Dua bulan lalu dirinya masih merasa keberatan ketika harus menjalani semuanya sendiri. Tak ada suami yang menemaninya. Bahkan beberapa hari sebelum kelahiran bayinya, Arsen juga belum kunjung datang. Membuat Sena benar-benar merasa sedih dan kecewa. Kini hal tersebut sudah tidak lagi terjadi. Dirinya dan Arsen sudah berada dibawah atap yang sama. Saling berpelukan diatas ranjang yang ukurannya hanya cukup untuk satu orang sebenarnya. Tapi, karena rindu yang benar-benar tidak bisa ditahan. Ranjang sempit tidak menjadi halangan. Tepat satu hari sebelum kelahirannya Arsen pulang. Seperti menanti kedatangan sang Papa. Bayinya meronta minta dikeluarkan setelah papanya sudah pulang. Membuat Sena benar-benar lega. Membayangkan melahirkan sendirian membuatnya miris. Tapi, ternyata hanya seba

