***
Kita mungkin tidak bisa memberikan lebih untuk orang lain tapi kenapa harus menunggu lebih ketika hal sederhana bisa membuat banyak orang merasa senang
***
Bhanu dan Rindu sampai di B&W Caffe ketika sore menjelang, Rindu baru menyadari dia dan Bhanu menghabiskan banyak waktu ketika berada di toko furniture, sepertinya Rindu terlalu asik memilih dan berbincang dengan pramuniaga di sana yang sangat ramah dan pintar menurut Rindu karena mereka bisa menjelaskan semua produk mereka dengan begitu detail dan hal itu membuat Rindu merasa tidak bosan sama sekali.
Dua orang itu langsung masuk ke dalam kafe yang sepertinya tutup lebih awal hari ini terbukti dengan ada tulisan closed di pintu kafe.
“Kamu suruh anak-anak tutup kafe lebih awal?” tanya Rindu, Bhanu langsung menggeleng, biasanya kafe baru akan tutup jam 10 malam.
“Saya nggak tahu, mungkin Angga yang minta tutup lebih awal,” jawab Bhanu. Rindu mengangguk saja.
“Mbak Rin, teras belakang.” Dirga melambai di ujung ruangan, Rindu langsung mengangguk dan mempercepat langkahnya, Rindu tidak sabar untuk menikmati bebek bakar yang sudah dia pesan terlebih dahulu dan juga dawet ayu yang di tawarkan oleh Dirga sebelumnya. Bhanu hanya menggeleng pelan dan terus mengikuti langkah Rindu.
“SELAMAT DI TERIMA DI NUS MAS BOS!” Teriakan itu membuat Bhanu dan Rindu yang baru berdiri di pintu yang menjadi penghubung ke teras belakang mengerjabkan mata kompak. Rindu yang terlebih dahulu menyadari situasi langsung tersenyum lebar dan duduk di samping Karlita yang entah kenapa bisa berada di sini. Gadis itu sepertinya baru saja pulang bekerja.
Bhanu berdehem beberapa kali, lalu bertos ria dengan Angga lalu dengan Dirga, Arjuna dan Kala, ketiga cowok itu adalah barista untuk B&W Caffe yang ada di dekat UGM, ketiganya juga merupakan Mahasiswa dari Universitas terbaik itu.
“Bukannya bebek bakar kok malah jadi tumpengan gini?” tanya Rindu mewakili tatapan penasaran Bhanu. Rindu sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat guratan bahagia yang terlihat nyata di wajah Bhanu. Nyatanya kita tidak perlu menunggu lebih dulu ketika hal sederhana seperti ini sudah berhasil membuat seorang merasa begitu senang.
“Kita kan nggak bisa gabung untuk ngucapin selamat sama mas Bos waktu mbak Rindu bikin syukuran, jadi sekalian aja syukuran hari ini kebetulan mbak Rindu nawarin makan bebek bakar bareng,” jawab Dirga.
“Emang bisa pesen tumpeng dadakan?” tanya Rindu.
“Bisa mbak, ibunya gebetan Juna punya usaha bikin tumpeng tuh!” seru Kala. Arjuna hanya cengengesan saja.
“Terus beli dawet ayunya di mana?” tanya Rindu, di hadapan mereka memang sudah ada gelas yang berisi dawet ayu.
“Mbak Lila yang beli tadi pas pulang bimbingan skripsi,” jawab Arjuna. Khalila langsung menyengir dengan lebar.
“Lo kenapa tiba-tiba bisa ada di sini, bukannya lo kerja hari ini?” tanya Rindu, dia menatap Karlita dengan kening berkerut. Karlita langsung mengibaskan rambutnya bahkan sampai mengenai wajah Rindu.
“Biasalah! Gue mana mau ketinggalan acara makan gratis gini!” seru Karlita, Rindu mendengus dan menarik rambut Karlita.
“Duit mbak Kar udah habis beli tas mbak makanya numpang makan!” seru Dirga yang langsung di acungi jempol oleh Karlita.
“Lo emang adik tingkat gue paling baik deh Ga, btw, mas Pra mau jadi dosen di kampus kalian tuh!” seru Karlita membuat tidak cowok yang baru memasuki semester lima itu langsung menatap Karlita tidak percaya.
“Departemen apa mbak?” tanya Arjuna cepat. Dalam hati dia sudah berdoa, semoga saja bukan departemennya, walau mas Pra itu baik tapi tetap saja Arjuna ngeri kalau di ajar oleh Prasetyo, dari wajahnya saja Arjuna sudah bisa menebak Prasetyo adalah tipe-tipe dosen killer yang siap menyiksa mahasiswanya.
“Teknik,” jawab Karlita kalem.
“Mampus gue!” seru tiga pria itu dengan kompak. Arjuna itu anak teknik Elektro, Dirga teknik mesin sedangkan Kala teknik sipil. Entah di mana Bhanu dan Angga mendapatkan barista dengan jurusan sekeren itu dan sepenurut ini. Rindu tidak pernah tahu.
“Kayaknya Kala sih yang kebagian nasib buruk, jangan sering ngupatin calon masa depan gue dalam hati ya, Ka!” seru Karlita menatap Kala, bocah yang wajahnya sebelas dua belas dengan Prasetyo itu hanya mengangguk kalem.
“Si Kala mah aman mbak, anak alim gitu mana ada dia ngupat-ngupat, kalau si Ajun noh baru rajin dia julitin dosen di belakang!” seru Dirga.
“Kalau di depan itu namanya ngajak diskusi, Dir!” seru Arjuna. Penghuni meja panjang itu langsung tertawa.
“Acara potong-potong tumpengnya di segerakan dong mas Bos, laper nih!” seru Dirga dengan tidak ada akhlaknya. Bhanu menonnyor kepala Dirga dengan penuh napsu.
“Lo yakin begitu doang cara ngucapin selamat ke gue?” tanya Bhanu.
“Ya terus harus gue harus ngapain dong mas? Masa iya gue peluk dan cipika-cipiki pipi lo yang ada gue di pelototin mbak Rindu!” seru Dirga mengerdik ngeri. Rindu yang tadi sibuk mengobrol dengan Karlita dan Khalila hanya menggeleng pelan seolah sudah terbiasa dengan interaksi para pria penghuni kafe ini. Alasan mereka senang nongkrong di kafe ini selain karena sering dapat kopi gratis adalah ini, hubungan mereka lebih dari sekedar bos dan karyawan, mereka lebih terlihat seperti keluarga yang saling mengasihi.
“Potong sekarang aja, Nu. Cacing Dirga dan Arjuna tidak sekalem cacingnya si Kala, lama-lama resek ntar itu dua bocah!” seru Angga yang duduk di samping Khalila.
Bhanu langsung berdiri dan melakukan seperti apa yang di minta oleh Angga, tumpeng dengan lauk yang super lengkap di tambah bebek bakar yang di pesan oleh Rindu membuat makan sore mereka ini menjadi sangat sempurna.
“Potongan pertama buat siapa mas Bos?” tanya Dirga menggoda. Bhanu langsung menoleh.
“Buat gadis kesayangan gue lah, masak iya buat gadis kesayangan lo! Salah server ntar!” seru Bhanu yang membuat Dirga dan Arjuna langsung ngakak parah.
Bhanu langsung memberikan potongan pertama pada Rindu yang langsung di sambut Rindu dengan senyum lebarnya.
“Makasih, terharu akunya,” ucap Rindu membuat Bhanu langsung tersenyum gemas.
“Lauknya kamu ambil sendiri ya, supaya puas.” Rindu mengangguk cepat. Jangan tanya bagaimana ekspresi para penghuni meja yang ada di sana, mereka senyum-senyum gila kayak orang yang ikut kasmaran, apalagi Dirga dan Arjuna, dua orang itu sudah nyengir lebar, Interaksi Bhanu sama Rindu itu memang candu sekali, ibarat es teh manis takarannya itu sangat pas sekali. Tidak berlebihan dan terlihat sangat natural.
“Mas gue nggak di ambilin juga?” celetuk Arjuna.
“Tinggal makan doang repot amat Jun, ambil sendiri!” seru Bhanu.
“Kenapa kau memperlakukan aku dan mbak Rindu berbeda, Mas?” tanya Arjuna dengan dramatis.
“Gue geli banget Jun, sumpah!” seru Angga sambil mengerdik ngeri. Arjuna kembali nyengir dan mengikuti yang lain untuk mengambil porsi makannya sendiri.
“Jujur mas, gue penasaran banget,” ucap Dirga di sela-sela makan mereka.
“Apa? Tumben?” tanya Bhanu.
“Sumpah Ga, wajah lo nggak mendukung banget buat serius gitu!” seru Arjuna. Arjuna dan Dirga itu memang paling berisik, tidak seperti Kala yang nyaris selalu menjadi penyimak. Wajah ganteng Kala memang tidak sia-sia sama sekali.
“Kenapa lo kalau lagi ngomong sama mbak Rindu pakai ‘saya-kamu’ sedangkan ngomong sama yang lain nyablak pake ‘lo-gue’?” tanya Dirga. Kali ini semua orang yang ada di meja itu menatap ke arah Bhanu, termasuk Rindu sendiri. Sepertinya tidak hanya Dirga yang penasaran di sini.
Bhanu berdehem pelan, dia menatap Rindu yang duduk di hadapannya, “karena dia beda dari yang lain, nggak salah dong gue memperlakukan dia juga beda,” jawab Bhanu santai. Dirga bersorak riang.
“Gue aja yang cowok suka melayang waktu liat lo memperlakukan mbak Rindu, Mas, mbak Rindu apa kabar mbak?” tanya Dirga. Rindu memasang wajah sesantai mungkin, dia mengedipkan sebelah matanya pada Bhanu yang langsung membuat Bhanu tersedak.
“Lo seriusan nanya kayak gitu sama gue?” tanya Rindu. Dirga langsung mengangguk.
“Ya terbang lah gue, Ga, masa enggak. Berasa konsumsi gula berlebihan gue setiap hari!” seru Rindu dengan senyum gilanya membuat penghuni meja kembali bersorak riang karena jarang-jarang sekali seorang Rindu Hafshayu mengepresikan rasanya, biasanya Rindu akan menghindar kalau ada bahasan ini.
“Wasekk, melayang dong mas Bhanu!” seru Dirga.
“Kesambet apa lo bisa ngomong kayak gitu?!” seru Karlita dengan wajah syoknya. Rindu kembali tersenyum, dia tidak melepaskan sedikitpun tatapannya dari Bhanu. Rindu ingin melihat Bhanu lebih salah tingkah lagi.
“Kesambet cintanya mas Bhanu dong!” seru Rindu semakin jadi membuat Bhanu tersedak dawet ayu-nya dengan telinga yang sudah memerah. Tawa Rindu langsung meledak membuat orang-orang yang ada di meja itu menatap Rindu tidak percaya.
“Gila sih, mas Bhanu gue gemes parah!” seru Rindu. Tatapan orang yang ada di meja itu langsung mengikuti arah pandang Rindu dan detik berikutnya mereka kembali melongo, mereka tidak percaya Bhanu akan sangat mengemaskan jika salah tingkah seperti itu, dengan kedua kuping yang memerah.
“Lo beneran bisa salah tingkah juga, Mas?” tanya Kala dengan polosnya membuat tawa kembali memenuhi meja panjang itu dengan matahari yang mulai tenggelam. Rindu yang sudah merasa kasihan melihat Bhanu langsung membawa pria itu menjauh dari kerumunan tapi Rindu sama sekali tidak bisa menyembunyikan tawanya. Rasanya sangat menyenangkan membuat seorang Bhanu Winata, pemilik gombalan paling receh tapi bisa mengguncang dunia Rindu itu menjadi tidak bisa berkata-kata seperti ini.
“Udah puas?” tanya Bhanu, dia duduk di salah satu sofa yang ada di kafe. Rindu menggeleng dan masih bertahan dengan tawanya.
“Kamu lucu banget sumpah, kenapa aku baru sadar sih punya kamu yang se-cute ini!” seru Rindu, dia menatap Bhanu dengan mata berbinar.
“Sayang, please. Saya benar-benar udah sekarat banget ini. Detak jantung saya menggila banget!” keluh Bhanu, dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Maaf-maaf, tapi kamu benar-benar lucu banget, jadi makin sayang!” seru Rindu, dia ikut duduk di samping Bhanu, berusaha keras mengendalikan dirinya. Rindu senang bisa melakukan banyak hal dengan Bhanu menjelang hari perpisahan itu datang. Walau bukan berpisah dalam arti yang sebenarnya tapi Rindu sangat yakin, dia akan merindukan setiap moment ini.
“Kamu doang emang yang bisa bikin saya kalang kabut dan nggak punya harga diri di hadapan anak-anak!” seru Bhanu. Rindu tersenyum.
“Nggak papa lah, lagian mereka tahu tempat, kapan harus bercanda, kapan harus serius dan tahu cara saling menghormati satu sama lain. Kamu ketemu mereka di mana sih?” tanya Rindu penasaran.
“Berawal dari mereka yang sering nongkrong dan kemudian suka nanya-nanya soal kopi. Dan akhirnya menawarkan diri jadi barista terus awet sampai sekarang. Orang yang bekerja berawal dari hobi kemudian bisa menemukan sebagian dari jati diri itu lebih menyenangkan dari apapun, Sayang,” ucap Bhanu. Rindu mengangguk mengerti, sekarang Rindu tahu kenapa, Dirga, Arjuna dan Kala tampak menikmati apa yang mereka lakukan, mereka melakukannya karena mereka suka bukan karena mereka terpaksa.
“Buat yang di Kotabaru, kamu udah ketemu anak-anak yang cocok?” tanya Rindu.
“Udah nyuruh Dirga, Arjuna sana Kala yang seleksi teman-temannya sih, paling bentar lagi juga dapet. Kamu ikut milih kalau dah ketemu kandidatnya deh, kan kafe persembahan buat mbak Rindu Hafshayu,” ucap Bhanu. Rindu menonjok pelan lengan berotot Bhanu.
“Kalau niat balas dendam buat godain aku balik, kapan-kapan aja lah, mas Bos, aku dah capek terbang mulu!” seru Rindu, Bhanu mengangguk setuju walau senyum jahilnya terlihat nyata. Tatapan keduanya kemudian beralih pada jalan raya yang cukup padat di depan sana. Walau hanya saling diam dan duduk di posisi masing-masing, kehangatan di antara mereka seolah tidak pernah lenyap begitu saja. karena bagi Bhanu dan Rindu setiap moment itu memiliki makna sendiri bahkan ketika mereka sibuk berkelana dengan pikiran mereka masing-masing. Karena mencintai tidak hanya soal saling menggenggam tangan, saling mengecup pipi dan bibir atau saling berpelukan. Makna cinta lebih dari itu.