Arsen membuka pintu penumpang. Luna turun dari mobil kemudian berlari memasuki rumah yang sangat mewah itu.
Arsen mengikuti Luna dari belakang.
"Oma..." panggil Luna lembut.
Sofie,mama Arsen dan Anvito. Wanita setengah baya itu melihat ke arah panggilan suara gadis kecil yang sangat dikenalnya.
"loh,Luna udah pulang?" Luna mengangguk pelan.
"Luna laper? Oma udah masakin makanan kesukaan Luna lo." Luna tertawa girang.
"Mau oma. Luna laper" ucap Luna kemudian segera melepas tasnya.
"Suster.." Sofie memanggil suster yang membantu merawat Luna dirumah atau ketika mereka sedang bepergian.
Luna memang memiliki suster yang telah merawatnya dari kecil hingga saat ini. Tetapi suster itu akan bekerja sebelum Luna berangkat atau setelah pulang sekolah.
"Iya nyonya?" Tanya Suster yang bernama Wanti itu.
"Ini Luna digantiin baju ya." Ucap Sofie.
Suster Wanti mengangguk.
"Ayo nona muda,kita naik ke atas ganti baju." Ucap Suster Wanti.
"Iya sus" ucap Luna. Kemudian gadis kecil itu menaiki tangga menuju kamarnya.
Arsen menatap keponakannya itu yang lama lama menghilang,diikuti suster yang mengenakan seragam baby sitter.
"Ma,aku langsung balik ya ke kantor. Banyak kerjaan" sofie mengangguk.
"Eh Arsen kamu gak makan siang dulu?" Arsen melihat jam dipergelangan tangan kirinya.
"Gak usah ma,nanti aja makan siang dikantor. Lagipula aku belum laper." Ucap Arsen.
"Yaudah,hati hati ya." arsen mencium pipi kanan kiri mamanya.
"Bye ma." Arsen berjalan menuju mobilnya,setelah itu mengemudikannya menuju kantor.
-_-_-_-
Lelaki itu terlihat beberapa kali mengusap rambutnya kasar.
Membiarkan pekerjaan seharga ratusan dolar itu terbengkalai.
"Kok gue baru ngerasa bersalah sekarang ya?" Gumamnya pelan.
"Kalo diliat sekarang dia tambah cantik dan dewasa. Mungkin jika dibandingkan fisik dia kalah dengan Sari,tapi dulu waktu di SMA. Bahkan sekarang Sena lebih cantik." Arsen memfokuskan pikirannya kembali pada rentetan file ratusan dolar.
-_-_-_-
"Gue ketemu sama Arsen" ucap wanita itu sambil menunduk.
"Dimana? Lo serius?" Tanya wanita yang memiliki nama Anisa itu.
"Kok bisa? Terus dia gimana sekarang?" Wanita satunya lagi yang memiliki nama Shafa pun ikut bertanya.
Wanita itu,hmm ralat. Sena.
Dia mengangguk lemas.
Menatap cahaya lampu kota Jakarta melalui tempat dimana ia berada sekarang. Cafe rooftop langganannya bersama ke-enam sahabatnya sejak sekolah menengah.
"Tambah ganteng gak?" Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ningrum,Sena tertawa kecut.
"Pasti ganteng lah,dewasa gitu pasti kan?" Desta pun menyela.
"Tapi dia udah punya anak." mendengar ucapan Sena beberapa sahabatnya terkejut,tetapi tidak dengan Marita dan Nabilla yang sejak tadi memilih bungkam mendengar cerita sahabat mereka tentang lelaki masa Sekolah menengah sahabatnya.
"Serius? Jangan bilang anaknya itu murid lo,habis itu kalian ketemu waktu dia jemput anaknya." Dengan suara yang menggelegar Ningrum pun membuat seisi Cafe menatapnya.
"Lo bisa gak sih kecilin suara lo,malu tau diliatin." Ucap Nabilla yang akhirnya berbicara.
"Yakin anaknya?" Marita meyakinkan kepada Sena.
Sena mengangguk.
"Jadi gini,gue itu dari dulu cuma liat anaknya doang,nama anaknya Luna. Biasanya yang jemput itu mamanya namanya Selyna,nah.. gue gak pernah liat papanya." Jelas Sena.
Marita mendengus malas.
"Terus habis liat dia jemput murid lo,lo mikir itu anaknya?" Sena mengangguk.
"Cethek banget pikiran lo. Berubah kek sen berubah. Lo sekarang udah kerja udah jadi guru TK tapi pikiran lo masih cethek aja." Ucap Nabilla dengan suara cemprengnya.
"Terus apa kalo bukan anak?" Sena bertanya,matanya pun kini berkaca kaca.
"Gak usah nangis,sen. Lo juga sih masa udah bertahun tahun gini masih belum moveon." Shafa memukul pelan kepala Sena,karena mulai gemas.
"tapi bisa juga kan itu anaknya? Siapa lagi yang jemput kalo bukan bapaknya?" Desta membenarkan pikiran Sena.
"Terus kalo anak lo dijemput sama supir lo,itu anak supir lo? Dan supir lo suami lo? Oh oke oke des,pikiran lo lebih cethek lagi." Anisa menanggapi ucapan Desta.
"Kasian banget sih nasib lo,nungguin cowok. Eh pas cowoknya balik udah punya bini,udah punya anak lagi." Ucap Ningrum sambil menggelengkan kepalanya.
"Senandung Nadare,menurut majalah bisnis yang sering gue baca,Arsen Levi Herlambang itu seorang CEO yang masih jomblo. Menurut lo gimana bisa dia jomblo terus punya anak?" Nabilla yang sering membaca majalah bisnis pun mengeluarkan suara.
"CEO?" tanya Sena kaget. Sena tidak tau bahwa Arsen seorang CEO.
Karena Sena memang tidak pernah mencari tau lagi.
"Nih ya,nama anaknya Arsen siapa?" Tanya Marita.
"Luna." Ucap Sena lemas.
"Luna Sean Herlambang. Cucu pertama keluarga Herlambang. Nama bokapnya Luna,Anvito Putra Herlambang dan ibunya Selyna Claudie Herlambang." Sena melongo mendengar penjelasan Marita.
"Kok lo tau?" Tanya Shafa bingung.
"Lo lupa gue kerja dimana?" Sena ingat,Marita bekerja di Inch.Building salah satu perusahaan Properti yang besar di Asia bahkan dunia.
"Eh? Jadi kakaknya Arsen itu pemilik perusahaan tempat lo kerja?" Desta bertanya dengan tatapan penasaran.
Marita mengangguk. "Kok lo gak cerita sama gue kalo lo kerja di perusahaan kakaknya Arsen?" Tanya Sena gemas.
"Katanya lo mau ngelupain Arsen? Lagi pula lo juga gak tanya sih sama gue." Ucap Marita kemudian meminum coffe vanilla latte pesanannya.
"Jadi Arsen itu masih single? Dia belum punya pacar?" Tanya Sena penuh harap.
Marita menggeleng.
"Sena,jangan teriak sen tahan." Ucap Shafa mencegah Sena untuk berteriak.
"AAAAAA GUE MASIH PUNYA KESEMPATAN DONG." Sena berteriak hingga menyebabkan seluruh pengunjung menatapnya dengan tatapan aneh.
Keenam sahabatnya menutup wajah mereka masing masing karena malu.
"Iya ya sen,udah dong teriaknya." Ucap Anisa yang sedang menganggung malu akibat ulah Sena.
"Eh tapi,gue gak mau ah! Gue benci sama Arsen,dia udah nolak gue dulu." Keenam temannya mendengus kasar.
"Serah lo deh." Ucap Shafa kemudian mengecek ponselnya kembali.
"Eh Sari apa kabar rum?" Ningrum adalah teman yang lumayan dekat dengan Sari.
"Udah nikah dia." Ucap Ningrum.
"Sama siapa? Arsen?" Tanya Sena kembali.
Semua temannya memutar bola matanya jengah.
"Iya sama Arsen nikahnya. Udah ah gue mau balik,byeee." Ucap Anisa kemudian meninggalkan mereka berenam.
"Bukan kok sen,jadi lo tenang aja." Ucap Ningrum kemudian dibalas dengan tawa renyah dari mulut Sena.
"Sen,mau ikut gue?" Tanya Shafa dengan sakartis.
"Kemana?" Tanya Sena penasaran.
"Club 345. Temen gue ultah,temenin yuk. Kita kan sesama jomblo." Melihat wajah Shafa yang memelas akhirnya Sena menyetujui ajakan Shafa.
"Kita pergi dulu ya. Byeee" ucap Shafa kemudian segera menarik pergelangan tangan Sena sebelum wanita itu berubah pikiran.
-_-_-_-
"Red wine" ucap Arsen pada seorang bartender.
Tetapi jika dipikir pikir hanya ini tempat bersenang senang Arsen.
"Kusut banget wajah lo,sen." Ucap Brian seorang bertender tampan yang juga pemilik club kalangan atas ini.
"Gak biasa aja." Ucap Arsen.
"Masih patah hati gara gara cewek lo udah nikah?" Brian menebak.
Patah hati? Bahkan Arsen sudah melupakan Sari sepenuhnya. Ya mungkin sedikit terlintas,tapi hanya sekilas.
"Gue? Hahahaha banyak cewek yang bakal kasih tubuhnya ke gue suka suka. Tinggal barter,gue kasih mereka uang dan mereka kasih gue tubuh mereka. Adil kan?" Arsen mengangkat gelas winenya ke udara.
"Kapan b*****t lo ilang?" Brian menyeringai.
"Kalo ada cewek baik baik dateng ke kehidupan gue,yang memang mengharapkan hati gue bukan uang gue." Brian tersenyum tulus.
"Semoga aja ada ya bro,gue doain." Ucap Brian sambil memukul bahu Arsen pelan.
Arsen tersenyum kecut.
"Iya kalo ada,Bri. Mana ada cewek jaman sekarang yang gak ngincer harta?"
"Cewek ngincer harta ya karena emang mau hidup enak. Orang tuanya bayarin hidupnya mahal lo ajak hidup susah. Tapi gue pikir lo gak masalah sama cewek matre. Lo kan kaya." Brian tertawa.
"Eh sen,gue pergi dulu ya." Ucap Brian dibalas anggukan oleh Arsen. Kemudian segera berlalu dan menghilang.
Arsen menatap gelas winenya yang telah kosong.
Pikirannya melayang,tiba tiba teringat wajah Sena yang begitu menarik di mata nya.
Terlintas dibenak Arsen,seorang Sena dibawah kungkungannya. Bibirnya menjelajah tubuh Sena yang mulus,menyesapnya dengan segela hasrat yang dia miliki. Menghirup wangi Sena.
"Ahhhhhh,berengsek." Ucap Arsen kemudian meminta segelas wine lagi.
-_-_-_-
"Shaf,baju gue kependekan nih, Gue risih." Ucap Sena sambil menarik dressnya lebih kebawah lagi.
"Culun banget sih lo. Santai aia lagi,lo tu seksi." Ucap Shafa kemudian berjalan mendului Sena.
Tatapan singa kelaparan didapatkan wanita dengan dress berwarna biru donker yang hanya menutupi setengah pahanya.
"kalo lo,pake baju yang tadi yang ada lo gak boleh masuk." Sena menatap melongo.
"Ngaco lo." Pukul Sena dibahu Shafa pelan.
"Ireneeee..." setelah mencapai ruang VIP suara Shafa menggelegar
Wanita dengan gaun berwarna hijau tosca yang menutupi setengah pahanya yang berkulit putih pualam itu membalas panggilan Shafa dengan teriakan renyah.
"Shafaaa." Shafa berlari dan memeluk temannya yang dipanggil Irene itu.
Sena berdiri dibelakang Shafa dengan tatapan takut. Pergi ke Club malam adalah pengalaman pertamanya.
"Eh iya,kenalin ini Sena." Ucap Shafa kemudian melepas pelukannya.
Irene menjabat tangan Sena.
Senyuman terukir diwajah cantik Irene.
"Sena." Ucap Sena kemudian melepas jabatan tangan mereka
Sejam sudah berlalu,tetapi Sena masih duduk di pojokan. Menatap kerlap kerlip lampu dibawah sana. Menghiraukan suara bising yang berasal dari club didalamnya.
"Kok bosen ya." Ucap wanita itu kemudian segera meninggalkan balkon yang menjadi satu dengan VIP room yang telah dipesan Irene.
Sena menjelajah ruangan itu dengan matanya,mencari keberadaan sahabatnya.
"Nah itu dia." Sena berjalan mendekati Shafa yang sepertinya sudah hampir mambuk.
Terlihat dari tegak tubuhnya yang sedikit membungkuk. Tetapi wanita itu masih melanjutkan minum bersama temannya. Sena yang tidak terbiasa meminum minuman itu segera menjauh.
"Shaf,gue ke kamar mandi dulu ya." Sena mengucapkan dengan suara yang sedikit keras.
Shafa hanya mengangguk. Efek mabuk memang membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih.
-_-_-_-
Sena berjalan dengan sedikit was was. Tatapan lelaki hidung belang membuatnya risih.
Sena melewati wanita wanita jalang yang sedang menjajakan tubuh mereka.
Wanita jalang itu menatap Sena dengan tatapan Sinis. Tetapi Sena tidak perduli.
"Nah itu toiletnya." Setelah menemukan apa yang dia cari,segera ia masuk ke dalam toilet tersebut.
Sena telah selesai menyelesaikan panggilan alamnya.
"Aduh,gue lupa tempatnya dimana. Sialan!" Sena melupakan tempat pesta Irene berada.
Dengan sisa keberanian yang wanita itu miliki. Wanita itu berjalan perlahan,berniat kembali ke ruangan tadi.
Sena mencari ponselnya.
"Double s**t! Ponsel gue di tas. Tas gue di ruangan Irene. Aduuhh." Sena hampir menangis.
Sena berjalan terus,tetapi sayangnya dia merasa semakin jauh dari keramaian.
Bahkan suara gaduh yang berasal dari dalam pun tidak begitu terdengar jelas seperti ketika dia sedang berada di toilet.
Tepat ketika Sena berhenti,sebuah tangan kekar menariknya.
Menghempaskan tubuh ringkih Sena ke tembok.
Sena yang kaget pun segera berteriak.
"Aaaaaaa,lepas!" Sena melihat lelaki yang menarik pergelangan tangannya.
"Arsen.." gumam Sena yang masih sangat terkejut. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini.
Sena menatap mata indah Arsen. Tanpa sadar sebuah benda lembut,kenyal,dan lembab menempel dibibir Sena.
Sena membulatkan kedua matanya. "Hmmmmptttt lehmmmppasss".
Dengan segala kekuatannya dia mendorong Arsen hingga akhirnya ciuman itu terlepas.
Sena mentetralkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. "Sialan first kiss gue." Batin Sena dalam hati.
"Arsen lo mabuk ya?" Sena menatap Arsen dengan takut.
Arsen tertawa menyeringai.
Diusapnya lanjut Sena lembut.
Kemudian segera Arsen menempelkan bibirnya lagi dengan bibir Sena yang ranum
"Hmmmpt hmmmmpttt" sena memukul Arsen dengan keras.
Tetapi tenaga Sena tak sebanding dengan tenaga Arsen.
Kedua tangan Arsen menahan tangan Sena.
Arsen masih bekerja dibibir Sena. Menikmati manis bibir wanita itu. Kemudian Arsen menjilat bibir Sena dengan penuh nafsu.
"Aaaaaa" teriakan Sena memberikan kesempatan Arsen memasukan lidahnya kedalam mulut Sena.
Arsen membelit lidah Sena. Mengabsen satu persatu gigi rapi Sena.
Sena menangis. Air matanya deras. Sungguh dia benar benar takut. Lelaki didepannya ini memang lelaki yang selama ini dicintainya tetapi bukan seperti ini yang dia inginkan.
"Gue mau tubuh lo malam ini." Bisik Arsen tepat ditelinga Sena. Wanita itu menegang. Tubuhnya bergetar ketakutan.
Arsen menarik paksa Sena. Sena berusaha melepas tarikan Arsen. Tetapi tenaga Arsen memang sungguh kuat.
"Arsen plisss lepasin gue." Ucap Sena dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya.
"Gue bakal lepasin lo setelah gue nikmatin tubuh lo. Habis itu lo bisa pergi. Tenang aja gue bakal bayar dengan harga yang sesuai." Arsen benar benar mengira Sena adalah salah satu wanita jalang di club malam ini.
Betapa beruntungnya Sena. Biasanya wanita jalang yang akan datang ke Arsen memberikan cuma cuma tubuhnya. Menggoda Arsen dengan sekuat tenaga. Tetapi wanita yang sedang diseret Arsen saat ini. Bahkan dia hanya sedang berjalan dengan kebingungan.
Sena semakin menangis.
"Oh tuhan tolong aku." Batin Sena sambil menangis.
-_-_-_-_-
Setelah berada dimobil tadi. Kedua tangan Sena diikat dengan dasi milik Arsen. Ikatannya begitu kuat,bibir Sena pun disumpal dengan sapu tangan Arsen yang masih bersih.
Kini Sena masih menangis. Air matanya masih mengalir deras.
Sena tiba disebuah rumah mewah. Tetapi terlihat sepi.
Arsen segera keluar dari mobilnya. Tubuhnya sedikit limbung,efek dari mabuknya.
Arsen membuka pintu penumpang kemudian membantu Sena keluar.
Arsen menarik Sena dengan kasar,membuat pergelangan tangan Sena memerah.
Arsen membuka pintu rumah bergaya American Style.
Tetapi semewah apapun rumah ini tidak menyurutkan rasa takut Sena.
Sena ditarik oleh Arsen hingga akhirnya mereka tiba disebuah kamar.
Arsen membuka kamar itu,kemudian mendorong Sena hingga wanita itu jatuh ke ranjang king size milik Arsen.
"gak usah sok jual mahal. Lo p*****r baru ya? Gue baru liat lo hari ini." Hati Sena teriris mendengar ucapan Arsen. Walaupun Arsen sedang mabuk tetapi Sena tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia sakit hati.
"Arsen,gue bukan pelacur." Ucap Sena sambil menangis.
"Lo teriak gue main kasar." Ucap Arsen kemudian mengelus rambut Sena lembut.
Arsen mendekatkan wajahnya ke rambut Sena. Menghirup aroma manis cherry blossom. Ntah sejak kapan aroma manis itu menjadi kesukaannya.
Dengan perlahan tapi pasti Arsen mencium bibir Sena,awalnya hanya mengecup kemudian semakin lama kecupan itu berubah menjadi sebuah lumatan,lumatan yang pelan dan tidak menuntut.
Sena berhenti memberontak,kemudian mengikuti permainan bibir Arsen.
Perlahan tapi pasti pula Sena melumat bibir Arsen.
Bukankah ini yang dia mau? Bersama seseorang yang selama ini dicintainya?
"Tapi bukan gini caranya." Batin wanita itu.
"Arsen hmmmpt." Sena menahan desahan di tenggorokannya.
Arsen berpindah menuju leher putih dan jenjang milik Sena. Menghirup aroma stroberi milik wanita itu.
Arsen mengecup perlahan kemudian lama kelamaan menggigit kecil leher itu.
"Ahhhh Arsen hmmmpt" desah Sena tertahan.
Arsen menjilat leher Sena. Wanita itu membiarkan lidah lelaki yang dicintainya bermain dilakukan lehernya,walaupun Sena tau lelaki itu sedang mabuk.
Arsen menurunkan dress yang tadi dikenakan Sena kebawah. Hanya tampak bra berenda dengan tali transparan.
Arsen menangkap p******a milik Sena yang terasa pas di genggamannya.
Arsen meremas kencang p******a itu karena gemas dengan kenyalnya p******a milik wanita di hadapan nya.
"Baru jadi p*****r hari ini ya? p******a punya lo masih kenceng." Ucap Arsen kemudian melepas bra milik Sena.
"Woooow nice breast." Ucap Arsen dengan kagum.
Sena menangis. Dia memang bercinta dengan lelaki yang ia cintai,tapi sayangnya lelaki itu menganggap dia adalah seorang jalang.
"Arsen,ini gue Sena." Ucap Sena ditengah tangisnya.
"Ahhh sssst." Ucap Arsen kemudian menaruh bibirnya di p******a milik Sena.
Mengecupnya penuh gairah. Awalnya ciuman itu perlahan kemudian berubah menjadi kasar.
Arsen mengigigit p******a Sena keras. Sena menjerit kesakitan karena gigitan Arsen.
"Aaaa arsen sakit." Ucap Sena masih menangis.
"p*****r memang harus diperlalukan seperti p*****r!". ucap Arsen tegas.
Kembali Arsen memainkan p******a Sena dengan keras. Mengecupnya perlahan kemudian mengigitnya kasar. Selalu begitu.
"Aaaahhhh ouuuhhhh" desah Sena saat lidah Arsen menjilat n****e coklat kemerahan milik Sena.
"p******a punya lo bener bener nikmat. Gue suka. Mungkin lain kali gue harus nyewa lo lagi."
Arsen melepas celana dalam Sena. Menurunkannya kemudian melepasnya dan membuangnya sembarangan.
Arsen menghirup aroma kewanitaan Sena.
"Hmmm mungkin bisa gue coba. Sedikit gue cicipin." Ucap Arsen kemudian dengan cepat menciumi kewanitaan Sena.
Menjilatnya dengan penuh nafsu.
"Ahhhh Arsen ohhh stop pliss Arsen." Ucap Sena sambil mendesah.
"Desah kenikmatan gak usah nyuruh gue berhenti." Ucap Arsen kemudian melanjutkan permainannya di kewanitaan Sena.
Jilatan Arsen masih berlanjut.
Merasa ada yang mau keluar Sena berteriak.
"Achhh Arsen gue mau keluar,berhenti plisss" Ucap Sena.
"Oh No!!! Keluarin sayang. Gue mau nikmatin cairan orgas pertama lo." Ucap Arsen kemudian tangan yang menganggur meremas p******a Sena kasar.
"Arsen Ahhhh ohhhh uhhh hmmmpttt." Arsen merasa pemanasan mereka cukup.
Dengan segera Arsen melepas kemeja yang melekat ditubuhnya. Begitu pula dengan celana jeansnya.
Lelaki itu membiarkan monsternya berdiri tegak.
Sena menutup matanya. Air matanya semakin deras. Sungguh dia takut.
Lepasan pada ikatan tangan Sena mengendur. Segera Sena melepas seutuhnya kemudian segera melepaskan diri.
Sena berlari menuju pintu,tetapi naas baru beberapa langkah hampir menuju pintu tangan kekar Arsen mencapai tangan Sena.
Arsen menariknya kasar,menjatuhkan tubuh Sena ke ranjang king size itu lagi.
"Arsen gue mohon!! Jangan sen." Ucap Sena sambil menangis.
Arsen menampar pipi kanan Sena. Air mata wanita itu semakin deras.
"Lo p*****r diem! Gue bayar lo buat ini." Ucap Arsen dengan masih tak sadarnya.
Arsen melebarkan kedua kaki Sena. Menaikan kaki itu ke bahunya.
Dengan cepat Arsen memasukan monster itu. Memasukannya dengan kasar.
Sena hanya bisa menangis melihat tubuh sucinya dinodai oleh lelaki yang dicintainya selama bertahun tahun.
"Arsen sakittt ahhhhhh." Ucap Sena pelan dengan lemas.
"Ohhh s**t! Lo masih perawan?" Tanya Arsen dengan mata terkejutnya.
Sena mengangguk.
"Tenang aja. Gue bakal bayar mahal untuk perawan lo ini sayang."
Arsen menggerakan miliknya dengan kasar. Tangannya bermain dikedua p******a Sena meremasnya dengan kasar.
Sena menangis merasakan nyeri di kewanitaanya.
Bibir Arsen menuju leher Sena. Mencium kembali jejak jejak karya yang ia buat.
"Ohhh Ahhhh uuuhhh ehhh f**k it" desah Arsen.
"Assshhh hmmmm". Desah Sena akhirnya.
"Ohhhh f**k! Sialan! Gue ketagihan." Ucap Arsen sambil menggerakan miliknya.
Sena mencengkram erat seprai yang sudah tidak beraturan.
"Arsen!! Gue mau keluar. Sssshhhh"
"Tunggu gue."
"Sariiii aaaaccchhhhh ssssshhh sari hmmmpt." Desah Arsen ketika berjuta spermanya menyemprot ke dalam rahim Sena.
Sena membulatkan kedua matanya.
Sari? "Dia bercinta sama gue dan diakhir pelepasan dia nyebut sari? Jadi dia bayangin gue ini sari?." Batin Sena.
Air mata sena semakin deras.
Arsen melepaskan tautan tubuh mereka. Kemudian menghempaskan tubuhnya disebelah Sena.
Arsen menarik selimut untuk menutupi tubuh naked mereka.
-_-_-_-_-
Cahaya matahari menganggu tidur seorang pangeran tampan.
Samar samar pangeran itu mendengar seorang wanita menangis.
Pangeran itu Arsen.
Arsen membuka matanya mencari keberadaan suara tangis wanita.
Arsen membulatkan kedua matanya saat melihat seorang wanita sedang menangis sambil melihat ke arah jendela.
Arsen mendekati wanita itu.
Arsen membulatkan kedua matanya saat mengetahui siapa wanita yang menangis itu.
Wanita itu hanya menutupi tubuhnya dengan bajunya yang telah berhasil Arsen turunkan dan tanpa sengaja tersobek.
"Sena.." gumam Arsen.
Arsen melihat tubuh wanita itu dengan kemerahan. Arsen tau itu kemerahan apa. Arsen bukan lelaki bodoh. Dan satu lagi dia tau siapa yang membuat tanda kepemilikan itu.
"Sena,gue minta maaf sen. Gue bener bener gak sadar kalo semalem itu lo." Ucap Arsen kemudian berlutut dihadapan Sena.
Sena hanya bisa menangis. Sesenggukan. Masa depannya hancur. Dia sudah merasa tidak pantas lagi menjadi seorang guru taman kanak kanak dengan keadaan yang sudah menimpanya.
Sena berdiri dari duduknya menggunakan kakinya yang masih terasa lemas,begitu juga dengan kewanitaannya yang luar biasa nyeri.
"Lo anggep gue p*****r,Sen." Ucap Sena dengan menangis.
"Gue mau pulang." Dengan segera sena mengenakan dress miliknya.
"Sena,maafin gue sen." Arsen mengacak rambutnya frustasi.
Dia benar benar tidak tau jika wanita itu Sena. Bahkan dia masih ingat jika Sena masih perawan.
"Gue anter lo pulang." Ucap Arsen tegas.
"Gue gak nerima penolakan." Sena menyerah. Toh bajunya sudah tidak berbentuk lagi. Cukup malu jika dia akan pulang mengenakan baju itu apalagi menaiki kendaraan umum.
~to be continue~