Mendengar teriakan yang bersumber dari luar kelima perawan itu berlari ke sumber suara.
"Kenapa sen?." Tanya Ningrum khawatir.
Sena menatap Ningrum dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti tatapan bingung.
"Emang gue kenapa?." Tanya Sena kepada kelima sahabatnya itu.
"Ya ampun,lo tu teriak kayak orang kesetanan tau gak." Ucap Nabila dengan ngos ngosan.
"Masak? Gue tadi cuma lagi buang sial." Ucap Sena santai.
"Sialan lo ya! Kita khawatir elonya malah buang sial buang sial." Marita mendengus kasar.
Sena hanya tertawa kecil.
Beruntung memang wanita itu, ketika seorang lelaki yang dicintainya menyakitinya, dia masih memiliki sahabat yang menjaganya. Masih mau menjadi sebagian dari hidupnya walaupun mereka tau Sena sudah tidak "selengkap" mereka.
"Sen, masuk gih udah malem. Nanti lo sakit." Ucap Shafa kepada Sena.
Sena menuruti titah sahabatnya itu, kemudian segera masuk ke dalam vila.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Kini mereka sedang menonton salah satu film horor.
Berkali kali mereka berteriak karena backsoundnya yang menyeramkan, atau hantunya yang tiba tiba nongol.
Tapi ada waktu satu wanita yang diam saja. Bermain dengan pikirannya sendiri.
"Eh ta, disini gak ada hantunya kan?." Tiba tiba Ningrun bertanya. Masih setia dengan selimut yang menutupi wajahnya.
"menurut lo?." Tanya Marita balik.
"kayaknya gak deh."
"Ada."
"Ih bisa diem gak sih kalian tu berisik banget." Ucap Shafa marah.
Mendengar perdebatan tidak penting itu, Sena yang sedang sedikit kacau pun memilih untuk menyingkir.
"Sen, Desta dateng jam berapa?." Mendengar teriakan Nabila, lamunan gadis itu buyar.
"Nungguin Alfina(anak desta) pulang sekolah katanya. Sekalian nungguin Akbar(suami desta) berangkat keluar kota." jawab gadis itu.
"Gue tidur duluan ya, bhaaaay." Teriak Sena.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Seorang lelaki terlihat tidak nyaman dengan tidurnya. Berkali kali lelaki itu berbalik ke kanan dan ke kiri untuk mencari kenyamanan.
Merasa menginginkan sesuatu untuk direngkuhnya. Menginginkan sesuatu untuk dikecup. Ketika keinginan itu muncul, tiba tiba Senandung Nadare masuk dalam otaknya. Membayangkan bibirnya menyentuh permukaan kulit Sena yang begitu lembut dan kenyal.
"Arghhhhh" Arsen mengacak rambutnya kasar.
Apa kalian tau rahasia dari Arsen? Ada sebuah perasaan yang ia simpan rapat rapat. Ketika perasaan itu muncul, segera lelaki itu tepis.
Arsen mencintai Kartika Sariyda. Hmmm bukan! Tapi Arsen tidak bisa melupakan Sari, seorang wanita yang kini sudah menjadi milik orang lain.
Tapi ada yang salah dengan sistem saraf tubuhnya. Dia menginginkan Sena. Hati lelaki itu tertuju pada Sari. Tetapi hasrat seksualnya tertuju pada Sena. Apakah dia bisa dikatakan lelaki b*****t? Mencintai seorang wanita yang kini tengah bersuami, tetapi dilain sisi dia begitu menginginkan gadis lain untuk tidur bersamanya, disatu ranjang yang sama dengannya. Berada dibawah atap yang sama, berada di pelukannya. Arsen merindukan bibir kenyal dan wangi rambut stroberi Sena.
"Gue harus maksa cewek itu buat tinggal sama gue. Apapun itu! Semuanya akan gue lakuin. Persetan dengan perasaannya." Ucap Arsen.
Arsen memejamkan kedua matanya, memaksakan untuk segera terlelap dan merasa lebih baik setelah besok.
-_-_-_-_-_-_-_-_-
"Alfina..." sapa Nabila kepada putri Desta. Gadis kecil dengan pipi super chubby itu hanya tersenyum malu malu.
"Nginep sini gak des?." Tanya Anisa ketika mengetahui Desta tidak terlalu membawa banyak barang. Ibu muda itu menggeleng lemah. "Akbar gak ngijinin. Dia takut kalo Alfina gak bisa tidur, tau sendiri kan Alfina kayak gimana, dan kebetulan dapet papa kayak Akbar." Semuanya mengangguk.
"Sena mana?." Tanya Desta ketika menyadari anggota sambutan kedatangannya berkurang.
"Haiii Desta. Kangen sama gue?." Tanya Sena sambil mencubit gemas pipi Alfina.
"Mama kamu kangen sama aunty, fin." Ucap Sena sambil tersenyum.
"Kalian semua gak kerja?." Tanya Desta ketika menyadari bahwa hari ini hari kerja.
Mereka semua menggeleng. "Kita semua rela cuti demi nemenin si satu kutu kampret nih." Ucap Ningrum sambil memukul kepala Sena pelan.
"Gue gak maksa. Kalian sendiri yang ngajak gue." Ucap Sena.
"Eh Desta masuk dulu yuk. Kasian tu Alfina capek kayaknya." Ucap Marita kemudian menggiring mereka semua masuk.
Kini mereka bertujuh sedang duduk sambil mengobrol. Sepertinya Alfina termasuk anak yang mengerti mamanya. Gadis kecil itu bermain sambil menonton kartun tanpa rewel ataupun menganggu ketika mamanya sedang ngrumpi.
"Eh des, lo gak mau nambah anak lagi? Kasian tu anak lo sendirian gitu. Dia butuh adik." Desta memutar matanya ketika mendengar ucapan Anisa.
"Lo tau waktu hangout gue sama kalian aja tu berkurang semenjak gue nikah dan punya anak, jadi ntar deh." Jawabnya.
"Kalian kapan nikah? Jomblo dipelihara." Ucap Desta sambil cekikikan.
"Gak usah tanya gituan ah sama kita." Ucap Shafa.
"Hati hati jadi perawan tua. Lo semua tu kelamaan jomblo" Ucap Desta dan mendapat tatapan tajam dari semuanya.
Sena membeku. Bahkan dirinya kini sudah tidak perawan.
Semua mata menatap Desta tajam.
Sena tersenyum, "apa sih? Udah yok ngobrol lagi."
Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
"Kak, hari ini gue aja yang jemput Luna." Ucap Arsen kepada Selyna diseberang sana.
"Oke, selesai in urusanmu." Ucap Selyna.
"Iya, kak. Semakin seksi aja deh." Ucap Arsen menggoda.
"Ih lo tu ya. Adik kurang ajar." Segera Arsen memutus sambungan telpon mereka.
Kini Arsen berada di TK tempat Sena bekerja.
Kali ini Arsen memilih menunggu di mobilnya daripada turun dan menjadi pusat perhatian para ibu ibu.
Melihat banyak murid yang sudah keluar dari sekolah, barulah Arsen turun.
Tepat ketika Arsen turun dari mobilnya, gadis kecil berlari ke arahnya. Tatapan nya datar dan sulit ditebak. Tetapi tinggal bersama ayahnya selama bertahun tahun bukan hal yag sulit bagi Arsen mengetahui apa yang gadis kecil itu inginkan. Karena mengingat gadis kecil itu sangat mirip dengan ayahnya. Dan hampir semua yang diinginkan gadis kecil itu sama persis dengan ayahnya.
"Hai princess.." ucap Arsen sambil menggendong Luna. Gadis kecil itu hanya tersenyum kecil kemudian turun dari gendongan sang paman.
"Luna, miss Sena masuk gak hari ini?." Tanya Arsen hati hati.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Luna gak tau uncle." Ucap gadis kecil itu. Arsen menganggukaa kepalanya.
"Kita langsung pulang ya, Mommy kamu udah nunggu di rumah. Nanti kalo princess gak pulang pulang Mommy bisa marah besar." Ucap Arsen kemudian menggandeng Luna masuk kedalam mobil.
Luna sibuk dengan kertas lipat berwarna ungu nya. Jalanan yang macet membuat gadis kecil itu bosan, akhirnya gadis itu mengeluarkan kertas lipat dan mulai membuat hewan hewan menggunakan kertas lipat itu.
"Wah, Princess uncle pinter banget bikin origaminya. Siapa yang ajarin?." Tanya Arsen sambil melirik Luna pelan.
"Miss Sena. Miss Sena, kalo ngajarin itu enak uncle, sabar, terus detail banget sampe kita bisa." Cerita Luna. Arsen membeku seketika.
"Luna bikinin uncle origami gajah dong." Ucap Arsen.
Luna mengangguk kemudian membuat origami berbentuk gajah.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Setelah mengantarkan Luna pulang ke rumah Arsen segera menuju ke rumah Sena.
Garasi Sena kosong. Tidak ada mobil disana. Bahkan rumahnya terlihat sangat sepi.
Arsen turun dari mobilnya, memasuki rumah yang besarnya mungkin hanya seperempat hingga setengah rumah mamanya dan juga rumahnya.
Arsen sudah memiliki sebuah rumah. Rumah itu dia siapkan untuk istrinya kelak. Tetapi tetap rumahnya terlihat seperti digunakan karena Arsen mempekerjakan banyak asisten rumah tangga.
Arsen membuka pagar rumah itu perlahan. Dengan langkah yang ntah mengapa kini menjadi berat, Arsen mengetuk pintu kayu berwarna hitam itu tiga kali.
Pada ketukan yang kelima terdengar suara dari dalam. Suara seorang wanita.
Kemudian ketika wanita itu membuka pintu rumahnya, wanita itu malah menatap Arsen dengan kagum.
Arsen berdehem untuk menyadarkan seorang wanita di hadapan nya.
"Saya mau cari Sena. Dia ada di rumah?." Tanya Arsen dengan suara baritone miliknya.
Mbak Tina, asisten rumah tangga Sena bingung.
"Dari siapa ya?." Tanya mbak Tina.
"Saya Arsen." Ucap Arsen.
"Non Sena gak ada di rumah, mas. Udah mas nya pulang aja. Percuma, atau mau masuk dulu terus saya bikin kan minum." Ucap mbak Tina.
Arsen memutar bola matanya.
"Dia kemana?."
"Ke villa temannya, ada di puncak." Ucap Mbak Tina dengan nada ketakutan.
Arsen hanya menganggukan kepalanya.
"Saya boleh minta alamatnya?." Mbak Tina terlihat kaget kemudian menggeleng.
"Maaf tuan, tapi saya dilarang memberi tau kan alamatnya kepada siapapun." Arsen hanya mengangguk kemudian segera pergi.
"Gue mau malem ini lo tidur disebelah gue sen, gue mau lo ada diperlukan gue. Lo punya gue sekarang!." Ucap Arsen ketika sudah berada didalam mobilnya.
Arsen mengeluarkan ponselnya yang baru. Kemudian menelpon seseorang.
"Cari dimana keberadaan Senandung Nadare sekarang. Gue gak mau tau dalam waktu dua jam kalian udah harus nemuin." Ucap Arsen sedikit memaksa.
"Baik, bos." Ucap seseorang diseberang sana.
Arsen tidak memiliki nomer ponsel Sena. Sungguh lelaki itu menginginkan Sena malam ini.
Akhirnya Arsen kembali ke kantornya. Karena masih sangat banyak pekerjaan yang lelaki itu tinggalkan.
Arsen hanya diam tidak melakukan apapun. Sejak tadi pikirannya melayang pada wanita itu. Arsen benar benar tersiksa kali ini. Padahal hanya sekali mereka berhubungan dan efeknya sangat besar untuk Arsen.
Tiba tiba ponsel Arsen berbunyi. Segera lelaki itu menyambar ponselnya.
"Bos, kita sudah temukan wanita itu. Mereka berada disalah satu villa di puncak. Wanita itu bersama teman - temannya." Ucap lelaki disebrang sana.
"Kirimkan alamatnya sekarang. Aku juga mau kau mencari tau tentang wanita itu sedetail - detailnya." Ucap Arsen.
Sambungan telepon terputus.
Beberapa detik setelah terputus terdengar suara pesan singkat. Segera Arsen menyambar kunci mobilnya.
"Cancel jadwal meeting saya hari ini dan besok. Saya ada urusan" ucap Arsen pada sekertaris nya.
"tapi, sir " ucap menggantung wanita itu. Segera Arsen berjalan tanpa memperdulikan sekertaris nya.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Setelah beberapa jam akhirnya lelaki itu tiba disebuah Villa. Tidak terlalu besar tapi cukup bersih dan terawat.
Cuacanya mendung hari ini. Mungkin akan turun hujan. Cuacanya pun sangatlah dingin, padahal suhu udara asli pun sudah rendah ditambah suhu rendah akibat hujan. Arsen yang tidak membawa jasnya pun sedikit merasa kedinginan.
Arsen masih mengamati wanita itu dari jauh. Wanita itu mengenakan jaket yang lumayan tebal untuk menutupi tubuhnya dari suhu udara dingin.
Wanita itu sedang mengobrol bersama temannya sambil sesekali meminum sesuatu yang ada digelasnya.
Dengan keberanian Arsen segera turun dari mobilnya untuk menjemput wanita itu.
"Sen..." ucap Anisa tertahan ketika melihat Arsen berada disana.
"Gue lagi gak berhalusinasi kan?" Tanya Shafa.
"Gilaaak ganteng banget dia sekarang." Ucap Desta
"Lo dibagi spermanya dia? Cewek yang beruntung lo,sen." Ucap Ningrum.
Marita dan Nabila masih setia dengan melongo.
"Apa sih lo ngaco." Ucap Sena.
"Sena, gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucap Arsen dengan suara baritonenya.
Para teman Sena pun berbisik bisik. Segera Sena menyuruh mereka semua masuk ke dalam rumah. Dengan cepat pula mereka masuk.
Sena mendekati Arsen yang terlihat sedikit menggigil.
"Mau ngomong apa kak?" Tanya Sena. Arsen terkejut dengan panggilan Sena.
Tapi kemudian mengabaikannya.
"Ikut gue sekarang." Ucap Arsen tegas.
"Gak! Siapa lo nyuruh nyuruh gue." Ucap Sena dengan nada ketus.
"Pliss ikut gue,sen." Ucap Arsen dengan suara sedikit bergetar. Kemeja panjangnya tidak menolongnya dari suhu dingin disini.
Sena berbalik meninggalkan Arsen disana. Menghiraukan panggilan Arsen.
Tepat ketika Sena masuk, dia melihat temannya yang mengintip di jendela.
"Sen, mau apa dia?" Tanya Marita. Sena hanya mengangkat bahu acuh.
"Kasian deh, kayaknya dia kedinginan." Ucap nabilla.
"Pingin gue peluk gitu rasanya." Sena hanya memutar bola matanya.
Sena pun masuk ke dalam kamar. Wanita itu menangis sejadi jadinya.
Terdengar suara guyuran hujan yang sangat deras.
Sena terkejut, walau bagaimana pun dia tetap mencintai lelaki itu.
Sena segera berlari keluar dan melihat temannya masih setia dibalik jendela menonton Arsen.
"Sena.." panggil Anisa.
Sena segera membuka pintunya.
"Arsen pulamg sana, udaranya dingin. Nanti lo sakit." Ucap Sena.
"Gue mau pulang kalo lo ikut gue sekarang." Sena menggeleng lemah. Arsen melihat mata Sena yang sembab. Dia tau wanita itu masih mencintainya hingga detik ini.
"Terserah lo mau ikut gue atau enggak. Yang pasti gue bakal nunggu lo disini." Sena menghela nafas pasrah.
Walaupun Sena membenci lelaki itu, tapi jauh dilubuk hatinya masih ada cinta yang begitu besar untuk lelaki itu. Dia tidak mau lelaki itu sakit. Sena benar benar menyayangi lelaki itu.
Akhirnya Sena mengangguk.
"Gue ikut lo, tapi bentar gue ambil ponsel gue dulu." Ucap Sena.
Sena membuka pintu dan sudah ada Shafa yang siap dengan ponsel milik Sena.
"Sen, lo mau kemana?" Tanya Sena.
"Gue gak tega liat Arsen gitu. Gue pergi ya." Ucap Sena.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Kini mereka berdua berada didalam mobil Arsen. Tubuh Arsen sangat menggigil.
Sena masih setia dengan jaketnya, walaupun sedikit terkena hujan tetapi tubuhnya tidak semenggigil Arsen.
Sena melepas jaketnya kemudian menaruh jaket itu menutupi tubuh Arsen agar hangat.
"Sen, nanti lo kedinginan." Ucap Arsen.
Sena menggeleng.
Mereka tiba disebuah mansion. Sungguh sangat mewah mansion itu.
Arsen masuk duluan ke dalam mansion itu. Kemudian ada seseorang yang membuka pintu nya dari dalam.
Seorang wanita yang menggunakan baju seperti pelayan.
"Tuan.." panggil wanita itu.
"Siapkan kamar saya. Saya mau kamar saya rapi dalam dua puluh menit." Ucap Arsen.
Sena menatap kagum mansion ini. Begitu mewah dan elegant.
Arsen melepas jaket Sena kemudian menaruhnya di tubuh Sena.
"Tuan, kamar nyonya ini gimana?."tanya salah seorang asisten rumah tangga.
"Dia sekamar sama saya. Kalo sampe ada yang ngasih kunci kamar ke dia saya pecat." Pelayan itu pu bergidik ngeri.
"Sen, lo gak bisa kayak gini dong. Gue gak mau disini, anterin gue balik ke vila tadi."
Arsen mendekati Sena. Membungkam wanita itu dengan ciumannya
Sena merasakan benda kenyal dan lembab. Tetapi sangat dingin.
"Badan gue kayak gini gara gara lo, jadi lo yang harus tanggung jawab." Sena membeku mendengar ucapan Arsen.
Sejak tadi jantungnya berdetak cepat.
"Ikut gue." Ucap Arsen kemudian menarik pergelangan Sena kasar.
Sena meringis merasakan perih di pergelangan tangannya.
Mereka masuk di sebuah kamar yang sudah rapi.
Kamar itu bercat abu abu muda. Menampilkan kesan manly yang kentara.
"Gue mau lo tidur sama gue sekarang di ranjang ini." Sena bergetar. Dia takut sungguh.
"Sen, gue gak mau. Pliss pulangin gue sen." Ucap Sena sambil menangis.
Arsen yang melihat itu segera merengkuh wanita itu.
Bajunya yang basah membuat baju Sena ikutan basah.
"Aku gak bakal nyakitin kamu lagi seperti kemarin. Aku janji." Ucap Arsen.
Sena mengangguk. Rasanya begitu nyaman dan hangat. Walaupun baju Arsen basah begitu pula bajunya.
"Aku mandi dulu ya. Oh iya kamu minta sama bibi bajunya kak Selyna ya. Baju kamu basah." Ucap Arsen kemudian mengecup kening Sena.
Sena mengangguk. Segera Arsen membuka kancing kemejanya satu persatu dan melepasnya. Menampakan punggung kokoh tanpa baju yang selama ini membuat Sena jatuh cinta. Iya punggung itu yang membuat Sena jatuh cinta.
Tidak menuruti Arsen, Sena malah duduk di sofa. Tubuhnya sedikit terasa dingin.
Sena meniupkan udara di telapak tangannya agar terasa sedikit hangat.
Arsen keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggantung indah di pinggangnya.
Kemudian arsen melihat Sena sekilas.
Arsen mengeraskan rahangnya.
"Aku udah bilang kan buat kamu pinjem baju kak Selyna ke bibi." Ucap Arsen dengan nada tinggi.
Sena menundukan wajahnya. Kemudian Arsen mengangkat dagu Sena. Membuat Sena menatapnya. Arsen menempelkan bibirnya dibibir Sena. Bibir itu terasa dingin dan bergetar. Perlahan Arsen melumat bibir itu. Sena masih terdiam tidak membalas.
Arsen menjilat bibir Sena yang sedikit kebiruan karena kedinginan.
Arsen memeluk Sena lagi.
"Sen, jangan ngelakuin hal yang bikin aku jadi kayak cewek murahan gini." Ucap Sena ditengah pelukan mereka. Sena membalas pelukan Arsen. Bagaimanapun adanya, Sena mencintai Arsen. Cinta itu membuat siapapun menjadi lemah.
"Kamu gak murahan sayang." Ucap Arsen.
Lelaki itu menarik Sena pelan. Mambawa wanita itu ke dalam sebuah walk in closet yang besarnya hanya seperempat dari walk ini closet dirumahnya.
Sena kagum melihat walk in closet yang penuh dengan baju,sepatu,dasi dan semua barang barang Arsen.
Arsen melepaskan handuk itu. Kali ini Arsen benar benar telanjang.
Sena menutup matanya. Beberapa detik setelah menutup matanya, Sena merasakam sesuatu yang lembab berada dimatanya.
Sena terkejut pun tubuhnya hampir terjungkal kebrlakang. Jika saja Arsen tidak menangkap wanita itu. Bisa dipastikan wanita itu akan jatuh.
Sena membuka kedua matanya, dan yang dilihatnya adalah Arsen yang telah memakai baju lengkap.
Pipi Sena merona. Menatap mata Arsen adalah keinginan Sena dulu. Dan semuanya telah terwujud sekarang.
Arsen memberikan Sena sebuah kaos yang tentu saja akan kebesaran ditubuh Sena.
"Kalo kamu gak mau pake baju kak Selyna, kamu pake baju ini aja." Sena mengangguk kemudian segera berjalan ke kamar mandi.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Sena memegang dahi Arsen. Suhu tubuhnya benar benar tinggi.
Arsen masih memejamkan matanya, pusing di kepalanya membuatnya sulit membuka mata. Mungkin efek dari kehujanan tadi. Mengingat sejak siang dia tidak memakan apapun.
Sena berjalan keluar menuju dapur. Meminta air es dan baskom untuk mengkompres Arsen.
Asisten itu memberi Sena baskom dan waslap.
Sena menyibakan selimut Arsen. Mengingat jika seorang yang sedang demam dilarang menggunakan selimut. Lebih baik dipeluk.
Sena mengkompres dahi Arsen dan memeluknya. Arsen menenggelamkan wajahnya di d**a Sena. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Sena pun mengelus lembut kepala Arsen. Mencurahkan seluruh kasih sayang yang dia miliki untuk Arsen.
Sena mencium kening Arsen. Mengingat Arsen yang sedang tidur pulas, jadi dia meyakini lelaki itu tidak akan tau.
"Cepet sembuh ya, kak." Ucap Sena kemudian mencium kening Arsen lagi.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Mereka terbangun karena ada gangguan dari bunyi telpon Sena.
Sena melepas pelukannya perlahan dari tubuh Arsen. Sebelum benar benar melepas Sena memegang dahi Arsen. Suhu tubuhnya tidak setinggi tadi.
Sena mengambil ponselnya dan mengangkat telpon itu.
Terdengar suara tangisan dari seberang telpon.
"Mama kenapa ma?." Tanya Sena khawatir.
"Usaha papa sama mama kebakaran, sen." Ucap Mamanya sambil menangis.
"Kok bisa ma? Yaudah mama sabar dulu ya. Nanti Sena bantu." Ucap Sena.
"Semuanya udah habis Sena." Ucap Mamanya diseberang sana.
"Ma, Sena akan bantu mama."
"Biayanya sangat besar Sena." Ucap mamanya.
"Sena ada tabungan,ma." Ucap Sena.
"mama mau cari dulu surat surat penting yang masih tersisa ya." Ucap mamanya.
"Iya,ma. Mama tenang ya, berapapun jumlah uangnya Sena akan bantu mama." Ucap Sena.
Setelah sambungan telpon itu terputus sena luruh dari berdirinya. Kakinya terasa seperti jelly sekarang.
Arsen menangkap tubuh Sena sebelum sepenuhnya jatuh.
Sena menangis, bagaimana caranya dia mendapatkan uang. Bahkan jika mobilnya dijual pun tidam akan cukup.
"Aku Akan bantuin kamu. Berapa pun yang kamu butuhkan aku bakal kasih. Tapi aku mau kita nikah." Sena mendorong Arsen dan membuat pelukan itu terlepas.
"Gue gak akan nikah karena uang sen." Ucap Sena.
"Terserah lo aja mau terima atau enggak. Yang pasti gue bisa bantu lo dan keluarga lo." Ucap Arsen kemudian berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sena menangis lagi sejadi jadinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama dan papanya melihat usaha yang telah dirintis papanya habis terbakar.
Tapi dia tidak mau menerima tawaran Arsen. Dia tidak mau menikah dengan Arsen karena uang. Dia menginginkan sebuah pernikahan karena cinta. Dia mengetahui Arsen tidak mencintainya. Disini Sena merasakan cintanya sendiri yang hanya satu arah. Sejak dulu dan sampai kapanpun cinta itu akan tetap satu arah.
~ to be continue ~