnya memanggil lelaki di depannya. Berarti mereka berteman dong? "Oh, Dan. Sini deh." Om Arga menyahut. Pak Danang mendekat sembari melihat mereka bergantian. "Lo cuma ngambil apel hijau doang bisa lama banget. Ada apa?" tanyanya tanpa melirik Diva sama sekali. "Ini ada anak kecil kehilangan jejak kakaknya. Gue hibur biar nggak sedih. Terus kakaknya dateng." Om Arga menunjuk gadis di sebelahnya. Baru setelah itu Pak Danang mau melirik Diva, dahinya berkerut saat menatapnya. Apa Diva terlihat seaneh itu di matanya? "Dimana adikmu?" Pertanyaan singkat ini membuat gadis itu sadar jika adiknya sudah tidak berada di tempat. Menghilang jejaknya entah kemana. "Disa!! Astaga, kemana lagi anak itu?" Tanpa pikir panjang dia berlari kembali sambil mendorong troli mengejar adiknya yang sekilas tadi melewati area rak sabun. Mengabaikan dua orang muka tembok ini, ia berlari kencang dan bisa didengar suara tawa mengiringi langkahnya di belakang.     Diva berhenti sejenak, sambil memegang kedua lututnya yang terasa lemas, dia mengambil napas dalam. Saat mengejar Disa tadi dia tidak menemukan jejaknya, hingga akhirnya harus berputar mengelilingi supermarket ini kembali. Dan hasilnya nihil, adiknya tidak berada dimana-mana. Setelah mengatur napas dan bersiap berjalan lagi, dia merasakan ada yang menariknya dari belakang. "Sebaiknya kamu tunggu disini. Arga sedang mencarinya." katanya sebelum Diva sempat melihat siapa orang yang menariknya. Setelah berdiri berhadapan, dia bisa melihat Pak Danang yang memegang lengannya. Ada sesuatu yang aneh berdesir saat tangan besar itu menggenggam kuat lengannya. Buru-buru dia melepas cekalannya dan meraih minuman botol ditangan pria itu yang tadi disodorkan padanya. Ternyata Diva kehausan, sampai minuman ini langsung habis diteguk. "Terima kasih, Pak." Pak Danang tidak menjawab, mereka masih berdiri disana tanpa bersuara. Mendadak rasa canggung menimpa Diva sehingga ia tidak tahu ingin melakukan apa. Dia merasakan jengah saat Pak Danang tidak juga berhenti memperhatikannya. Memang ada yang salah dengan penampilannya, ya? "Kakak!" Diva tersenyum lega saat adiknya berjalan mendekat bersama Om Arga. Bukan. Bukan karena Disa telah ditemukan, tapi suasana canggung yang terasa akhirnya menghilang yang membuatnya lega. "Dis, kamu kalau sampai kabur lagi. Kakak akan mencabut kabel TV biar kamu nggak bisa nonton. Beneran." Diva mengomeli anak kecil itu. Tapi yang namanya Disa, dia tidak takut dengan pelototan kakaknya. Malah melawan balik. "Aku akan merobek semua novel kakak kalau sampai berani nyabut kabel TV." "Disa!" kesal akhirnya gadis itu menjewer telinga adiknya. "Ahhh.. Kakak jelek. Kuping Disa sakit." "Ini hukuman buat anak nakal sepertimu." Begitu mendapat jeweran, sang adik langsung membalas dengan menendang kaki Diva. Alhasil, terjadilah pergulatan kecil antara kakak beradik ini, di tempat umum pula. Sungguh memalukan. "Hey, berhentilah tidak usah saling memukul. Kalian persis seperti Tom and Jerry." "Diva kamu itu sudah besar. Seharusnya bisa memberi contoh baik. Memarahi sewajarnya. Tidak malu apa sama umur." Kedua pria dewasa ini melerai dan akhirnya berhentilah pergulatan kecil antara Disa dan Diva. "Awas, ya, kalau kamu sampai merobek koleksi novel kakak." "Awas, ya, kalau kakak sampai berani nyabut kabel TV." "Sudahlah, anak-anak manis. Bagaimana kalau kita makan saja?" ajak Om Arga. “Makan? Mauu...!” Kakak beradik itu langsung berteriak histeris mendengar kalimat menyenangkan tersebut. "Eh.. Tunggu. Om Arga yang bayar makanannya ‘kan?" tanya Diva memastikan. "Tentu. Aku traktir kalian. Anggap saja traktir perkenalan. Bagaimana?" "Mau... mau. Aku tahu tempat makan enak disini. Ayo." Gadis itu berjalan mengomando mereka. Om Arga terkekeh sementara Pak Danang hanya terdengar dengusan kecilnya. Bodo amatlah yang penting makan. ***     Diva hanya melihati orang itu dengan dongkol. Kesal yang membekas karena ucapannya waktu itu harus bertambah dengan tindakan Pak Danang yang kejam. Sampai di sebuah restoran dekat supermarket ini dan memesan makanan. Hanya Disa yang mendapat jatah paling banyak. Sedangkan Diva hanya mendapat semangkuk sup iga dan minuman tanpa mendapat tambahan apa pun. Itu semua karena Pak Danang tidak memperbolehkannya pesan banyak-banyak. Apa-apaan orang ini. Dia tidak tahu apa kalau cacing dalam perut berkoar meminta tambahan asupan gizi. Dengan bersungut-sungut gadis itu menyendok makanan yang masih tersisa di piring. Diva melihati interaksi dua pria dewasa yang tengah membicarakan sesuatu dengan serius. Bisa ia tangkap kata-kata pengeluaran dan pemasukan dalam pembicaraan mereka. Apanya yang dimasukkan sama yang dikeluarkan? Tanpa sadar gadis itu memerhatikan ekspresi kedua orang ini. Sama-sama ganteng, tinggi, wangi pula. Tapi ada yang aneh. "Om berdua ini kok setipe banget, ya. Aku merasa seperti ngeliat tembok sama tembok lagi ngobrol. Lempeng banget gitu, nggak ada ekspresi sama sekali." celetuknya tiba-tiba. Iya, keanehan itu adalah kedua lelaki ini berwajah datar semua. Dan bayangkan bila kalian berhadapan dengan dua manusia tanpa ekspresi yang sedang mengobrol. Pasti terasa aneh dan itu akward banget. Menurutnya begitu. Kedua orang ini langsung melihat ke Diva setelah ia menyela pembicaraan mereka. Meski keduanya menatap dengan mata tajam mengintimidasi, Diva bisa tahu mana yang tatapan bercanda dan mana yang tatapan membunuh. Seketika tubuhnya merinding ditatap seperti itu. Dia baru bisa mengembuskan napas lega saat terdengar kekehan kecil dari Om Arga yang mencairkan suasana. "Biarpun kami seperti tembok. Tapi kami sama-sama keras, kok." ujarnya dengan kerlingan jail. Diva sendiri jadi bingung, ambigu banget perkataannya sumpah. "Apanya yang keras?" Lagi Arga hanya terkekeh, sedang Pak Danang mendengus. "Cepat habiskan makananmu. Lalu kita pulang." khas kata-kata Pak Danang pada Diva. "Sebentar lagi, Pak. Nanggung ini. Mau aku habisin kuahnya. ‘Kan kalau makanan tidak boleh tersisa di piring, Pak. Nanti ayamnya mati." "Bilang saja kakak masih lapar. Pake bilang ayam mati segala." Disa berucap. "Iya. Kakak memang masih lapar. Cuma ada orang jahat yang nggak mau ngasih kakak makanan. Pelit banget, kan." Sindiran kerasnya membuat Om Arga tergelak. Dan Disa hanya bingung dengan perkataan kakaknya. Dan orang itu hanya diam. Mungkin dia kesal karena disindir dan ditertawakan. "Pesan apa pun yang kamu mau sekarang. Setelah itu baru kita pulang." "Apa pun? Pesan banyak boleh?" "Terserah." Diva memekik kegirangan. Akhirnya usaha menguras dompet Pak Kepsek lewat traktiran ini terlaksana juga. Dia akan memesan makanan apa pun yang ia mau. Kalau bukan karena mengejar Disa, dia tidak akan makan sebanyak ini. "Dibungkus boleh ya, Pak? Buat Mama di rumah." "Terserah."     Diva memang beruntung hari ini. Sudah mendapat makanan gratis. Ditambah belanjaannya dibayarin sama manusia-manusia tembok itu. Surga dunia ini namanya. Bukan surga dunia tapi lo yang nggak tahu malu, batin cewek itu berkata. Tapi terserahlah, nolak rezeki itukan tidak baik.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD