Bab 5 Bertemu Kakek

845 Words
Arin terbangun pukul dua siang dengan masih memakai pakaian tadi. Kepalanya sedikit pusing Arin mungkin karena dia menangis hingga ketiduran dan belum makan siang. Biasanya Alfred akan membawakannya makanan tetapi Arin tidak melihat makanan apapun di dalam kamar. Arin menghela nafasnya lalu dia pun berjalan masuk ke kamar mandi. Arin berdiri di depan wastafel terlihat lehernya yang terdapat tanda merah akibat ulah Samuel. Ketika mengingat itu rasanya Arin ingin kembali menangis. Arin berdiri di bawah shower membiarkan air dingin membasahi kulitnya. Tidak peduli dengan kepalanya yang sakit Arin tetap mandi dengan air dingin. Setelah selesai Arin berjalan ke arah lemari pakaian, disana sudah ada beberapa pakaian untuk dia kenakan. Arin mengambil dress putih dengan motif bunga yang panjangnya selutut. Dia yang melihat tasnya masih tergeletak di lantai pun mengambilnya. Arin melihat roti yang tadi padi diberikan Pak Ujang dia pun langsung memakan roti itu untuk mengganjal perutnya. Suara ketukan pintu membuat Arin menoleh ternyata Alfred datang. "Nona, kami sudah menyiapkan makanan untuk Anda. Tuan berpesan agar Anda segera makan," ucap Alfred membuat Arin langsung bangkit dari duduknya. Arin pun menuju ke ruang makan dia sangat lapar meskipun baru makan roti tetapi itu tidak cukup untuknya. "Pak apa ada obat sakit kepala?" tanya Arin kepada Alfred yang masih berdiri disana. "Apa Anda sakit Nona, saya akan memberitahu Tuan Samuel." "Jangan Pak," cegah Arin. "Saya hanya pusing setelah minum obat pasti sembuh," sambung Arin. Alfred berpikir sejenak, "Baiklah Nona saya ambilkan dulu." Alfred keluar dari ruang makan meninggalkan Arin meneruskan makannya. Tak lama kemudian Alfred kembali ke ruang makan dengan membawa obat yang Arin minta. Arin segera meminum obat itu tak lupa dia pun mengucapkan terimakasih kepada Alfred. Selesai makan Arin tidak langsung kembali ke kamar dia berkeliling rumah Samuel untuk mencari cenah rumah itu. Tetapi rumah itu dijaga sangat ketat di setiap sudut terlihat bodyguard yang berjaga. Tembok yang tinggi pun tidak mungkin Arin panjat. Arin akhirnya duduk di gazebo dekat kolam renang dia menghela nafasnya. Lagi-lagi dia hanya bisa merenungi nasibnya yang sial ini. "Nona ini minuman untuk Anda," ucap Alfred yang datang. "Terimakasih Pak." "Nona boleh saya memberi pendapat?" "Boleh Pak." "Sebaiknya Nona jangan terus melawan Tuan, Tuan sebenarnya sangat baik dan Nona adalah wanita pertama yang dibawa tinggal di rumah ini," tutur Alfred. "Apa Anda tidak bisa membantu saya untuk pergi dari sini saja Pak?" "Mustahil Anda bisa keluar dari rumah ini, dan kalau pun itu terjadi Tuan pasti akan menemukan Anda," jelas Alfred. Alfred pun menjelaskan jika seluruh rumah ini diawasi oleh CCTV, Arin semakin lemas seakan tidak memiliki semangat hidup lagi. "Apa yang kamu lakukan disini?" Suara itu membuat Arin, "Ti-tidak ada Pak," jawab Arin segera. "Bersiaplah saya tunggu sepuluh menit kita akan pergi," ucap Samuel. "Baik Pak," jawab Arin. Arin langsung berjalan dengan cepat ke arah kamarnya yang ada di lantai dua. Arin membuka lemari dia mengambil rok berwarna biru dengan atasan putih. Arin buru-buru mengganti pakaian takut jika membuat marah Samuel. Setelah berganti pakaian dia memakai pewarna bibir akmgar tidak terlihat pucat. Setelah selesai Arin langsung berlari untuk turun ke lantai satu. "Arin!" teriak Samuel membuat Arin semakin gugup. "Iya Pak," jawab Arin yang berlari ke arah Samuel. "Maaf Pak," ucap Arin yang menundukkan kepalanya. Arin tidak berniat bertanya kemana tujuan mereka karena dia yakin Samuel tidak akan memberitahunya. Laki-laki itu begitu menyebalkan bagi Arin. Perjalanan memakan waktu lama dan selama perjalanan tidak ada yang berbicara. Samuel terlihat fokus dengan layar macbooknya sedangkan Arin menatap keluar jendela untuk menghilangkan suntuk. Setelah kurang lebih tiga jam mobil itu pun berhenti di sebuah pekarangan rumah. Rumah yang dikelilingi perkebunan itu menarik perhatian Arin. Tak terlihat mewah tetapi nampak sangat nyaman, ia pun turun bersama dengan Samuel. Kedatangan mereka disambut oleh seorang laki-laki yang Samuel panggil Paman Erwin. "Selamat datang Tuan Muda," sapa laki-laki berumur empat puluh tahunan itu. "Kakek dimana, Paman?" tanya Samuel. "Tuan besar ada di ruang keluarga, mari saya antar," ucap Erwin. Arin yang berdiri di belakang Samuel hanya mengamati interaksi mereka. Lalu Samuel membawa Arin menemui seseorang yang Samuel panggil Kakek. Rumah yang tidak lebih besar dari milik Samuel itu justru nampak tentram. Jika bisa memilih Arin lebih memilih tinggal di rumah itu dari di rumah mewah Samuel. Saat mereka sampai di ruang keluarga terlihat laki-laki tua yang tengah duduk dengan memegang tongkatnya. Arin melihat senyum Samuel yang sangat langkah itu. "Kakek," panggil Samuel membuat laki-laki tua itu menoleh. "Hey kamu datang, kenapa tidak memberi kabar?" tanya Kakek yang terlihat begitu senang. "Tidak bolehkah Samuel kemari tiba-tiba?" ucap Samuel dingin. "Tentu saja boleh." "Kek, perkenalkan ini Arin calon istri Samuel," ucap Samuel. Arin langsung mencium tangan sang Kakek yang disambut hangat oleh kakek. "Cucu menantuku sini duduk sebelah Kakek," ujar kakek menepuk sofa di sisi kanannya. Arin tersenyum lalu duduk di samping sang kakek. "Apa kalian sudah makan malam?" tanya Kakek Indra. "Sudah," jawab singkat Samuel "Kakek senang akhirnya kamu membawa calon istrimu kemari," ucap Kakek Indra menepuk pundak Samuel. "Kapan kalian akan menikah?" "Secepatnya." "Kakek bertanya kepada Arin bukan kamu." "Biarkan itu menjadi urusan kami, Kakek tidak perlu ikut campur," balas Samuel yang selalu terlihat dingin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD