BAB 15(c)

1055 Words
Satria memasuki rumahnya dengan raut datar seperti biasa. Sapaan dari beberapa pekerja di rumahnya pun ia abaikan dan terus saja berjalan masuk ke kamarnya. Namun, langkah Satria terhenti oleh suara lembut sang ibu yang memanggilnya dari ruang makan. "Sudah pulang? Tadi ketemu orang tua Rara tidak? Apa mereka marah karena kamu telat mengantarnya pulang?" Rentetan pertanyaan sang ibu tak membuat Satria tertarik. Pemuda itu masih saja mempertahankan raut datarnya, seolah memang tidak perlu untuk terlalu banyak berekspresi. "Tadi hanya ketemu kakaknya Rara," jawab Satria singkat. Raut sang ibu berubah cemas. Wanita cantik itu meninggalkan kesibukannya menata meja makan, kemudian berjalan mendekati Satria. Ia tahu jika telah terjadi sesuatu saat mengantar gadis tadi pulang. Kinan sangat tahu sifat putranya itu. Tanpa peringatan, Kinan langsung merengkuh Satria ke dalam pelukannya. "Ada Ibu di sini. Tidak usah cemas, hm." Diusapnya lembut punggung koko sang putra. Ia tahu jika Satria adalah anak yang sensitif. Raut kecewa jelas terpampang di wajahnya. Kinan yakin, rasa yang dimiliki putranya itu, masih belum berbalas. Kinan melepaskan pelukannya, lantas tersenyum lembut. "Bersihkan dirimu dulu. Ibu akan menunggumu di meja makan. Kita makan malam bersama." "Ayah?" Kinan paham maksud pertanyaan Satria. Sejak dulu, hubungan Satria dengan ayahnya memang tidak baik. Namun, ia berusaha membuat keduanya senyaman mungkin tanpa harus memaksakan kehendak. Wanita cantik itu pun menyunggingkan senyum. "Sepertinya pulang telat," ujarnya ringan. "Ibu tidak mau makan malam sendirian." Setelah mendapat anggukan dari Satria, Kinan membiarkan putranya itu pergi ke kamarnya. Wanita paruh baya yang masih cantik meski usianya di awal 40 tahunan itu menghela napas panjang, lantas membuangnya asal. Keadaan keluarganya memang tidak pernah baik-baik saja sejak dulu. Namun, Kinan tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah bertahan. Cukup bertahan dengan semua kepelikan yang terjadi, bersabar dengan semua yang ada. Satria adalah satu-satunya kekuatan yang sanggup membuatnya bertahan. Kinan akan benar-benar gila jika tidak ada Satria. Wanita cantik itu duduk di salah satu kursi makan. Pandangannya kosong di depan meja makan yang sudah terhidang beberapa makanan kesukaan keluarganya. Meski ia tahu makanan itu akan berakhir untuk para pekerjanya di rumah atau lebih buruknya di tempat sampah, Kinan tidak pernah bosan menyiapkan makan malam seperti ini. Sebagai wanita karir yang sibuk mengurus sebuah butik mewah di pusat kota, Kinan selalu menyempatkan diri pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam. Keyakinannya tidak pernah berubah. Suatu saat, keluarganya pasti akan kembali seperti semula, dengan canda, tawa, dan kehangatan. Pandangannya beralih pada salah satu foto keluarga yang terletak tak jauh dari ruang makan. "Ibu tidak salah karena melakukan semua ini, kan, Nak? Andai saja kamu masih di sini, menamani kami, ruamh ini tidak akan terasa sedingin seperti sekarang." *** "Aditya Darmawan sama sekali tidak berubah meski tujuh belas tahun terkurung di tempat terkutuk itu." Senyum sinis terbit dari bibir seorang pria paruh baya dengan tatanan rambut klimisnya. Garis wajahnya menunjukkan kesan tegas yang otoriter dan tidak bisa dibantah. Tatapan matanya tajam seperti seekor elang yang selalu waspada mengamati mangsanya. Pria bertubuh gempal yang dipanggil Adit itu tertawa. Ia sudah terbiasa mendengar ucapan sinis pria di hadapannya itu. "b*****h b******k! Dua belas tahun ini aku tidak melihat batang hidungmu menjengukku di sana." Meski dipanggil kasar, pria paruh baya berpenampilan necis itu tersenyum sinis. Ia sudah terbiasa dengan sikap kasar mantan rekannya itu. "Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa membahayakan keluarga kecilku." Adit tertawa sumbang. "Yudhistira Aji memang pecundang sejati sejak dulu. Tapi, dia cukup berguna juga." "Tentu saja," ujar Yudhis angkuh. "Jika saat itu aku terseret, bisnismu tidak akan bertahan hingga sekarang." Adit kembali tertawa seraya menuangkan wiski ke dalam dua gelas. Ia sodorkan salah satu gelas itu kepada Yudhis dengan senyum penuh kepuasan. "Ah ... andai saja yang menjadi adikku adalah dirimu, hidupku pasti berjalan sangat mudah," ujarnya setelah Yudhis menerima gelas wiski darinya. Yudhis tersenyum miring, lantas menyesap wiski pemberian Adit. Rasa manis dan pahit langsung menyapa lidahnya begitu minuman keras itu ia sesap. Ada sedikit kepuasan tersendiri bisa menikmati minuman ini bersama seorang sahabat lama. Meski b******n, Adit adalah orang paling loyal dan royal yang pernah Yudhis kenal. Ia bisa berada pada posisi saat ini, semua berkat bantuan seorang Aditya Darmawan. "Bagaimana dengan keponakanmu? Ada rencana untuk menyingkirkannya juga?" Adit menyesap wiskinya, lantas menatap Yudhis dengan senyum miring di bibirnya. "Kelinci kecil itu sama sekali bukan ancaman. Hanya saja, si Gio b******k itu selalu mencari celah untuk mengembalikanku ke penjara." "Keluarga mereka sangat bersih. Aku tidak bisa mengusiknya." Yudhis terlihat bersalah karena mengucapkan sesuatu yang pasti membuat sahabatnya itu kecewa. "Kita bisa sedikit bersabar. Jika setuju, kita menggunakan keponakanmu untuk memancing keluarga itu." Adit menaikkan alisnya. Otaknya berpikir keras karena saran Yudhis. Akhirnya, pria bertubuh gempal itu kembali tertawa puas. "Pengacara terkenal sekelas Yudhistira Aji memang hebat. Idenya selalu membuatku terkagum-kagus sampai sekarang." "Tentu saja," ujar Yudhis bangga. "Dan aku berharap, kali ini aku bisa mempercayaimu agar jangan terlalu gegabah dan melakukan hal-hal bodoh seperti dulu. Kita akan melakukannya dengan rapi. jadi, bersabarlah." Adit tidak menjawab ucapan Yudhis. Pria bertubuh gempal itu hanya tersenyum miring, lantas menyesap wiski di gelasnya yang tinggal separuh. Suasana hatinya sedang baik. Ia tidak akan membantah semua ucapan dan saran sahabat lamanya itu. *** "Kenapa akhir-akhir ini sering pulang malam? Apakah ada kasus besar baru?" Kinan langsung memberondong suaminya dengan pertanyaan begitu melihat sosok pria yang dinikahinya dua puluh tahun lalu itu memasuki ruang keluarga. Wanita cantik itu memang sengaja menunggu sang suami pulang meski harus menahan kantuk. Meski bisa mengurus semua pekerjaan rumah tangga sendiri, Kinan tetap membutuhkan kehadiran sang suami untuk melengkapi perjuangannya mempertahankan rumah tangga yang memang sudah rusak sejak lama itu. "Kenapa belum tidur? Lain kali, tidur saja. Jangan menungguku." Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Yudhis malah mengalihkan pembicaraan. Tanpa aba-aba dan persetujuan Yudhis, Kinan memeluk sang suami dari belakang. Wanita itu menyandarkan kepala di punggung tegap sang suami dan menghirup aroma cendana yang khas dari tubuh Yudhis. "Bukankah kita sudah pernah berjanji untuk memperbaiki keluarga ini? Tolong bantu aku. Sekali saja. Aku benar-benar sangat mencintai kalian. Hanya ada dirimu dan Satria di dalam hidupku." Yudhis mengehala napas dalam. Ia bisa merasakan punggungnya mulai basah. Wanitanya itu mulai menangis meski tanpa isakan. Jujur saja, ia sangat mencintai istrinya itu. Namun, ia selalu merasa bersalah saat melihat wajah istri dan putranya itu. Kehilangan mengajarkannya banyak hal. Yudhis masih menyalahkan dirinya atas semua kesedihan dan kemalangan yang menimpa keluarga kecilnya. "Aku sedang berusaha memperbaiki semua. Bersabarlah ...." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD