Part Four

1648 Words
"Sen,gue minta maaf." Ucap Arsen dengan penuh rasa bersalah. Sena hanya terdiam. Jadi ini balasan dan seluruh jawaban dari doa yang ia panjatkan untuk meluluhkan hati Arsen. "Gue bakal tanggung jawab." Ucap Arsen. Sena tidak membalikan tubuhnya. Tetap terdiam dan mendengarkan semua yang dikatakan Arsen. Sena menggeleng. "Gak perlu." Ucapnya ketus kemudian berjalan masuk sambil merapatkan kemeja yang diberikan Arsen untuk menutupi tubuhnya. Arsen menatap punggung wanita itu yang lama kelamaan menghilang dibalik pagar bercat putih. Arsen menghela nafasnya. Kemudian berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil sport nya. -_-_-_-_-_- Sena mengguyur tubuh seksinya dibawah guyuran shower yang deras. Sesekali wanita itu berteriak sambil menangis. "ARSEN BERENGSEK! GUE BENCI SAMA LO SEN." Teriak wanita itu sambil mengusap tubuhnya yang menurut dia sudah kotor. Sisa karya yang dibuat Arsen pun masih membekas walaupun gadis itu membersihkan tubuhnya berkali kali. "Dulu lo nyakitin gue,sekarang lo nyakitin gue lagi. Salah gue ke elo apa sen?." Wanita itu luruh dan jatuh terduduk masih di bawah guyuran shower. "Non Sena,kenapa non? Buka pintunya non." Terdengar ketukan pintu diluar kamarnya yang cukup keras. "Gak papa kok,mbak." Teriak Sena yang telah berusaha semaksimal mungkin menetralkan suaranya. Sena keluar dari kamar mandinya,memakai handuk kimononya. Langkah langkah menjauhi kamarnya. Sena telah meminta ijin dari TK untuk tidak masuk dan mengajar hari ini. Toh sebentar lagi dia akan keluar dari Tk itu. Sena menatap tubuhnya yang dibalut handuk kimono dicermin. "Gue emang cinta sama lo dari dulu sampai sekarang,sen. Tapi bukan ini yang gue maksud lo bales cinta gue. Bahkan lo anggep gue p*****r,bahkan diakhir pelepasan lo sebut nama Sari." Wanita itu kembali menangis. Terdengar ketukan pintu lagi dari luar kamarnya. "Non Sena,ada tamu." Ucap Mbak Tina. "Siapa mbak?" "Non Shafa." "Suruh masuk aja,mbak." Ucap Sena. Langkah kaki Mbak Tina menjauh. Setelah itu terdengar ceklekan pintu. "Ya ampuuun,Sena. Lo kenapa?." Shafa berlari melihat Sena yang terlihat sedang tidak baik. Sena melihat Shafa yang terkejut. "Mata lo bengkak banget. Lo nangis?" Sena mengangguk. "Lo kenapa?." Tanya Shafa hati hati. Sena dituntun Shafa untuk duduk di kasur quuen sizenya. Sena menatap lurus. Pandangannya kosong. Sena hanya bisa menangis. Air matanya terus mengalir,dia menangis tanpa suara. "Lo kenapa,sen?." Shafa menatap sahabat didepannya dengan iba. "Arsen brengsek." Shafa terdiam. "Arsen kenapa?" Tanya Shafa hati hati. "Dia perkosa gue semalem. Dia merlakuin gue kayak p*****r. Bahkan di akhir pelepasan dia nyebut nama Sari." Sena kembali menangis. "Arsen perkosa lo? Gimana bisa?" Tanya Shafa terkejut. Sena masih menangis. Shafa memeluk wanita itu. Mengelus lembut rambut panjangnya yang masih basah. "Sabar ya,sen. Gue minta maaf ini gara gara gue." Ucap Shafa merasa bersalah. Sena tersenyum kemudian menggeleng. "Enggak kok,emang udah takdir aja." Ucap Sena. Tatapan wanita itu masih kosong. Shafa mengusap air matanya. Dia tidak menyangka sahabtnya itu akan mengalami kejadian ini. Ntah namanya pemerkosaan atau enggak karena Sena memang menyukai Arsen. Tetapi mendengar Sena diperlakukan layaknya p*****r,pikiran Shafa tertuju pada perlakuan kasar Arsen. "Arsen kasar ke elo?" Tanya Shafa. Sena mengangguk. "Tapi jangan cerita sama siapa siapa ya,shaf. Shafa gue takut." Ucap wanita itu. Shafa tersenyum kemudian menghapus air mata wanita itu. "Tenang aja,sen. Ada gue,ada Anisa,ada Desta,ada Ningrum,ada Marita,ada Nabilla. Kita selalu ada buat lo." Ucap Shafa kemudian mengelus rambut Sena. "Ini gue mau balikin tas sama hp lo. Gue pulang dulu ya,lo istirahat." Ucap Shafa. Sena mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya." Wanita itu masih bisa tersenyum tulus,padahal Shafa tau wanita itu sedang begitu sedih dan tertekan. Shafa berjalan keluar dari kamar Sena. Sena mengganti bajunya dengan kaos dan celana hotpants. Kemudian wanita itu merebahkan tubuhnya di kasur empuk nya,membungkus tubuh itu dengan selimut katun jepang yang lembut. -_-_-_-_-_-_-_-_-_- Arsen mengacak rambutnya berantakan. Hari ini dia juga tidak berangkat ke kantornya. Pikirannya kacau. Jika hanya sekedar bercinta dengan p*****r,lelaki itu santai saja. Lelaki itu bahkan melupakan pengaman nya semalam. Mata Arsen menemukan sebuah dasi berwarna hitam. Walaupun dalam keadaan setengah sadar,lelaki itu ingat betul dasi itu yang digunakannya untuk mengikat Sena semalam. Arsen mengambil dasi itu. Memegangnya kemudian melempar dasi itu. "b******k!." ucap Arsen. Deringan ponsel terdengar,segera Arsen menyambar ponsel yang berada di meja nakasnya. "Halo? Kenapa kak?." Tanya Arsen pada seorang wanita diseberang teleponnya. "minta tolong jemput,Luna dong." "Gak bisa,gue lagi gak enak badan." Segera Arsen memutus sambungan telpon itu kemudian segera melempar ponselnya sembarangan. Mungkin sekarang ponsel itu sudah tidak berbentuk lagi. Arsen mendudukan tubuhnya ke hadapan dinding kaca yang menampakan keindahan kota Jakarta. "Sen,lo sayang sama gue. Tapi gue malah nyakitin lo." Ucap Arsen menyesal. Hanya ditemani pendingin ruangan yang terasa dingin. Arsen mengingat aroma rambut Sena. Dia memang mabuk semalam,tetapi entah mengapa dia masih mengingat dengan semua yang ada di tubuh Sena. Wangi rambutnya,kulitnya yang putih,bibir ranumnya,dan kemudian payudaranya yang kenyal. "Gue janji,gue bakal tanggung jawab sama lo sen." Ucap Arsen kemudian berdiri dari duduknya. Mengambil ponselnya yang terlihat sudah hancur. "Oh s**t! Gue lupa,gue kudu beli lagi kalo gini." Ucap Arsen kemudian mengambil ponsel itu mengambil kartu sim nya. Ponsel yang sudah rusak itu dibuang ke sampah. *praak* Terdengar jatuhnya ponsel Arsen. -_-_-_-_-_-_- Sena membuka kedua matanya ketika cahaya matahari telah berada diufuk barat. Sena mengucek kedua matanya yang terasa kurang jelas. Kepalanya sedikit terasa pening. Kewanitaannya sudah tidak sesakit tadi. Sena bangkit dari tidurnya. Berjalan ke kamar mandi kemudian melepas pakaian yang melekat ditubuhnya. -_-_-_-_-_- "Kak,gue mau cerita." Ucap Arsen ketika kakak iparnya itu masuk ke kamarnya untuk menjemput putrinya. "Bentar,aku anter Luna dulu ke Anvito."ucap wanita itu. Arsen mengangguk. "Gue tunggu di taman belakang,kak." Wanita itu mengangguk. -------- "Ada masalah?." Arsen merasakan keberadaan seseorang disampingnya bersamaan dengan suara yang menggema di gendang telinganya. Arsen mengangguk. Kepalanya sudah cukup pening memikirkan kejadian semalam dan tadi pagi yang menimpanya dan juga wanita itu. "Lo janji gak bakal bilang ke kak Anvito?." Selyna mengangguk. "Gue merkosa cewek semalem." Ucap Arsen lemah. "Serius?." Tanya Selyna sambil membulatkan kedua matanya sempurna. Arsen mengangguk. "Gue mabuk kak waktu itu. Gue gak sadar." Arsen mengacak rambutnya ketika bayangan kejadian semalam terlintas di pikirannya. "Tapi kamu tau cewek itu?." Tanya Selyna. Arsen mengangguk. "p*****r?." Tanya Selyna. "Kalo p*****r gue gak bakal sekepikiran ini,kak. Dia bukan p*****r kak. Kalo wanita itu p*****r tinggal kita ngelakuin gue bayar dia puas gue puas selesai. Tapi ini.." ucap Arsen terhenti. "Siapa?." Desak Selyna. "Junior gue dulu di Sekolah menengah kak. Dan cewek ini pernah suka sama gue. Gue emang mabuk kak semalem,tapi gue masih inget sama matanya,aroma rambutnya,aroma tubuhnya. Gue masih inget. Bahkan rasanya gue pingin cicipin terus." Selyna memutar kedua matanya. Ntah mimpi apa suaminya bisa memiliki adik sebejat Arsen. "Cewek itu siapa?." Tanya Selyna. "Sena,Senandung Nadare. Lo kenal kan kak? Dia gurunya Luna." Selyna menatap Arsen dengan tatapan terkejut. "Astaga! ARSEN LO PUNYA OTAK GAK SIH? Lo tau gak dia tu cewek baik baik. Dia guru yang jadi favorit anak anak disekolah." Ucap Selyna masih dengan emosi. "Gue yakin lo duluan yang nyerang dia." Arsen mengangguk. Selyna menggelengkan kepalanya. "Kak,lo bisa ceritain ke gue dia orangnya gimana?." Selyna mengangguk. "Sejak awal Luna masuk sekolah Sena udah jadi guru. Sena juga wanita yang baik baik menurutku. Dia ramah juga. Cuma itu yang aku tau." Ucap Selyna. Arsen mengangguk. "Sen,tanggung jawab lo sama anak orang." Ucap Selyna kemudian berdiri dari ayunan yang berada didekat kolam renang. Selyna berjalan dua langkah meninggalkan Arsen. Tetapi baru Arsen menatap langit yang sepertinya malam ini sedang tidak ada bintang. Karena tidak terlihat satupun. *plaaaaak* Arsen merasakan pipi kanannya yang mulai panas karena tamparan seorang wanita yang tadi di bagi nya cerita. "Itu belum ada apa apa. Lo harus tanggung jawab,dan satu lagi lo sendiri yang harus bilang ke kakak lo sama apa yang udah lo lakuin." Ucap Selyna kemudian berjalan dengan langkah anggunnya,seperti biasa "Sialan,tangan lo seksi tapi kalo nampar sakit juga." Teriak Arsen dan dibalas senyum kecut oleh Syelina. -_-_-_-_-_-_-_-_- "Sena,gak ada bintang malem ini. Masuk yok sen." Ajak Nabila yang sedari tadi menemani Sena duduk diluar vila,menikmati udara malam yang dingin. Vila? Iya,mereka semua sedang berada di Vila milik Marita. Mereka semua berencana menamani Sena agar tidak stres karena memikirkan musibah yang menimpanya. Memang bukan perkara yang mudah,kamu mencintai seorang sepenuh hati,menantinya selama ini,tetapi ketika dia datang dia malah memperkosamu dan memperlakukan mu layaknya p*****r yang sehabis digunakan kemudian dibuang. "Bentar,bil. Lo masuk dulu aja." Ucap Sena dengan masih menatap langit. "Yaudah gue masuk dulu ya." Sena mengangguk. Mata hazel gadis itu masih menatap langit hitam yang tak beriaskan bintang. Ntah kenapa bintang tidak muncul hari ini. "Memang kalo cinta sama orang itu harus sakit ya? Apa definisi tentang cinta itu sebenarnya rasa sakit?" Batin Sena bertanya kepada langit. "Apa dalam dunia cinta itu,sebuah keadilan didapatkan setelah mendapat undian? Apakah namaku ada didalam undian itu?" "Aku tidak menyesal menyukainya,aku tidak menyesal menantunya. Tetapi aku menyesali bagaimana cara kami bertemu setelah sekian lama aku berdoa untuknya." "Kebahagiaan itu ada kok,hanya saja kita harus menunggu. Bahagia bukan hanya dari orang yang diharapkan. Bisa jadi datang dari orang yang tidak terduga." Sejak tadi batin Sena bertanya kepada langit. Sena tau langit tidak akan menjawab pertanyaannya. "Kau hanya bisa menatapnya,ya! Hanya itu yang bisa kau lakukan Menarik matahari hanya untukmu? Jangan mimpi! Bahkan dunia yang kau pijak lebih kecil dari matahari yang kau tatap." Sena menahan lagi air matanya. Memang berat menyadari bahwa kini dirinya sudah tidak utuh lagi. Menyadari bahwa kemungkinan Arsen tidak akan bertanggung jawab. Tetapi dia tidak akan mengemis kepada lelaki itu. Biarkan saja dia hidup,toh dia bisa berdiri sendiri diatas kakinya. Sena tersenyum kecil. Tiba tiba sebuah semangat muncul. Dia benci Arsen,dia benci lelaki itu,dia benci lelaki b*****t itu yang telah mencuri mahkotanya. Dia benci lelaki itu. "ARSEN b*****t! MULAI DETIK INI GUE BENCI SAMA LO." teriak Sena. ~ to be continue ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD