Persimpangan Jalan (11)

1567 Words
“Artinya kamu tidak benar-benar mengenal Aara.” Ucap Dhanis sembari meringis menahan sakit diujung bibirnya yang berdarah karena pukulan dari laki-laki didepannya. “Aku yang salah karena menjanjikan hal yang membuatnya terus berharap, padahal selama itu aku tidak pernah bisa mengabulkannya. Aara hanya perempuan yang punya hati tulus mencintai. Dan saat dia sudah mengambil keputusan, artinya dia sudah paham akan konsekuensinya. Meskipun istriku mengalami keguguran, tidak ada satupun niat untuk dia kembali denganku. Aara bukan perempuan seperti yang kamu pikirkan.” Tambah Dhanis yang tau betul bagaimana Aara. Bertahun-tahun berteman dan menjalani hubungan dalam persembunyian, membuatnya begitu memahami perempuan itu. Harist mengingat kembali ucapannya yang terkesan sarkatis dan menyakiti hati perempuan itu, membuatnya menangis dan pergi begitu saja. Dia benar-benar menyesal. Kenapa emosi dan ucapannya bisa menyakti Aara. Airmata Aara masih teringat jelas. *** Aara sudah sampai di rumah, dia menyalahkan dirinya sendiri yang bisa percaya Harist adalah temannya. Bahkan laki-laki itu tidak benar-benar mengenalnya. Dimata Harist, Aara hanya perempuan yang salah dimasa lalunya. Dihempaskan tubuhnya diatasa ranjang, “Kenapa bisa-bisanya aku berteman dengan orang keras kepala dan kaku seperti Harist, tidak hanya itu, dia juga dangkal dalam berpikir.” Aara mengambil bantal dan meletakkanya diatas wajah, dia menangis disana, berusaha menguarkan sedikit rasa sakitnya karena ucapan Harist yang masih terngiang diingatan. *** “Ra,” Suara itu muncul dibalik pintu, tumben sekali ibunya membangunkan dia sepagi itu. “Hmm, ya bu.” Aara membuka pintu, dan kembali ke ranjangnya. Menikmati waktu tidurnya sebentar saja. Karena kejadian tadi malam, membuat perempuan itu tidak bisa tidur. Dan baru bisa terlelap dipukul tiga pagi setelah sholat tahajud. “Ada Harist didepan.” Ucapan ibunya itu seketika membangunkan kesadarannya, matanya terbelalak lalu memastikan lagi jam yang ada didinding kamarnya. Masih terlalu pagi. Lagian apa laki-laki itu lupa yang terjadi tadi malam? “Dia membawakan ini untuk kita sarapan, ayo bangun dan siapkan.” Ibunya menenteng sekotak makanan yang sengaja dibawa oleh Harist. Artinya laki-laki itu memang sengaja datang ke rumah Aara. “Kok masih diem? Ayo bangun.” Suara ibunya sedikit meninggi, membuat Aara langsung bergegas. Setelah Aara selesai menyiapkan sarapan untuk pagi ini, perempuan itu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui dan mengajak Harist ke ruang makan, yang disana sudah ada kakak dan ibunya menunggu. Karena kejadian malam itu, tidak mungkin Aara dan Harist bersikap biasa saja. Mana mungkin Aara lupa bagaimana Harist menilainya malam itu. Mengingat kejadian itu, membuat pandangan Aara sangat mengerikan ke Harist. Tanpa menunggu Aara berbicara, laki-laki itu sudah berdiri dan beranjak ke dalam rumah. “Aku segera ke ruang makan. Terima kasih ya.” Menyebalkan, benar-benar menyebalkan. Aara mengikuti laki-laki itu dari belakang, Harist tidak akan kesasar dan bingung jika di rumah tersebut. Berbeda dengan Aara ketika berada di rumah besar milik Harist yang luas dan banyak dengan ruangan. “Ayo silahkan, Nak. Terima kasih ya, kenapa merepotkan sekali. Kalau mau sarapan dengan kita, tidak perlu membawa makanan dari luar, ibu akan memasakannya untukmu.” Ucap ibunya Aara. “Iyaaa, masakan ibu tidak kalah enaknya dengan masakan restoran. Aara saja selalu bawa bekal dari rumah.” Sahut kakaknya Aara. Sedangkan Aara hanya diam melihat keluarga berbasa-basi dengan Harist. Pikirnya, mereka belum tau saja siapa Harist, bagaimana sikap dan sifatnya. Kalau mereka tau, mereka akan setuju dengannya untuk mengusir laki-laki itu dari rumah. “Baiklah, besok pagi saya datang untuk mencoba masakan ibu ya.” Kini laki-laki itu bersikap sangat manis. Besok? “Tidak perlu.” Aara langsung menolak. Kenapa laki-laki itu bersikap sangat manis, membuat Aara muak rasanya. “Ra?” kakaknya heran kenapa adiknya itu ketus dan mempunyai pandangan seolah dendam pada Harist. “Maksudnya, kamu akan menghabiskan waktu pagimu untuk berkendara jauh menuju rumahku dan kembali lagi ke kantor. Itu sangat membuang-buang waktu.” Aara sedikit membenarkan ucapannya, menutupi rasa kesalnya didepan kakak dan ibunya. “Bukan masalah besar bagiku.” Sahut Harist dengan enteng. Aara menghembuskan napas kasar, “Aku mandi dulu,” perempuan itu sudah tidak selera sarapan, dia pun beranjak. “Kalau pak Harist mau berangkat kerja duluan, silahkan.” Mendengar Aara yang sejak tadi ketus pada Harist, mengundang pandangan penuh tanya dari ibu dan kakaknya. Mereka menatap Harist, berharap laki-laki itu mau menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tapi Harist tidak bisa berkata jujur; tentang masa lalu Aara yang menjadi masalahnya sekarang. “Loh kamu belum makan, Ra.” Ucap kakaknya yang melihat keanehan dari adiknya itu, dia tau sekali pasti ada sesuatu. Pandangannya kembali tertuju ke Harist, namun sepertinya laki-laki itu tetap tidak bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi. *** Setelah mengenakan jaket dan kacamatanya, Aara keluar kamar. Tidak ada suara apapun yang didengar, semoga harapan Aara supaya Harist tidak menunggunya untuk berangkat bersama benar-benar terjadi. Dia melangkahkan kaki melewati ruang tamu, dan tidak mendapati laki-laki itu. Dengan hembusan napasnya, dia sangat merasa lega. Aara masih tidak habis pikir saja, setelah memakinya tadi malam, bisa-bisanya Harist datang pagi-pagi dengan wajah yang biasa saja seperti tidak ada apa-apa. Dia semakin yakin kalau laki-laki itu punya kepribadian ganda. Aara mengambil kunci motornya yang ada diatas meja, lalu menuju depan rumah untuk berpamitan dengan ibu dan kakaknya. Terdengar suara Aya, putri dari kakaknya yang berusia Sembilan tahun, pasti gadis kecil itu juga sedang pamitan untuk berangkat sekolah. Sembari menenteng helmnya, perempuan itu membuka pagar rumah, dan betapa terkejutnya dia; laki-laki yang tadi dikiranya sudah pergi ternyata masih ada disana, didepan rumah sembari bergurau dengan ibu, kakak dan keponakannya itu. Seperti dengannya, Harist sangat nyambung Ketika mengobrol dengan keluarganya, apalagi Aya, sepertinya gadis kecil itu menyukai Harist. Melihat laki-laki itu ada di depan rumah, sontak Aara segera celingukan. Melihat sekitar, dan benar, para tetangga sudah memperhatikan Harist, berbisik satu sama lain. Salah satu dari mereka ada yang berjalan menuju Harist dan keluarganya. Aara pun langsung berlari menuju mereka, dan menarik tangan laki-laki itu untuk segera pergi dengannya. “Bu, Mbak, kita berangkat dulu. Assalamualaikum.” Aara langsung masuk ke dalam mobil, dengan helm ditangannya. “Eh Raaa, kok buru-buru? Kenalin dulu calonnya.” Ucap tetangganya yang sudah berada disamping ibunya Aara. “Itu…” belum juga menyelesaikan ucapannya, tapi Aara sudah memotong. “Udah, ayo jalan aja.” Seperti permintaan Aara, Harist pun menyalakan mesin mobilnya dan membawa perempuan itu pergi. Karena rasa kesalnya yang sudah keterlaluan, Aara melayangkan sebuah cubitan di lengan Harist hingga laki-laki itu kesakitan. “Sebeeeeel banget gua, anjay.” “Heeeeeh.” Harist berusaha melepaskan cubitan itu, dan Ketika berhasil laki-laki itu langsung memandang Aara dengan tatapan ingin menerkam. “Kenapa sih?” “Kenapa? Kamu tanya kenapa?” Aara terlihat sangat frustasi. “Lihat, tetangga bahkan sudah tau wajahmu!” “Terus kenapa? Apa salahnya mereka tau? Dengar ya, aku tidak peduli lagi tentang tetanggamu, aku tidak akan berhenti untuk datang ke rumahmu.” Keras dan kakunya Harist kentara sekali kali itu. “Keluargamu saja sudah nyaman denganku.” Dengan nada sombong, Harist masih terus membantah permintaan Aara. Terdengar hembusan nafas kasar dari perempuan yang ada disampingnya, Harist pun tertawa miring. “Sepertinya aku harus pindah rumah.” Bisik Aara, terlalu sulit memberitahu laki-laki itu. Memang tidak ada gunanya berkompromi dengan laki-laki yang keras dan kaku seperti Harist. “Tidak bisa.” Sepertinya Harist masih bisa mendengar suara Aara yang lirih itu. “Maafkan aku, Ra..” Kini suara itu terdengar melembut. Tidak ada kaku, keras atau sombong di nada suaranya. Aara mengalihkan pandangan, ditatapnya Harist yang masih focus menyetir. “Apa?” “Maafkan aku, aku mengaku salah tadi malam. Tidak seharusnya aku berbicara seperti itu ke kamu. Harusnya aku percaya pada temanku sendiri bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya dengan kembali ke Dhanis. Dan tidak seharusnya juga aku mengenalkan diri sebagai pacarmu, karena kamu sendiri bisa mengatasi masalah itu. Aku terlalu egois dan keras kepala.” Ucapan itu membuat Aara mengingat kejadian tadi malam, namun dia juga memikirkan satu hal, bagaimana seorang Harist yang egois seperti pengakuannya itu bisa dengan tulus meminta maaf. “Tapi karna sudah terlanjur egois dan keras kepala, jadi aku tidak mau menuruti permintaanmu untuk tidak datang ke rumah.” Tambah laki-laki itu yang membuat Aara berubah mendelik. Kenapa bisa-bisanya setelah bersikap manis, masih saja menyebalkan. Namun di dalam hatinya ada sesuatu yang berteriak, menyerukan; maafkan, dan terima lagi dia. Teriakan itu yang sering didengarnya Ketika Dhanis meminta maaf dan menariknya lagi ke persembunyian yang pernah dia masuki. Kenapa hatinya bersikap seolah Harist bisa disejajarkan dengan Dhanis. Harist bisa menggantikan Dhanis. “Apa kamu tidak mau mendebatku lagi?” Harist melirik kearah Aara yang masih menatapnya. “Apa kamu sudah meleleh karena ucapanku?” digodanya perempuan itu karena belum menjawab pertanyaannya. Tapi Aara tidak bergeming, dia mengalihkan pandangannya kearah kiri, dimana jalanan terlihat masih berkabut dengan beberapa motor yang menyalip dari kiri, persis sepertinya jika terburu-buru. Aara masih menerka hatinya saja, perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Apa karena Harist dia mampu mengikhlaskan Dhanis yang selama ini sulit dihindarinya? Apa karena hatinya mulai terbuka untuk Harist, sehingga tidak ada cela lagi untuk Dhanis masuk? Atau karena ingin melupakan Dhanis, hatinya dipaksa untuk menerima kebaikan Harist? Entahlah. Perempuan itu hanya tidak ingin menjatuhkan hati pada orang yang salah lagi, apalagi orang itu adalah Harist. “Nanti sore sepulang kerja, kita ke taman ya, sudah lama kita tidak kesana.” Ucap Aara sembari melihat kearah Harist. Laki-laki itu pun tersenyum bahagia dan membalas tatapan perempuan disampingnya. Dia senang permintaan maafnya berhasil. Bukannya pasrah, hanya saja ingin tau apa waktu benar-benar dapat mengalir membawanya pada kebahagiaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD