“Mbak, ada gamis atau baju bagus nggak?” Aara bingung harus pakai baju apa untuk datang di acara syukurannya Harist.
“Buat apa? Lah biasanya kamu punya banyak.” Jawab kakaknya.
“Bukan gitu,” Kenapa Aara merasa dirinya sudah insecure duluan. Ayolah hal itu wajar, dia harus datang ke acara bosnya, dan belum ada persiapan apapun. “Ah sudahlah.” Dia juga tidak mau menceritakan hal itu pada kakaknya, malah akan banyak pertanyaan yang dicecarkan padanya.
Aara pun kembali ke kamarnya, dia mengambil ponsel dan hendak mengabari Harist, meminta maaf bahwa dia tidak bisa datang ke undangannya. Datang atau tidak, sepertinya tidak berpengaruh apapun, pikir Aara.
“Raaa… ada pak Harist datang.” Kakaknya Aara segera menuju kamar perempuan itu.
Sedangkan Aara yang masih mencoba mengirim pesan pada Harist terhenyak kaget. “Serius mbak?”
Kakaknya pun mengangguk dengan pasti, “Kalian mau pergi?” perempuan itu sudah memasang wajah penuh curiga. “Jangan-jangan kalian…”
“Apa sih mbak, ndaaak.” Aara segera keluar dari kamar menuju ruang tamu, syukurnya ibu perempuan itu tidak ada di rumah, kalau tidak dia akan menghadapi dua orang yang sama hebohnya Ketika Harist datang.
Dan benar, Harist sudah duduk di kursi dengan mengenakan kemeja berwarna putih, terlihat semakin bercahaya itu orang, membuat Aara merasa ada yang aneh dengan hatinya.
“Kamu masih belum prepare?” tanya laki-laki itu melihat Aara masih mengenakan baju tidur dan kerudung yang tidak beraturan. “Aku kesini untuk menjemputmu.”
Mendengar pertanyaan itu, Aara memperhatikan penampilannya, dirinya memang benar-benar buluk. Digaruknya tengkuk yang tidak gatal, mencari alasan untuk menolak ajakan laki-laki itu. Tapi semakin terhimpit, semakin tidak bisa berpikir.
“Ngggh, aku sedikit tidak enak badan, maaf sepertinya aku tidak bisa datang.” Aara tidak tau harus membuat alasan apa.
Tanpa aba-aba Harist berdiri dan telapak tangannya menuju kening Aara, mengecek suhu tubuh perempuan itu. “Tidak panas, sakit apa memangnya?”
Dasaaaaar! Aara mengutuk dirinya sendiri, bisa-bisanya dia beralasan sedang sakit, bagaimana kalau itu terjadi sungguhan? Tapi ya bagaimana lagi, sudah terlanjur.
“Tadinya sedikit demam, ternyata sekarang sudah tidak ya..” Jawabnya setelah memeras otak, mencari alasan yang logis.
Harist hanya melempar tatapan yang aneh, seolah bingung dengan tingkah laku Aara. “Yasudah segera siap-siap, aku tunggu.” Dia kembali duduk, sudah siap untuk menunggu perempuan didepannya berganti baju.
Namun bukannya segera bersiap seperti yang diminta Harist, Aara malah tetap berdiri dan memperhatikan laki-laki itu.
“Kenapa?” Harist melihat Aara lagi. “Pakailah baju yang menurutmu cocok. Itu tidak masalah.” Seolah tau apa yang menjadi permasalahan perempuan itu, Harist berkata dengan lembut meyakinkannya bahwa pakaian bukanlah masalah besar untuk datang ke rumahnya.
Aara mengangguk, kemudian menuju kamarnya yang sudah ada kakaknya disana. Perempuan itu melihat adiknya dengan sangat bahagia, dia membantu mencarikan baju yang cocok dan memadu-padankan dengan warna kerudung yang pas.
Tidak lama kemudian, Aara sudah selesai bersiap-siap dan menuju Harist yang pasti sudah lama menunggunya.
“Maaf menunggu.” Aara muncul dengan gamis berwarna silver dan kerudung abu-abu tua, membuat Harist refleks tersenyum.
“Tidak apa. Mana kakakmu?”
“Iya iya, ada apa?” Kakaknya pun langsung muncul dibelakang tubuh Aara. Apa perempuan itu sudah bersiap-siap dipanggil ya?
“Saya mau ajak Aara untuk datang ke acara syukuran di rumah, boleh ya mbak?” tanya Harist.
“Boleh boleh, nanti saya sampaikan ke ibu ya. Tolong dijaga Aara nya Pak.” Ucap kakaknya Aara, yang tau keresahan adiknya saat itu.
“Tentu, oh ya panggil saya Harist saja mbak.” Ucap Harist yang merasa canggung karena panggilannya.
“Mmm, yaudah kita berangkat sekarang. Assalamualaikum mbak.” Aara mengalihkan pembicaraan itu, takut kakaknya menaruh harapan pada Harist yang sangat baik dan peduli dengan keluarganya.
Aara sudah berjalan duluan dan diikuti Harist dari belakang.
“Aku belum selesai mengobrol dengan kakakmu.” Gerutu Harist yang tidak mendapat balasan apapun.
Aara tidak tau bagaimana cara memberitahu laki-laki itu, dia hanya tidak ingin kebaikan dan kepedulian Harist menjadi kesalahpahaman dikeluarganya. Dalam keadaan saat ini, desakan untuk cepat menikah membuat perempuan itu takut kakak dan ibunya menaruh harapan lebih pada Harist yang sebenarnya tidak bermaksud apa-apa.
Setelah berada didalam mobil, dari ekor matanya Aara melihat Harist sedang memperhatikannya. “Pak,” perempuan itu menoleh ke arah Harist dan membuat laki-laki itu sedikit gelagapan. “Sebaiknya kamu jangan sering-sering datang kerumah.”
“Kenapa? Tetanggamu lagi?” tanya Harist melihat keluar mobil dan mendapati para tetangga sedang berbisik-bisik sembari melihat mobil Harist yang melaju.
“Bukan, tapi keluargaku.” Jawabnya.
“Kenapa dengan mereka?” tanya Harist.
“Aku takut mereka menyukaimu.”
“Bagus doong, artinya aku dibolehin berteman denganmu.” Jawab Harist dengan mudah, yang tiba-tiba membuat Aara merasa ada yang nyeri dihatinya.
Jawaban Harist barusan harusnya sudah menjadi batas untuk hatinya agar tidak kelewatan.
“Kamu tau kan aku sudah sering ditanya mana calonku, aku tidak mau dengan kebaikanmu mereka salah paham. Aku takut mereka berharap kamu…” Ucap Aara yang tidak bisa meneruskan ucapannya.
“Ya, aku paham.” Ucap Harist.
Lalu hening. Setelah ucapan Aara itu, rasanya didalam mobil sangat canggung dan mereka cuma diam dengan pikiran masing-masing.
***
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Harist, seperti ekspektasi Aara, rumah itu benar-benar besar dan megah, ada beberapa mobil yang terparkir disana.
“Ayo turun,” Ucap Harist setelah cukup lama diam.
Setelah mereka turun dan mulai memasuki rumah tersebut, Aara merasa takut, keringat dingin pun bercucuran seolah sedang presentasi hasil kerja. Namun tiba-tiba benda hangat menggenggam tangannya. Harist menatap perempuan itu dengan penuh keteduhan.
“Tidak apa-apa.” Laki-laki itu meyakinkannya.
Seseorang menyambut mereka, wanita paruh baya dan pria yang berada di kursi roda. Aara tau betul siapa pria tersebut.
“Pak Rendy, bagaimana keadaan bapak?” Aara merasa baru saja beberapa hari lalu melihat pria itu masih berdiri tegap dan bugar, sekarang ia duduk di kursi roda dan terlihat belum sehat betul.
“Alhamdulillah, sudah baikan.” Jawab pria yang menjadi atasannya itu. “Jadi perempuan yang dijemput Harist itu kamu, Aara.” Ucapnya sembari melirik kearah Harist.
“Jadi kamu yang buat Harist sekarang sedikit receh.” Sahut wanita itu dengan tersenyum menggoda.
Aara pun tersenyum, “Receh bu?” bagaimana mungkin dia bisa merubah laki-laki itu menjadi receh.
“Iya…”
“Raa, ayo kita temui Alvyan.” Harist menarik tangan Aara untuk ikut dengannya, dia tidak mau dirinya di bully oleh orang tuanya sendiri didepan Aara.
“Eh ya, saya permisi dulu Pak, Bu.” Aara berpamitan pada kedua orang tua Harist yang dia kira akan sangat menakutkan dan perfeksionis, karena melihat Pak Rendy saat diperusahaan seperti itu sikapnya. Tapi ternyata tidak.
“Kamu sekarang tau kan, keluargaku tidak semenakutkan itu.” Ucap Harist masih terus menggandeng Aara untuk menuju seorang laki-laki yang baru datang.
“Aku kira mereka sepertimu.” Jawab Aara.
“Apa?” Harist sedikit terhenyak oleh jawaban Aara. Namun belum juga selesai bicara, Alvyan sudah datang menghampiri.
“Loh Aara, bukannya kamu lembur hari ini? Yang pertama kali diajak bicara oleh Alvyan adalah Aara, membuat Harist mendengus kesal.
“Bisa tidak, bicara dengan gue dulu.” Sela Harist, sehingga membuat Alvyan mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya tersebut.
“Lo boongin gue ya. Bukannya Aara sedang lembur?”
Aara benar-benar terkejut, Harist bisa bersikap sesantai itu dengan Alvyan. Jadi sebenarnya Harist itu orangnya bagaimana? Awal bertemu dia seperti laki-laki yang anti social dan tidak bisa bergaul, tapi setelah melihat percakapannya dengan sahabatnya tersebut mematahkan alibi Aara. Lalu apa maksud dari ucapan ibunya yang mengatakan bahwa berkat Aara, Harist bisa sedikit receh?
Ini semakin membingungkan. Aara tidak bisa menebak orang seperti apa laki-laki diampingnya itu.