***
Suatu hari nanti saya ingin menjadi seperti mas Genta, menjadi seorang ayah untuk malaikat kecil yang selalu memberikan kehangatan baru di sebuah rumah
***
Taksi berhenti di depan rumah Rindu yang ada di Jakarta tentu saja dengan Bhanu yang ada di sampingnya.
“Kamu mau ikut turun dulu atau langsung pulang ke rumah?” tanya Rindu, sekarang sekitar jam enam pagi, masih sangat kepagian kalau mereka datang ke rumah sakit untuk menjenguk Hapsari.
“Saya ikut di sini aja gimana? Pulang ke rumah nanti kalau kita udah selesai jenguk mbak Sari,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk setuju, lagian akan sangat membuang waktu jika Bhanu harus kembali ke kediaman keluarga Winata terlebih dahulu kemudian kembali ke sini untuk menjemput Rindu. Lebih baik Bhanu memanfaatkan waktunya untuk beristirahat di salah satu kamar yang ada di rumah Rindu.
“Oke, kita istirahat di sini aja dulu,” ucap Rindu, Bhanu membayar taksi kemudian mereka menurunkan barang bawaan mereka yang tidak seberapa. Terlihat sekali bahwa mereka hanya akan singgah di Jakarta sedangkan Yogyakarta adalah tempat tebaik bagi keduanya untuk menetap.
“Pagi, bi Salimah!” seru Rindu dengan semangat, dia berhambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang membantunya membersihkan rumah ini tiga minggu sekali. Jika tidak ada bi Salimah, tetangganya yang baik hati mungkin sekarang rumah yang penuh dengan kenangan Rindu dan kedua orangtuanya pasti akan sangat berantakan, berdebu dan ada bagian yang keropos karena di makan oleh rayap.
“Mbak Rindu apa kabar?” tanya bi Salimah, matanya berbinar-binar dan menatap Rindu dengan senyum lebarnya.
“Rindu kabar baik bibi. Bibi apa kabar?” tanya Rindu, dia menatap bi Salimah tidak kalah antusias. Sudah lama sejak terakhir kali Rindu bertemu dan berinteraksi secara langsung seperti ini dengan bi Salimah, palingan mereka hanya akan bertukar pesan singkat, bi Salimah melaporkan bahwa dia sudah membersihkan rumah sedangkan Rindu akan mengirim bi Salimah gaji. Hanya sekedar itu.
“Bibi juga kabar baik,” jawab bi Salimah kemudian tatapannya bertemu dengan tatapan Bhanu yang berdiri di belakang Rindu. Fokus bi Salimah kemudian jadi sepenuhnya pada pria tinggi itu.
“Mas nya yang pernah datang ke sini buat cari mbak Rindu kan ya?” tanya bi Salimah dengan sedikit ragu, Bhanu langsung melebarkan senyumnya dan menyalimi tangan bi Salimah dengan sopan.
“Iya bibi, terimakasih sudah memberikan amplop itu ke saya hari itu, kalau nggak mungkin saya masih jadi sadboy sampai hari ini,” ucap Bhanu sambil melirik Rindu dengan tatapan jahil. Rindu pura-pura sibuk dengan keadaan sekitarnya, bagaimanapun isi amplop itu sangat memalukan bahkan ada sedikit rasa sesal dalam diri Rindu ketika mengingat apa isi surat itu, Bhanu pasti akan kembali menggodanya.
“Bibi udah siapin bubur ayam buat sarapan di dalam. Sekarang bibi mau kembali ke rumah dulu, selamat menikmati waktu istirahat. Kalau mbak sama mas butuh sesuatu jangan sungkan telpon bibi, ya,” ucap bi Salimah. Rindu dan Bhanu mengangguk sambil mengucapkan terimakasih.
Kini tinggal mereka berdua, Rindu mendorong gerbang yang sudah terbuka sedikit sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Bhanu mengikuti Rindu dengan santai dari belakang.
“Ngomong-ngomong soal kata-kata di balik foto dan surat waktu itu, saya pengen lagi dong di bikinin surat, kata-kata kamu di surat itu bikin terbang sama sedih sih, saya hampir aja nangis waktu itu,” ucap Bhanu, Rindu mendelik. Benar kan, Bhanu pasti akan membahasnya lagi padahal pria itu sudah berkali-kali membahas soal isi amplop itu.
“Udah aku bilang nggak usah di bahas lagi, kamu kok jadi nyebelin sih?!” seru Rindu, dia duduk di samping Bhanu, di sofa yang ada di ruang santai.
“Padahal nggak memalukan sama sekali, walau cara kamu meninggalkan surat itu klasik banget sih tapi saya selalu merasa senang ketika mengingat isinya. Kamu sweet banget tahu.”
“Udahlah, kesel ya aku sama kamu, mau sarapan di meja makan atau di sini aja?” tanya Rindu, Bhanu langsung nyengir, inilah hebatnya Rindu Hafshayu, mulutnya mengatakan kesal tapi tindakannya sudah macam ibu peri yang baik hati.
“Di meja makan aja, ini ruang santai bukan ruang makan,” ucap Bhanu, dia berdiri sambil membantu Rindu berdiri di sampingnya kemudian mereka melangkah ke meja makan, di sana memang sudah tersaji bubur ayam bahkan ada sate telur dan ayam seperti yang mereka santap kemarin di angkringan dekat Malioboro.
“Kamu udah dapat kabar?” tanya Rindu, dia menuangkan air putih ke gelas lalu mendorong gelas itu ke arah Bhanu.
“Kabar apa?”
“Hapsari udah lahiran atau belum?”
“Terakhir kali, mama ngabarin mbak Sari baru bukaan ke tiga terus sampai sekarang belum tahu sih, mama belum kasih kabar lagi,” jawab Bhanu, Rindu mengangguk dan mereka mulai menyantap sarapan mereka sambil di selingi obrolan santai khas Bhanu dan Rindu seperti membicarakan apakah Jakarta masih seperti dulu atau sudah banyak yang berubah atau membicarakan tentang waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke rumah sakit. Dan satu lagi sampai hari ini cara mereka menyantap bubur masih sama seperti dulu. Rindu tim di aduk sedangan Bhanu tim tidak di aduk.
“Aku akan istirahat di kamar ibu, kamu pakai kamar aku aja,” ucap Rindu setelah dia dan Bhanu selesai membersihkan sisa sarapan mereka. Bhanu langsung mengangguk setuju dan masuk ke dalam kamar yang di maksud oleh Rindu. Kamar yang pasti menjadi saksi bisu pertumbuhan Rindu mulai menjadi gadis kecil, remaja dan beranjak menjadi gadis pekerja keras dan pantang menyerah seperti sekarang. Masih ada waktu satu jam yang bisa mereka pakai untuk beristirahat. Jujur sekarang mata Bhanu sangat mengantuk karena saat perjalanan dia nyaris tidak tidur karena asik menikmati keindahan wajah Rindu.
***
Rasa takut dan panik serta penuh harap terlihat dengan jelas di wajah orang-orang yang menunggu di luar ruang bersalin. Di dalam sana Hapsari sedang berjuang untuk membawa buah cintanya dan Gentara untuk melihat dunia, berada di antara orang-orang yang menyayanginya.
Sedari tadi Rindu duduk di samping Bhanu yang juga terlihat sangat cemas, di seberang mereka ada Hera dan Winata yang terlihat begitu khawatir bahkan sedari tadi bapak Winata yang bersikap sinis padanya itu berusaha menenangkan Hera.
Winata, pria tua itu bahkan tidak menegur Rindu sama sekali, mengingat apa yang terjadi terakhir kali antaranya dan Winata, Rindu rasa sudah sangat wajar pria itu bersikap seperti itu. Winata melarang Rindu untuk bersama dengan Bhanu tapi dia dan Bhanu masih bersama sampai hari ini. Rindu yakin sikap Winata akan tetap sama sampai mereka memenuhi syarat yang di berikan oleh pria itu. Tadi Rindu sempat mengatakan pada Bhanu, dia akan menjenguk Hapsari sendiri untuk menghindari Winata tapi Bhanu melarang, Bhanu mengatakan Rindu tidak boleh lari lagi dari masalah apapun. Ini tentang hubungan mereka berdua, Bhanu ingin berjuang bersama dengan Rindu. Menghadapai segala hal bersama-sama.
Saat seorang dokter keluar dari ruang bersalin itu, mereka kompak berdiri dan menatap sang dokter dengan wajah penasaran, Hera, mama Bhanu terlihat menangis sambil mengucapkan terimakasih pada sang dokter, Winata memeluk Hera dengan erat, seulas senyum terlihat dari wajah yang selalu tampil dengan kaku itu. Rindu dan Bhanu saling tatap dengan senyum lega.
Hari ini Gentara dan Hapsari resmi menjadi orangtua. Mereka kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan bersalin Hapsari, wanita itu memang memilih melahirkan secara normal. Bhanu kali ini menggenggam tangan Rindu entah karena alasan apa tapi kali ini Rindu sama sekali tidak protes.
Tatapan mereka jatuh pada Hapsari yang sedang tersenyum pada Gentara yang sedari tadi tidak berhenti mengucapkan terimakasih dan mengecup seluruh permukaan wajah Hapsari. Benar-benar pasangan yang berbahagia. Apakah Rindu merasa cemburu? Tentu saja tidak, perasaan Rindu untuk Gentara sudah lama hilang, sekarang perasaan Rindu sepenuhnya untuk pria yang menggenggam tangannya dengan erat, Bhanu Winata. Rindu mencintainya.
“Genta adzanin dulu bayi kalian,” ucap Hera ketika seorang perawat membawa bayi Hapsari dan Gentar yang sudah di bersihkan. Gentara langsung mengangguk. Suara merdu Gentara yang sedang mengadzani anaknya membuat suasana ruangan itu menjadi mengharu biru apalagi ketika melihat satu tetes air mata penuh kebahagiaan meluncur bebas dari pelupuk mata Gentara.
Hera dan Winata memeluk Hapsari, mengucapkan selamat dan rasa syukur pada Tuhan. Sekarang keluarga Winata sudah memiliki keturunan. Kedua orangtua Gentara memang tidak ada hari ini karena sedang ada urusan di luar kota.
Rindu mendongak ketika merasakan genggaman tangan Bhanu semakin erat.
“Kenapa?” tanya Rindu tanpa suara.
“Suatu hari nanti saya ingin menjadi seperti mas Genta, menjadi seorang ayah untuk malaikat kecil yang memberikan kehangatan baru di sebuah rumah,” bisik Bhanu di telinga Rindu dan entah kenapa darah Rindu mendadak berdesir ketika mendengar ucapan tulus dan penuh harap Bhanu.
Rindu hanya membalas dengan sebuah senyum terbaik yang dia miliki, Rindu tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tapi Rindu bisa merasakan, Bhanu benar-benar menginginkan itu suatu hari nanti.
Winata dan Hera terpaksa pamit karena mereka memiliki pertemuan mendadak dengan seorang klien serta teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Kini hanya tersisa, Bhanu, Rindu, Gentara, Hapsari dan bayi tampan yang ada di pelukan Hapsari. Ruang yang sedari tadi atmosfernya terasa sangat kaku dan dingin kini perlahan santai dan hangat. Rindu sudah duduk di sisi kasur Hapsari yang kosong sambil menatap bayi mungil yang terlihat sangat tampan itu.
“Wajahnya lo banget nggak sih, Nta?” tanya Rindu, dia menatap wajah sang bayi dan Gentara bergantian seolah sedang memastikan.
“Tapi warna kulitnya mbak Sari,” ucap Bhanu ikut berkomentar, dia tidak menyangka sekarang sudah memiliki keponakan.
“Ya iyalah, berarti bayinya emang anak gue sama Sari, gue usahanya keras benget tuh!” seru Gentara yang berhasil mendapatkan cubitan maut dari Hapsari walau tidak kuat tapi tetap saja berhasil membuat Gentara meringis pelan.
“Ngomongnya ya! Ada anakku nih!” seru Hapsari.
“Anak aku juga tuh, Yang!” seru Gentara tidak mau kalah. Eforia orangtua baru memang, sangat excited dan mendebarkan.
“Jadi siapa nama anak kalian, jangan bilang lo sama Sari belum nyiapin nama?” tanya Rindu, dia mengambil alih bayi mungil dengan pipi tembem itu ke dalam gendongannya. Bhanu yang melihat Rindu berhasil menggendong bayi itu berpindah tempat kemudian berdiri di samping Rindu. Dia menatap Rindu dan bayi itu bergantian. Ekspresi Bhanu antara senang dan juga terlihat takut.
“Udah punya nama, Ndu. Tadi juga gue sama mas Genta udah kasih tahu mama sama papa. Kalian berdua aja yang asik bisik-bisik sampai melewatkan nama keponakan sendiri!” seru Hapsari. Rindu nyengir.
“Jadi siapa nama anak ganteng ini?” tanya Rindu.
“Banyu Hantara Adikusuma,” jawab Hapsari dengan capat membuat senyum Bhanu dan Rindu melebar. Nama itu terdengar sangat cocok untuk bayi mungil ini.
“Gimana menurut kalian, cocok nggak?” tanya Hapsari. Rindu dan Bhanu kompak mengangguk.
“Cocok, siapa yang bikin nama?” tanya Rindu.
“Gue lah,” jawab Gentara, pria itu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Hapsari, jangan lupakan, tangan Gentara sedari tadi selalu menggenggam tangan Hapsari. Rindu menganggukkan kepalanya. Adikusuma itu nama belakang keluarga Gentara, jadi sudah sangat wajar jika Gentara menyematkan nama keluarga di belakang nama anaknya.
Rindu membiarkan Hapsari dan Gentara saling berbicara dari hati ke hati walau sedari tadi yang Rindu dengar hanya Gentara yang mengucapkan terimakasih dan mengucapkan kalimat penuh cinta pada Hapsari tapi semuanya terdengar sangat manis.
“Mau gendong, Banyu?” tanya Rindu pada Bhanu yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari Banyu tapi Bhanu sama sekali tidak menyentuh bayi itu.
“Kamu aja, saya ngeri, dia rapuh banget kayaknya,” jawab Bhanu sambil meringis pelan, Rindu terkekeh. Padahal beberapa menit yang lalu Bhanu mengatakan ingin menjadi ayah seperti Gentara.
“Katanya tadi mau jadi ayah masa gendong bayi aja nggak berani?” tanya Rindu dengan geli.
“Bagian gendong kamu aja tapi tenang aja saya akan selalu ada di samping kamu kok. Dia benar-benar kecil dan kelihatan belum punya tulang, Sayang,” ucap Bhanu. Rindu terkekeh pelan. Dasar Bhanu Winata, selalu saja tahu cara menghindar dengan kata-kata manis seperti itu. Rindu kan jadi tidak memiliki ruang untuk protes.
“Udah cocok tuh kalian punya bayi, kapan mau?” tanya Hapsari. Rindu kembali memberikan Banyu pada Hapsari.
“Nggak usah ngaco deh lo, gue harus menghadapi bokap lo dulu baru bisa nikah dan bikin anak!” seru Rindu dengan frontal membuat orang di ruangan itu langsung tertawa.
“Kalian berapa hari di sini?” tanya Gentara.
“Sampai besok, lusa balik lagi ke Jogja,” jawab Rindu.
“Kamu beneran mau berangkat dari Jogja sebelum ke SG?” tanya Hapsari. Bhanu langsung mengangguk.
“Barang-barangnya juga ada di Jogja, Mbak. Ini pulang untuk sekalian pamitan dan makan malam seperti yang mbak Sari mau. Tapi berarti kita makan malamnya di rumah sakit dong? Mbak Sari kan belum boleh pulang,” ucap Bhanu. Hapsari langsung nyengir.
“Mas Genta nanti yang siapin makanannya untuk kita walau gue pasti berakhir makan makanan rumah sakit sih, tapi nggak papa lah yang penting gue punya moment makan malam sama kalian, gue tahu banget setelah hari ini makin jarang tuh kalian pulang ke Jakarta, kesel banget gue!” seru Hapsari, sudah seperti ibu-ibu komplek eh tapi memang sudah jadi ibu-ibu sih sekarang.
“Mas sekarang istri lo jadi cerewet!” seru Bhanu santai bahkan wajahnya lempeng banget saking santainya. Hapsari mencebik.
“Peluk mbak dulu dong, Nu. Kamu belum kasih selamat dari tadi lo kalau kamu sadar,” ucap Hapsari, dia mengerucutkan bibirnya. Semenjak hubungan mereka membaik, Hapsari memang sering kali bersikap manja dan menggoda Bhanu. Gentara dan Rindu hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika Hapsari sudah seperti itu.
Bhanu melangkah mendekat lalu memeluk Hapsari dengan tampang datarnya, “selama mbak Sari udah jadi ibu, jagoannya jangan lupa di sayang dan di jaga,” ucap Bhanu, berbanding dengan ekspresinya, suara Bhanu terdengar sangat tulus.
Ketika Bhanu ingin melepaskan pelukannya, Hapsari justru memeluk Bhanu erat, “kamu kalau udah di SG harus sering kabarin mbak atau orang rumah ya, jangan hilang-hilangan lagi,” ucap Hapsari. Bhanu langsung mengangguk patuh.
“Cium kening mbak dulu habis itu kamu bebas deh mau godain Rindu atau ngobrol sama mas Genta,” ucap Hapsari. Bhanu menghembuskan napasnya lalu mengecup kening Hapsari sesuai dengan keinginan wanita yang baru saja resmi menjadi seorang ibu itu.
“Nu…” Seolah belum puas menggoda Bhanu, Hapsari kembali memanggil pria itu namun Bhanu sudah melotot duluan.
“Banyak maunya lo, Mbak!” seru Bhanu dengan nada kesal membuat ruangan itu kembali di penuhi oleh tawa kecuali si kecil Banyu yang sudah tidur dengan damai di pelukan Hapsari.