Aara berangkat kerja dipukul 07.45, setelah dia menunggu apakah Harist datang hari itu untuk mengajaknya berangkat bersama. Tapi ternyata tidak, setelah apa yang dikatakannya pada Harist tadi malam, apa laki-laki itu memang sudah berhenti untuk datang ke rumahnya?
Pikiran itu masih menghantuinya, membuat dia hilang focus. Tapi harusnya dia senang, artinya Harist sudah menyanggupi permintaannya untuk tidak lagi datang ke rumahnya.
Lalu acara tadi malam? Berjalan dengan sangat lancar, tidak hanya kedua orang tua Harist, ternyata keluarga besarnya juga sangat welcome pada Aara, seolah mereka tidak memandang berasal darimana perempuan itu. Membuat Aara sangat nyaman disana.
Hari ini Aara datang tepat waktu, namun didalam ruangan yang lain sudah ramai begosip. Sepagi itu.
“Aaraaaa,” Aqila melihat Aara memasuki ruangan.
Deg.
Apa mereka tau kalau Aara datang ke acara Harist malam itu?
Tatapan semua orang diruangan itu pun juga tertuju padanya. Kenapa Aara menjadi setakut itu.
“Sini deh, ada berita yang lagi panas.” Aqila menarik tangannya, memperlihatkan sebuah gambar Harist bersama dirinya diacara tersebut, tapi sedang membelakangi kamera.
Apa mereka bisa mengenali Aara dari belakang?
“Pak Harist tadi malam membawa seorang perempuan diacaranya loh.” Sahut Niken. “Wah, beruntung banget ya itu perempuan.”
“Iya yaa, pasti bahagia banget dapet laki-laki seperti pak Harist.” Tambah Vika.
“Kira-kira siapa ya perempuannya?” Tambah Aqila.
Hati Aara benar-benar lega saat itu, ternyata teman-temannya tidak ada yang tau perempuan itu adalah dirinya.
“Menurut kamu siapa Ra?” tanya Niken.
“Mmm, aku juga tidak tau ya.” Jawab Aara sembari berjalan menuju tempat duduknya. Setelah meletakkan tasnya di laci, dia segera mengambil minum dan meneguknya, pagi-pagi sudah membuatnya keringat dingin.
“Tapi sepertinya perempuan dari kalangan orang biasa ya?” Aqila masih menambahi percakapan itu.
“Mungkin tipe Pak Harist seperti itu, soalnya dulu dia juga pernah pacaran sama karyawannya sendiri.” Tambah Okta yang sejak tadi hanya diam dan menyimak.
“Oh ya bu? Beneran?” tanya semuanya, begitupun Aara. Ruangan itu menjadi kusak-kusuk.
Aara jadi ingin tau bagaimana cerita percintaan Harist, yang ternyata diketahui banyak orang itu.
“Jadi dulu itu Pak Harist sempat punya hubungan dengan karyawannya di perusahaan dia, Namanya kalo nggak salah Naomi, seperti pada umumnya orang pacarana, mereka sangat so sweet dan banyak yang iri jugaa. Tapi tidak lama mereka putus, dan Naomi keluar dari pekerjaannya, entah dipecat atau mengundurkan diri.” Jelas Okta.
Membuat Aara lagi-lagi berpikir, apakah Harist benar-benar seperti yang pertama kali dia kenal? Yang terlihat seperti anti social, tidak bisa bergaul, kaku dan keras. Bahkan sebenarnya dia sangat mesra dengan pacarnya yang dulu. Atau karena kejadian putus dengan kekasihnya yang membuatnya menjadi seperti itu?
“Kenapa mereka bisa putus bu?” Tanya Niken.
“Yang aku dengar, Naomi berselingkuh dengan temannya pak Harist sendiri.” Jawab Okta yang membuat semuanya terkejut.
“Kurang apa coba pak Harist sampai diselingkuhin? Lagian si Naomi itu juga kurang beruntung apa dapat Pak Harist, bisa-bisa khianatin orang yang benar-benar tulus dengan dia.” Ucap Aqila yang semuanya langsung setuju.
Aara hanya diam mendengar semua cerita tersebut, mungkin ini adalah hal yang membuatnya cukup tau saja.
“Pagi.” Harist tiba-tiba datang, dan yang lain pun bertingkah sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, berdoa semoga laki-laki itu tidak mendengar percakapan mereka.
Pandangan Harist langsung tertuju kearah Aara, “Ra, keruangan saya.”
Aara menghembuskan napasnya dengan kasar. Lagi.