BAB 15

1501 Words
Seorang pria paruh baya bertubuh gempal tengah berdiri di depan pagar besi, menikmati udara bebas yang baru bisa dia hirup setelah 12 tahun. Pria itu disambut beberapa orang bertubuh tegap dengan setelan serba hitam. Salah satu yang berdiri paling dekat dengannya, menawarkan sebuah cerutu yang langsung disambut oleh si pria. Pria bertubuh gempal itu menyalakan cerutunya kemudian menghisapnya dengan rakus. Ia tampak puas dengan asap tebal yang mengepul di sekitarnya sembari sesekali tersenyum miring. Ditatapnya seorang pria bertubuh tegap di hadapannya, yang sejak tadi hanya memperhatikan tuannya. Pria itu mendekatkan diri sembari membungkukkan sedikit badannya sedikit ketika sang tuan seperti hendak berbicara sesuatu kepadanya. "Bagaimana kelinci kecil kita?" tanyanya lantas kembali menghisap cerutu di tangannya. "Masih kita awasi, Tuan." Pria bertubuh tegap itu menjawab dengan mantap. "Bagus." Kata pria bertubuh gempal puas, lantas memasuki sedan mewah yang telah terparkir di hadapannya. *** Rara terpesona hingga tidak bisa berkata-kata ketika memasuki rumah Satria. Gadis itu masih belum percaya ada rumah yang lebih pantas disebut mansion di kota ini. Rumah dua lantai bergaya eropa klasik berdiri megah di atas tanah luas yang di kelilingi tembok tinggi. Rara memang pernah sekali mendengar ada kawasan perumahan elit di pinggiran kota. Hanya saja, gadis itu tidak pernah berpikir akan memasuki salah satu di antara rumah itu. "Duduklah. Saya akan ganti baju dulu," ujar Satria yang dijawab Rara dengan anggukan kepala. Satria meninggalkan Rara yang masih berdiri kaku di posisinya. Satria tersenyum lantas meninggalkan Rara yang sepertinya masih enggan duduk. Satria menyukai sifat Rara yang polos itu. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kekaguman terhadap rumah orang tuanya ini. Tanpa menyuruh Rara untuk duduk lagi, Satria meninggalkan Rara yang masih betah mengelilingi ruang keluarga itu. Rara sungguh jatuh cinta dengan desain rumah itu. Gadis itu mengakui kejeniusan siapa pun yang berhasil membuat rumah seindah itu. Ruang keluarga itu penuh barang-barang antik dan klasik hingga membuat Rara tergoda untuk menikmatinya lebih dekat. Sebuah jam kayu besar berdiri dengan kokohnya di salah satu sudut ruangan, cukup menarik minat Rara. Di salah satu sisi lainnya juga terdapat cermin besar yang sepertinya sengaja diletakkan si pemilik rumah agar sebelum bepergian, mereka dapat mengoreksi penampilannya. "Silakan diminum, Nona." Seorang pelayan berpakaian formal meletakkan nampan berisi minuman dingin di meja tamu. Rara sedikit terkejut karena tidak biasa. Pembantu yang dipekerjakan mamanya di rumah tidak pernah berpakaian atau berbicara seformal itu. "Mas Satria bilang mau mandi dulu. Jadi agak lama." "Oh, tidak apa-apa. Saya akan menunggunya," jawab Rara ramah sembari menyunggingkan senyum manisnya. Pelayan itu pun pamit undur diri dan meninggalkan Rara seorang diri lagi. Rara masih terheran-heran dengan kehadiran pelayan tadi. Namun, pada akhirnya Rara menyerah untuk tidak memikirkannya lagi. Lagipula, itu bukan urusannya. Rara kembali berkeliling, mengamati benda-benda antik di ruangan itu. Tiba-tiba, Rara sangat tertarik dengan deretan foto-foto yang terpajang dengan rapi di rak dan meja kayu. Dia pun mendekatinya dan memperhatikan dengan saksama foto-foto yang terbingkai dengan apik itu. Senyum Rara tersungging ketika melihat foto-foto masa kecil Satria. Satria kecil sangat berbeda dengan yang sekarang. Satria yang ada di foto sangat suka tertawa lebar dan begitu bahagia. Perubahan Satria begitu terlihat setelah memasuki usia remaja. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba senyum Satria tidak sebebas dan sebahagia seperti sebelumnya. Rara masih memperhatikan deretan foto keluarga itu sampai perhatiannya benar-benar tertuju pada foto paling ujung yang jika tidak diperhatikan, foto itu tidak akan terlihat. Rara mengambil foto itu lantas memperhatikannya baik-baik. Berbeda dengan foto-foto yang lain, foto itu adalah gambar dua dimensi dua anak berusia sekitar 10 tahun yang tengah berangkulan dengan wajah yang sama. Awalnya Rara mengira itu adalah efek kamera yang memang dibuat seperti cermin, tetapi setelah diperhatikan dengan lebih teliti, mereka adalah dua anak yang berbeda. "Maaf lama," ujar Satria tiba-tiba yang membuat Rara hampir menjatuhkan foto di tangannya. Satria terlihat sudah segar dengan rambut yang setengah basah. Kaos putih polos serta celana jin abu-abu membuat penampilan Satria sedikit berbeda. Selama ini Rara selalu melihat Satria dengan seragamnya yang kurang rapi. Namun, melihat penampilan Satria sekarang, sepertinya harus Rara akui bahwa Satria memang tampan dan menarik. "Tidak masalah kok," jawab Rara sebiasa mungkin sambil meletakkan kembali foto yang tadi diambilnya. Rara yakin Satria memperhatikan gerakan tangannya. Namun, entah kenapa Satria tidak mempermasalahkan hal itu. Seperti tak terjadi apa-apa, Satria kembali menarik tangan Rara. "Saya ingin menunjukkan sesuatu." "Heh?" Rara sepertinya lupa tujuannya datang ke rumah Satria. "Kamu butuh referensi, kan? Ibu saya memiliki banyak buku tentang musik. Ayo!" Satria menarik lengan Rara yang tidak terikat arm sling tanpa memedulikan sedikit protes dari Rara. Rara pasrah mengikuti Satria. Satria membawanya ke sebuah bangunan kecil yang terpisah dari bangunan utama rumahnya. Bangunan ini berkonsep sama dengan bangunan utama. Hanya saja, bangunan kecil ini sepertinya memang sengaja dipisahkan dari bangunan utama. Satria mempersilakan Rara memasuki bangunan kecil itu. Rara kembali terkesan dengan interior yang sangat indah ditambah dengan deretan buku yang memenuhi rak dinding serta sebuah piano klasik tepat di tengah-tengah ruangan. Sebagian besar perabot di ruangan itu tertutup kain putih membuat Rara bertanya-tanya. Dia terdiam membiarkan pikirannya bergejolak memproses semua yang terjadi di hadapannya hingga suara Satria kembali menyadarkannya. "Duduklah!" ujar Satria yang entah sejak kapan sudah berpindah di dekat deretan rak buku. Rara mengerutkan dahinya karena satu-satunya tempat duduk yang tidak tertutup kain putih adalah kursi piano di hadapannya. Satria tersenyum melihat kebingungan Rara. "Duduklah di situ. Saya tidak akan memaksa kamu bermain piano." Rara hanya menuruti perintah Satria. Ia duduk di kursi piano yang lumayan nyaman itu meski awalnya ragu. Rara kembali mengedarkan pandangannya. Ruangan ini lebih seperti galeri seni yang nyaman jika lebih diperhatikan dan dirawat. Kain-kain putih itu terus terang sangat menganggu Rara. "Buku apa yang kamu cari, Ra?" tanya Satria tanpa mengalihkan perhatiannya dari rak buku. "Mozart? Beethoven?" "Beethoven," jawab Rara lantang. Rara melihat Satria yang nampak mengambil beberapa buku dari rak dan terlihat kepayahan membawanya. Melihat itu, Rara merasa tidak enak hati. Satria terlalu baik kepadanya. "Biar kubantu," ujar Rara yang sudah berjalan mendekati Satria. "Tidak usah. Biar saya saja," jawab Satria lembut disertai senyum manisnya seperti biasa. "Aku merasa terlalu banyak merepotkanmu." Gadis bersurai panjang itu terlihat kecewa. Satria meletakkan buku-buku yang ia bawa tadi di kursi piano. Pria bermanik kecokelatan itu menatap Rara yang tengah mematung di dekatnya dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia pun meraih jemari Rara, kemudian meremasnya lembut. Mendapat perlakukan seperti itu, Rara memberanikan diri menatap pria di hadapannya. Satria memberikan senyuman terbaiknya kepada Rara yang justru membuat mata gadis itu berkaca-kaca. "Saya tidak pernah merasa direpotkan," ujar Satria lembut. "Justru saya ingin kamu hanya bergantung kepada saya." Rara menatap ke dalam manik cokelat itu, mencari kebohongan di dalamnya. Namun, Rara hanya menemukan ketulusan yang semakin membuatnya tidak enak hati. "Kenapa?" Alis Satria hampir bertaut, tetapi sejurus kemudian dia paham maksud pertanyaan Rara. Ia pun tersenyum lantas mengeratkan genggaman tangannya. "Karena saya peduli." Rara mengerutkan dahinya mendengar jawaban Satria. Melihat kebingungan yang tercetak jelas di wajah Rara, Satria tersenyum lembut. "Hati saya telah terperangkap sejak pertemuan pertama kita. Tidakkah kamu merasakannya?" Satria menarik tautan jemarinya dengan Rara ke d**a sebelah kiri. "Jantung ini berdetak sangat cepat ketika bersamamu." Rara menarik tangannya dengan cepat. Dia sangat terkejut dengan pengakuan pria yang selama ini dianggap sebagai sahabat itu. "Maaf, jika ucapan saya membuatmu tidak nyaman," ujar Satria. "Saya hanya tidak mau kamu terus merasa merepotkan saya. Justru saya dengan senang hati melakukan semua ini demi kamu." "Bukankah aku terlihat seperti orang jahat?" ujar Rara dengan suara tercekat seperti menahan tangis. "Aku ... selama ini ... kita ...." Rara tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Tangis mulai menguasai dirinya. Rara tidak tahu kenapa akhir-akhir ini lebih sering menangis dan menunjukkannya kepada orang lain. Hatinya sungguh sesak. Satria merengkuh Rara ke dalam pelukannya. Gadis itu tidak menolak. Justru dia semakin membenamkan kepalanya di d**a Satria. Hati Satria sakit mendengar tangisan Rara. Dia merasa telah gagal melindungi gadis pujaannya itu. "Tolong jangan menangis," mohon Satria lirih sembari mengeratkan pelukannya. Pria bersurai hitam itu kini hanya bisa menunggu hingga semua keresahan hati gadisnya mereda. Rara melepas pelukannya setelah berhasil menguasai diri. Meski tangisnya sudah reda, wajah sembab gadis itu tidak bisa berbohong betapa deras air matanya tadi. "Terima kasih," ujar Rara lirih. Satria menjawabnya dengan senyuman kemudian mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Rara. "Anytime." "Sudah hampir malam. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi." Rara tiba-tiba teringat ceramah gratis yang diterimanya kemarin karena pulang terlambat. Satria tersenyum kemudian beralih pada buku yang masih tertumpuk rapi di kursi piano. "Kamu mau bawa berapa?" Rara mengalihkan pandangannya ke tumpukan buku. Tangannya yang bebas terlihat memilih beberapa buku untuk dipinjamnya. "Aku rasa ini cukup," ujar Rara setelah puas memisahkan buku-buku itu menjadi dua tumpukan. Satria mengambil tumpukan yang lebih rendah untuk Rara. "Saya akan mengantarmu pulang," ujar Satria yang langsung memimpin langkah keluar dari ruang piano. Rara mengikuti Satria hingga kembali lagi ke ruang keluarga yang tadi. Satria meletakkan tumpukan buku yang dibawanya di meja tengah "Tunggu sebentar. Saya akan mengambil tas agar lebih mudah membawa ini," ujar Satria yang dibalas dengan anggukan kepala Rara. Satria meninggalkan Rara sendirian. Gadis bersurai panjang itu menghenyakkan diri di sofa untuk melepas penat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD