Persimpangan Jalan (10)

1745 Words
Job desc Aara sepertinya perlu ditambahkan satu; menunggu Harist menandatangani pengajuannya yang tidak sedikit, dan itu membutuhkan waktu dua jam sendiri. Perempuan itu tidak habis pikir kenapa atasannya itu bersikap semena-mena, waktu dua jamnya terbengkalai hanya untuk menemani laki-laki itu, dan selama itu dia tidak melakukan apapun selain menghitung lantai keramik atau mengukir garis tangannya, lalu sekarang Aara mencari aktivitas lain karena lantai keramik semuanya telah selesai dihitung dan garis tangannya selesai diukir. Apa dia harus menggambar pemandangan dibalik meja kerja atasannya itu? Atau menyanyikan lagu supaya atasannya itu tertidur? Akh menyebalkan bukan. “Ada acara setelah pulang kerja?” tanya Harist setelah menyelesaikan semua pengajuan milik Aara. “Ada.” Jawab Aara. “Tumben. Kemana?” tanya Harist penasaran, karena tidak biasanya perempuan itu menjawab dengan gamblang. Dikepala Aara langsung terdengar sirine yang otomatis membuatnya celingukan, mencari tau apakah ada orang disekitar. Mendengar Harist bersikap akrab dengannya seketika membuat dia ingat gossip tadi pagi. Rupanya perempuan itu masih khawatir dan cemas. “Jangan mengajakku ngobrol tentang hal lain, selain pekerjaan.” Bisik Aara. Harist pun mengernyitkan alis, “Kenapa?” “Ada orang yang sengaja memotret kita dari belakang saat acara di rumahmu, dan foto itu sudah tersebar di semua karyawan.” Aara masih berbisik, dia harusnya tidak membicarakan itu sekarang. “Lalu mereka tau kalau itu kamu?” Harist bersikap santai dan biasa saja, tanpa menurunkan suaranya sama sekali. Tidak seperti Aara yang sangat berhati-hati. “Ya enggaklah.” Aara merapikan file pengajuannya. “Ya sudah, aku balik. Aku peringatkan ya, jangan sampai kita ketauan berteman.” Perempuan itu masih mewanti-wanti. “Kenapa sih? Kita cuma berteman, bukan berpacaran.” Harist terlihat kesal, menurutnya itu hanya hal sepele, siapapun karyawannya boleh berteman dengan atasan. “Ya memang.” Aara merasa ucapan Harist menyakiti hatinya. Bukan karena laki-laki itu protes dengan persyaratannya, tapi karena status hubungannya dengan Harist. Hanya berteman. “Aku permisi.” Perempuan itu pun beranjak kembali ke ruangannya. *** Aara sudah bersiap pulang saat semuanya masih sibuk dengan pekerjaan, begitu juga Harist, laki-laki itu belum keluar dari ruangannya. “Teman, aku pamit duluan ya. Ada urusan sebentar.” Aara berpamitan sembari melihat kearah pintu ruangan Harist, semoga saja laki-laki itu tidak mendengar suaranya dan tidak melihatnya di cctv. “Iya Ra, hati-hati ya.” Jawab seisi ruangan itu. *** Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, ruang keuangan masih penuh karyawan, kecuali Aara. Harist pun menatap layar komputernya, setelah sibuk dengan pekerjaannya dilaptop. Dia melihat cctv untuk mengetahui aktivitas di beberapa ruangan. Dan ruangan pertama kali yang dia cek adalah ruang keuangan. “Masih penuh,” ucapnya setelah melihat ruangan itu, namun Harist menemukan sesuatu yang janggal. Seseorang yang sedang dicarinya tidak ada disana. Mejanya pun sudah bersih. Laki-laki itu bergegas merapikan pekerjaannya, beranjak dari kursinya dan mengambil jas yang tersampir disana, lalu keluar ruangan. Memasuki ruang keuangan, Harist memastikan lagi keberadaan Aara. “Aara mana? Apa file yang saya minta sudah dia kerjakan?” tanyanya pada Aqila. “Aara nya sudah pamit pulang duluan Pak, ada urusan di rumah sakit. Tadi Aara bilang pekerjaannya sudah selesai diberikan Pak Harist semua.” Jawab Aqila. “Di rumah sakit mana? Ada file penting yang harus saya minta segera ke dia.” Harist masih bisa membuat alasan yang cukup logis untuk mencari Aara. “Rumah sakit Bhakti Husada bilangnya, Pak.” Jawab Aqila. “Oke. Terima kasih. Saya pulang dulu ya semuanya.” Harist segera keluar dari ruangan menuju tempat parkir. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Harist terus bertanya-tanya kenapa Aara pergi ke rumah sakit, apa terjadi sesuatu dengannya atau keluarganya? Dan kenapa perempuan itu tidak memberitahunya sama sekali. Pikiran Harist menjadi sangat gusar. Apalagi sampai saat ini, Aara tidak bisa dihubungi, teleponnya sengaja tidak diangkat dan pesan whatsappnya pun hanya dibaca saja. Sesampainya di rumah sakit, Harist masih berusaha menghubungi perempuan itu. Dia bingung bagaimana mencari Aara, karena saat ditanyakan ke resepsionist, tidak ada daftar pasien baru dengan nama Aara. Harist memijat pelipisnya, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa sekhawatir itu dengan keadaan Aara, padahal tidak tau apa yang sedang terjadi. “Rist,” suara itu muncul dibalik tubuhnya. “Kamu kenapa disini?” Harist membalikkan badan dan mendapati seorang perempuan yang membuatnya gusar selama itu berada disana dengan sekeranjang buah. “Ah?” laki-laki itu belum menyiapkan jawaban apapun. “Kamu kenapa disini? Apa sedang mengantar pak Rendy check up?” pertanyaan Aara menjadi inisiatif bagi Harist. Laki-laki itu pun mengangguk dengan pasti. “Terus sekarang dimana pak Rendy nya?” tanya perempuan itu sembari memperhatikan sekeliling. “Ehhh, ayah sudah diruangan dokternya. Aku menunggu disini.” Jawab laki-laki itu seadanya. “Kamu sendiri ngapain disini? Kenapa meninggalkan kantor tanpa pamit padaku?” Aara sendiri masih belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan laki-laki itu, tidak mungkin dia menjawab sedang menjenguk istri Dhanis. Pasti Harist akan melarangnya. “Aku sedang menjenguk teman yang sakit, eeh.. aku duluan ya, dah.” Perempuan itu bergegas meninggalkan Harist. Namun bukan Harist Namanya kalau belum mengorek jawaban yang pasti. Dia menghampiri Aara, mengikutinya berjalan disamping perempuan itu. “Aku ikut.” Ucapnya. “Ehh tidak perlu, aku cuma sebentar. Lagian kamu harus menunggu pak Rendy, gimana kalo pak Rendy sudah selesai check up dan mencarimu?” Aara berusaha mengusir laki-laki itu dengan halus, setidaknya agar Harist tidak curiga. “Ayah sudah dengan mama, nanti aku akan mengirim pesan karena ada urusan denganmu.” Ucapnya. “Eh jangan.” “Sudah ayo, temanmu dirawat diruangan apa?” Harist mendahului Aara melangkah, seolah tidak memberi kesempatan untuk perempuan itu menolak. *** Kini Aara dan Harist sudah berada didepan ruangan tempat temannya dirawat. Sepanjang perjalanan, Harist tidak bertanya siapa teman Aara yang sakit, dia hanya terlihat bersemangat menemani perempuan itu. Saat memasuki ruang rawat tersebut, Harist terhenyak. Dia melihat seorang perempuan yang pernah dia temui sedang terbaring disana. “Bukannya dia…” Bisik Harist pada Aara Ketika mereka sedang melangkah menuju ranjang tempat Mila dirawat. “Iya, dia istrinya Dhanis.” Jawab perempuan itu seolah tau pertanyaan laki-laki disampingnya. Mila menyambut mereka dengan senyum tipis. Perempuan itu sendirian, terlihat lemas dengan mata yang sembab. Setelah meletakkan buah yang dibawanya diatas meja, Aara memegang tangan Mila. “Yang sabar ya, Mil.” Ucapnya seperti ikut merasakan kesedihan yang terjadi pada perempuan didepannya. Mila mengangguk pelan, “Aku memang tidak becus menjaga bayiku, kenapa aku bisa kehilangannya.” Deg. Harist tau sesuatu. Maksud dari ucapan Mila adalah; perempuan itu mengalami keguguran. “Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini semua sudah takdir. Pada waktunya, Allah akan memberi kalian momongan lagi. Yang penting kamu bersabar ya, kamu harus tetap happy, supaya kesedihan ini tidak berlarut-larut.” Ucapan itu terdengar sangat tulus. Aara menganggap Mila sebagai teman seperti dirinya dengan Dhanis dulu. “Ra,” Mila menatap Aara dengan sangat dalam. “Ya Mil?” “Sebelumnya aku minta maaf, aku tau kamu dan Dhanis adalah teman baik..” ucapan itu membuat Aara bergetar. “Aku tau tidak sepantasnya meminta hal ini padamu.” Aara mengangguk, dia takut sesuatu hal. Dia takut perempuan itu mengetahui hubungannya dulu dengan Dhanis. “Iya katakan saja, Mil.” Ucap Aara meyakinkan. “Aku minta tolong sama kamu, sedikit untuk jaga jarak dengan Dhanis. Kita sedang terpuruk, aku takut karena kehilangan calon bayinya, dia beralih ke perempuan lain. Aku tau sebenarnya dulu kalian menyimpan perasaan yang sama, dan akibat kejadian ini, aku benar-benar takut dia kembali menemuimu dan akan meninggalkanku.” Ucapan Mila langsung menohok hati Aara. Ada dua sakit sekaligus yang dia rasakan, yang pertama karena dirinya membuat Mila terpuruk dan takut kehilangan Dhanis, lalu yang kedua dirinya sudah pernah menjadi paling jahat karena mengharapkan Dhanis meninggalkan perempuan itu. “Aku mohon..” Karena belum mendapat jawaban dari Aara, Mila mengulangi ucapannya. “Ya tentu, sebagai pacarnya saya juga tidak akan membiarkan Aara dekat dengan laki-laki lain.” Suara itu terdengar seiring tubuh Aara dirangkul oleh Harist yang berada disampingnya. Aara terhenyak atas sikap dan ucapan Harist saat itu. “Akh? Maaf jadi kamu pacarnya Aara?” Mila merasa tidak enak dengan yang barusan dia ucapkan didepan pacar Aara. “Iya, saya juga tau Dhanis berteman dengan Aara. Untuk menghindari kesalahpahaman, memang sebaiknya Aara dan Dhanis tidak perlu bertemu dulu.” Harist memutuskan semuanya sendiri, tanpa persetujuan Aara. “Apa maksudnya ini?” Dhanis muncul dari balik pintu, dia melihat ada Aara disana dan sedang dirangkul oleh seorang laki-laki. “Sebaiknya kita pamit dulu, sudah ada suamimu datang menemani. Semoga kamu cepat sembuh ya.” Harist membawa Aara keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Aara sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Dhanis memperhatikan mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dia menatap Aara dengan penuh pertanyaan. Seolah hal apa yang sudah terjadi selama ini, yang belum pernah dia ceritakan pada Dhanis. Sesampainya diluar ruangan, Aara melepas genggaman Harist. “Kamu sudah kelewat batas, Rist.” “Kelewat batas gimana? Aku cuma tidak bisa melihatmu dipermalukan seperti itu oleh istrinya Dhanis. Meski dengan memohon, dia seolah mengataimu perebut suami orang.” Ucapnya. “Tapi semua itu memang benar.” Elak Aara. “Aku memang mengharapkan suaminya.” Harist tertawa sinis. “Apa maksudmu, kamu akan kembali bersama dengan Dhanis? Kamu kembali mengharapkannya? Dan melupakan janjimu untuk mengakhiri semua dengannya?” Aara membalasnya dengan tawa sinis juga. “Dengar ya, aku memegang janji yang kubuat sendiri. Dan seharusnya kamu tidak perlu ikut campur, aku tidak menyukai itu. Aku juga tidak menyukai sikapmu tadi yang menyatakan kita berpacaran, sebelumnya terima kasih karena telah membelaku didepan Mila. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Dengan menyatakan hubungan itu, semakin memperkeruh keadaan.” “Memperkeruh keadaan? Dibagian yang mana? Setidaknya hal itu bisa membantumu menjadi persembunyian Ketika melanjutkan hubungan dengan Dhanis bukan?” Harist kembali tertawa sinis. “Bahkan seseorang yang memakai n*****a saja bisa kembali menjadi pecandu Ketika menyatakan diri berubah.” Perumpamaan Harist benar-benar menyakiti hatinya, Aara benar-benar terluka, airmatanya saja hampir tidak terbendung namun berusaha ditahannya. “Seburuk itu ya aku yang selama ini ada dalam pikiranmu. Aku memang pernah jahat karena menyakiti hati perempuan lain dengan mengharapkan miliknya. Tapi apa pernah aku mengatakan kalau aku akan merebutnya?” Aara tidak bisa lagi menahan airmatanya, dia melihat sekeliling, berusaha menutupi keadaannya. Sedangkan Harist terdiam melihat Aara yang menangis, bahkan Ketika perempuan itu sudah pergi meninggalkannya. “Aara,” suara lain muncul dibalik pintu ruangan yang ada didepannya. “Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan ke Aara?” Dhanis masih sempat melihat perempuan itu menangis. Harist menarik Dhanis, membawa laki-laki itu ketempat yang sepi. Kemudian melayangkan satu pukulan tepat dirahang laki-laki itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD