Bab 4 Bergetar

1477 Words
Tok tok tok Suara ketukan pintu terdengar dan tak lama Alfred masuk ke dalam kamar Arin. "Nona saya kemari ingin memberikan ini dari Tuan Samuel," turut Alfred. Arin menerima skripsinya itu tetapi tidak di tanda tangani Samuel, Arin pun berdecak kesal. Lagi-lagi ada yang perlu dia revisi, Arin merasa jika Samuel mempersulit dirinya. "Apa Pak Samuel ada di rumah?" tanya Arin. "Tuan tadi pergi sebelum makan siang biasanya beliau akan pulang malam," jawab Alfred membuat Arin menghela nafasnya. "Boleh minta tolong Pak?" tanya Arin. "Iya Nona ada yang bisa saya bantu?" "Nanti ketika Pak Samuel pulang katakan padanya jika aku ingin bertemu dengannya, aku tidak bisa menghubunginya karena ponselku hilang," tutur Arin. "Baik Nona, nanti saya akan sampaikan pesan dari Nona," ucap Alfred. "Makan siang Anda sudah dingin apa mau saya ganti, Nona?" tanya Alfred kemudian. "Tidak perlu, saya bisa memakannya." Alfred pun lalu berpamitan untuk keluar dari kamar itu, Sekarang sudah pukul dua siang dan Arin baru bangun. Dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum makan. Setelah itu dia pun duduk di sofa untuk makan siang, makanan disana sangat enak dan selama ini Arin tidak bisa memakan makanan itu. Dia memang miskin setelah kedua orang tuanya meninggal, Arin harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya sehari-hari. Untuk kuliah dia mendapatkan beasiswa tetapi tetap saja dia harus bekerja keras karena biaya hidup di ibu kota sangatlah mahal. Arin tidak memiliki rumah lebih tepatnya rumah peninggalan orang tuanya di ambil oleh keluarga ibunya. Membuat Arin harus ngekos, beruntung Ibu kos tempat Arin sangat baik. Dia sering memberi makanan kepada Arin dan dia juga pernah membiarkan Arin masih tetap tinggal disana meskipun Arin belum membayar uang kos beberapa bulan. Ceklek! Suara pintu terbuka membuat Arin berdiri, dia baru saja menghabiskan makan siangnya. "Ada apa?" ucap Samuel dingin. "Pak saya harus merevisi skripsi saya tetapi laptop saya ada di kosan apa boleh saya mengambilnya." "Jangan pernah berpikir bisa keluar dari rumah ini!" "Tapi Pak saya harus menyelesaikan skripsi saya lalu saya juga harus ke kampus." "Itu bukan urusan saya," tegas Samuel yang berbalik ingin pergi dari sana. Arin segera mengejar Samuel dia meriah tangan Samuel, "Pak saya mohon saya ingin menyelesaikan kuliah saya," pinta Arin dengan menundukan kepalanya. Tangannya menggenggam tangan Samuel, Samuel menatap Arin yang terlihat akan menangis. "Baiklah," ucap Samuel membuat Arin mendongakan kepalanya. "Sungguh?" "Hm." "Terimakasih Pak, saya akan mengambilnya sore ini." "Saya akan meminta seseorang untuk mengambilnya untukmu, tetaplah diam di kamar," tutur Samuel dengan tegas membuat Arin kembali menunduk dan segera melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Samuel. *** Hari ini Arin di izinkan ke kampus butuh bernegosiasi lama untuk Samuel bisa mengizinkannya. Arin memilih menjadi patuh agar Samuel tidak semakin mempersulit hidupnya. Tok tok tok Alfred masuk ke dalam kamar Arin di saat Arin selesai bersiap. "Nona, Tuan meminta Anda sarapan di ruang makan beliau sepuluh menit lagi akan turun sebaiknya Anda cepatlah turun sebelum beliau," tutur Alfred. "Baik Pak saya juga sudah selesai," jawab Arin. Arin lalu ikut Alfred keluar dari kamar, ini pertama kalinya dia keluar dari kamar itu. Ternyata di depan kamar ada dua bodyguard yang menjaga, Arin semakin penasaran dengan Samuel karena tidak mungkin seorang dosen bisa sekaya ini. Banyak bodyguard dan maid di rumahnya, Arin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Silahkan duduk Nona," ucap Alfred ketika mereka sampai di ruang makan. "Kalau begitu saya permisi dulu ya Nyonya," ucap Alfred yang dijawab anggukan kepala oleh Arin. Tak lama terdengar langkah kaki Samuel yang mendekat, Arin pun berdiri untuk menyambut Samuel. "Selamat Pagi Pak," sapa Arin dengan tersenyum. "Pastikan sebelum makan siang kamu sudah kembali ke rumah ini!" "Baik Pak," jawab Arin yang tentu saja tidak bisa membantah perkataan Samuel. Mereka pun lalu sarapan dengan tenang tidak ada lagi yang berbicara. Selesai sarapan keduanya keluar dari rumah itu, Samuel menaiki mobilnya sedangkan Arin berjalan kaki keluar dari area pekarangan rumah Samuel. Arin harus berjalan kaki hingga ke tempat dia bisa mendapatkan angkutan umum. Jalanan rumah Samuel bukan tempat angkot melintas karena area itu adalah komplek rumah mewah. Arin harus berjalan kurang lebih lima belas menit untuk bisa mendapatkan angkutan umum. Kini Arin berdiri di trotoar dan tak lama kemudian sebuah angkot melintas. "Pagi Neng Arin," sapa supir angkot itu. "Pagi Pak Ujang," balas Arin. Itu adalah angkot langganan Arin hingga supir angkot itu mengenal Arin. "Biasa ke kampus ya Neng?" "Iya Pak," jawab Arin. "Neng tumben naik dari sini?" "Iya Pak sekarang aku tinggal daerah sini ikut saudara," jawab Arin berbohong. Pak Ujang sesekali mengajak ngobrol Arin, supir angkot itu memang sangat ramah dan baik membuat Arin nyaman menaiki angkot itu. Kurang lebih dua puluh menit untuk Arin sampai di kampus. "Ini Pak," ucap Arin yang akan membayarnya. "Hari ini gratis untuk Eneng." "Loh kenapa Pak?" "Bapak Ulang tahun anggap syukuran kecil-kecilan," ucap Pak Ujang. "Ini juga untuk Eneng," sambung Oak Ujang memberikan roti kepada Arin. "Wah selamat ulang tahun Pak, Semoga panjang umur, sehat selalu, rezekinya berlimpah dan selalu bahagia," tutur Arin. "Amin." "Makasih ya Pak rotinya," ucap Arin. "Sama-sama Neng, semoga Neng selalu bahagia juga ya," balas Pak Ujang. "Amin Pak." Arin laku turun dari angkot itu, dis segera menuju ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai referensi skripsinya itu. Sekarang sudah pukul sembilan jadi dia punya waktu dua jam di perpustakaan itu. Arin duduk di salah satu kursi yang tersedia setelah dia menemukan buku yang dia cari. Arin pun membuka laptopnya untuk mulai melanjutkan memperbaiki skripsinya. Arin sangat fokus dengan tugasnya itu hingga tanpa sengaja menyenggol buku yang ada di atas meja. Saat akan mengambil buku itu, seseorang telah mengambilnya lebih dahulu. "Ini," ujar laki-laki itu. "Makasih," ucap Arin dengan tersenyum. "Sama-sama," balas laki-laki itu dengan tersenyum juga lalu laki-laki itu segera pergi dari sana. Arin tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya tajam. Dia tak lain adalah Samuel, Samuel mengepalkan tangannya. Dia salah paham dengan Arin karena melihat Arin tersenyum dengan laki-laki lain. Arin melihat jam telah menunjukkan pukul sebelas siang maka dia segera merapikan bukunya. Arin harus segera kembali karena perintah Samuel pagi tadi. "Arin," panggil seseorang yang keluar dari dari mobil. "Eh Elang." "Kamu mau pulang?" "Iya lagi nunggu angkot tapi belum ada yang lewat." "Yaudah aku anter aja, siang-siang di daerah sini memang rada susahkan cari angkot," ucap Elang yang menawarkan tumpangan. Arin berpikir sejenak, "Boleh deh, tapi beneran tidak merepotkan?" "Tidak, santai aja sih kayak sama siapa aja," gumam Elang. Arin pun masuk ke dalam mobil Elang, di dalam perjalanan mereka tan banyak mengobrol. "Kamu pindah kos?" "Aku sekarang ikut saudara," jawab Arin berbohong. "Berhenti ada di depan ya." "Aku antar sampai rumaha saudara kamu saja." "Tidak perlu lagipula tidak jauh kok dari sini," jelas Arin. Tanpa bertanya lagi maka Elang menepikan mobilnya. "Makasih ya," ucap Arin sebelum turun. "Oke," balas Elang. Mobil Elang telah melesat jauh maka Arin segera berjalan menuju komplek perumahan rumah Samuel. Saat tengah berjalan tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya, kaca mobil itu diturunkan dan terlihat Samuel disana. "Masuk!" titah Samuel. Arin pun segera masuk ke dalam mobil itu, wajah Samuel terlihat tidak bersahabat membuat Arin kesulitan menelan salivanya. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah Samuel. Samuel langsung turun dari mobil begitu juga dengan Arin. Tatapan Samuel sangat tajam dia lalu mencengkram pergelangan tangan Arin. Arin mengikuti langkah Samuel tanpa berani bertanya dan mengeluh. Samuel membawanya ke kamar dia menutup pintu dengan di banting membuat Arin terkejut. "Apa kamu benar-benar tidak tahu malu Arin?" "A-apa maksud Anda?" tanya Arin dengan terbata. "Menjadi patuh di depan saya tetapi menggoda pria lain di belakang saya, cih kamu sangat murahan ternyata." Hinaan dan tuduhan dari Samuel mampu kembali menggores hati Arin. "Siapa yang menggoda pria lain? Saya tidak mendekati siapapun," ucap Arin yang mencoba menahan emosinya. "Masih tidak mau mengaku?" ucap Samuel dengan dingin. "Kau melanggar peraturannya jadi saya berhak menghukummu." "Sa-saya tidak melakukan apapun Pak." "Karena kamu membuat dirimu sendiri murah jadi jangan salahkan saya dengan apa yang akan saya lakukan," bisin Samuel membuat Arin melangkah mundur. "Sungguh saya tidak melakukan apapun." Samuel langsung mendorong Arin ke atas tempat tidur, sebelum Arin bisa bangkit dia lebih dulu mengukung tubuh Arin. Samuel mencengkram tangan Arin di atas kepala membuat Arin tidak bisa memberontak. Ia lalu segera melum*t bibir Arin dengan kasar, semakin turun ke leher hingga tangan Samuel menyentuh d**a Arin. "Hentikan tolong," pinta Arin dengan sesenggukan. "Hentikan? Bukankah sudah saya peringatkan untuk tidak berdekatan dengan pria lain tetapi kamu justru menggodanya," tutur Samuel. Arin hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menyangkal perkataan Samuel. "Pak jangan," teriak Arin ketika Samuel membuka kancing baju yang Arin kenakan. "Pak saya mohon maafkan saya," ucap Arin segera. Daripada dia terus menyangkal dan membuat Samuel semakin marah Arin pun memilih meminta maaf. "Ini peringatan untukmu, jika kamu kembali melakukan kesalahan maka saya bisa melakukan yang lebih buruk dari ini!" tegas Samuel yang kemudian bangkit dari atas tubuh Arin. Arin menangis dia memeluk tubuhnya sendiri, Arin tidak menyangka akan menerima perlakuan seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD