Sena memegang dadanya yang terasa bergemuruh. Tubuhnya terasa lemas.
Dia masih ingat siapa lelaki itu. Lelaki yang selama ini dicintainya. Tetapi setelah lelaki itu lulus dari sekolah menengah,mereka sudah tak pernah bertemu lagi.
Bahkan Sena masih mengingat nama lengkap lelaki itu.
Arsen Levi Herlambang.
Wajahnya masih tetap sama. Hanya tubuh dan stylenya yang berbeda.
Tubuhnya kini terlihat lebih berisi,stylenya pun khas orang dewasa. Ototnya tercetak jelas dibalik kemeja putih nya.
Bahkan sudah bertahun tahun berlalu,tetapi kekaguman Sena akan lelaki itu tak pernah hilang sedikitpun.
"Luna.." gumam Sena tercekat.
Jika kemungkinan Luna adalah anak Arsen,sudah pasti Arsen telah menikah.
Sena mengenal mama Luna. Wanita itu bernama Selyna. Memang selama ini Sena tak pernah melihat papa Luna seperti apa.
Memang Selyna terlihat muda,tetapi terlihat jelas juga Selyna lebih tua dari Arsen.
Sena menitihkan air matanya.
"Sena,kenapa?" Suara Alita menggema ditelinga Sena.
Dengan cepat Sena menghapus air matanya. Sena tersenyum kepada Alita.
"Gak papa kok lit" ucap Sena berbohong.
"Semua murid udah pada pulang. Pulang yuk." Ajak Sena kemudian menarik tangan Alita lembut.
Sena mengambil tasnya yang berada di meja. Kemudian segera berjalan keluar dari gedung itu.
Sena menyetop taksi,kemudian segera naik ke dalam taksi tersebut.
"Kejadian itu udah lama banget,kenapa aku masih belum bisa lupa." batin Sena.
"Mau diantar kemana mbak?" Suara supir taksi membuyarkan lamunan Sena.
"Bengkel Permata,pak." Ucap Sena dengan suara yang masih bergetar.
Bapak supir itu kemudian melajukan taksinya menuju Bengkel Permata.
Taksi telah tiba didepan Bengkel Permata. Sena membayar sesuai argo yang berada di depan.
"Makasih mbak." Sena tersenyum kemudian turun dari taksi tersebut.
"Mbak,saya atas nama Senandung Nadare tadi mobil saya mogok." Ucap Sena pada mbak penjaga bengkel yang berada dibagian kasir.
"Oh iya,mobilnya udah bisa mbak. Sebentar saya lihat dulu totalnya." Ucap mbak tersebut kemudian mencari nota yang bersangkutan.
"cuma ganti aki aja. Udah lama ya gak ganti?" Sena tersenyum kemudian mengambil uang sesuai dengan yang tertera di nota tersebut dari dompetnya.
"Makasih mbak." Ucap si mbak tersebut kepada Sena.
Sena mengangguk dan tersenyum.
Sena menunggu mobil Jazz berwarna putihnya itu dikeluarkan oleh pegawai bengkel ini.
"Makasih mas." Ucap Sena kemudian memasuki mobilnya dan segera pulang menuju rumah sederhananya yang ditinggalinya seorang diri.
Orang tuanya tinggal di luar kota karena ada bisnis disana.
Sena memarkirkan mobilnya digarasinya yang tidak terlalu besar itu. Hanya cukup untuk satu mobil.
Sena hanya tinggal dengan asisten rumah tangannya. Membantu Luna membersihkan rumahnya dan menjaga rumahnya jika Sena bekerja.
Sena sudah sangat percaya pada asistennya ini. Umurnya pun lebih tua beberapa tahun dari Sena.
"Mbak Tin." Panggil Sena kepada mbak Tina yang sedang membersihkan meja makan.
"Loh,non Sena. Mau makan siang sekarang non?" Tanya Mbak Tina kepada Sena.
Sena mengangguk. "Aku naik dulu ya mbak,nanti kalo udah siap aku turun." Ucap Sena kemudian menaiki tangga menuju lantai atas.
Sena luruh dibalik pintu kamarnya. Katakanlah dia gadis lemah. Tetapi apa perdulinya. Kecewa,rindu,sakit menjadi satu.
Arsen seperti candu bagi Sena. Sejak dulu Sena selalu ingin melihat Arsen. Bahkan segala tingkah laku Arsen pun Sena selalu mengamati dari jauh.
Sena memegang roti yang berada di genggamannya dengan tangan bergetar.
Dia dan kakak kelas yang disukainya berada di kios kantin yang sama. Bahkan jarak mereka sangat dekat.
Sena bisa mendengar suaranya yang gaduh.
Mbak kantin yang mengetahui bahwa Sena menyukai kakak kelasnya itu pun menggoda nya. Begitu juga dengan teman teman Sena.
"Sena gemeteran." Ucap mbak kantin kemudian tertawa.
"Sena,jangan takut sama Arsen,dia udah jinak kok. Ya sen ya?" Tanya mbak kantin pada lelaki yang selama duatahun tahun ini mengganggu pikiran Sena.
Ntah bagaimana reaksi Arsen,Sena sama sekali tidak melihat.
Melirik pun Sena takut. Ini pertama kalinya Sena berada dekat dengan Arsen. Kakak kelas yang begitu dipuja Sena.
"Eh sena biasa aja dong." Bisik temannya. Sena mengangguk pelan. Sungguh sena ingin biasa saja. Tetapi tangannya ini bergetar sendiri.
Dengan cepat Sena keluar dari kios itu. Menetralkan detak jantungnya.
"Oh tidaaak!! Gue bisa gila kalo gini terus." Batin Sena.
Lelaki yang duduk dikelas XII IPS itu memang selalu berhasil membuat Sena gila.
Sudah dua tahun mereka berada disekolah yang sama. Tetapi baru kali ini mereka sedekat ini.
Tetapi ada satu fakta yang membuat Sena ingin menangis.
Arsen pria normal,tentu saja dia mencintai seorang gadis. Gadis itu tentu saja bukan Sena. Jika Sena adalah gadis yang dicintai Arsen keadaannya tidak akan seperti ini.
Arsen mencintai Sari. Teman Sena. Ralat! Sena tak pernah menganggap Sari itu temannya.
Karena memang Sena dan Sari tidak pernah dekat. Sena pun tau ada Anak bernama Kartika Sariyda juga karena Arsen.
Sena termasuk dalam jejeran gadis pintar menguntit. Sungguh jangan ragukan untitan Sena.
Dia bahkan tau siapa gadis yang dicintai Arsen tanpa dia mencari informasi melewati orang lain.
Dia mencarinya sendiri,kemudian menemukan Kartika Sariyda di Social Media Arsen.
Tetapi ada yang membuat Sena geram.
Arsen mencintai Sari,tetapi tidak dengan Sari. Dia mencintai lelaki lain. Padahal Arsen begitu mencintai nya.
Arsen bahkan berjuang untuk mendapatkan hati Sari yang begitu keras.
Sari ini cukup menyebalkan.
"Kalo gak mau masuk ya pergi aja,kalo mau masuk ya masuk aja,tapi jangan berdiri didepan pintu, Ngehalangin yang mau masuk." batin Sena menjerit.
Sari berdiri didepan pintu hati Arsen. Gadis itu enggan masuk dan enggan pergi. Menyebalkan bukan.
Ingin sekali dalam hidup Sena menyemprot kepada Sari.
Tapi siapa Sena?
~flashback off~
Sena berdiri dari duduknya kemudian melepas bajunya yang melekat ditubuhnya,menggantinya dengan pakaian santai.
-_-_-_-_-
"Luna mau es krim lagi?" Tanya Arsen pada keponakannya itu.
Luna mengangguk kecil.
"Mau es krim apa? Stroberi?" Luna mengangguk kecil lagi.
Arsen memesankan Luna satu scoop es krim stoberi dengan lelehan saus stroberi.
Luna menyukai stroberi.
Setelah es krim stroberi itu datang,Luna menyendokan kembali kedalam mulutnya.
Arsen yang melihat mulut Luna belepotan pun membersihkannya dengan tisu.
Arsen teringat kembali dengan wanita tadi. Kenapa menurut Arsen gadis itu familiar. Cuma dimana Arsen pernah melihat wanita itu.
"Luna,guru Luna yang tadi ngembaliin pensil warna Luna namanya siapa?" Luna menatap Arsen sejenak.
"Mrs.Sena" jawab Luna singkat.
"Nama lengkapnya Luna tau?"
"Senandung Nadare." seketika Arsen menegang. Dia ingat nama itu. "Astagaaaa" arsen menepuk dahinya pelan.
Seorang gadis tengah berlari sambil membawa sepatunya yang berwarna coklat. Wajahnya terlihat menegang. Kakinya pun kotor,begitu juga dengan rok seragam berwarna putihnya. Ada sedikit cipratan becekan dan juga merah tanah. Tetapi apa perduli gadis itu.
"Mbak,ada buku jatuh gak disini?" Arsen sejak tadi mengamati gadis itu sejak gadis berlari dari gedung perpustakaan seberang menuju kantin. Karena memang perpustakaan dan kantin berseberangan.
Arsen tau bahwa gadis ini yang selama ini mengamatinya diam diam,terkadang sedikit menggganggu dengan kiriman chat obrolannya yang tidak penting,bahkan Arsen tidak pernah merespon.
Gadis itu sepertinya belum sadar bahwa ada Arsen disana sedang duduk dan memperhatikannya.
Gadis itu melihat ke bawah kolong kantin yang terlihat kosong.
Bahkan gadis itu dengan cerobohnya membawa sepatunya di tangan nya tanpa digunakannya,padahal cuaca yang sedang hujan membuat beberapa jalanan becek.
"Gak tau sen,daritadi gak ada apa apa." ucap mbak kantin yang bernama mbak Ham kepada gadis yang diketahui Arsen bernama Sena.
Kemudian gadis itu mendekat kepada Arsen.
Tiba tiba jantung Arsen berdetak cepat,ntah apa yang terjadi kepadanya. Bahkan dia jadi salah tingkah,padahal jelas jelas dia tidak menyukai gadis ini.
"Permisi ya kak." suaranya yang lembut membuat Arsen menegang.
"Kok gak ada ya,aduuuh." Kemudian Sena berdiri.
Seketika itu juga Arsen melihat rona merah dipipi gadis itu saat sepasang mata mereka bertemu.
"Mata yang indah" batin Arsen dalam hati.
Tiba tiba Arsen melihat tubuh gadis itu bergetar kecil karena mungkin dia gugup. Itu pikiran Arsen.
Arsen melihat name tag yang berada diseragam gadis itu.
"Senandung Nadare" nama yang unik dan indah.
"Yaudah mbak makasih ya." Bahkan suaranya pun terlihat sedikit aneh.
Gadis itu segera kembali berlari menuju gedung perpustakaan masih dengan sepatu yang dibawanya.
Tanpa sadar Arsen tersenyum.
"Arsen,lucu kan dia?" Tanya mbak Ham pada Arsen.
Arsen segera kembali pada dunia nyatanya.
"Enggak,biasa aja." Ucap Arsen.
Ada perasaan sedikit aneh saat melihat gadis yang mencintainya.
Tatapan Sena padanya adalah tatapan teduh dan menenangkan. Arsen tau Sena sangat menyukainya,bahkan Sena rela selalu menguntit Arsen diam diam.
Terkadang Arsen risih memang. Namun Arsen membiarkan adik kelasnya itu berkarya.
~ flashback off ~
Dia ingat sekarang. Wanita itu adalah Senandung Nadare. Adik kelasnya di sekolah menengah.
"Berubah drastis" gumam Arsen pelan.
Dulu ketika berada di sekolah menengah,Sena berpenampilan sederhana hanya dengan seragam kebesaran,rambut yang hanya diikat satu atau hanya diurai kemudian di jepit,tidak ada yang spesial. Bagaimana Arsen bisa tertarik.
Dulu di sekolah menengah,Arsen begitu mencintai gadis dan gadis itu seangkatan dengan Sena.
Tetapi gadis itu sangat berbeda dengan Sena. Gadis itu memiliki wajah polos,lesung dikedua pipinya begitu dalam,manis,dan lembut. Bahkan Arsen tidak pernah melihat gadisnya itu sembarangan berpakaian. Selalu rapi dan terlihat elegan.
Tetapi itu dulu ketika mereka berada di sekolah menengah,bahkan gadis itu sudah menikah sekarang.
Kembali kepada Sena.
Sena kini berubah,tubuhnya lebih terlihat seksi dengan balutan kemeja biru dan rok span berwarna hitam,rambutnya dijepit setengah,wajahnya yang dulu hanya polosan ketika berada di sekolah menengah kini wanita itu telah menggunakan make up tetapi tipis. Tidak terlihat menor,malah sangat cantik menurut Arsen.
Ada perasaan yang begitu aneh ketika melihat wanita itu lagi.
Arsen ingin melihat gadis itu terus menerus. Sepertinya tugas menjemput Luna akan jatuh ke tangannya.
Dia ingin menebus kebodohannya dulu,yang menolak cinta tulus wanita itu padanya.
Arsen masih mengingat tatapan terkejut wanita itu. Tetapi ada tatapan keteduhan didalamnya. Sangat persis dan bahkan sama tidak ada yang berubah tatapan wanita itu di masa sekarang ataupun di masa sekolah menengah.
"Uncle" suara Luna membuyarkan lamunan Arsen.
"Iya?" Arsen menatap Luna dengan bingung.
"Luna mau pulang." Ucap gadis kecil itu lembut
Arsen mengangguk pelan kemudian meminta bon kepada pelayan,memberikan lembaran uang kemudian menggandeng tangan kecil Luna menuju mobilnya.
Siapapun yang melihat akan mengira bahwa Luna adalah anak Arsen.
Sejak tadi tatapan kelaparan dari para wanita disekitarnya membuat Arsen risih. Memang hal yang biasa Arsen ditatap begitu,tetapi kali ini dia benar benar risih.
Arsen jadi merindukan tatapan teduh Sena.
Arsen menghela nafas.
Luna menatap Arsen dengan mengedipkan matanya berkali kali. Luna memang pendiam,tetapi menurut Arsen, Luna begitu menggemaskan.
Arsen mencubit pipi Luna. Seperti biasa Luna hanya diam.
Arsen membuka pintu mobil penumpang untuk Luna kemudian memasang seatbelt. Kemudian menuju pintu kemudi.
Arsen melajukan mobilnya menuju rumahnya.
~ to be continue ~