BAB 15(b)

1008 Words
"Selamat sore." Seorang wanita cantik yang Rara taksir seusia mamanya tiba-tiba berdiri di hadapannya. Wanita itu tersenyum lembut hingga Rara membalas senyuman itu tanpa sadar. Wanita anggun dengan dress putih selutut sederhana, wajahnya terlihat memesona dengan dandanan natural, dan sikapnya sungguh lembut membuat Rara terkagum-kagum. "Selamat sore," jawab Rara yang akhirnya bisa mengendalikan diri. Wanita cantik itu duduk di sofa tunggal berhadapan dengan Rara. "Temannya Satria?" tanya wanita itu dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir cantiknya. "I—ya, Tante," jawab Rara ragu. "Jangan sungkan dengan saya," ujar wanita itu menenangkan. "Saya ibunya Satria." "Saya Rara, teman sekolah Satria." Senyum ibu Satria semakin lebar. "Saya senang akhirnya anak itu mau membuka diri. Sebenarnya saya sempat khawatir jika Satria akan kembali berulah di sekolah barunya. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Apalagi sekarang dia berteman dengan gadis semanis kamu." Wajah Rara merona mendengar pujian itu. Ia tidak menyangka jika ibunya Satria akan seramah ini kepadanya. "Ibu sudah pulang?" Satria menyapa sang ibu ketika melihat wanita itu duduk di sofa ruang keluarga. "Tidak biasanya ibu pulang jam segini." Bukannya menjawab pertanyaan Satria, wanita paruh baya itu berdiri lantas memeluk putra yang tingginya melebihi dirinya. "Selamat sore, Sayang," ujar ibu Satria setelah memeluk putranya. "Sudah makan?" tanya ibunya Satria sembari menatap Rara dan putranya bergantian. Ibu Satria terlihat sedih ketika Rara menggelengkan kepalanya. "Ibu memasak untuk kalian dulu, ya." "Tidak usah, Tante," tolak Rara cepat. "Kebetulan saya mau pulang. Sudah hampir malam." "Kenapa cepat sekali?" Ibu Satria terlihat kecewa. "Rara sudah di sini sejak pulang sekolah. Satria harus mengantarnya pulang sebelum malam jika tidak ingin mendapat masalah," ujar Satria mencoba menjelaskan. Terdengar helaan napas berat dari ibunya Satria. "Ya sudah. Sebaiknya kamu cepat mengantar Rara pulang. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujar ibu Satria yang akhirnya mengalah. "Tapi, kapan-kapan ajak Rara main lagi ke rumah, ya. Ibu janji akan memasakkan sesuatu yang spesial." Rara mengangguk untuk sembari menyunggingkan senyum yang lansung membuat wanita paruh baya di hadapannya itu puas dan lega. Meski baru kenal, Rara menyukai ibu Satria karena keramahannya. Rara merasa nyaman dekat dengan wanita cantik itu layaknya ibu sendiri. Setelah berpamitan sekali lagi dengan ibu Satria di depan pintu masuk utama, Rara mengekor Satria menuju mobil yang akan mengantarnya pulang. *** Rizky berlari menuju Satria dengan wajah memerah karena marah. Pria berlesung pipi yang biasanya terlihat lembut dan ramah itu tiba-tiba terlihat begitu menyeramkan. Rara yang melihat gelagat aneh kakak pertamanya itu langsung berdiri tepat di depan Satria. Rizky baru saja mau melayangkan tinjunya kepada Satria, jika saja Rara tidak mencegahnya dengan cara nekat seperti itu. "Kak ...," Rara memanggil Rizky lirih dengan mata berkaca-kaca. Rizky yang sudah tersulut emosi nampaknya tidak terpengaruh. Tatapannya tetap tajam tepat kepada Satria. "Minggir, Ra. Kakak mau kasih pelajaran kepada laki-laki b******k ini!" "Satria enggak seperti itu, Kak," bujuk Rara. "Dia berani mengajak seorang gadis keluar hingga pulang malam. Laki-laki seperti itu adalah laki-laki b******k!" Rizky meninggikan suaranya hingga membuat orang rumah keluar untuk melihat keributan yang terjadi. Rara sudah tidak bisa menahan air matanya. "Kakak enggak percaya sama Rara? Kak Rizky berpikir jika Rara melakukan hal-hal yang memalukan? Bagaimana bisa?" Rizky menyadari kesalahannya. Ia hendak merengkuh adiknya itu ke dalam pelukan tetapi tangannya ditepis Rara. Adiknya itu lantas berbalik menatap Satria yang masih terdiam di tempatnya tanpa membela diri atau mencampuri perseteruan Rara dengan kakaknya. "Pulanglah," ujar Rara sembari tersenyum meski wajahnya telah basah oleh air mata. "Terima kasih atas bantuannya. Aku akan mengembalikannya setelah selesai." Satria menyerahkan tas berisi buku musik yang tadi dibawanya dari rumah. Pria bersurai hitam itu mengangguk kemudian memasuki mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rara beralih menatap tajam kakaknya. "Sekarang Kak Rizky puas? Karena tuduhan tak beralasan Kak Rizky, Rara akan kehilangan seorang teman yang benar-benar mengerti Rara." Rara melewati Rizky, mamanya, dan Laila yang hanya terdiam di posisinya. Pada akhirnya mereka segera memasuki rumah, menyusul Rara yang masih diselimuti emosi. "Rara," panggil mamanya dari ruang keluarga. Rara yang merasa dipanggil menghentikan langkahnya di anak tangga kedua. Gadis itu lantas berbalik menghadap mamanya yang kini juga berurai air mata. Di belakang mamanya, Rara melihat adik dan kakaknya terdiam dengan wajah sendu. "Bolehkah Mama bicara sebentar?" ujar Mama sembari menyusut air matanya dengan tangan. Rara diam, tidak menolak maupun mengiyakan. Gadis itu hanya menatap datar mamanya. "Kamu pergi ke rumah Satria?" tanya Mama hati-hati yang dijawab Rara dengan anggukan kepala. "Sudah makan?" tanya Mama lagi yang kali ini dijawab dengan gelengan kepala oleh Rara. Mama terdengar mendesah pelan. "Sekarang makan, ya. Sama Mama." "Rara tidak lapar, Ma. Mau langsung tidur saja," jawab Rara lirih lantas berbalik memunggungi mamanya. "Nanti kamu sakit, Ra," ujar Mama sendu. Rara menghentikan langkahnya kemudian memejamkan mata sejenak. Perhatian yang seperti inilah yang paling Rara benci. Keluarganya terlalu berlebihan terhadapnya. Rara merasa tertekan dengan sikap keluarganya ini. Sekali lagi, Rara menatap mata-mata cemas di hadapannya. "Mama tenang saja. Rara tidak akan sakit meski tidak makan sekali," jawab Rara datar. "Kalau pun Rara sakit, Rara akan menanggungnya sendiri. Rara akan bertanggung jawab atas semua pilihan dan keputusan Rara. Mama tenang saja, karena Rara tidak akan menyalahkan siapa pun." Rara meninggalkan mamamya, Rizky, dan Laila yang tampak tidak setuju dengan ucapan Rara dengan deraian air mata. Gadis itu tidak peduli dengan panggilan mamanya yang terdengar pilu. Rara butuh menenangkan diri dan mereka yang ada di sana pun begitu. Rizky memeluk mamanya dari belakang. Dia bisa merasakan bahu mamanya bergetar. Sudah lama Rizky tak melihat mamanya itu menangis. Entah kenapa hati Rizky terasa begitu sakit mendengar isakan yang begitu pilu. "Apa yang harus Mama lakukan?" ujar Mama di sela isaknya. "Biarkan saja dulu, Ma," jawab Rizky lembut mencoba menenangkan. Rizky merasakan mamanya menggelengkan kepala lantas berbalik untuk menatapnya. Mata yang telah basah oleh air mata itu terlihat sayu. "Ma ...." "Dia kembali, Rizky. Orang itu kembali. Apa yang harus Mama lakukan?" Tenggorokan Rizky tercekat. Ia terdiam, kepalanya berusaha mencerna apa yang baru saja mamanya ucapkan. Meski otaknya sudah dapat memproses semuanya, Rizky tidak mau mengambil kesimpulan yang salah. Mungkin saja mamanya yang salah. Ia hanya ingin memastikan kebenarannya. "Siapa, Ma? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD