PART 11

1942 Words
Langkah kaki itu terseret dengan lemah seolah terdapat rantai besar yang melilit pergelangannya sehingga untuk bergerakpun terasa sulit. Ini hari pertama gadis itu kembali ke sekolah setelah masa skorsing selesai. Diva mendesah kecil, merasa berat hati untuk ke sekolah karena menyadari dirinya tidak akan pernah merasakan hal sama lagi seperti sebelumnya. Banyak yang telah berubah, teman-temannya, guru-gurunya, orang tua dan terlebih hatinya tidak akan sama. Mereka pasti akan memandang remeh pada Diva dan itu membuatnya mual, dia tidak sanggup sebenarnya harus kembali ke tempat dimana neraka j*****m telah menjerumuskannya. Dia berada dalam kondisi tumbang, antara maju mempertahankan diri atau mundur mengalah lalu mati. Dia tidak tahu akan seperti apa harinya ini, namun hal yang pasti dia lakukan dan diyakininya benar adalah dia melakukan semua ini hanya karena orangtuanya. Dia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya lagi, dan membuat malu mereka. Akhirnya dia mencoba menghadapi walau dia tahu di depan sana ada banyak hal yang akan menjatuhkannya nanti. Diva masih teringat bagaimana murkanya Sang Ayah ketika mengetahui anaknya adalah pelaku pencurian. Dan itu adalah ekspresi mengerikan yang pernah gadis itu lihat selama tujuh belas tahun hidupnya. Diva bersumpah tidak ingin melihat ekspresi itu lagi, sehingga sebisa mungkin dia melakukan kewajibannya dengan baik dan sesuai aturan. Langkahnya semakin memelan ketika akhirnya gadis itu menginjakkan kaki di area halaman utama sekolahnya. Sekolah yang selama dua minggu ini tidak dilihatnya. Seperti apa yang diduganya, tatap-tatap beragam dari para siswa yang baru datang tertuju padanya. Ada yang menatap aneh, mencela, mengasihani, bahkan ada yang terang-terangan mengejeknya. Gadis itu hanya menulikan pendengaran dan dengan cepat dia berjalan ke arah kelasnya, merasa tidak tahan akan sayatan pedas yang keluar dari mulut-mulut manusia tidak tahu diri ini. Sangat kontras dengan langkah awalnya yang tadi berjalan pelan. Diva yang tidak terlalu memperhatikan jalan yang dilewatinya membuatnya tidak menyadari ada satu buah undakan tangga di area koridor utama yang sukses membuat kakinya terjegal sehingga dia akan terjatuh. Keseimbangannya yang berantakan membuat gadis itu membatin bahwa adegan jatuhnya ini akan menambah daftar ejekan memalukan dalam hidupnya sampai dua tangan yang entah milik siapa menahan tubuhnya. Matanya yang terpejam perlahan terbuka, bisa dia rasakan adrenalin yang berpacu dalam jantungnya karena kejadian ini. Dan saat penglihatannya terbuka sempurna, gadis itu terbelalak saat mendapati mata tajam nan datar di depannya kini. Dia semakin terkejut ketika mengetahui siapa yang menolongnya saat ini, laki-laki yang tidak pernah disangkanya. Laki-laki yang berada diluar jangkauannya. Karan! Karan, cowok ganteng di sekolah ini. Cowok yang menurutnya mempunyai muka paling lempeng di sekolah adalah salah satu orang yang paling diincar karena berdiri sejajar dengan deretan cowok yang menjadi idola di sini. Pesonanya tidak kalah dengan para badboy yang berkeliaran di sekolah. Apalagi sikapnya yang berbalikan dari cowok biasanya dan segudang prestasi yang menunjangnya, membuat Karan berada di puncak popularitas. Diva tahu ini, dia adalah musuh bebuyutan Bayu yang juga mempunyai pesona yang sama di sekolah ini. Bedanya, bila Karan masuk kategori siswa rajin dan Bayu adalah siswa yang bengal. Tak heran jika di sekolah banyak yang membandingkan keduanya, sehingga terdapat dua kubu yang tercipta. Kubu Karan dan kubu Bayu. Tapi Diva tidak memusingkan itu, karena dia memang tidak suka dengan model cowok-cowok yang menurutnya sok eksis ini. "Lo... nggak papa?" Gadis itu mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan dari Karan. Dia baru menyadari posisinya saat ini, menghadap kearah Karan dan dua tangan cowok itu memegang pundaknya. Tangan gadis itu mencengkeram kerah seragam Karan akibat refleks untuk menahan diri agar tidak sampai terjerembap. 'Astaga. Ini posisinya nggak enak banget, kayak orang mau ciuman.' batin gadis itu menjerit. Diva seketika mencoba melepaskan diri dari posisi itu dan berdiri tegak. "Nggak, nggak papa gue. Thanks." jawabnya cepat. "Lain kali hati-hati." Diva menaikan alis melihat ekspresi datar dari cowok ini. Mengingatkannya dengan Pak Danang yang juga sama lempengnya dengan Karan. Dia juga baru menyadari bahwa Karan tidak sendiri. Cowok itu bersama anggota gengnya, yang notabene adalah klub basket kebanggaan SMA ini. Diva tidak begitu mengenal kelompok ini, dia hanya tahu cowok yang sekarang berdiri tepat di belakang Karan bernama Nigi karena dulu pernah satu kelas dengannya. Rasa malu menampar benaknya saat tatapan mata dari kelompok Karan tertuju padanya. Gadis itu entah mengapa mendadak gugup, karena menurutnya berhadapan dengan kelompok Karan jauh lebih mengerikan dibanding berhadapan dengan kelompoknya Bayu. Dan dari pandangan menghunus yang dilayangkan ke Diva sudah pasti mereka tahu perihal kejadian yang menimpa dirinya. Baginya lebih mudah menghadapi kedataran Pak Danang daripada orang-orang aneh di depannya ini. Mungkin ini efek samping karena ini pertama kalinya Diva berinteraksi dengan Karan dan pengikutnya. Suasana keheningan yang jemu akhirnya terpecah saat Nigi menepuk punggung temannya dan berbicara sesuatu pada Karan yang masih menancapkan tatapan ke arah Diva. "Cewek lo Kiran liat, tuh. Dia langsung lari ke kelas barusan." Namun Karan tidak mengindahkan perkataan Nigi, cowok itu membalikkan badan berjalan ke arah berlawanan dari tempat Kiran berlari. Cowok itu terlihat tidak peduli dan tidak berniat untuk menyambangi kelas ceweknya. Melihat sikap Karan dan mendengar apa yang didengarnya dari Nigi sontak membuat alis Diva naik. 'Karan dan Kiran emang pacaran, ya? Sejak kapan?' Tapi tanya dalam hatinya tidak terjawab karena Nigi dan temannya yang lain berlari menyusul Karan. Diva hanya mengedikan bahu lalu melanjutkan langkahnya ke kelas. Gadis itu terpekik saat tangannya ditarik ke belakang dan dirinya harus berhadapan dengan orang yang ingin dia tenggelamkan di dunia ini, Bayu. Dia hanya menatap malas pada manusia besar kepala di hadapannya. "Apaan, sih. Lepas!" Diva menyentak cekalan tangan Bayu dengan kuat namun cowok itu tidak berniat melepaskannya. Tangannya semakin kuat memegang lengan Diva membuat gadis itu meringis. "Lo tuh apa-apaan, sih. Lepas. Sakit!" sentaknya. Cowok itu tidak peduli dia menarik Diva sampai ke belakang sekolah. Lalu ia melepaskan cewek itu. Kecaman dari Bayu selanjutnya membuat Diva terdiam dari segala makian yang akan meluncur keluar. "Gue nggak suka lo deket-deket sama Karan." Mata cowok itu menyipit tajam namun tidak membuat Diva gentar dan berniat melawannya. "Siapa yang deket-deket, sih? Kenal aja kagak. Kalaupun dia deketin gue, apa urusannya sama elo?" Diva berkata dengan muak. "Gue nggak suka." "Halah, alasan apa itu?" "Pokoknya gue nggak suka. Lo tahu dia musuh gue. Gue nggak mau lo deket sama dia. Apa pun bentuknya jangan sampai lo berhubungan sama dia. Ngerti?" Bayu menahan amarahnya karena Diva terlihat santai dan tidak terpengaruh. "Jangan karena lo nggak suka sama orang itu, lo jadi lampiasin kemarahan lo ke gue. Not fair, tau nggak. Lo yang bermasalah, gue yang kena. Itu namanya salah sasaran!" sembur cewek itu dan setelahnya ia menendang kaki Bayu kuat lalu pergi. Bayu yang tidak menyangka akan mendapat serangan, refleks dia menyentuh bagian kaki yang ditendang Diva. "Diva!" Panggilan yang diacuhkan Diva membuat Bayu menggertakan gigi. Sebelum langkah gadis itu semakin jauh. Sebelum semua terlambat, akhirnya dengan lantang dia meneriakkan hal yang selama ini menyesakkan hatinya. Menyiksa batinnya sampai dia lupa sudah berapa kali degup yang berdetak cepat karena satu nama. Ditariknya napas kuat, cowok itu akhirnya bersuara, "DIVA! GUE SUKA SAMA LO! GUE SAYANG LO! GUE MAU LO JADI PACAR GUE!" Pernyataan tak terduga dari cowok yang paling ingin dijauhinya membuat Diva terenyak. Dia tidak menyangka akan perkataan Bayu. Selanjutnya gadis itu menoleh ke belakang. Dan satu kali jawaban Diva telah meruntuhkan segala harapan Bayu. "Gue nggak suka sama elo!" ujarnya tanpa rasa bersalah lalu berbalik dengan lengosan meninggalkan Bayu dan goresan luka di hati cowok itu. Baik Bayu maupun Diva tidak menyadari ada saksi yang melihat itu semua di belakang sudut dinding yang menghalangi tubuhnya. Dia mengepalkan tangan, merasa marah dengan apa yang telah terjadi di depan matanya. Seolah dia menyimpan dendam paling dalam sehingga kuku yang menancap tanpa sadar di telapakannya melukainya. Tapi dia tidak peduli. Yang dia tahu hatinya perih melihat ini. *** Pria ini berjalan santai pada area sekolah sembari berpatroli keadaan jikalau ada yang melanggar aturan, dia bisa dengan sigap menindaklanjuti. Keadaan sekolah sepi karena jam mengajar sedang berlangsung, hanya terdapat beberapa kelas yang sedang mengikuti pelajaran olahraga di lapangan yang tersedia. Bangunan sekolah yang membentang membentuk huruf seperti U memudahkan Danang untuk memindai segala jenis kegiatan sekolah yang berlangsung. Seperti saat ini, dia bisa melihat langsung olahraga apa saja yang tengah dilakukan. Matanya jatuh pada area lapangan basket karena memang dekat dengan jarak pandangnya. Bibirnya terangkat membentuk sudut kecil sebab ia teringat masa sekolahnya dulu. Masa dimana dia masih labil dan gila bersama Arga. Dulu dia juga seperti itu, ketua tim basket idola tetapi dia juga pemimpin geng pemberontak sekolah yang menjadi musuh para guru. Siapa sangka saat ini dirinya menjadi kepala sekolah dan mempunyai tanggung jawab besar. Memang jalan yang diberi Tuhan itu ada hikmahnya dan tidak ada yang mengetahui. Pikiran tentang memori masa silamnya lenyap karena matanya kini melihat hal yang janggal pada arena lapangan basket. Di sana, tidak jauh dari tiang ring basket terdapat seorang gadis yang sangat dikenalnya tengah berdiri dan kedua tangan yang menjewer telinganya sendiri sambil menunduk dalam. Apa yang dilakukan bocah tengil itu di lapangan basket? Apa dia tidak sadar posisinya ini menjadi sasaran empuk timpukan bola? Sebenarnya apa yang ada dipikirannya? "Dia memang benar-benar aneh." gumamnya tanpa sadar. Ekspresi tegang memancar keluar kala ia melihat sebuah bola yang melayang tepat menuju ke arah Diva. Tidak perlu pikir panjang, Danang berlari ke arena permainan basket tersebut dan menangkap bola sebelum mengenai sasaran. Keahliannya dalam bidang ini membuatnya mudah menangkap bola dengan sempurna. Hingga kerasnya bola itu tidak mengenai kepala Diva. Pria itu tidak peduli dengan riuh rendah yang terjadi setelah ia memperlihatkan aksinya. Perhatiannya kini tertuju pada gadis bodoh yang tengah bingung dengan keadaan sekitar. "Kamu pikir apa yang kamu lakukan, hah? Kamu bisa celaka bila berdiri di sini. Paham?" Rasa khawatir terbesit dibenaknya namun dengan cepat ia mengenyahkan rasa itu lalu memarahi Diva. Gadis itu mungkin telah sampai di dunianya sehingga ia berani membalas perkataan Pak Danang dan tidak sadar kalau dia berada di sekolah. "Kenapa Bapak yang jadi marah-marah ke saya?" ujarnya polos. "Kamu itu tidak sadar, sengaja, atau bagaimana. Apa kamu tidak melihat, kamu berada dimana? Hah." "Saya di lapangan basket lah, Pak. Dimana lagi, saya masih sadar dan tahu arah, kok." "Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak sadar bola ini bisa saja mengenai kepala mungilmu dan kamu gegar otak karenanya." Gadis itu memegangi kepalanya membayangkan bila bola warna orange tersebut mendarat tepat ke kepalanya. Dirinya meringis memikirkan bila dia sampai gegar otak akibat ketimpuk bola. Sungguh, bukan insiden yang elite. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya pria itu sekali lagi. "Eh, itu... Anu... Pak..." "Apa?" "Tadi saya terkunci di dalam toilet, sehingga terlambat mengikuti pelajaran olahraga. Jadinya saya dihukum, disuruh berdiri di pinggir lapangan sama Pak Anto." "Benarkah? Pak Anto pasti akan menghukummu, tapi beliau masih memperhatikan keamanan. Jadi, masalah apa yang membuatmu harus di sini?" Diva mendongak untuk melihat raut dari Pak Danang, tetap sama datar namun entah dari mana timbul keyakinan di hatinya. Keyakinan akan Pak Danang. Dihelanya napas kecil, akhirnya ia menjawab, "Saya dikerjain anak sekelas, Pak. Makanya saya bisa berada di sini." "Dikerjai bagaimana?" Diva tidak menjawab, dia tidak mengerti kenapa dia bisa mengadukan nasibnya kepada Danang. Entah kenapa dia merasa bebas pada pria ini, dia juga merasa aman jika bersama Danang. Dan kenapa juga dia merasakan seperti ini? Pandangan mereka akhirnya teralihkan saat Pak Anto selaku guru olahraga menghampirinya. "Ada apa ini, Pak?" tanya Pak Anto pada Kepala Sekolahnya. "Tidak ada. Hanya kecerobohan kecil, Anda harus lebih memperhatikan anak didik Bapak. Agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi." Setelah mengucap kalimat itu, Danang berbalik meninggalkan area lapangan. Diva melihati punggung lebar itu sampai hilang dari pandangan. Ada sesuatu yang terasa janggal di mata Danang tadi, sesuatu itu begitu mengusiknya sebab ia jelas merasakan ada kerlip kelembutan saat mata itu menatapnya. Kerlip tersebut membawa rona tersendiri pada pipi Diva. Dan kenapa dia menjadi merasa... malu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD