Seperti pagi-pagi sebelumnya, Aara berjalan menuju ruang tamu sembari memasang telinga, mengecek apakah ada suara-suara Harist terdengar. Karena laki-laki itu tidak pernah terduga. “Harist, lagi ada urusan. Jadi nggak bisa berangkat bareng.” Ucap seseorang dari belakang tubuh Aara, dan membuatnya terkejut. “Mbaaak, kok mbak tau?” tanya Aara, padahal dia sendiri yang menjuluki kakaknya itu lebih pengertian pada Harist, daripada dirinya sebagai teman. “Kamu nyariin yaaaa?” goda kakaknya. “Apasiih.” Aara melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba berhenti ketika ditahan oleh kakaknya. “Apa Mbak?” “Mbak tau, kemarin perempuan itu pacarnya Harist kan? Dan dia nyamperin kamu.” Ucap kakaknya. “Dia ngomong apa aja sama kamu?” “Nggak ada kok, Mbak. Cuma ngobrol biasa.” “Ohh, mbak kira dia ngom

