Bab 2 Menikah dengan pria tak di kenal

1186 Words
Jantung Allea berdenyut kencang dugaanya ternyata salah. Pria tampan yang di hadapinya itu calon suaminya. Ia terlihat tidak ramah dan sangat dingin terhadap perempuan. " Bersikaplah lebih sopan terhadap perempuan, Aliando. Ajak dia ke atas agar dia istirahat. "Perintah opah Wijaya. " Apa aku harus menggendongnya ke atas? "Ucapnya sambil melirik ke arah Allea. Aliando menghampiri sang opah tanpa menyapa Allea sedikitpun.Alea hanya menunduk ketika ia di tatap pria yang tak ia kenali.Sambutan pria itu membuat air matanya meleleh. Ia semakin yakin kalau pernikahannya hanya sebuah permainan. " Ikutilah nak gadis!dia memang seperti moster, padahal mukanya sangat tampan. Percayalah suatu hari nanti ia akan jinak kepadamu. " "Tenang opah aku sudah biasa menghadapi moster dalam kehidupanku. Terlebih dia orang baru,,, Aku mengira yang menjemputku itu calon suamiku. Meskipun dia tua tapi dia rmah dn sopan. "Allea menjawab dengan luwes meskipun baru pertama kali ia bertemu. " Ha,,, ha,,, itu supir keluarga nak. Penampilannya memang rapi sama seperti anggota keluarga. Karena kami telah menganggap beliau keluarga".Jawab opah Wijaya dengan sedikit tawanya. Setidaknya Allea sedikit lega kalau calon suaminya itu tidak seburuk apa yang di fikirkan kakanya. Meskipun, dia tidak begitu hangat di depannya. Anehnya lagi kenapa pernikahan ini seperti ada yang di tutupi. Membuat fikiran Allea benar-benar memeras otaknya untuk berfikir. "Apa mungkin di dunia ini ada seorang ayah menikahkan anaknya tidak mengetahui calon suaminya. Tapi kalau benar ia tahu mana mungkin kak Olive tidak menginginkannya. Ini pasti ada rahasia besar yang harus aku ungkap. " "Nak kenapa masih berdiri di situ? Ayo lah jangan takut menghadapi moster! " Opah winaya menatapnya hingga membuyarkan lamunan Allea. "Baiklah Opah,,, akan ku hadapi kenyataan ini".Allea pun menaiki tangga satu persatu anak tangga itu. Hingga fikirannya jauh melayang rasanya tangga ini sangat familiar. " Rasanya aku pernah kesini, tapi kapan apakah aku pernah bermimpi. Tempat ini benar-benar mengingatkanku akan masa lalu kecilku. Tapi aku tidak di besar kaan di sini. Sudahlah mungkin aku halu. " "Lama sekali kau berjalan apa karena kau orang miskin jadi baru pertama kali melihat rumah mewah ku. " Ternyata tuan arogan menyambutnya dengan kalimat tidak pantas. Dengan berkaca pinggang tubuhnya bersandar di bingkai pintu". "Jangan sombong tuan!! Meskipun derajat kehiduppanku begitu rendah di depan matamu. Tapi aku tak begitu tertarik dengan kekayaan yang tuan punya. " Aliando menyunggingkan senyuman, melempar tatapannya keluar jendela. Ia terlalu munafiq untuk mengakui kecantikan Allea. "Jangan munafik kamu, Alea. Bukankan dana 1 milyar sudah sampai di tangan ayahmu? Demi apa menikah denganku kallau bukan demi uang hahh??? " Aliando tak sengaja menarik dagu Allea, karena emosi dua bola mata indah tak sengaja berpapasan dengannya.Tapi Allea dengan cepat menepis tangan Aliando. "Jangan kau fikir aku telah menjual diri demi keluarga shanum. Tapi ini semua demi baktiku, rasa terimakasih ku yang telah mengurus diriku selama ini. Ingat tuan ceo !jangan kau fikir aku tidak mencurigai dengan tindakanmu ini . Minggir aku mau istirahat! " Langkah Aliando mundur beberapa langkah ia sedikit terkejut dengan tindakan perempuan miskin yang dia kira bodoh itu. Ia tidak menyangka fikirannya secepat kilat bisa menerawang bahkan seperti bisa membaca fikiran seseorang. "Tunggu itu kamarku! " "Aku tak perduli, rumah ini banyak kamar cari saja tempat lain. " Teriak Allea dari dalam. Terpaksa Aliando pun berjalan masuk ke kamar sebelah. Kamar yang biasa di pakai saudara tirinya. Berkali-kali Allea mencoba memejamkan matanya, tapi dia tak bisa. Hanya genangan air matanya yang terus mengalir. Ia tak bisa membayangkan dengan takdir yang bukan pilihannnya. Apakah dia akan kuat menghadapi Aliando dan keluarganya. Mungkin hanya Opah yang bersikap positif terhadapnya. Belum selesai ia berfikir tiba-tiba handphone nya mendapat notifikasi. Ia teramat gembira karena kabar yang dia nantikan kini telah tiba. Daffa kekasihnya kini tengah mengirim pesan wasap. Ia pun membuka ponselnya dan menyingkirkan kabur di matanya. Baru saja ia akan merasa bahagia, tapi Daffa. "Allea aku tidak menyangka dengan pilihan hidupmu. Ternyata kamu lebih memilih pria tua itu. Apa karena dia kolomrat,apa kamu tidak tahu kalau aku ini juga seorang pewaris. Baiklah jika itu pilihanmu jangan pernah hubungi aku lagi bahkan mencari keberadaanku. ". " Daffa,,, kamu tidak tahu dengan apa yang terjadi. Ini bukan pilihan hidupku, ini karena kak olive yang menolak perjodohan ini. Percayalah Daffa aku akan kembalI pernikahan ini hanya sementara. Karena aku yakin semua penuh manipulasi dan sandiwara. Tolong aku Daffa hidupku sangat terancam. Hanya kamu orang satu-satunya yang bisa menyelamatkan hidupku. " Begitulah pesan Allea yang begitu panjang, namun ia berhenti mengirim pesan ketika ia menyadari no Daffa tidak aktif. Bahkan tak lama nomornya pun terblokir. "Ayolah Daffa, tolonglah aku bawa aku sejauh mungkin untuk pergi dari sini. Apa kamu sudah tidaak percaya lgi padaku. Aku tak punya siapa pun lagi selain dirimu Daffa. " Tangisan nya meluruh ke pipi seiring tubuhnya yang ambruk di dinding balkon luar. Ia tenggelam dalam kesedihannya, ia berjongkok memeluk kedua lututnya. "Apakah kamu juga akan meninggalkanku? Aku perlu bicara dengnmu Daffa". Lagi-lagi lagi ia bergumam sendiri tapi tak ada yang peduli terhadapnya. Ia benar-benar sendiri yatim piatu yang begitu mengenaskan di dalam hidupnya. Tak di sangka di luar sana ada yang melihatnya. Seorang pria dengan pakaian santainya setelan kaos dan celana chinos pendek. " Apa mungkin dia punya seorang kekasih? Aku tidak mau ada orang ketiga yang mencampuri hidupku. "Aliando menebak-nebak dengan apa yang ia lihat. Haruskah ia memanggilnya dan memberikan bahu untuk dia bersandar. Tapi dia terlalu naif, ia tak mau terlihat peduli terhadapnya. " Smith antarkan sebuah ponsel baru nanti pagi pukul 7."u ao aliando pada asistennya. "Tapi ini sudah malam tuan mall saja tutup jam 9." kata Smith menjawab di ponselnya. "Aku tak peduli bilang saja cucu Wijaya membutuhkannya. Kalau dia tidak mau membuka nnya beri dengan harga mahal berapa pun itu. Atau kalau perlu beli sekalian sama Mall nya. " "Baik tuan akan aku usahakan saya pastikan jam 7 pagi tuan sudah mendapat ponselnya. " "50 juta sudah aku tranfer ke rek mu, bilang saja jika uangnya kurang. Aku hanya membutuhkan 1 ponsel saja. " Smith tepak jidat, ada-ada saja kemauan tuannya ini. Padahal dia lagi asik ngumpul dan ngopi bareng temannya. "Ada apa bro?" Tanya salah satu temannya . "Bosku ini ada aja kemauannya, malam buta begini minta di cariin HP. Konter mana yang buka tengah malam atau pagi buta? "Smith terlihat kebingungan, karena kalau saja permintaan bosnya ini tidak di turuti bisa bahaya. " Gampang bro, ada kenalan temenku yang jual HP. Budget berapa ? Dan merk apa hpnya? " "50 juta si,,,, apa gua kasih samsung A20 ya. " Smith kurang faham di bidang cellular. Dia asal ngomong saja karena diaa si penggemar produk samaung dari dulu. "Kebangetan lu mah ah,,, bisa dapat Iphone bro. Kalau di kasih HP samsung merek lama. Bisa buka konter untungnya juga. Hiks,,,,, " Terserah dah pusing ngadepin bos gua itu. Yang penting besok pagi ada. " "Beres,,, serahkan pada babam saja. "Serunya sambil menepuk d**a. Aliando masih dengan tatapannya, ia memperhatikan dengan seksama pada seorang gadis yang tak beranjak dari tangisnya meskipun terguyur hujan. " Dasar bodoh kau bisa sakit jika terus berada di sana.Apa ini muslihat mulai agar pernikahan ini batal. Pernikahan ini tidak akan batal Allea, meskipun kau tak hadir di acara ijab qobul nanti. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD