Di pagi buta Smith sudah mengantarkan ponsel pesanan tuannya itu. Ia terheran-heran melihat penamppilan tuannya yang sedikit berbeda. Ia sangat rapih, tapi setelan bajunya bukan pakaian kantor. Aliando sadar akan kedatangan asistennya .
"Sejak kapan kau Smith berdiri di sana, masuklah! " Ajak Aliando pada Asistennya itu.
"Hm,,, sejak aku melihat pemandangan yang aneh dan mengherankan tuan,,, "
"Aku sudah tahu isi fikiranmu,Smith.Pasti kau ingin bertanya Aku mau kemana Khan? Aku mau menikah . "
Smith diam tergugup dia bingung dengan beribu pertanyaan yang di dalam hatinya. " Kenapa Stella tidak memberitahuku? Atau jangan-jangan kau menghilang karena ingin memberi kejutan pada nya?"
"Bukan Stela, Allea yang akan menjadi mempelai ku."Aliando menjawab sekilas sambil menatap keluar. Dari sinar matanya Smith tahu ada yang tidak beres dengan pernikahan tuanya ini.
10 tahun hidup bersamanya, Smith tahu apa di balik hidup mewah nan bergelimang harta. Hidup Aliando penuh tekanan bahkan dia tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Pupus sudah keinginannya untuk menjadi sarjana hukum. Orang tuannya memasukannya ke fakultas ekonomi jurusan management bisnis.
Hingga kini pun keinginannya menikah dengan Stela tidak bisa di gapainya. Ia terpaksa menikah dengan wanita pilihan kakek nya.
" Siapa wanita itu, tuan? "Aku tahu pasti ada alasan yang kuat dengan keputusannya. " Aliando bernafas kasar.
"Akupun tak mengerti aku harus menikah dengan wanita miskin dan tak berpendidikan. Juga latar belakang yang tidak jelas. Ayo kau ikuti aku saja,,, tolong jangan sampai orang kantor tahu kalau aku menikah hari ini. "
"Baiklah,,, percaya padaku terlebih aku ingin melihat calon istrimu. Barangkali aku mengenalinya. "
Langkah mereka menuju kamar sebelah, di mana tempat Allea beristirahat.
"Kau! Kenapa gaunmu belum di pakai? " Aliando menarik nafas kasar, ia sebenarnya kesal melihat tingkahnya semalam.
"Aku tahu pernikahan ini bukan maumu, Tapi tidak bisa di batalkan apa pun alasanmu. Ponselmu! "
"Untuk apa? Apa tujuanmu menyita ponselku. " Allea menghindari tangan aliando yang tiba-tiba menyambar ponselnya.
"Kau harus menurut kepadaku, karena dalam hitungan menit aku akan syah jadi suamimu. Smith berikan ponsel yang aku pesan semalam. " Perintah Aliando pada asistennya. Ia pun berlalu meninggalkan mereka berdua. Karena ia malas berdebat.
"Maaf nyonya muda mungkin tuan ingin meberikan yang terbaik untuk nyonya,,,
"Tidak usah aku lebih suka ponsel lamamu. " Benar saja apa yang di fikirkan Aliando, tidak mudah ternyata meluluhkan hati wanita.
"Begini nyonya muda".
" Panggil aku lea".jawabnya ketus dan spontan.
"Baiklah Lea, kalau kau tidak menurut maka pekerjaanku taruhannya. Apa kau lebih senang aku menganggur? Percayalah aku pasti menyimpan ponselnya dengan baik. "
Ia tak banyak bicara sambil memberikan ponsel tersebut. Tak lama kemudian ahli make over datang membawa gaun dan alat make up nya. Allea di make over natural dengaan gaun sederhana saja.
Allea berdiri di depan cermin dengan gaun pengantin putih yang seharusnya membuatnya bahagia. Tapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan."Pernikahan ini harusnya tidak terjadi, kenapa aku harus menikah dengan pria es batu itu.
Pernikahan ini terjadi begitu cepat. Bahkan ia belum sempat berbicara lagi dengan kekasihnya, Daffa. Ponselnya disita oleh suaminya, dan setiap langkahnya dikawal ketat oleh keluarga calon suaminya.
Di luar kamar, ia bisa mendengar suara keluarga laki-laki yang sibuk dengan persiapan pernikahan. Suaminya, Alliando tidak pernah menemuinya sejak tadi pagi. Dia hanya setuju menikah karena sebuah alasan yang tidak Allea ketahui.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang pelayan masuk dengan wajah pucat.
“Nona Allea, ada seseorang yang ingin menemui Anda di belakang dekat taman rumah ini.”
Jantung Allea berdetak kencang. Siapa yang berani menemuinya saat ini?
Dengan langkah hati-hati, ia keluar melalui pintu belakang. Dan di sanalah dia melihat seseorang yang tidak pernah ia duga akan datang.
"Daffa ya,,, kau datang untuku Daffa? " Allea meraih tangan Daffa matanya berbinar. Tanda-tanda bahagia muncul terlihat dari raut mukanya yang berseri-seri. Namun, tangan Allea di tepisnya Daffa tidak menyambutnya dengan hangat. Dari tatapan matanya dapat terlihat raut muka kesal dan marah. Mukanya merah padam, sepertinya dia ingin marah tapi ia menahannya.
"Maaf Allea aku datang hanya ingin membuktikan perkataan Olivia. Ternyata apa yang dia katakan benar Lea. "
"Maksudmu apa Daffa? Aku tidak mengerti dan kenapa tiba-tiba kamu berubah kasar. "Allea mundur 3 langkah melihat sikap kekasihnya yang tiba-tiba berubah. Ia tidak menyangka akan sikapnya. Ia kira Daffa datang untuknya, dan akan menyelamatkan hidupnya. Ternyata,,,,
" Kau penghianat! Paham kamu!!! Kamu tidak tahu berapa lama aku menunggumu saat itu. Padahal saat itu orang tua ku menunggu kehadiranmu. Untung saja aku hanya menyebutkan calon istri tidak dengan nama mu. Dan aku bersyukur aku di pertemukan dengan orang yang tepat. Semoga dengan gaun pengantin yang kamu pakai kau tidak menyesal, Alea!! "
Daffa pergi meninggalkan Allea yang telah menjadi mantan kekasihnya itu. Ia tidak mau mendengarkan lagi
Alasan dari Allea. Baju pengantin yang ia kenakan bukti yang kuat bahwa ia meninggalkan nya. Padahal sebenarnya jiwa Allea meronta meminta tolong. Tapi seluruh fikiran Daffa telah di hasut Olivia. Entah apa yang ia katakan sehingga membuat Daffa sedemikian bencinya. "Maafkan aku Daffa saat itu aku di paksa pergi sebelum bertemu dengan mu. Aku belum menjelaskan semuanya. " Batin Allea hanya bisa menangis, tapi tangis yang seperti sia-sia yang tidak akan bisa merubah takdirnya.
"Allea disini kau rupanya! " Tia-tiba suara berat mengagetkannya. Pria berumur hampir lansia itu berkaca pinggang. Seolah tidak menyadari kalau Allea pada saat ini sebenarnya tambang emas baginya. Ia sangat membenci calon menantunya itu. Tapi dia mbutuhkannya demi warisannya turun pada anaknya.
Hati Allea bagaikan reruntuhan bangunan yang terkena bom nuklir. Hidupnya seperti ancaman, dan hidup maupun mati baginya dia sisi mata uang yang sama. Allea bersimbah air mata tapi tak seorang pun yang merasa iba. Haruskah pada saat itu ia berlari sejauh mungkin menghindari pernikahannya. Tapi dia sadar ia tak punya siapa pun di dunia ini.
"Baiklah Ayah aku akan masuk, tadi aku hanya ingin menikmati udara segar. " Kata Lea yang tak berani menatap sedikitpun ke arah Ayah mertua.
Acara ijab qobul berlangsung dengan khidmat. Tanpa di hadiri banyak orang, juga tanpa pesta yang meriah. Smith pun hanya menggelengkan kepala melihat pernikahan bos milioner tanpa pesta. Mungkin setidaknya pernikahan Aliando layak seperti artis-artis yang mengocek biaya milyaran rupiah itu tak jadi masalah.
"Ini sepertinya tidak ada yang beres, aku harus cari tahu ada apa sebenarnya".Smith mulai curiga dengan pernikahan yang ganjil ini. Orang tua Aliando tampak melirik ke arahnya. Ia juga menyimpan curiga pada Smith yang selalu ingin tahu akan urusan keluarganya.
" Jangan sampai urusanku gagal gara-gara bocah ingusan itu. "Ujar Pak Andi sambil memegang janggutnya yang tidak teralu lebat. Smith melirik dengan ujung matanya, ia berusaha tampak tenang seperti tidak merencanakan sesuatu.
Akankah usaha Smith berhasil? Ataukah orang tua Aliando yang menang segalanya.