Bab 4: Kafe Baru Persembahan untuk Rindu Hafshayu

2045 Words
*** Walau kita tidak ada lagi di kota dengan putaran waktu yang sama tapi kamu harus tetap yakin bahwa saya sedekat aroma kopi yang selalu kamu hirup pagi, siang dan malam. Saya akan sedekat itu di hati kamu, Rindu *** “Pagi mbak Rindu.” Senyum Rindu langsung mengembang ketika membuka pintu mobil Ranger Rover putih milik Bhanu. Mobil dengan harga sangat fantastis itu selalu berhasil membuat Rindu merasa takjub. Bhanu masih cukup muda untuk semua pencapaiannya namun Rindu tidak heran, Bhanu sudah mulai berbisnis sejak usia muda, pria itu juga berinvestasi dan memiliki beberapa persen saham di perusahaan terkemuka di Indonesia termasuk saham PT Maju Sukses. “Pagi mas Bhanu,” jawab Rindu dengan senyum jahilnya yang berhasil membuat Bhanu tersenyum lebar dengan kedua kuping memerah. “Kenapa kupingnya selalu merah kalau salah tingkah gitu sih?” tanya Rindu. Dia menaruh tasnya di kursi belakang. “Gimana nggak merah orang yang manggil mas cantik banget!” seru Bhanu. Rindu tertawa pelan sambil memberikan paper bag yang sedari tadi ada di pangkuannya. “Aku lupa kasih banana cake-nya ke kamu kemarin, udah sarapan belum?” tanya Rindu. Bhanu langsung menggeleng. dia berniat mengajak Rindu sarapan terlebih dahulu sebelum mereka ke lokasi B&W Caffe yang baru dan berbelanja beberapa furniture untuk kafe. “Kamu sarapan dulu deh, aku yang nyetir,” ucap Rindu. Bhanu awalnya ingin menolak tapi akhirnya menyerah ketika mendapatkan tatapan tajam dari Rindu, lagian ini bukan pertama kalinya Rindu menyetir untuknya. Rindu termasuk orang yang bisa menyetir dengan baik. “Pasang maps-nya dulu deh biar aku nggak kebayangkan nanya dan kamu bisa sarapan dengan tenang,” ucap Rindu setelah mereka bertukar posisi dan memasang seatbelt-nya. Bhanu langsung melakukan apa yang di minta oleh Rindu. Memanfaatkan teknologi akan mempermudah kita dalam segala hal. Rindu mulai melajukan mobil yang menurutnya sangat besar di pakai oleh satu orang. Mobil ini sangat cocok di jadikan sebagai mobil keluarga dengan tujuh penumpang. “Kenapa kamu beli mobil segede ini padahal yang mau pakai cuma kamu doang,” ucap Rindu, dia melirik Bhanu yang sudah sibuk dengan banana cake dan juga kopi yang Rindu siapkan. “Mumpung lagi ada uangnya, Sayang, lagian nggak ada kata percuma kok. Nanti juga punya keluarga besar,” jawab Bhanu dengan sangat santai. Rindu kembali menoleh ke arah Bhanu. “Keluarga besar kamu semuanya ada di Jakarta, seharusnya beli mobil yang kecil dulu, Bhanu.” “Saya mau yang besar aja, supaya nanti waktu kita nikah saya sudah punya kendaraan yang membuat istri dan anak saya merasa nyaman,” jawab Bhanu kalem. Rindu menarik napasnya. Susah memang kalau sudah berbicara tentang ini dengan Bhanu. Pria 24 tahun itu selalu punya jawaban yang sangat tepat dan pas. “Kalau di pikir-pikir kamu terlalu boros enam bulan terakhir. Habis beli mobil terus beli apartemen di SG. Duit kamu benar-benar nggak berseri, ya?” tanya Rindu. Bhanu itu memang sangat jarang mau di ajak belanja ke mal, dia lebih senang menikmati jajanan tradisional yang ada di pinggiran jalan tapi sekalinya berbelanja yang di beli mobil dan apartemen yang Rindu yakin harganya tidak main-main. “Nggak boros, Sayang, lagian kalau memang sudah tidak di perlukan lagi bisa di jual dan di jadikan uang. Kamu ingat semalam kata mas Pra, ini bagian dari investasi, saya nggak akan rugi, harga property di SG naik setiap tahunnya, mobil ini juga bisa membuat kita nyaman. Jadi nggak ada yang salah.” Rindu menyerah, padahal di sini dia adalah orang yang bergelut di bidang keuangan selama bertahun-tahun tapi Bhanu lebih tahu segalanya, pria ini bahkan mengaku sudah bermain saham sejak SMA tingkat 2, otak Bhanu memang seencer itu. “Nyerah deh aku, terus buat buka kafe yang baru kamu keluar berapa banyak dana?” tanya Rindu. Bhanu masih menikmati banana cake-nya, matanya sedikitpun tidak lepas dari Rindu. Dia sangat suka melihat Rindu sudah mengomel seperti ini. “Berasa di omelin istri,” celetuk Bhanu begitu saja membuat Rindu langsung melotot dan menatap Bhanu dengan garang. “Ngomongnya ya! Jawab dulu pertanyaan aku, dana buat kafe yang baru, kamu keluar berapa banyak?” tanya Rindu. “Dana buat kafe ya dari penghasilan kafe, Sayang, beda cerita sama mobil dan apartemen, itu dana pribadi walau sekarang tabungan saya udah tipis banget sih!” seru Bhanu sambil nyengir. “Tipis-tipisnya tabungan kamu masih tipis tabungan aku kali!” seru Rindu. “Kamu kalau perlu uang atau butuh sesuatu jangan sungkan bilang, kalau saya mampu pasti bantuin kamu kok.” “Rasanya mau sujud syukur tapi buat bertahan hidup tiga tahun ke depan aku masih mampu lah!” seru Rindu. Bukan karena Rindu tidak mau tapi hanya saja Rindu merasa waktunya belum tepat untuk Bhanu membiayai hidupnya. Semua akan ada masa dan waktunya. “Tahu kok, yang kerja kerasnya dari usia muda banget.” “Ngaca dong, Bapak, kamu bahkan udah kerja lebih awal dari aku walau kelihatannya kek manusia nggak punya tujuan hidup!” “Jadi inget masa-masa pertama ketemu, waktu itu kamu bahkan mengira saya preman jalanan yang urakan banget dan nggak punya tujuan hidup.” Rindu menoleh dan mencebikkan bibirnya. “Gimana aku nggak mikir gitu di saat kamu berpenampilan layaknya preman, tatoan, tindikan, rambut gondrong!” seru Rindu tidak santai. “Kalau sekarang gimana, mbak Rindu?” tanya Bhanu, dia menyelesaikan sarapannya dan menatap Rindu sambil nyengir. “Mundur dikit coba deh,” ucap Rindu sambil mengerakkan jarinya, matanya masih awas pada jalan di hadapannya. “Kenapa?” tanya Bhanu. “Gantengnya kelewatan, Mas!” seru Rindu kemudian tawanya langsung meledak ketika melihat wajah cengo Bhanu, mata pria itu mengerjab lucu. “Sejak kapan bisa ngegombal?” “Pacaran hampir setahun sama kamu menurut kamu aku nggak belajar banyak?” tanya Rindu sengit, Bhanu hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Rindu. Selalu seperti ini, menghabiskan waktu bersama Rindu tidak pernah membuat Bhanu merasa bosan, bahkan di mobil pun suasana menjadi sangat menyenangkan dengan obrolan santai ala mereka. “Ini ke Kotabaru banget?” tanya Rindu ketika menyadari kemana arah mereka. “Biar dekat Malioboro dan kalau kamu kangen saya langsung bisa ke sana,” jawab Bhanu dengan santai. “Kok aku?” tanya Rindu sedikit bingung. “Kafe baru ini bagian kamu yang urus, terserah kamu mau bikin konsep, menu atau desain yang seperti apa, saya ngikut kamu aja.” “Kok aku?” “Kamu suka banget kopi, Sayang. Jadi kafe ini adalah milik Rindu Hafshayu. Saya ingin, walau kita tidak ada lagi di kota dengan putaran waktu yang sama tapi kamu harus tetap yakin bahwa saya sedekat aroma kopi yang selalu kamu hirup pagi, siang dan malam. Saya akan sedekat itu di hati kamu.” Bhanu menatap Rindu dengan tulus. “Saya ingin kamu melakukan apa yang kamu sukai supaya hari-hari kamu tetap menyenangkan.” “Bhanu—“ “Kalau kamu nggak mau, anggap aja kamu kerja sama saya. Keuangan B&W Caffe tetap kamu yang pegang loh, gantiin saya, bahan dan hal lainnya itu menjadi tanggung jawab Angga. Oke mbak Rindu?” tanya Bhanu, dia sudah memikirkan ini sejak beberapa minggu yang lalu. Bhanu juga sudah membicarakannya dengan Angga soal keuangan dan pria itu juga setuju. “Seriusan kamu mau aku yang pegang keuangan B&W Caffe? Percaya emang?” tanya Rindu, dia memarkirkan mobil di salah satu ruko yang sedang di renovasi, sepertinya ruko ini akan menjadi cabang B&W Caffe selanjutnya. “Kamu bahkan bekerja untuk PT Manju Sukses lama sekali, Sayang, tentu saja saya percaya. Angga juga sudah setuju soal ini,” ucap Bhanu. Rindu berpikir dengan keras, lagian tidak ada alasan juga untuk Rindu menolak tawaran Bhanu, sekarang kesibukannya hanya kuliah. “Aku punya pengalaman kerja yang sangat baik, lulusan S1 UI dengan predikat cumlaude dan sekarang mahasiswa S2 UGM. Berani bayar berapa, Bapak?” tanya Rindu. Dia menatap Bhanu dengan wajah super serius. “Di bayar pake cinta segunung bisa nggak, Mbak?” tanya Bhanu. Rindu langsung menggeleng. “Cinta doang mah nggak bikin kenyang!” seru Rindu. Bhanu tertawa dan mengambil map cokelat di bangku belakang. “Ini ada kontrak kerja, kamu baca dan pahami dulu aja, kalau merasa ada yang kurang nanti bicarakan lagi sama saya,” ucap Bhanu sambil memberikan map cokelat itu pada Rindu. “Aku benar-benar dapat tawaran kerja di B&W Caffe?” tanya Rindu. Bhanu langsung mengangguk antusias. “Sebenarnya nggak perlu kontrak juga sih, tapi untuk profesionalitas, Saya memilih pakai kontrak. Kamu tahu saya sayang sekali sama kamu tapi nggak ada yang tahu, sebuah hubungan pasti ada pasang surutnya. Jadi ini pilihan terbaiknya. Menurut kamu bagaimana?” tanya Bhanu. “Aku setuju sih, urusan bisnis dan hal personal memang harus punya ruangnya masing-masing, aku nanti akan baca kontraknya. Sekarang kita mau ngapain dulu?” tanya Rindu. Dia melepas seatbelt-nya lalu menyimpan kembali map itu di kursi belakang dan mengambil tas miliknya. “Kita lihat perkembangan kafe dulu dan setelah itu beli perlengkapan yang cocok menurut kamu.” “Padahal arsiteknya kamu loh, kenapa aku yang suruh milih?” “Karena saya selalu cocok sama selera kamu.” “Bisa banget sih!” “Saya serius, Sayang.” Kemudian apa yang bisa Rindu lakukan selain mengikuti langkah Bhanu masuk ke dalam ruko yang sedang di renovasi dan akan menjadi tempat Rindu mengukir sejarah baru. *** “Temanya lebih ke modern klasik aja gimana?” tanya Rindu setelah mereka keluar dari kafe. Bhanu tampak berpikir kemudian mengangguk. “Suasananya jadi sendu-sedam gitu tapi nggak menghilangkan unsur senangnya sama sekali, aku yakin deh orang bakal betah lama-lama bahkan mungkin lupa waktu pulang,” ucap Rindu, kali ini dia duduk di kursi penumpang dan Bhanu di balik kemudi. “Menurut saya cocok-cocok aja sih, kita berangkat kebagian furniture-nya sekarang. Kamu yang pilih semuanya.” Mata Rindu mendadak berbinar. “Seriusan aku boleh pilih?” tanya Rindu. Bhanu langsung mengangguk. “Sudah saya bilang, ini kafe untuk Rindu Hafshayu, tentu kamu harus menjadikan sesuatu yang kamu miliki menjadi menarik.” “Kamu tahu di mana orang yang jual furniture yang bagus?” tanya Rindu, suaranya sekarang benar-benar antusias. “Tahu dong, Sayang, udah langganaan banget sama toko ini dari B&W Caffe yang dekat kampus kamu itu,” ucap Bhanu, Rindu mengangguk cepat. Dia menjadi tidak sabar. Beberapa konsep sudah terukir indah di otak Rindu. Dia akan membuat B&W Caffe di Kotabaru akan sangat menakjubkan. *** Bhanu terus mengikuti langkah Rindu berkeliling, membiarkan gadis itu berbicara langsung pada pramuniaga yang menemani mereka. Rindu terlihat sangat antusias sejak tadi, melihat katalog lalu beranjak melihat barangnya secara langsung. Mulai dari wallpaper, bar, meja, kursi sampai dengan model lampu, Rindu memilihnya dengan penuh pertimbangan. “Aku nggak nyangka akan seseru ini!” seru Rindu sambil duduk di sofa yang di sediakan. Bhanu hanya tersenyum melihat gadis ini. Pilihan Rindu memang tidak pernah mengecewakan, Bhanu sangat suka selera Rindu terhadap sesuatu. Termasuk memilihnya menjadi pacar, contohnya, hahaha. “Puas nggak?” tanya Bhanu, dia memberikan satu botol air mineral pada Rindu. “Puas banget, aku nggak nyangka loh ada toko furniture selengkap dan sebagus ini di Jogja, ntar kapan-kapan aku ke sini lagi, milih-milih bareng Karlita,” ucap Rindu. “Boleh, sesekali ajak mbak Karlita ke tempat kayak gini, jangan keluar masuk store sepatu, tas sama baju terus,” ucap Bhanu. Rindu langsung mengangguk. “Aku bayar semuanya dulu, setelah itu kita cari makan. Kamu pikirin mau makan apa dan di mana,” ucap Bhanu, dia langsung berdiri dan membayar semua belanjaannya dan Rindu hari ini, lebih tepatnya belanjaan untuk kafe yang baru. “Sudah tahu mau makan di mana?” tanya Bhanu setelah dia menyelesaikan urusannya. “Aku udah pesan bebek bakar dan beberapa cemilan, kita makan di B&W Caffe dekat kampus aja ya, sekalian sama anak-anak yang ada di sana, aku yang traktir,” ucap Rindu, dia berdiri di bantu oleh Bhanu. “Masih mau sesuatu lagi nggak?” tanya Bhanu sambil menggenggam tangan Rindu. “Udah cukup kayaknya. Tadi katanya Dirga beli dawet ayu yang ada nangkanya. Jadi sekarang kita harus sampai ke B&W Caffe lebih cepat. Bisa?” “Bisa dong, Sayang, doa aja yang banyak supaya nggak kejebak macet,” ucap Bhanu, Rindu langsung mengangguk dan mereka langsung meninggalkan toko itu. Siapapun yang melihat bagaimana dua orang itu saling memperlakukan dan saling tatap, mereka akan berdecak iri. Bhanu Winata dan Rindu Hafshayu, mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD