Bab 9: Semur Jengkol dan Potong Rambut

2192 Words
      ***     Aku mau tampil beda mulai hari ini, nggak tahu kenapa, aku ingin kamu mengingat aku sebagai Rindu dengan rambut sebahu     ***     “Belanja di mana?” Rindu yang sedang mengeluarkan bahan-bahan makanan yang ingin dia olah bersama dengan Bhanu hari ini langsung menoleh, Rindu berdecak pelan melihat penampilan Bhanu, pria itu pasti baru saja bangkit dari tidurnya, setelah pulang dari Jakarta, Bhanu memang di sibukkan dengan persiapan pembangunan B&W Caffe sedangkan Rindu sibuk dengan tugas kuliah dan sesekali dia juga mendampingi Bhanu karena kata Bhanu kafe untuk Rindu Hafshayu tidak akan menjadi kafe jika Rindu Hafshayu tidak ikut terlibat dalam hal-hal kecil yang di perlukan.     “Di supermarket bawah, why?” tanya Rindu, dia mendorong segelas air putih pada Bhanu.     “Nggak papa, saya mau semur jengkol dong, Sayang,” ucap Bhanu, Rindu bahkan sampai nyaris lupa bahwa semur jengkol adalah salah satu makanan favorit Bhanu.     “Kamu yang bikin ya, semur jengkol bikinan kamu lebih enak dari bikinan aku. Aku bagian bikin banana cake,” ucap Rindu. Bhanu langsung mengangguk setuju, kemudian dia berdiri di samping Rindu, mulai menyiapkan bahan-bahan yang di butuhkan, untung saja tadi Rindu membeli jengkol karena alasan jengkolnya terlihat sangat segar kalau tidak mereka harus kembali turun ke supermarket bawah.     Rindu mulai sibuk dengan adonan kuenya sedangkan Bhanu sedang sibuk dengan bahan-bahan untuk membuat semur jengkol.     “Kamu nggak ada kuliah hari ini?” tanya Bhanu, Rindu langsung menggeleng tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari mixer.     “Kenapa? Tumben banget nanya jadwal kuliahku, biasanya kamu yang paling ingat segala hal,” ucap Rindu. Bhanu berjalan ke arah wastafel, mencuci bahan-bahan untuk membuat semur jengkol.     “Jadwal kamu cukup padat akhir-akhir ini, belum saya follow up jadwal terbaru, makanya agak lupa,” jawab Bhanu santai.     “Karena kamu terlalu sibuk juga, seharusnya kamu nggak boleh capek-capek banget, bentar lagi mau berangkat loh,” ucap Rindu, napasnya mendadak tercekat ketika mengingat itu. Ini hari ketiga sebelum Bhanu berangkat ke Singapura. Rindu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia bahagia tapi Rindu juga merasa akan kehilangan walau Bhanu tidak akan menghilang darinya.     “Selagi saya ada waktu kenapa enggak sih? Lagian kerjaan saya cuma mengontrol aja, saya nggak ikut angkat semen atau pasir, Rindu,” ucap Bhanu, Rindu mendengus, selalu saja, kenapa Bhanu selalu punya jawaban atas semua hal yang dia katakan.     Rindu memasukkan adonannya ke dalam loyang sebelum masuk ke dalam kukusan. Setelah memastikan tugasnya selesai dan hanya tinggal menunggu banana cake itu matang. Rindu kemudian melangkah ke arah Bhanu yang sudah sibuk dengan semur jengkolnya.     “Kamu belajar resep semur jengkol dari mana?” tanya Rindu ketika dia mencium aroma wangi yang menggugah selera. Rindu bukan tipe yang mengkonsumsi makanan yang satu ini tapi ketika dia pernah mencoba masakan Bhanu, Rindu jadi menyukainya.     “Dari Eyang Uti, Sayang. Orang Eyang Uti yang ngajarin saja makan semur jengkol,” jawab Bhanu, ketika kuah semur jengkol itu mulai mengental, Bhanu memasukkan kecap kental manis ke sana.     Rindu merapatkan tubuhnya pada Bhanu ketika pria itu ingin mencicipi rasa semur jengkol itu, Rindu menjulurkan tangannya pertanda dia juga ingin mencicipi rasanya. Bhanu tersenyum geli, salah satu hal yang dia suka ketika berada di dapur bersama dengan Rindu adalah ini. Rindu selalu bersemangat jika sudah bagian cicip menyicip dan Bhanu tidak pernah kecewa dengan komentar yang di berikan oleh Rindu.     “Ambil sendok aja, nanti tangan kamu kepanasan,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk dan dengan secepat kilat gadis itu sudah kembali dengan sendok di tangannya.     “Gimana?” tanya Bhanu ketika Rindu sudah selesai mencicipi kuah semur jengkol itu.     “Tambahin garamnya dikit lagi deh,” ucap Rindu, Bhanu langsung mengangguk dan mengambil kotak yang berisi garam.     “Segini?” tanya Bhanu sambil memperlihatkan sendok yang berisi garam.     “Itu kebanyakan, kurangin dikit lagi,” ucap Rindu, Bhanu langsung melakukannya, dia kembali menatap Rindu setelahnya, melihat gadis itu mengangguk, Bhanu menambahkan garam itu ke dalam semur jengkol yang hampir matang sedangkan Rindu sudah sibuk mengeluarkan banana cake-nya dari kukusan. Bhanu mengambil sedikit kuah semur jengkol dengan lalu meniupnya dan mendekatkan sendok itu ke mulut Rindu.     Gadis itu langsung menyambutnya begitu saja, tangannya sibuk mengeluarkan banana cake dari loyang, “gimana?” tanya Bhanu.     “Udah mantap,” jawab Rindu, Bhanu langsung mengangguk dan mematikan kompornya.     “Kamu mau makan banana cake-nya pas panas atau tunggu dingin?” tanya Rindu, dia memotong banana cake itu menjadi beberapa bagian kecil.     “Tunggu dingin aja, kita makan nasi dulu,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk. Bhanu sekarang sibuk menuangkan semur jengkol ke dalam mangkuk sedangkan Rindu memilih mengambil nasi dan menyiapkan buah sebagai makanan penutup dan juga beberapa permen. Bisa tidak aman napasnya dan Bhanu kalau mereka tidak makan buah dan juga permen setelah menyantap semur jengkol.     ***     “Kamu udah berapa lama nggak cukuran?” tanya Rindu setelah dia selesai mencuci semua peralatan yang mereka gunakan untuk memasak dan juga piring kotor bekas sarapan yang sudah merangkap sekalian sebagai makan siang.     “Terakhir waktu kita di Jakarta kayaknya, saya lupa,” jawab Bhanu dengan sangat santai, pria itu seolah tidak kenyang sama sekali, dia sekarang sibuk menyantap banana cake buatan Rindu.     “Mau aku bantuin cukur sekarang nggak?” tanya Rindu, Bhanu langsung mengangguk saja, tumben-tumbenan juga Rindu mau membantunya bercukur biasanya Rindu selalu menolak dengan keras ketika Bhanu meminta tolong untuk hal yang satu ini.     “Yaudah, ayuk sekarang aja, sekalin kamu mandi. Aku mau di temenin ngemal hari ini,” ucap Rindu. Bhanu langsung mengangguk dan mengikuti langkah Rindu ke arah wastafel yang ada di dekat dapur. Bhanu duduk di salah satu kursi sedangkan Rindu mulai mengoleskan krim cukur Bhanu di sekitaran rahang pria itu.     “Tumben banget mau bantuin cukur biasanya kamu nggak pernah mau untuk hal yang satu ini,” ucap Bhanu sambil menatap Rindu yang sedang sangat serius dengan kegiatannya.     “Aku udah bilang mau belanja ke mal jadi kamu harus ganteng,” jawab Rindu seadanya, wajahnya tetap sangat serius, Bhanu mengangguk-angguk saja. Beberapa hari terakhir mood Rindu memang tidak terlalu baik, Bhanu bisa merasakannya mulai saat Bhanu menjemput Rindu ke PT Maju Sukses hari itu, setelah gadis itu mengunjungi Bonar.     “Mood kamu lagi jelek banget ya, Sayang?” tanya Bhanu, Rindu menatap pria itu dengan lekat lalu menggelengkan kepalanya.     “Aku baik-baik aja, aku mau potong rambut hari ini,” ucap Rindu setelah dia menyelesaikan tugasnya membantu Bhanu bercukur, dia membantu mengeringkan wajah Bhanu dengan handuk kecil.     “Kenapa mau potong rambut?” tanya Bhanu, seingat Bhanu, Rindu sangat menyayangi rambut panjangnya karena lebih mudah di ikat seperti ekor kuda, tiba-tiba mendengar Rindu ingin potong rambut jelas membuat Bhanu sedikit heran.     “Bosan dengan model rambut kayak sekarang, lagian aku ingin kamu mengingat aku sebagai Rindu dengan rambut sebahu mulai hari ini,” jawab Rindu santai membuat Bhanu langsung bangkit dari kursi dan menatap Rindu dengan lekat, Bhanu merasa Rindu benar-benar sedang menutupi sesuatu darinya.     “Kenapa lihatin aku kayak gitu? Kamu juga harus potong rambut btw, udah kepanjangan ini. Kamu harus tampil fresh di hari pertama kamu kuliah nanti,” ucap Rindu sambil mengacak rambut Bhanu yang memang sudah memanjang. Bhanu kembali diam, saat dia ingin membuka suara dan bertanya lebih lanjut pada Rindu apa yang sedang menganggu gadis itu namun Rindu sudah lebih dahulu mendorong Bhanu ke dalam kamar.     “Cepat mandi, aku tungguin kamu di luar, aku mau ngemal Bhanu.”     ***     “Gimana?” Rindu berdiri di hadapan Bhanu dengan rambut barunya, rambut panjang Rindu sekarang di potong menjadi sebahu dengan gelombang besar di bawahnya membuat gadis itu terlihat lebih fresh dari biasanya. Jika Rindu cantik dan dewasa dengan rambut panjang yang selalu di ikat seperti ekor kuda, kini gadis itu terlihat sangat cantik dan fresh dengan rambut sebahunya.     “Cantik, kayak 10 tahun lebih muda,” jawab Bhanu dengan semyum menggoda membuat Rindu langsung mendengus. Bhanu sendiri sudah terlebih dahulu selesai potong rambut di bandingkan Rindu. Keduanya sekarang sudah kayak orang seumuran walau sebenarnya wajah Rindu itu tidak pernah terlihat lebih tua dari Bhanu.     “Gombal banget, sekarang ayok kita beli keperluan kamu. Aku lihat tadi koper kamu masih kosong banget. Kamu belum siapin apa-apa ya?” tanya Rindu. Mereka melangkah keluar dari salon itu tentu saja setelah menyelesaikan transaksi mereka. Soal bagian potong rambut Rindu yang bayar karena katanya sedang ingin mentraktir Bhanu.     Bhanu semakin heran ketika Rindu terus menggandeng tangannya sepanjang jalan di mal, ini bukan Rindu sekali, biasanya jika mereka sedang pergi berdua, Rindu akan memilih berjalan dengan santai di sampingnya tanpa mau di gandeng katanya nggak enak di lihat orang di tempat umum, tapi untuk kali ini berbeda sekali.     “Kamu benar-benar lagi nggak kenapa-napa?” tanya Bhanu saat mereka memasuki salah satu store pakaian khusus untuk pria dari salah satu brand yang cukup terkenal.     “Memang aku kenapa sih? Aku baik-baik aja Bhanu,” jawab Rindu.     “Kalau kamu nggak baik-baik aja dan ada suatu hal yang mengganggu kamu, bilang aja sama saya, siapa tahu saya bisa bantu kamu,” ucap Bhanu. Tangannya kini merangkul bahu Rindu menatap gadis itu dengan lekat.     “Aku nggak papa, sekarang pilih beberapa baju yang kamu mau, pasti nanti kalau udah sampai Singapura banyak hal yang harus kamu urus dan nggak ada kesempatan untuk belanja,” ucap Rindu dengan senyumnya, Bhanu menghela napas dan memilih menuruti ucapan Rindu, akan perlu waktu bagi Bhanu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebudaayaan yang baru. Walau Bhanu pernah datang ke Singapura sebelumnya tapi saat itu keadaanya tidak memungkinkan untuk Bhanu pergi jalan-jalan dan juga mengenal seluk-beluk Singapura.     “Ini gimana menurut kamu?” tanya Bhanu saat dia menemukan kaus dengan model yang sangat cocok untuknya. Rindu yang sibuk membantu Bhanu memilih, menoleh, senyum kembali teruikir di bibir gadis itu sambil mengangguk pelan.     “Bagus, ambil itu aja,” ucap Rindu. Bhanu langsung mengangguk. Mereka terus memilih beberapa lagi sampai benar-benar puas barulah mereka meninggalkan store pakaian itu dengan sepuluh paper bag di tangan Bhanu sedangkan Rindu membawa lima sisanya.     “Coba kamu ingat-ingat, apa yang paling penting untuk kamu bawa ke mana-mana? Mumpung lagi di sini, sekalian beli aja supaya nggak bolak balik,” ucap Rindu dengan tangan yang melingkar di lengan Bhanu. Bhanu mencoba berpikir dan akhirnya dia menggeleng.     “Sudah ada di apartemen semuanya deh kayaknya, di beliin mama waktu di Jakarta,” jawab Bhanu. Rindu langsung mengangguk.     “Abis ini ke kafe dulu ya, aku mau numpang makan di sana, nanti pas di jalan aku chat Dirga minta tolong di beliin,” ucap Rindu. Bhanu kembali mengangguk saja. Dia akan membiarkan Rindu melakukan apa yang dia mau sampai gadis itu menceritakan apa yang mengganggu Rindu sebenarnya.     “Boleh, saya mau bebek bakar yang waktu itu dong,” ucap Bhanu. Rindu mengangkat jempolnya. Gadis itu menaruh paper bag di kursi belakang, duduk dengan nyaman di kursi penumpang kemudian mulai sibuk berselancar di ponselnya mencari menu makan siang yang enak lalu meminta Dirga untuk memesannya.     ***     “Lo sama mas Bhanu kompak potong rambut dalam rangka apa mbak? Buang sial?!” seruan Dirga membuat Rindu memukul lengan pria itu dengan pelan.     “Sembaranan lo!” seru Rindu, dia membuka kota ayam penyet pesenannya. Bhanu mulai memakan bebek bakarnya.     “Siapa tahu aja mbak lo lagi buang sial gitu, cewek-cewek di kampus sering bilang begitu soalnya kalau mereka potong rambut,” jawab Dirga santai.     “Lo sama yang lain udah makan belum? Bon makanannya berapa? Kasih mas Bhanu biar di ganti uangnya sama dia,” ucap Rindu.     “Udah dong, Mbak, masa iya gue mesenin lo sama mas Bhanu makan sedangkan gue sama yang lain nggak makan, hampa lah perut gue,” ucap Dirga sambil nyengir, “udah di transfer dari tadi malah mbak uang buat bayar makan sama mas Bhanu, soal bayar-membayar mah mas Bhanu tidak ada tandingannya, paling gercep!” seru Dirga kemudian pria itu pamit untuk kembali ke depan karena hanya ada Kala sendirian sedangan Arjuna sedang ada kuliah.     “Kapan kamu transfernya?” tanya Rindu dengan kening berkerut, seingatnya, Bhanu sedari tadi sibuk menyetir.     “Waktu kamu bilang mau minta tolong Dirga pesan makan,” jawab Bhanu dengan santai.     “Bhanu, malam ini temenin aku nonton, boleh?” tanya Rindu. Rindu tahu permintaannya sangat random pada Bhanu hari ini tapi rasanya Rindu ingin terus mengulur-ulur waktu dan menghabiskan banyak waktu dengan Bhanu, Rindu ingin mengukir kenangan lebih banyak lagi sebelum mereka akan kesulitan untuk sekedar makan bersama.     Bhanu menatap Rindu dengan sangat lekat, “kamu kenapa?” tanya Bhanu.     Rindu kembali tersenyum, “Nggak papa, rasanya aku cuma mau ngehabisin banyak waktu sama kamu. Kangen, beberapa hari terakhir kita terlalu sibuk,” jawab Rindu tidak sepenuhnya jujur. Rindu tidak ingin membuat langkah Bhanu mendadak menjadi berat dan penuh ragu ketika dia mengatakan, dia sedih karena Bhanu harus pergi. Rindu tidak ingin menjadi manusia egois, lagi pula, Singapura bukan tempat yang terlalu jauh walau zona waktu mereka akan berbeda tapi satu jam bukanlah masalah yang terlalu berarti.     “Mau nonton di mana?” tanya Bhanu.     “Apartemen kamu,” jawab Rindu dengan cepat. Bhanu langsung mengangguk cepat.     “Boleh, saya akan menemani kamu nonton sampai kamu nyerah dan bilang ngantuk,” jawab Bhanu. Rindu tersenyum. Beruntung sekali dia memiliki laki-laki baik dan sepengertian ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD