"Ada undangan buat lo." ujar seseorang sembari melempar kertas undangan ke atas meja kerja milik Danang.
Pria itu mendesis sebal, merasa tidak heran dengan sikap tidak sopan santun laki-laki yang kini telah duduk santai di depannya. Dua kaki laki-laki tersebut bahkan naik ke atas meja dan punggungnya bersender dengan nyaman pada kursi yang didudukinya. Kalau saja Arga bukanlah sahabat sehidup sematinya, sudah pasti Danang akan menendang jauh orang ini.
"Mentang-mentang bos besar, gayanya slebor. Semaunya sendiri. Ingatlah di sini sekolah, bisakah Anda lebih sopan sedikit?" Danang berkata sarkastik.
Sementara Arga hanya terkekeh kecil, namun mengikuti perintah temannya yang entah kenapa menjadi sangat disiplin sejak title kepala sekolah disandangnya.
"Yes, Mr. Headmaster." celanya.
Danang tidak mengacuhkan perkataan tersebut, kini dia beralih melihat sebuah undangan yang teronggok di mejanya dan dia tidak berniat menyentuhnya. Sekilas undangan pernikahan dengan warna putih gading tersebut terlihat biasa dan pada umumnya, tapi Danang tahu pasti bahwa sebuah nama yang tercetak pada undangan tersebut akan meruntuhkan segala pertahanan dirinya. Nama tersebut akan membedah kembali luka yang selama ini diobatinya, nama tersebut akan membawa pada perjalanan lama yang coba ia butakan, nama tersebut akan membawa kembali kepada angan yang tidak pernah dicapainya. Sebuah nama yang entah bagaimana masih terpatri jelas dalam hatinya, masih tertulis dengan baik bagaimana bentuk rupa dan senyumnya. Nama yang dianggapnya mati namun selalu hidup dalam kenangannya. Nama tersebut mampu meruntuhkan benteng baja yang telah dibangunnya. Dan nama itu telah berlari meninggalkannya seorang dengan kegelapan tanpa bisa menemukan titik cahaya. Dan kini nama itu harus bersanding dengan orang lain, bukan dirinya.
"Lo... Mau datang?" Arga bertanya, menyadarkan Danang dari kilasan lama yang memenuhi kepalanya.
"Lo tahu pasti jawabannya." balasnya lirih.
Arga terdiam menatap sahabatnya ini. Dia tahu persis apa yang dirasakan Danang. Karena saat ini pun keadaannya tidak jauh berbeda bahkan mungkin lebih parah. Namun baik Danang maupun Arga mampu mengontrol emosi diri masing-masing, sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa kapan saja magma kemarahan pada dua pria ini akan meledakkan lavanya. Mereka punya cara tersendiri untuk meredakan lelahnya hati yang terus dipaksa untuk saling mengiris. Arga menggelengkan kepala pertanda muak dengan segala kejenuhan ini, dia bisa melihat harapan yang nyata di mata Danang. Harapan untuk mempertahankan wanita yang dicintainya berada di sampingnya.
"Terserahlah. Tapi kalo lo berubah pikiran bilang gue. Gue temenin."Pernyataan tersebut tidak ditanggapi Danang.
Arga membiarkan temannya tenggelam dalam pengembaraannya sendiri sementara matanya melihat sekeliling ruangan. Tidak terlalu luas, terdapat banyak tumpukan buku di meja, lemari penuh dengan berbagai piala dan buku entah apa terletak di sudut sebelah sofa khusus untuk tamu. Ruangan ini seketika mengingatkannya kembali akan masa sekolahnya dulu. Dia sering keluar masuk ruangan kepala sekolah hanya untuk mendapat hukuman. Memang masa sekolah adalah masa paling menyenangkan.
"Dan..." panggilnya.
"Hmm."Danang sudah sadar rupanya tidak melamun lagi.
"Daripada kita duduk melankolis begini sambil memikirkan mantan. Bagaimana kalau lo ajak gue keliling sekolah ini. Siapa tau, gue dapat guru cantik atau murid cewek yang kecantol sama gue."
"Lo memang biangnya, ya. Pantes ditinggal pergi."
"Sama-sama ditinggal pergi, tidak usah saling mengatai."
"Setidaknya gue nggak 'main-main' kayak elo."
Danang berkata dengan kedua tangan membentuk tanda kutip. Sedangkan Arga hanya terkekeh.
Akhirnya mereka berdua berjalan mengelilingi sekolah. Danang tidak perlu merasa bertanya tentang pekerjaan Arga, karena temannya itu mempunyai segudang pekerja yang siap melaksanakan semua perintahnya. Dan Arga hanya ongkang-ongkang kaki tanpa beban. 'Dasar CEO slebor.' batinnya mencela.
Kini kedua pria dewasa tersebut telah sampai di area kelas dua belas. Setelah tadi Danang memperlihatkan beberapa ruangan utama sekolah ini. Sekarang dia akan menunjukkan kelas-kelas yang berderet di sini. Area kelas dua belas menjadi area pertama yang dilewati karena jaraknya yang memang lebih dekat dibanding kelas lain. Terdapat kurang lebih tiga puluh kelas yang terbagi menjadi beberapa jurusan seperti IPA, IPS, dan Bahasa. Suasananya ramai karena sedang jam istirahat. Banyak yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang berdiri sambil melihat ke arah lapangan, duduk-duduk di depan kelas sambil bergosip, bahkan ada sepasang muda-mudi yang sedang mojok, dan sebagian lainnya berada di surga sekolah ini yaitu kantin. Tak pelak kehadiran dua orang dewasa yang tidak seharusnya menjadi bagian kelompok mereka mencuri perhatian. Banyak mata yang menatap kagum dan penasaran pada dua manusia bertampang datar ini. Namun mereka tidak berani mendekat atau apa pun sebab salah satu dari manusia tampan tersebut adalah kepala sekolahnya, jadi mereka langsung bersikap layaknya murid baik-baik.
Danang dan Arga terus berjalan sambil sesekali bercakap kecil tentang keadaan sekolah. Sudut bibir mereka sedikit terangkat kala teringat masa-masa sekolah. Tiba-tiba langkah Danang terhenti membuat Arga juga menghentikan langkahnya. Dia bingung kenapa temannya berhenti melangkah, sampai akhirnya dia menemukan apa yang membuat langkah temannya ini terhenti. Di depan kelas XII IPS 2 tengah duduk di bangku panjang sambil mengerjakan sesuatu dengan bukunya. Rambutnya yang terkuncir rapi bergerak ke kanan dan kiri mengikuti gerakan kepala empunya. Kadang kepala itu menggeleng, mengangguk, berpikir sampai dipukul dengan pulpen di tangannya. Dan pemandangan tersebut terasa lucu bagi Danang.
"Dia bukannya cewek yang kita temui di supermarket itu bukan?" tanya Arga.
"Hmm..."
"Pantes, dia kenal lo waktu itu. Anak murid sini ternyata."
"Tidak usah heran, dia satu-satunya murid yang berani sama gue. Pandai memanfaatkan keadaan."
Arga terkekeh mendengarnya, dia memang tidak heran lagi. Apalagi melihat langsung interaksi keduanya waktu itu, tidak ada yang mengira bahwa mereka berstatus siswi dan kepala sekolah.
"Samperin, ah." Arga beranjak mendekati Diva yang masih berkutat dengan buku tulisnya. Sementara Danang mengikuti dalam diam.
"Hei, anak manis. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" sapa Arga sambil tersenyum manis.
Diva tersentak kaget mendengar sapaan tersebut, pasalnya pikirannya sedang melayang jauh pada angka-angka indah di bukunya. Gadis itu semakin terkejut setelah melihat orang yang menyapanya. Om yang ketemu di supermarket! Mau apa dia kesini?
"Om Arga? Kok bisa di sini? Mau ketemu Diva, ya?" dengan percaya diri gadis itu bertanya.
Seperti biasa lelaki itu hanya terkekeh. Kenapa harus terkekeh, sih? Coba kalau tertawa, pasti ganteng.
Suara dengusan yang mengiringi kekehan Arga memberitahu bahwa pria ini tidak sendiri. Diva beralih menatap Pak Danang yang juga berada di sana. Seketika rasa kesal muncul pada dirinya sebab dia merasa dihina akan dengusan Pak Danang. Mengabaikan lelaki dengan muka masamnya, Diva beralih menatap pada Om Arga yang menurutnya jauh lebih ganteng.
"Om kenapa bisa di sini? Mau nyalon jadi guru, ya? Atau mau gantiin kepala sekolah di sini?"
Akibat pertanyaan sadis itu Diva mendapat pelototan dari kepala sekolahnya dan juga tawa kecil dari orang yang diberi pertanyaan. Tapi yang namanya Diva tidak takut dengan pelototan seperti itu, malah dia juga balas memelototi Pak Danang. Benar-benar murid kurang ajar.
"Sepertinya itu ide yang bagus, Diva. Saya akan memikirkan untuk menjadi salah satu staf sekolah ini." ujar Arga menjawab pertanyaan Diva.
Lalu laki-laki itu tanpa malu duduk di sebelah Diva, tangannya dengan halus mengambil buku tugas Diva. Tawa keras seketika membahana setelah dia melihat tugas akuntansi milik Diva yang berantakan.
"Lihat, deh. Murid kamu yang satu ini perlu bimbingan khusus."
Danang menerima buku tugas milik gadis yang sekarang memanyunkan bibirnya kesal. Tawanya tertahan saat ia melihat deretan angka yang tertulis di sana. Bagi para pengusaha seperti Arga dan Danang akuntansi yang dikerjakan Diva sudah termasuk salah kaprah. Apalagi akuntansi ini jenis kategori yang bisa dibilang paling mudah. Tidak heran jika sekali lihat mereka langsung mengetahui letak kesalahannya. Sungguh jawaban Diva bisa membuat para akuntan di negeri ini murka.
"Sebenarnya Diva, kamu itu belajar tidak di rumah? Soal mudah seperti ini saja sampai salah."
Diva memberengut tidak suka dengan lontaran kata Pak Danang yang baginya seperti ledekan.
"Pak, akuntansi itu susah. Saya mending ngapalin sejarah saja daripada pusing ngitung begituan. Ngitung duit tapi nggak ada duitnya. Totalnya nyampe milyaran. Megang duit satu milyar saja belum pernah."
"Kamu saja yang tidak mau belajar. Semua menjadi mudah kalau kita usaha."
"Bapak enak punya otak encer jadi gampang ngomong gitu doang. Bapak tidak tahu rasanya menjadi anak d***o. Pertambahan 2x+3y saja bingung, Pak. Apalagi soal begituan."
Arga semakin terbahak mendengar curhatan gadis ini. Sungguh gadis ini benar-benar lucu. Danang mendecakan lidahnya, akhirnya dia meminta pada Arga untuk mengajari Diva akuntansi.
Selama jam istirahat yang tersisa Arga dengan telaten mengajari Diva, Danang hanya berdiri sambil melihati. Kadang dia ikut menyela bila dirasa Diva masih salah. Kegiatan tersebut banyak dilihat oleh para siswa yang berada di sana.
***
Diva keluar dari kelasnya setelah menunggu kelas sepi. Hal baru yang menjadi kebiasaannya selama sebulan terakhir adalah berangkat sekolah, pulang. Tidak ada kegiatan bermain. Dan sekarang dia lebih sering menghabiskan waktu selama di sekolah sendiri. Teman-temannya tidak sudi menoleh padanya. Bahkan Bayu, cowok yang telah ditolaknya menjadi bersikap dingin padanya. Tapi dia tidak memusingkan itu. Mereka mau menjelekkannya seperti apa, terserah mereka. Yang Diva tahu sekarang adalah belajar menjadi pribadi yang baik. Ternyata selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Diva yang awalnya pemalas menjadi rajin, bahkan sekarang dia menjadi penghuni tetap perpustakaan. Menurutnya berdiam di perpustakaan lebih menenangkan dibanding mendengar celotehan yang membuat telinganya panas. Kelima temannya yang dulu dianggap sahabat olehnya juga hanya diam dan tidak berniat membantu Diva. Dulu saat pertama kali masuk sekolah Diva berharap bahwa dia akan disambut oleh teman-temannya seperti biasa. Dia ingin mendengar suara mereka yang mengatakan bahwa mereka merindukan Diva. Namun kenyataannya Diva hanya mendapat hunusan pandangan dingin yang membuatnya tersudut. Apalagi ketika dirinya dipermainkan teman sekelasnya sehingga harus berdiri di lapangan basket dan ditertawakan. Membuatnya sudah tidak punya keinginan untuk berteman dengan mereka lagi. Hatinya sakit tapi dia mencoba membuktikan bahwa dia juga bisa mandiri. Bahwa dia juga bisa menjadi orang yang terbaik dan membanggakan. Dalam hatinya sudah bertekad akan membalas mulut-mulut kejam itu dengan prestasinya nanti.
"Diva!" panggil seorang cowok berkacamata tebal saat gadis itu akan turun melewati tangga.
Melihat Rendi berlari menghampirinya, otomatis Diva berhenti menunggu.
"Buku catatan kamu ketinggalan tadi di perpus." Rendi berujar sembari menyerahkan buku catatan milik Diva.
"Thanks." gadis itu tersenyum kecil.
Sambil menuruni tangga keduanya bercakap ringan.
Sejak Diva menjadi penghuni baru perpustakaan, dia sekarang semakin dekat dengan Rendi. Cowok yang ditaksirnya. Bermula dari Rendi yang membantunya mencari bahan untuk tugasnya, akhirnya mereka menjadi sering berinteraksi. Mereka sering bertemu di perpustakaan, kadang jam istirahat pertama atau pun kedua. Diva tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mengetahui masih ada orang yang peduli terhadapnya. Terlebih saat dia bisa dekat dengan Rendi.
"Hari ini ada novel bagus baru terbit, Div. Kamu mau beli?"
"Oh, ya. Kamu tahu darimana?" tanya Diva balik setelah Rendi menyebutkan judul novel yang dimaksud.
"Kemarin adikku kesana. Dia mengatakan ada buku baru. Tapi dia belum membelinya. Dan sekarang rencananya aku mau membeli novel itu sebagai hadiah ulang tahun adikku."
"Kamu kakak yang perhatian."
"Begitulah. Mau nemenin?" tawarnya.
Diva mengangguk. Entah kapan gadis itu berbicara dengan bahasa yang santun, dia lebih nyaman menggunakan kata aku-kamu daripada cara bicaranya dulu. Mungkin karena Rendi atau karena interaksi tak terduga dengan Pak Danang?
Gadis itu langsung menggeleng ketika nama kepala sekolahnya terbesit dalam benaknya. Memang akhir-akhir ini Sang Kepala Sekolah sering terlihat di sekitarnya. Entah untuk menanyai Diva tentang sekolahnya atau hanya berpapasan biasa.
Mereka berhenti pada undakan tangga terakhir dan mendapati lima makhluk hidup menghadang jalannya. Diva menggertakan gigi merasa tidak heran dengan pengadangan ini. Karena selama ini Arista dan kawan-kawannya sering membuat keributan padanya. Apa lagi kalau bukan untuk mencela.
"Oh, lihat deh. Ada pasangan baru di SMA BP. PJ-nya boleh kali, kan kalian new couple dan lagi hangat-hangatnya lagi." Arista bersuara dengan nada menjengkelkan bagi Diva.
Gadis itu hanya diam tidak ingin menanggapi, karena sejujurnya dia merasa lelah hari ini. Dan bila siang ini harus berperang dengan musuhnya dia pasti akan jatuh dalam kekalahan.
"Nggak usah kaya gitu lihatnya. Santai aja, ih. Lo tuh udah kayak mau bunuh orang lewat tatapan saja." ujar cewek ular itu lagi.
Mata Arista kini beralih pada Rendi si cowok cupu yang diam gemetaran tidak berani berbuat apa-apa.
"Rendi Saputra. Nasib lo sial banget, kenapa harus deket-deket sama snipper ini sih? Entar kalo dia mencuri barang berharga milik lo gimana? Kan bahaya."
"Rendi memang sudah dicuri kok, Ris. Dicuri hatinya oleh Diva." timpal salah satu teman Arista.
Nada suaranya sarat akan merendahkan membuat Diva mengepalkan tangan menahan diri agar kepalan tangannya tidak melayang ke wajah Arista dan antek-anteknya.
"Tercuri hatinya? Oww, drama sekali."
"Lo berlima kalo nggak ada urusan lagi bisa pergi dari sini. Kuping gue jadi pengang." Diva membalas.
Arista yang mendapat perlawanan akhirnya mengibarkan bendera perang padanya,
"Wow... Udah mulai ngelawan ya. Dasar snipper radikal, lo harusnya bersyukur masih diijinin sekolah di sini. Makanya jangan sok jadi orang, lihat sendiri ‘kan banyak yang nggak suka sama lo. Mending elo yang jauh-jauh deh."
"Gue masih mending cuma jadi pencuri doang, ngebalikin yang hilang selesai. Daripada lo, jual harga diri apanya yang mau dibalikin?"
Perkataan pedas dari Diva membuat Arista naik pitam dan akan menampar pipinya jika tidak ada tangan yang menahan ayunan tamparan cewek itu. Arista mati kutu ketika mendapati tatapan dingin dari cowok yang menahan pergelangan tangannya.
Karan mengempaskan tangan Arista kasar, matanya yang mengintimidasi membuat cewek itu buru-buru meninggalkan tempat bersama teman-temannya yang mengikuti di belakang. Mereka lebih memilih menghindari konfrontasi dengan Karan kalau ingin selamat. Sebab bukan tidak mungkin mereka akan berakhir di ruangan guru BP bila Karan sudah turun tangan. Setelah kepergian Arista dan anteknya, baik Diva maupun Rendi menghela napas lega.
"Thanks." ujar Diva.
Karan hanya diam, tapi matanya tertumbuk pada Rendi.
"Kalau jadi cowok jangan lembek." setelah berucap seperti itu dia pergi.
Diva menoleh pada cowok yang saat ini tengah menormalkan ekspresi akibat hinaan tidak langsung dari Karan. Tanpa berkata apa pun Rendi pergi begitu saja, dia merasa malu karena tidak bisa melindungi Diva. Benar apa yang dikatakan Karan dia lembek.
Diva sendiri hanya mengangkat bahu lalu kembali berjalan. Di halaman utama menuju gerbang dia terpaksa harus berhenti kembali karena adanya dua kelompok yang saling berhadapan memblokade jalanan sehingga ia tidak bisa lewat. Diva berdecak, tidak cukup apa tadi dia harus berperang melawan Arista dan sekarang dia harus menyaksikan perang lagi. Ada apa dengan permusuhan?
Kenapa permusuhan semakin merajalela?
Karena lelah dan pusing yang mendadak menyerangnya membuat Diva langsung berteriak kencang menghentikan aksi dua kubu yang bersiap untuk tanding.
"Lo, lo pada kalau mau berantem di lapangan sana. Atau kalau mau yang lebih keren di arena tinju saja, siapa tahu lo semua menang dan bisa membanggakan Indonesia. Nggak cuma bikin malu doang." ketusnya sengit.
Dasar Diva marah-marah saja pakai memberi wejangan, persis kaya Ibu BP.
"Lo sebaiknya diam, Div. Kalau enggak..."
"Kalau enggak apa? Lo mau gantung gue? Lo pikir gue takut sama lo." Diva berkacak pinggang menantang Bayu.
Dia bisa saja mendiamkan dan tidak ikut campur sebenarnya, namun kepalanya yang mau pecah dan dirinya ingin lewat tetapi tidak bisa membuat dia akhirnya memaki kedua kelompok itu. Untung saat ini sekolah sudah sepi sehingga mereka tidak menjadi tontonan. Hanya terdapat kelompoknya Karan dan Bayu di sana. Dan bila mereka tidak dicegah maka akan terjadi pertumpahan darah.
"Kenapa jadi diem? Tadi ngancem sekarang malah melipir. Cowok macam apa lo?"
Dia terus mengoceh, memarahi para cowok-cowok ini, tidak menyadari bahwa di belakangnya berdiri seseorang yang menjadi pemicu keterdiaman kedua kelompok.
"Sekarang lo pada minggir deh, gue mau lewat. Dasar cowok-cowok tidak berguna. Auww... Sakit!" pekiknya saat merasakan telinganya dijewer seseorang.
"Pak Danang! Astaga. Nanti kalo kuping saya melebar jadi kayak kuping gajah gimana? Bapak mau tanggung jawab." ringis Diva sembari mengusap telinganya yang sakit.
Pak Danang memutar bola mata malas.
"Bubar. Jangan coba-coba untuk saling berhadapan seperti ini lagi. Atau kalian akan tahu konsekuensinya." pria itu berkata tenang dan hanya diangguki para muridnya.
Dia melihat pada Diva yang masih sibuk dengan telinganya sebelum menyentil dahi gadis itu lalu pergi.
"Aduh, Pak Danang nyentilnya niat banget. Sakit tau!" jeritnya.
Pria itu hanya mengangkat sudut bibirnya sekilas lalu berbalik menuju parkiran. Interaksi tersebut menjadi perhatian kelompok murid yang masih berdiri di sana, terutama Bayu.