***
Karena ada kalanya waktumu adalah miliknya seutuhnya tapi juga ada kalanya waktumu menjadi milik sahabat atau keluargamu karena dunia bukan hanya tentang kamu dan dia tapi juga tentang orang-orang di sekitarmu
***
Rindu menatap pantulan dirinya di cermin untuk melihat penampilannya, rambut panjangnya di ikat seperti ekor kuda seperti biasanya sedangkan untuk pakaian Rindu memilih yang casual supaya lebih terlihat santai.
Setelah makan malam bersama dengan Hapsari dan Gentara serta bermain dengan Banyu. Rindu dan Bhanu pulang ke rumah masing-masing. Rindu kembali ke rumahnya sedangkan Bhanu kembali ke rumah kedua orangtuanya. Satu hari yang tersisa di Jakarta akan mereka manfaatkan untuk bertemu dengan orang-orang yang ingin mereka temui. Rindu maupun Bhanu memang ingin selalu menghabiskan waktu bersama tapi mereka sadar ada kalanya mereka harus menghabiskan waktu bersama sahabat atau keluarga karena dunia bukan hanya tentang Bhanu dan Rindu tapi juga tentang orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Mas Bhanu: Pagi, mbak Rindu.
Senyum Rindu langsung melebar ketika membaca pesan itu, dia membawa tasnya lalu melangkah ke arah meja makan, Rindu memilih sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke beberapa tempat yang ingin dia kunjungi hari ini. Entah sejak kapan nama kontak Bhanu berubah di ponselnya, pasti itu akibat keisengan Bhanu Winata padahal ketika di panggil ‘mas’ beneran kuping pria itu akan memerah karena malu.
Rindu Hafshayu: Pagi, mas Bhanu.
Rindu terkekeh sendiri melihat balasan yang dia kirim, bayangan kuping Bhanu yang memerah dengan wajah yang di buat sedatar mungkin itu pasti sangat menggelikan.
Mas Bhanu: Pagi ini saya sarapan sama mama dan papa, meja makan sudah tidak sekaku dulu walau bapak Winata masih banyak diam. Tapi selesai sarapan papa ngajakin saya main golf.
Mas Bhanu: Kamu sudah sarapan?
Rindu sangat bersyukur, setidaknya hubungan Bhanu dan bapak Winata berangsur membaik, pria paruh baya itu pasti sangat senang ketika Bhanu di nyatakan lolos di NUS bahkan dengan jurusan yang di harapkan Winata.
Rindu Hafshayu: Ini lagi sarapan bubur kayak kemarin tapi satenya doubel, enak banget soalnya.
Rindu mengigit sate telur miliknya, sekarang memang masih jam setengah delapan pagi. Wajar saja Bhanu akan ikut bersama dengan Winata bermain golf.
Mas Bhanu: Bentar saya mau kirim list yang mau saya lakukan hari ini sama kamu, supaya kamu nggak bingung dan nyariin saya terus mikir aneh-aneh.
See, Bhanu Winata memang selalu seperti itu. Selalu mencari cara supaya pikiran jelek-jelek tidak pernah hinggap di benak Rindu.
Rindu Hafshayu: Oke, aku juga bikin list kalau begitu
Mas Bhanu: Kegiatan pacar mbak Rindu hari ini.
1. Sarapan bareng keluarga
2. Ngabarin pacar
3. Mau main golf sama papa
4. Makan siang bareng keluarga, kemungkinan besar di rumah sakit sekalian sama mas Genta dan mbak Sari, oh iya sama Banyu juga
5. Ngedate sama mbak Rindu sampai malam
Note: Mbak Rindu, kalau nanti saya ketemu cewek cantik nggak usah cemburu, hati saya isinya kamu doang kok.
Rindu terkekeh pelan, Bhanu memang selalu sekonyol dan segabut itu tapi percayalah, Rindu selalu merasa di hargai dan sayangi oleh Bhanu.
Rindu Hafshayu: Kegiatan pacar mas Bhanu hari ini
1. Sarapan bareng bubur ayam dan sate telur
2. Mau naik bus sampai siang keliling Jakarta sambil refresh otak
3. Mau kasih kejutan sama Bonar di PT Maju Sukses lalu makan siang
4. Ngedate sama mas Bhanu sampai malam
Note: Yang suka aku di PT Maju Sukses banyak, Mas, btw, tapi nggak usah cemburu, aku udah terjebak dalam gombalan receh rasa berlian kamu kok
Mas Bhanu: Nanti kasih tau saya mau di jemput di mana. Oh ya, Sayang. Pikirin tempat kencan buat nanti malam. Kamu lebih kenal ibu kota dari pada saya.
Rindu Hafshayu: Oke. Siapp. Have nice day, mas Bhanu
Mas Bhanu: Have nice day, mbak Rindu.
Setelah itu Rindu memilih memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menikmati sisa sarapannya. Hari ini Rindu akan memulai harinya dengan bernostalgia dengan ibu kota, menaiki bus sambil mendengarkan musik dan membaca beberapa blog yang dia sukai dari berbagai bidang adalah kombinasi yang sangat sempurna. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Rindu merasa sangat senang.
***
Fasilitas umum di ibukota semakin lama semakin berkembang dengan sangat baik, mereka memberikan kenyamanan untuk para penggunanya, berjam-jam di ajak berkeliling sama sekali tidak membuat Rindu merasa bosan namun ketika jam makan siang sudah tiba, Rindu memilih berhenti di halte dekat PT Maju Sukses kemudian dengan senyum yang terukir di wajahnya, Rindu melangkah dengan riang menuju kantin. Rindu sangat yakin Bonar sedang menghabiskan waktunya di sana. Bonar beberapa minggu yang lalu mengatakan semakin tekun dengan diet dan olahraganya, berat badan pria itu sudah turun drastis. Rindu jelas tidak percaya itu sampai dia memastikan sendiri bagaimana keadaan sebenarnya sahabat yang sekaligus berperan sebagai informannya selama ini.
Rindu menyapa beberapa karyawan yang dia kenali, senyumnya semakin lebar ketika melihat Safira, anak arsitektur yang selama ini menjadi incaran Bonar. Dan siang ini sungguh menakjubkan, Bonar dan Safira makan siang bersama. Rindu merasa sudah melewatkan banyak hal. Bonar juga tidak pernah menceritakan perkembangan hubungan dengan Safira.
“Selamat siang Safira.” Rindu menyapa dengan ramah, gadis cantik itu tersenyum dengan wajah yang jelas sedikit terkejut membuat Rindu terkekeh pelan, apalagi ketika melihat Bonar yang menatapnya dengan mulut yang membulat sempurna.
“Mbak Rindu?” tanya Safira dengan nada suara yang sedikit meninggi. Rindu hanya terkekeh pelan.
“Apa kabar? Lama banget ya kita nggak ketemu,” ucap Rindu dengan santai, dia masih mengabaikan Bonar yang duduk di hadapannya.
“Mbak Rindu kemana aja? Bhanu juga hilang gitu aja. PT Maju Sukses mendadak sepi,” ucap Safira. Rindu memang tidak terlalu dekat dengan gadis cantik ini tapi melihat respon Safira hari ini membuat Rindu jadi berpikir, mungkin ini alasan Bonar menyukai Safira. Gadis itu tidak sombong walau jelas berasal dai keluarga kaya raya dan memiliki wajah di atas rata-rata.
“Gue kuliah di Jogja, Fir, kantor gimana?” tanya Rindu sebagai bentuk basa-basi.
“Sepi sih mbak tapi untuk perkembangan ya jauh lebih baik dari sebelumnya. Makin sibuk pokoknya.” Rindu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kemudian menaruh paper bag yang dia bawa di atas meja.
“Itu oleh-oleh dari Jogja, bagi-bagi gih sama yang lain,” ucap Rindu, Safira mengangguk.
“Ndu!” seruan dengan nada tidak percaya itu membuat Rindu tersenyum geli.
“Suprise abang Bonar? Kaget nggak lo, gue tiba-tiba datang ke sini?” tanya Rindu dengan geli. Safira yang duduk di samping Rindu juga tersenyum geli. Dia sangat tahu bagaimana kedekatan dua orang ini. Bonar sering menceritakannya di beberapa kesempatan.
“Gila lo, Sistah, kemana aja lo baru muncul di hadapan gue setelah sekian lama?” tanya Bonar. Dia melirik ke arah Safira yang sepertinya hendak bicara.
“Kenapa?” tanya Bonar.
“Gue mau gabung sama Mikayla aja buat makan siang, have fun guys!” seru Safira, setelah dia berpamitan dengan Bonar dan Rindu, gadis itu memilih ke meja yang di tempati oleh Mikayla dan anak-anak arsitek yang lain. Perkumpulan orang-orang good looking-nya PT Maju Sukses.
“Gimana ceritanya lo bisa sampai di sini, bukannya liburan semester masih lama?” tanya Bonar setelah di meja itu hanya tersisa mereka berdua. Bonar bahkan memesankan soto favorit Rindu di kantin ini.
“Lagi jengukin Hapsari yang baru lahiran. Lo tahu anak Genta sama Sari ganteng banget!” seru Rindu dengan wajah berseri, membayangkan Banyu dengan pipi gembulnya membuat Rindu jadi gemes sendiri.
“Jadi anak bapak Gentara laki-laki?” tanya Bonar, dia sudah mendengar kabar bahwa anak dari bos mereka itu sudah melahirkan tapi Bonar tidak tahu jenis kelaminnya.
“Iya, namanya Banyu Hantara Adikusuma,” jawab Rindu, dia menyeruput es teh manis miliknya.
“Terus lo pulang ke sini nggak mungkin sendirian dong, Sistah, di mana berondong lo?” tanya Bonar.
“Main golf sama bapaknya,” jawab Rindu dengan santai. Tatapannya kemudian terfokus pada Bonar.
“Abang Bonar selain lo yang udah di angkat jadi manajer keuangan, sekarang gue juga melihat perbedaan sama lo, coba berdiri dulu berdiri!” seru Rindu. Walau Bonar terlihat kebingungan tapi pria itu tetap menuruti perintah Rindu.
“Gila kekar banget lo sekarang, otot udah ada, perut udah rata dan bahkan gue yakin sedang proses pembentukkan roti sobek itu, pipi udah tirus, kemeja mahal, rambut super klimis, wajah udah glowing. Lo benar-benar berubah sedrastis ini. Gue pikir masih omong kosong kayak dulu!” seru Rindu terkagum-kagum. Bonar yang memang memiliki tubuh tinggi sekarang sudah sangat menawan dan super manly dengan kulit kecoklatannya. Wajahnya super lokal banget berbeda dengan Bhanu yang ada unsur bule arab nya dikit yang mungkin di dapat dari Hera yang Rindu yakin bukan berdarah murni Indonesia.
“Gue udah bilang lo beberapa kali ya, badan gue udah ramping sekarang, lo menolak percaya mulu sama gue!” seru Bonar, dia kembali menyesap kopinya yang masih tersisa setengah.
“Gimana gue mau percaya kalau selama ini lo kalau mau diet niat mulu di lakuian kagak. Kayak efek kecantikn Safira ngaruh banget ya sama lo?!” seru Rindu dengan tatapan menggoda.
“Safira nilai tambahnya sih tapi tetap aja gue mau benerin bentuk tubuh karena motivasi diri gue sendiri. Gue jauh lebih hemat biaya makan sekarang,” jawab Bonar sambil nyengir.
“Gue denger Bondan udah wisuda, udah dapet kerjaan?” tanya Rindu. Bonar langsung mengangguk.
“Beban gue perlahan-lahan mulai sedikit. Lega banget gue, Ndu. Gue pikir dulu nggak akan berhasil biayain sekolah Bondan sampai lulus tapi sekarang rasanya gue mau sujud syukur aja apalagi dia langsung dapat kerja setelah lulus,” ucap Bonar dengan wajah berseri-seri.
“Sekarang jabatan udah oke banget nih, adek udah lulus, tinggal biayain kuliah Latifah aja. Tahun depan udah bisa married dong lo.”
“Lo duluan deh, gue harus nabung yang banyak buat mahar kali, Ndu. Target gue anak orang kaya banget soalnya. Kalau gue nggak bermobil dan punya rumah bisa mental banget kali gue!” seru Bonar dengan wajah masamnya membuat Rindu langsung meringis pelan.
“Kenapa nasib kita gini amat ya abang Bonar, kenapa kita harus suka sama anak orang kaya? Bersyarat banget perasaan untuk memenuhi kriteria memantu idaman,” keluh Rindu. Walau dia dan Bhanu berjuang bersama tapi kadang Rindu juga merasa ada lelahnya, dia seolah sedang mendaki gunung yang sangat tinggi. Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk Rindu menyerah karena ketika dia melakukan itu, Rindu harus siap kehilangan semua mimpi-mimpinya.
Bonar hanya terkekeh pelan melihat Rindu, rasanya memang sangat sulit memenuhi keinginan orang lain dan menjadi seorang yang pantas tapi ini bukan saatnya menyerah tapi ini saatnya berjuang. Baik Rindu ataupun Bonar selalu memegang satu prinsip yang sama, yaitu mereka tidak akan menikah tanpa restu orangtua.
“Gue yakin semua akan berlalu begitu saja asalkan kita mau kerja keras, btw gimana kuliah lo, Bhanu juga gimana?” tanya Bonar.
“Gue lancar. Beberapa hari lagi, gue dan Bhanu akan jadi manusia LDR, dia ke terima di NUS,” jawab Rindu dengan santai membuat mata Bonar langsung berbinar.
“Serius NUS? Singapura?” tanya Bonar, Rindu langsung mengangguk.
“Galau ngak? Galau nggak? Galau dong, masa enggak?!” seru Bonar dengan kekehan geli membuat Rindu mencebikkan bibirnya. Rindu baru sadar hari keberangkat Bhanu sudah dekat.
Mengabaikan kegalauannya, Rindu kini menatap Bonar. “Perkembangan lo sama Safira gimana?” tanya Rindu Bonar nyengir.
“Susah elah, Ndu, buat deketin orang cantik. Gue ngesot banget. Mau di ajak makan siang bareng aja gue udah sujud syukur,” ucap Bonar. Rindu menepuk-nepuk lengan berotot Bonar.
“Sabar-sabar, kalau jodoh nggak ke mana kali,” ucap Rindu. Bonar mengangguk. Sebenarnya jodoh tidak akan ke mana juga merupakan pegangan Rindu setiap kali dia merasa bingung dengan segalanya. Berserah diri sama Tuhan sambil berusaha. Itu adalah hal yang bisa di lakukan oleh Manusia.
“Lo juga harus percaya itu,” ucap Bonar kemudian mereka tertawa tanpa sebab, entahlah, mungkin sedang menetertawakan diri sendiri. Curhatan itu berlanjut sampai akhirnya mereka harus berpisah karena waktu makan siang Bonar habis. Rindu juga sekalian pamit pada Bonar, walau pria itu sempat merajuk dan mengomel padanya tapi pada akhirnya Bonar memeluk Rindu dan mengatakan untuk sering mengabarinya. Nyatanya walau Rindu dan Bonar sudah tidak ada di kota dan lingkungan pekerjaan yang sama, mereka masih bersahabat dengan sangat baik.
***
“Bagaimana hari kamu?” tanya Bhanu ketika Rindu masuk ke dalam mobil. Bhanu memang menjemput Rindu ke PT Maju Sukses satu jam setelah jam makan siang berakhir.
“Baik, Bonar jadi kurusan banget sekarang, btw,” ucap Rindu sambil membenarkan posisi duduknya dan tersenyum pada Bhanu.
“Gimana hari kamu?” tanya Rindu ketika mobil yang di kendarai Bhanu mulai meninggalkan kawasan PT Maju Sukses.
“Cukup baik dan sekarang sangat baik setelah lihat wajah kamu,” ucap Bhanu dengan cengirannya membuat Rindu memukul lengan Bhanu dengan pelan. Rasa khawatir Rindu langsung lenyap begitu saja, seharusnya Rindu memang tidak perlu ragu sedikitpun tentang hubungannya dan Bhanu.
Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti Rindu begitu saja. Dia menatap Bhanu dengan lekat dari samping, memperhatikan setiap lekuk wajah Bhanu yang selalu berhasil membuatnya berdecak kagum apalagi ketika melihat lesung pipi sebelah kanan pipi Bhanu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Bhanu. Rindu hanya diam, dia tidak ingin ke mana-mana.
“Aku mau peluk kamu,” ucap Rindu membuat Bhanu langsung menoleh, menatap Rindu dengan kening berkerut.
“Kenapa, Sayang? Kamu ada masalah?” tanya Bhanu heran, karena tidak biasa Rindu berbicara seperti ini.
“Aku nggak mau ke mana-mana, aku mau peluk kamu!” seru Rindu. Bhanu langsung mengangguk saja dan melajukan mobilnya ke rumah Rindu membiarkan gadis itu memeluk lengannya sepanjang jalan. Bhanu yakin pasti ada satu hal yang mengganggu Rindu hari ini.