Bab 5 - Kegaduhan

867 Words
Suara gaduh terdengar dari lantai bawah mansion Mahardika. Alya yang masih duduk di atas ranjang langsung berdiri panik. Hatinya tidak tenang sejak mendengar Rendra datang dalam keadaan mabuk. Ia buru-buru keluar kamar. Begitu sampai di ujung tangga utama, Alya langsung melihat keributan itu. Rendra berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah kacau dan mata merah. Sementara beberapa bodyguard mencoba menahannya. “Aku cuma mau bicara sama Alya!” bentaknya. “Pak, silakan tenang,” ujar salah satu pengawal. “Tenang apanya?! Dia tunanganku!” “Dulu.” Suara dingin Arsen membuat suasana langsung membeku. Pria itu berdiri santai di depan Rendra dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya tajam. Mengintimidasi. Dan sangat menguasai keadaan. Rendra tertawa miring. “Jangan sok menang cuma karena kamu kaya.” Arsen mendekat pelan. “Dan jangan sok memiliki sesuatu yang sudah kamu buang.” Deg. Rendra langsung mengepalkan tangan. Namun sebelum keributan membesar, Alya buru-buru turun tangga. “Rendra.” Pria itu langsung menoleh cepat. Tatapannya berubah rumit saat melihat Alya mengenakan piyama satin putih dengan rambut terurai. Cantik. Lembut. Dan terlihat sangat berbeda sejak menjadi Nyonya Mahardika. “Kamu…” suara Rendra melemah. “Kamu benar-benar tinggal di sini?” Alya menatapnya tenang. “Aku istri Arsen sekarang.” Kalimat itu terdengar seperti pisau bagi Rendra. “Alya, aku bisa jelaskan semuanya.” “Sudah terlambat.” “Aku dipaksa keluargaku!” “Tapi kamu tetap memilih wanita itu.” Rendra terdiam. Dan keheningan itu cukup menjadi jawaban. Mata Alya mulai memanas, namun ia menahan dirinya agar tidak terlihat lemah lagi. Dulu ia mungkin akan menangis. Tapi sekarang berbeda. Karena entah sejak kapan… kehadiran Arsen membuatnya merasa lebih kuat. Rendra melangkah mendekat. “Aku masih cinta sama kamu.” Namun tiba-tiba— Arsen menarik Alya ke sisinya. Gerakan cepat dan posesif itu membuat tubuh Alya langsung menempel pada d**a bidang pria tersebut. “Aku nggak suka mendengar pria lain menyatakan cinta pada istriku,” ucap Arsen rendah. Jantung Alya langsung berdetak kacau. Rendra menatap mereka penuh emosi. “Kalian baru saling kenal!” “Dan?” Arsen tersenyum tipis. “Tetap saja dia memilihku.” Alya menatap Arsen kaget. Memilih? Padahal semua ini kontrak. Namun cara pria itu mengatakan kalimat tadi… terdengar begitu nyata. Rendra terlihat semakin kehilangan kendali. “Kamu nggak mungkin serius sama dia!” bentaknya pada Alya. “Pria seperti Arsen Mahardika cuma mempermainkan wanita!” Tatapan Arsen langsung berubah dingin. Ruangan mendadak terasa mencekam. “Aku kasih kamu waktu lima detik buat keluar dari rumahku,” katanya pelan. “Sebelum aku menyeretmu sendiri.” Rendra tertawa sinis. “Mau pamer kekuasaan?” “Lima.” “Aku nggak takut sama—” “Empat.” Sorot mata Arsen benar-benar berubah berbahaya. Dan untuk pertama kalinya, Rendra terlihat gentar. “Tiga.” “Oke!” bentak Rendra frustrasi. Pria itu menatap Alya lama. Tatapan penuh penyesalan. “Suatu hari nanti kamu bakal sadar dia bukan pria baik.” Setelah itu Rendra pergi sambil membanting pintu keras. BRAK! Suasana langsung hening. Namun Alya belum sempat bernapas lega ketika menyadari sesuatu. Pinggangnya masih dipeluk Arsen. Dan pria itu belum melepaskannya sejak tadi. “A-Arsen…” “Hm?” “Kamu masih melukku.” “Memangnya kenapa?” Deg. Alya langsung salah tingkah. Arsen menunduk sedikit hingga wajah mereka semakin dekat. “Apa kamu nyaman di pelukanku?” Pertanyaan itu terlalu berbahaya. Apalagi dengan suara rendah khas Arsen yang selalu membuat jantung Alya kacau. “Aku… biasa aja.” “Pembohong.” Alya langsung memalingkan wajah. Namun Arsen malah tersenyum kecil. “Aku bisa dengar detak jantungmu sampai sini.” Wajah Alya memanas seketika. Pria ini benar-benar suka menggodanya. “Lepasin aku.” “Kalau nggak mau?” Deg. Tatapan Arsen turun perlahan ke bibir Alya. Dan udara di antara mereka berubah panas. Sangat panas. Alya bahkan bisa mencium aroma parfum pria itu yang bercampur samar dengan bau hujan malam. Memabukkan. “Arsen…” bisiknya pelan. Nada suara itu justru membuat tatapan pria tersebut semakin gelap. “Jangan panggil namaku seperti itu kalau kamu nggak siap.” “Siap apa?” Alih-alih menjawab, Arsen mengusap pinggang Alya perlahan. Gerakan kecil itu sukses membuat napas wanita tersebut tercekat. “Aku laki-laki normal, Alya.” Deg. “Aku juga punya batas kesabaran.” Jantung Alya berdetak makin liar. Dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun— Arsen tiba-tiba mengangkat tubuhnya. “Astaga!” Refleks Alya memeluk leher pria itu. Arsen membawanya naik tangga tanpa kesulitan sedikit pun. “A-Arsen! Turunkan aku!” “Tidak.” “Kamu gila!” Pria itu justru tertawa pelan. Suara rendah yang terdengar sangat seksi di telinga Alya. Begitu sampai di depan kamar Alya, Arsen perlahan menurunkannya. Namun bukannya menjauh… pria itu justru menahan tubuh Alya di antara pintu dan dirinya. Jarak mereka nyaris tidak menyisakan ruang. Tatapan mereka saling bertabrakan. Panas. Berbahaya. Dan membuat suasana berubah sangat intim. “Alya,” suara Arsen serak. “Kalau aku menciummu sekarang…” Napas Alya memburu. “…” “Apakah kamu akan menolakku?” Dunia terasa berhenti sesaat. Alya tahu ia seharusnya berkata iya. Ini salah. Mereka hanya pasangan kontrak. Namun tubuhnya justru bereaksi sebaliknya. Tatapan Arsen terlalu intens. Terlalu memabukkan. Dan tanpa sadar… Alya menggeleng pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD