Bab 1 - Malam Penghianatan
Hujan turun deras saat Alya berdiri di depan hotel mewah itu. Tangannya gemetar memegang ponsel yang sejak tadi menampilkan foto yang menghancurkan hatinya.
Tunangan yang selama lima tahun ia perjuangkan… sedang memeluk perempuan lain.
“Aku nggak percaya…” lirihnya.
Dengan napas memburu, Alya melangkah masuk ke ballroom hotel. Musik elegan memenuhi ruangan, sementara lampu kristal memantulkan kemewahan yang terasa menyesakkan.
Dan di sana—
Rendra.
Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Sedang mencium wanita lain di depan semua orang.
Tubuh Alya terasa mati rasa.
“Rendra!” suaranya menggema.
Semua kepala menoleh.
Rendra langsung melepaskan pelukannya. Wajah tampannya berubah panik. “Alya? Kamu ngapain ke sini?”
“Aku yang harusnya tanya itu!” bentak Alya. “Apa ini alasan kamu selalu sibuk akhir-akhir ini?”
Wanita di samping Rendra tersenyum sinis. “Jadi ini tunanganmu? Cantik sih… tapi terlalu miskin buat keluarga Wijaya.”
Ucapan itu seperti tamparan.
Alya mengepalkan tangan.
Rendra mendekat dan berbisik pelan, “Kita bicara nanti.”
“Nanti?” mata Alya memerah. “Kamu selingkuh di depanku dan masih minta nanti?”
“Aku terpaksa.”
Kalimat itu membuat Alya tertawa pahit.
“Ternyata cinta lima tahun kalah sama uang.”
“Dengar dulu—”
PLAK!
Satu tamparan keras membuat ballroom mendadak sunyi.
“Aku benci kamu.”
Alya berbalik pergi sebelum air matanya jatuh.
Namun saat pintu hotel terbuka—
BRAKKK!
Sebuah mobil hitam hampir menabraknya.
Tubuh Alya limbung.
Seseorang tiba-tiba menarik pinggangnya.
“Apa kamu mau mati?”
Suara pria itu dingin… dan sangat berwibawa.
Alya mendongak.
Seorang pria tinggi dengan jas hitam mahal berdiri di depannya. Tatapan matanya tajam, wajahnya tampan sempurna.
Pria itu menatap ke arah ballroom, lalu kembali pada Alya.
“Menarik,” gumamnya.
“Apa?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Menikahlah denganku.”
“Apa?”
Alya menatap pria asing di depannya seolah dia sudah kehilangan akal.
“Aku nggak kenal kamu.”
“Arsen Mahardika.” pria itu mengulurkan tangan. “CEO Mahardika Group.”
Nama itu membuat orang-orang sekitar langsung berbisik.
Mahardika Group.
Perusahaan terbesar di kota ini.
Pria itu terkenal dingin, kejam, dan mustahil disentuh wanita mana pun.
Tapi sekarang…
dia melamar perempuan yang baru ditemuinya lima menit lalu.
“Aku serius,” ujar Arsen tenang.
Alya tertawa sinis. “Aku habis diselingkuhi, bukan hilang ingatan.”
“Aku bisa membantumu membalas mereka.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Arsen melanjutkan, “Pria tadi akan menikahi wanita kaya demi bisnis keluarganya, kan?”
Bagaimana dia tahu?
“Aku bisa membuat mereka menyesal.”
Alya menggigit bibir.
Ia tahu seharusnya ia pergi. Tapi rasa sakit di dadanya terlalu besar.
“Apa maumu?”
“Mudah.” Arsen memasukkan tangan ke saku celana. “Jadi istriku selama satu tahun.”
“Kontrak nikah?”
“Ya.”
“Gila.”
“Aku punya alasan sendiri.”
Tatapan mereka saling bertemu.
Alya sadar pria ini menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang berbahaya.
“Kenapa aku?”
Arsen tersenyum tipis.
“Karena kamu satu-satunya wanita yang menampar calon suaminya di depan publik.”
Deg.
Jantung Alya berdetak aneh.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nama ibunya muncul.
“Alya! Cepat pulang!” suara ibunya terdengar panik. “Ayahmu masuk rumah sakit!”
Wajah Alya langsung pucat.
“Ayah?”
“Rumah sakit minta pembayaran malam ini juga…”
Telepon terputus.
Tubuh Alya melemas.
Arsen menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan—
“Aku bisa membayar semua biaya ayahmu.”
Alya menegang.
“Tapi sebagai gantinya…”
Pria itu mengeluarkan cincin berlian dari sakunya.
“Katakan iya.”
Ruang VIP rumah sakit terasa sunyi.
Alya menatap lembar kontrak di tangannya dengan napas tak beraturan.
Pernikahan kontrak.
Satu tahun.
Tidak boleh jatuh cinta.
Tidak boleh membocorkan rahasia pernikahan.
Dan setelah satu tahun… mereka akan bercerai.
“Kalau aku menolak?” tanya Alya lirih.
Arsen duduk santai di sofa sambil menatapnya tajam.
“Ayahmu akan dipindahkan malam ini karena tagihan belum dibayar.”
Alya menutup mata.
Ia benci keadaan ini.
Tapi ia lebih takut kehilangan ayahnya.
“Aku punya satu syarat,” katanya akhirnya.
Arsen mengangkat alis.
“Jangan pernah mempermainkan perasaanku.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arsen berubah.
Pria itu tersenyum samar.
“Aku tidak tertarik pada cinta.”
Entah kenapa… jawaban itu justru membuat d**a Alya terasa nyeri.
Sepuluh menit kemudian—
Pintu ruangan terbuka.
Seorang pria masuk terburu-buru.
“Pak Arsen, keluarga Wijaya baru tahu soal pernikahan ini.”
Arsen berdiri.
“Bagus.”
“Apa Anda yakin ingin mengumumkannya malam ini?”
Arsen meraih tangan Alya.
Hangat.
Kuat.
Dan membuat jantung Alya berdebar tanpa izin.
“Mulai malam ini,” ujar Arsen dingin, “semua orang harus tahu siapa nyonya Mahardika.”
Namun tanpa mereka sadari—
Seseorang sedang memotret dari balik pintu.
Dan foto itu akan menghancurkan hidup Alya keesokan paginya.