Bab 4 Istri yang tak di inginkan

1152 Words
"Allea! "Aliando berteriak melihat Allea yang tiba-tiba pingsan. Setelah ijab qobul di laksanakan. Seluruh keluarga bertanya-tanya apakah karena bahagia ataukah ada hal yang lain?mereka bertanya-tanya memenuhi isi fikirannya. " Tenang mungkin Allea kecapean biar aku yang membawanya ke kamarnya. "Kata Aliando penuh drama. " Tuan mungkin aku bisa membantumu? "Smith menawarkan jasanya. " Baiklah aku butuh bantuanmu. "perintahnya. Selesai membaringkan tubuhnya Smitpun ijin pamit. " Smith tunggu aku di tempat biasa! " "Tapi tuan ini malam anda punya, apakah istrimu tidak keberatan? " Ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Smit pun mengerti ia pun pergi tidak banyk berbicara.Hanya saja Aliando jadi teringat kenangan di masa kecilnya dengan Azura. Ia berjanji akan menjadi mempelainya setelah ia dewasa. "Dimana kamu Azura kenapa kau menghilang tanpa jejak. "Gumannya lirih, ia pun meninggalkannya istrinya yang tengah pingsan. Ia benar-benar tidak peduli Di malam pengantin seharusnya mereka bahagia seperti pengantin pada umumnya. Memadu kasih saling menikmati cinta satu sama lain. Justru mereka malah saling bermusuhan . Allea pun terbangun ketika dari kejauhan ia mendengar suara motor yang familiar baginya. Bahkan Allea pun diam-diam pergi meninggalkan kamarnya. Ia pergi mengendap tanpa suara di saat semua isi rumah mulai tertidur pulas. Lea tahu betul dengan suara motor kekasihnya itu. Makanya ia segera turun dari balkon dengan nekat melalui tangga dari bambu. "Daffa tunggu aku. " Katanya sambil ia loncat di titian tangga terakhir. "Ada sesuatu yang belum kamu tahu, ini semua salah faham".Ia berusaha menjelaskan agar kekasihnya itu bisa faham dan juga mengerti seperti apa posisinya saat ini. Tapi alangkah terkejutnya Ia saat menatap sosok wanita yang Daffa bonceng. Dunia seolah berhenti berputar dan tak terasa air mata nya hampir terjatuh. Namun segera Ia tahan Ia tak sudi kekalahan terlihat oleh musuhnya dalam selimut itu. " Ada apa kamu kaget Lea, kenapa aku di bonceng Daffa kekasih kesayangan mu itu. Tentu aku bisa mendapatkan semua yang kau miliki, termasuk kehidupanmu. "Bisik Olivia yang kemudian turun dan menghampiri nya. " Kenapa kalian tidak hadir di pernikahanku? " "Untuk apa? Memberi restu ataukah menertawakan mu. Seorang Allea yang menikah dengan pria tua. " Olivia mencemoohkannya sedangkan dia tidak tahu dengan siapa sebenarnya Ia menikah. "Aku tak butuh ceramahmu Olivia, aku harap kamu tidak akan menyesal setelah kamu tahu yang sebenarnya. " Lea tetap mengejar Daffa sebab yang ia butuhkan adalah kejelasannya mengenai hubungan mereka. Tapi saat ia akan bicara tenggorokannya seoalah tercekik mendengar ucapannya. Hingga membuat kata-kataanya hancur. "Maafkan aku Lea, ku harap kita bisa sling melupakan hubungan ini. " Ucapannya dingin. "Jangan kepedean kamu !Daffa tak sengaja lewat ia bukan ingin kembali bersama mu. " Allea membeku ia diam seribu bahasa mendengar ucapan Olivia.Hanya matanya yang menuntun kepergian mereka. Matanya nanar sembab dengan air mata. Sekarang ia menyadari bahwa ia sendiri, tak seorang pun ada yang mendukungnya. Aliando menarik tangan Allea dengan paksa. “Jangan membuat keluargaku malu dengan drama murahan seperti ini,” bisiknya tajam. Lea tidak menyadari sejak dari tadi ternyata ada sepasang mata memandang dari kejauhan. Alliando memang tidak mencintainya, tapi ia terlihat sedikit peduli dengan keadaannya. Allea meronta, tapi genggamannya terlalu kuat. “Kau tidak tahu apa-apa, aliando,” bisik Allea dengan marah. Aliando menatapnya dengan tatapan menghina. “Aku tidak peduli. Yang kutahu, aku menikah dengan seseorang yang bahkan dicampakkan oleh kekasihnya sendiri.” Darah Allea mendidih.matanya memerah di penuhi genangan air mata. Setelah ia berhasil membawa Allea masuk. Kemudian ia langsung pergi tanpa sepatah kata pun. Di malam pertama mereka, ia meninggalkan Allea sendirian di kamar pengantin. Allea terduduk di tepi ranjang. Hatinya hancur. Pernikahan ini bukan hanya tanpa cinta, tapi juga tanpa rasa hormat.Ia teringat kembali dengan siapa dirinya yang tak punya siapa-siapa dan selalu jadi b***k sasaran semua orang. Terlebih keluarga angkatnya ia hanya memanfaatkannya untuk kepentingan bisnis. Kemudian ia ingat pada kakek Wijaya satu-satunya orang yang saat ini mengerti keadaanya. Ia mengambil kotak hadiah dari kakek Wijaya. Ketika ia hendak membuka kotak hadiah di atas meja, sebuah surat kecil jatuh dari salah satu hadiah. Tangan Allea gemetar saat membukanya."Apa ini, apa mungkin Aliando menyelipkan pesan untuku? Tapi untuk apa? " Aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Jika kau ingin tahu juga, temui aku besok malam di tempat yang kusebutkan di halaman terakhir surat ini. Darah Allea membeku "Siapa yang mengirim surat itu? Dan rahasia apa yang akan terbongkar? Jalan satu-satunya adalah mengikuti petunjuk ini. Dan aku harus menemukan identitas diriku. " Ia kemudian berusaha keluar rumah lagi namun tiba-tiba kepalanya mendadak pusing. Fikirannya mengacak tidak karuan, ia kerap melihat beberapa peristiwa. Ia seperti mengalami tragedi kecelakaan yang menewaskan seorang pria. Lalu ada seorang ibu yang di larikan ke rumah sakit kemudian koma. Ia kemudian melihat dirinya sendiri yang masih teramat kecil. Ada sebuah panggilan kecil tapi ia bingung itu dirinya tapi kenapa ia tak mendengar nama Alea. "Zura untuk sementara waktu ikut om ke rumah ya,,. " Dalam bayangannya ia meninggalkan rumah besar. Dan ia kemudian tak mengingatnya lagi. "Leaa!jangan kau fikir kau bagian dari keluarga ini, kau bukan siapa-siapa. Hanya menumpang di rumah kami. Setelah semua beres kamu pergi secepatnya dari rumah ini. "Ibu mertuanya tiba-tiba datang menghampirinya. Ia berkacak pinggang seolah dia nyonya besar di rumah itu. " kau seolah benar saja Marina, padahl kau tak pernah bercermin akan kebenaran siapa sebenarnya dirimu itu. "Kakek berkaki 3 itu datang dengan kaca mata yang tak lepas dari matanya. " Opah Wijaya,,, " Allea merasa menang ia meminta perlindungan pada kakek tu itu. Ia tahu karena hanya satu-satunya kakek tersebut yang ia per atau st ini. Kemudian Marina pun pergi ia gagal ingin membuli menantu barunya itu yang ia anggap si kumuh yang menji***an. "Terimakasih Opah,,, " Alea bernapas lega "Mari kita minum kopi di teras luar nak, aku yakin pasti kamu sedih. Di malam pertama Aliando meninggalkan mu sendirian. " Lea mengekor mengikuti opa Wijaya.mereka pun duduk berdua di ballkon rumah lantai 2. "Kebetulan sekali aku bertemu dengan opah, ada hal yang ingin aku tanyakan". Allea tergesa-gesa ingin mengatakan sesuatu. Ia merasa aman saat ia berjumpa dengan kakenya Aliando. Karena selama ini ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang pria. Bahkan Ayah angkatnya sendiri tidak begitu menyayanginya. " Baiklah katakan Apa yang akan ingin kamu tanyakan? "Di usianya yang lansia Wijaya tak terlihat seperti jompo. Bahkan berbicara dengan siapa pun masih nyambung. " Apaka opah memberi hadiah ini? " "Ya,,, itu khusus untuk cucu menantu. Kenapa, kamu tidak suka?. Dengan santai ia menjawabnya sambil menulis pesan pada pelayanan agar du buatkan kopi. " Sangat suka aku berterimakasih, bahkan suamiku tak memberi apa pun pada ku. Ia seperti menyembunyikan sesuatu darimu. Tapi lupakan saja, itu tak masalah buatku. Tapi apakah ini surat darimu? " Allea memberikan selembar kertas.Tapi ia mengenali tullisannya yang rapi dan bergaya tulisn anak muda. "Sepertinya aku tidak menulis pesan, jika pun ada sesuatu aku akan langsung mengatakan kepada mu. " Wijaya Kusuma si pemilik perusahaan raksasa kemudian membaca tulisan itu. Ia terkesima teringat pada kejadian berapa puluh tahun yang lalu. "Allea kau sebenarnya siapa?? "tanya Opah Wijaya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD