Bab 6: Stasiun, Teh Botol dan Nostalgia

1870 Words
*** Stasiun selalu memberikan berbagai rasa pada saya namun dia tidak pernah memberikan rasa sakit walau dulu saya harus melepas kamu di sini *** “Mau beli oleh-oleh di mana?” tanya Rindu ketika menerima helm dari Bhanu. Rindu baru saja menyelesaikan kelasnya dan Bhanu kali ini yang menjemputnya karena mereka ingin membeli oleh-oleh untuk di bawa ke Jakarta. Hapsari terus mengingatkan mereka untuk pulang ke Jakarta untuk melihat anak wanita yang merupakan kakak kandung dari Bhanu Winata itu. “Padahal nggak perlu belanja oleh-oleh segala, bawa diri aja mbak Sari pasti senangnya kebangetan, Sayang,” ucap Bhanu, dia membantu Rindu mengaitkan helmnya, tadi Bhanu sebenarnya ingin mengendarai mobil tapi Rindu mengatakan ingin menikmati sore Yogyakarta menggunakan motor jadilah Bhanu menjemput Rindu dengan vespa hitam metalik kesayangannya. “Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa, Bonar bisa ngamuk kalau aku datang ke Jakarta tanpa makanan,” ucap Rindu. Bhanu terkekeh. Dia tidak merasa keberatan sama sekali Rindu masih memiliki hubungan baik dengan Bonar. Sejak awal Bonar selalu mendukung dan selalu ada di samping Rindu membuat Bhanu merasa bersyukur, banyak yang menyayangi Rindu-nya. “Udah kasih tahu mas Bonar kalau mau ke Jakarta?” tanya Bhanu saat motor mulai melaju meninggalkan tempat Rindu menimba ilmu. “Belum sih, niatnya mau aku samperin ke kantor biar terjengkang dia!” seru Rindu sambil terkekeh, dia kangen juga Bonar ngomel-ngomel dan ngegosipin banyak hal. Bhanu juga ikut terkekeh mendengar ucapan Rindu. Langit di atas sana sangat cerah sore ini membuat suasana kian hangat dan romantis, tangan Rindu ada di dalam saku hoodie yang di pakai oleh Bhanu, tangan Rindu memang sangat jarang melingkar di perut Bhanu ketika naik motor berdua seperti ini, bukan tidak mau, tapi kadang Rindu merasa bukan waktu yang tepat saja apalagi di sore hari seperti ini, akan banyak pengendara yang mereka temui dan akan banyak mata yang melihat mereka. “Beli oleh-oleh di Malioboro aja gimana? Setelah itu makan di Angkringan, saya kangen nasi kucing dan sate telur,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk antusias, Rindu mana bisa melewatkan angkringan begitu saja, dia sangat suka berbagai macam sate dan wedangan yang di tawarkan di sana. “Boleh banget, tahu banget ya kamu, aku laper,” ucap Rindu, Bhanu hanya terkekeh pelan, motornya melaju dengan kecepatan normal. “Nanti malam kereta kita jam berapa?” tanya Rindu sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jam 10 malam, kita masih punya waktu yang panjang untuk beli oleh-oleh dan makan di angkringan,” jawab Bhanu. Rindu mengangguk. Lagian persiapan mereka sudah siap, semua perlengkapan yang akan Rindu bawa ke Jakarta bahkan sudah ada di apartemen Bhanu sejak kemarin, kesibukan mereka yang kadang suka tiba-tiba membuat mereka lebih siaga dalam bersiap. “Kita di Jakarta dua hari aja? Kamu nggak mau perpanjang? Nggak mau lebih lama di rumah?” tanya Rindu. “Dua hari cukuplah buat ngobrol di sana, lagian masih banyak yang harus di kerjakan dan di siapkan di sini.” Rindu kembali mengangguk tanpa protes. Bhanu pasti sudah mempertimbangkan semuanya. Ketika motor Bhanu terparkir dengan sempurna di parkiran yang di sediakan di area Malioboro, Rindu langsung turun dari motor, melepas helm, lalu memberikan helm itu pada Bhanu. “Kamu geseran dikit deh, aku mau ngaca dan benerin ikat rambut,” ucap Rindu, dia memposisikan diri di depan spion vespa Bhanu. “Kenapa harus ngaca di spion sih, kamu tinggal tanya aja sama saya apa yang kurang,” ucap Bhanu sambil mengamati Rindu yang sibuk membenarkan ikatan rambutnya. “Jawaban kamu suka nggak manusiawi dan penuh kebohongan soalnya, jadi malas,” ucap Rindu, Bhanu terkekeh pelan. “Padahal jawaban saya nggak bohong sama sekali loh, kamu emang cantik banget kok.” “Stop, jangan mulai ngerecehnya, rambut aku udah rapi dan saatnya beli oleh-oleh yang banyak abis itu kita makan di angkringan,” ucap Rindu, dia menarik lengan hoodie yang di gunakan oleh Bhanu. Bhanu hanya terkekeh saja dan mengikuti langkah Rindu. “Menurut kamu beli apa?” tanya Rindu, mereka terus berkeliling. “Jangan jawab, apapun yang kamu pilih, saya juga milih itu,” ucap Rindu memperingatkan sebelum Bhanu buka suara. “Baru aja mau saya jawab itu, tapi yaudah saya yang pilih, bakpia, gudeg sama yangko aja kali, Sayang. Tiga macam aja supaya nggak ribet. Jumlahnya terserah kamu deh, saya bagian bayar aja,” ucap Bhanu cepat. Rindu langsung mengangguk, bagi Rindu, bakpia memang paling harus untuk di beli dan di jadikan oleh-oleh. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu di Malioboro, setelah membayar mereka kemudian meninggalkan Malioboro dan motor vespa Bhanu kini melaju ke arah angkringan pak Jabrik yang masih ada di kawasan Malioboro. “Aku nasi kucingnya 2, sate ayamnya 5, hatinya 5, telurnya 5 sama wedang jahenya 1 dan air mineral ya,” ucap Rindu saat dia duduk di salah satu kursi. Bhanu langsung mengangguk saja, sepertinya Rindu memang kelaparan setelah kuliah seharian penuh. “Kamu kok tiga?” tanya Rindu saat melihat Bhanu membuka tiga bungkus nasi kucing. “Saya laper banget, kamu kalau mau nambah ambil aja,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk saja. Mereka sudah terbiasa makan layaknya kuli seperti ini, tidak ada yang namanya malu-malu, kalau masih kurang ya nambah kalau kekenyangan salah satu yang belum kenyang pasti selalu siap jadi tong sampah, entah Rindu maupun Bhanu. “Nanti kita ke stasiun di antar siapa?” tanya Rindu di sela-sela kegiatan makannya. “Di antar sama Angga dan Khalila kayaknya, mereka tadi bilang lagi di luar juga cari makan," jawab Bhanu. Rindu mengangguk-anggukan kepalanya, meneguk air mineral kemudian kembali melanjutkan acara makannya yang di selingi obrolan santai ala Bhanu dan Rindu. Entah kehidupan sehari-hari di Yogyakarta, bagaimana mereka saling berinteraksi atau para wisatawan yang terus datang ke kota ini. Sudah berapa hari berlalu sejak pengunguman Bhanu di terima di NUS tapi dua orang itu tidak pernah benar-benar membicarakan tentang hubungan LDR yang akan mereka hadapi, harus seperti apa mereka menjalaninya atau kata-kata perpisahan lainnya. Rindu dan Bhanu seolah tidak ingin larut dalam kesedihan dan hanya ingin menikmati waktu bersama. *** “Bisa-bisanya kalian beli oleh-oleh dan nongkrong di angkringan di waktu yang sesingkat ini!” seru Angga, mereka kini sudah ada di apartemen Bhanu, bersiap untuk pergi. “Masih sisa satu jam kali Ga, sebelum berangkat, nggak perlu bawel,” ucap Rindu dengan santai, Bhanu ikut mengangguk setuju. Angga menarik napasnya, kalau sudah Rindu yang buka suara, Angga tidak akan berani membantah sama sekali. Khalila hanya tersenyum saja sambil membantu Rindu bersiap. Pasangan yang katanya mudik dadakan itu kompak memakai kaos berwarna putih dan jaket warna hitam serta topi dan masker. Sudah seperti mau fashion show ala artis korea di bandara. Simpel tapi sangat elegan. “Memang kalian doang yang makan, gue juga laper kali,” ucap Rindu, dia memberikan kantong yang bersisi oleh-oleh pada Angga. “Iya mbak iya, sekarang buruan ke bawah, gue ngeri kalian berdua ketinggalan kereta,” ucap Angga. Bhanu dan Rindu kali ini mengangguk setuju tanpa protes sama sekali. Angga itu memang tipe emak-emak banget kalau soal yang seperti ini, dia terlalu menghargai waktu. Sepertinya ini yang membuat persahabatan dan kerja sama Bhanu dan Angga berjalan dengan sangat baik. “Berapa lama mbak di Jakarta?” tanya Khalila, dia duduk di bangku belakang sama Rindu sedangkan Bhanu dan Angga di kursi dengan dengan Angga yang ada di balik kemudi. “Tanya Bhanu aja La, gue tim ngikut aja,” ucap Rindu. “Dua hari,” jawab Bhanu, Khalila mengangguk mengerti. “Udah siapin nama calon keponakan belum?” tanya Angga. “Itu bagian emak dan bapaknya kali Ga!” seru Bhanu dengan sinis yang di sambut gelak tawa oleh penghuni mobil. *** Setelah melakukan chek in dan boarding pass kini Rindu dan Bhanu sudah duduk di kursi tunggu. Menunggu keberangkatan mereka, Angga dan Khalila sudah pamit pulang beberapa menit yang lalu. “Jadi ingat waktu nganterin kamu ke tempat ini untuk pertama kalinya,” ucap Bhanu. “Waktu itu aku pikir nggak akan pernah lagi ketemu sama kamu, tapi ternyata cowok urakan yang aku temui di Malioboro adalah anak yang milik perusahaan tempat aku kerja,” ucap Rindu sambil terkekeh. “Kamu tahu setelah itu apa yang saya pikirkan?” Tanya Bhanu, Rindu menggeleng. “Hari itu saya merasa hampa dan punya suatu keyakinan. Saya merasa kehilangan kamu tapi hari itu saya juga yakin, yakin tidak ada salah tentang mencintai dan menyukai orang lain dan segala hal tentang saya berubah. Saya berusaha memperbaiki diri termasuk dengan menghilangkan tato yang dulu ada di tangan saya,” ucap Bhanu, ketika Rindu ingin buka suara, pengunguman keberangkatan kereta mereka terdengar. Kali ini Bhanu menggandeng tangan Rindu, ransel ada pundak mereka masing-masing dan paper bag yang berisi oleh-oleh mengisi tangan mereka yang kosong, jangan lupakan topi hitam kebanggaan keduanya dan masker berwarna hitam. Rindu langsung mengambil posisi duduk di samping jendela kemudian Bhanu di sampingnya sedangkan tas mereka dan oleh-oleh sudah Bhanu letakkan di bagasi. “Naik kereta bareng mbak Rindu, impian banget sih dari dulu,” ucap Bhanu, Rindu terkekeh pelan mendengar itu. “Stasiun kayaknya memang tempat paling baik untuk bernostalgia tanpa merasa sakit sih.” “Kamu tahu apa yang saya ingat setiap kali datang ke stasiun?” tanya Bhanu, Rindu langsung menggeleng sambil menerima teh botol sosro yang di berikan Bhanu. “Kamu. Di manapun stasiunnya, saya selalu ingat kamu. Tapi seperti yang kamu katakan, saya nggak pernah merasa sakit sama sekali. Saya menjadi sangat yakin bahwa yang pergi pasti akan pulang.” Dia memberikan sedotan pada Rindu yang di terima Rindu dengan senyum manis. “Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau hari itu aku nggak ketemu sama kamu,” ucap Rindu. “Saya juga nggak tahu apa yang akan terjadi kalau saya nggak ketemu kamu hari itu, mungkin saya masih jadi Bhanu yang urakan dan tatoan, terimakasih sudah memberikan banyak hal pada saya, Rindu, saya sayang sekali sama kamu.” Rindu tersenyum, dia memeluk lengan Bhanu dengan erat, “aku jadi semakin paham, Tuhan nggak pernah sia-sia, kalau aku nggak di tinggal nikah dan lari ke Jogja hari itu, aku nggak akan pernah ngerasain teh botol yang terasa lebih manis dengan pelukan sehangat ini. Aku kayaknya akan semakin menyukai stasiun,” ucap Rindu. Bhanu mengecup puncak kepala Rindu dengan kilat. “Lebih suka stasiun atau saya?” tanya Bhanu, Rindu mendongak dan menatap Bhanu untuk beberapa saat. “Jelas lebih suka mas Bhanu Winata, kalau nggak ada kamu, stasiun nggak akan pernah memberi aku kenangan yang manis dan mendebarkan,” jawab Rindu. Senyum Bhanu semakin lebar. “Sekarang kita hanya perlu yakin, bahwa yang pergi itu pasti akan kembali di waktu dan dengan porsi yang tepat.” Dinginnya AC kereta api kelas eksekutif itu tidak lagi terasa, Rindu memeluk lengan Bhanu, mereka bernostalgia bersama dengan keadaan yang manis dan sehangat ini. Lagi-lagi hal sederhana dan obrolan sederhana selalu berhasil membuat Bhanu dan Rindu semakin erat. Stasiun akan menjadi salah satu tempat yang mereka sukai, mungkin sebentar lagi adalah sebuah bandara yang akan membuat mereka berpegangan teguh dengan keyakinan bahwa yang pergi pasti akan kembali pada waktu yang tepat dan porsi yang pas. Bhanu dan Rindu selalu berjanji pada diri mereka masing-masing, akan melakukan hal yang paling baik di setiap langkah mereka. Entah saat mereka bisa bertemu secara langsung atau saat mereka sama-sama berada di luar jangkauan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD