Persimpangan Jalan (12)

904 Words
Aara menepuk Pundak Harist, memberi isyarat laki-laki itu untuk berhenti. “Kalau kamu menolak permintaanku untuk tidak datang ke rumah, aku maklumi. Tapi untuk satu hal ini, aku tidak mau ada penolakan, atau kalau tidak aku lompat.” Perempuan itu mulai memperingati. Mereka hampir sampai di tempat kerja, dan Aara masih bersikeukeuh untuk tidak boleh ada satu karyawan pun yang tau pertemanan mereka. Harist pun menghentikan mobilnya, “Meskipun aku tau kamu tidak akan melakukannya, tapi aku menuruti permintaanmu.” Ucapnya, karena dia tidak mau sikap egoisnya membuat Aara tidak merasa nyaman, perempuan itu berhak untuk dihargai. Harist pun merasa ada yang aneh dengan dirinya, kenapa bisa selembut itu pada perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan, bahkan Ketika dia tau bagaimana cerita Aara dimasa lalu. Bukan rasa kasihan yang dia terka, tapi rasa nyaman hingga mengobrol berjam-jam pun tidak terasa. “Nah gitu dong.” Aara mengambil helmnya yang ada dijok belakang, lalu turun dari mobil sembari melempar senyum menggemaskan yang mengundang Harist untuk tertawa melihatnya. *** “Pagi semuaaa.” Aara menyapa beberapa karyawan yang sudah ada diruangan. Perempuan itu berjalan ke meja kerjanya sembari terus mengembangkan senyum. Tidak lama kemudian Harist memasuki ruangan juga. “Pagi semuaaa.” Sama halnya dengan Aara, Harist pun terlihat sumringah dan terus mengembangkan senyum sampai masuk keruang kerjanya. Para karyawan yang melihatnya pun merasa ada yang aneh dengan teman kerjanya serta bosnya itu. “Sssstts.” Aqila memanggil Aara yang menyalakan komputernya. “Hm?” Aara menyahut. “Kamu sama Pak Harist terlihat sumringah banget pagi-pagi.” Ucap Aqila yang membuat mimik wajah Aara langsung berubah. Apa kelihatan ya? “Maksudnya, kamu dapet hoki apa pagi ini? Aku juga yakin pak Harist baru saja dapet hoki pagi ini.” Aqila membenarkan ucapannya. “Ah sudahlah.” Belum juga mendapatkan jawaban dari Aara, namun Aqila sudah menyudahi percakapan itu. *** Jam kerja pun selesai, divisi keuangan sudah berpamitan pulang semua, tinggal Aara yang lembur karena pekerjaannya belum selesai, padahal itu hanya alasan supaya bisa pulang bareng dengan Harist. Laki-laki yang ditunggunya pun keluar dari ruangannya, dengan wajah sumringah Harist menuju meja kerja Aara. “Sudah selesai semua?” tanyanya. “Sudah, Pak.” Aara melemparkan senyum menggemaskannya. “Jangan membuatku gagal acting nih. Jangan senyum gitu.” Bisik Harist yang tidak bisa menahan tawanya. “Akting apa?” tanya Aara. “Katamu kita tidak boleh membicarakan hal lain yang diluar pekerjaan?” Harist mengingatkan lagi permintaan Aara. “Oh iya ya, baiklah.” Perempuan itu merapikan mejanya dan mengambil tasnya dilaci, lalu beranjak. “Jadi kita boleh bicara hal lain yang diluar pekerjaan?” Harist ingin memastikan lagi ucapan ‘baiklah’ nya Aara itu memiliki maksud apa. Aara pun menggelengkan kepalanya, yang berarti tidak boleh. *** Harist dan Aara sudah sampai ditaman dekat persimpangan. Setelah memesan jajanan pasar dan es teh, mereka pun duduk dikursi biasanya. Mereka melihat Dhanis memapah Mila keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Melihat pemandangan itu, Harist mengalihkan pandangannya kearah Aara. Sebelum Harist bertanya, Aara sudah menjawab. “Aku tidak apa-apa kok.” Sembari membalas tatapan Harist, perempuan itu tersenyum ikhlas. “Ya, aku tau.” Balas Harist. “Setelah membuatmu marah besar kemarin, aku bertemu dengan Dhanis, kita mengobrol banyak hal tentangmu. Pantas kamu merasa nyaman dengannya, karena dia memang orang yang hangat dan baik. Dia mengakui kesalahannya karena telah membawamu masuk kehubungan itu, dia merasa bersalah sampai membuatmu seperti ini.” Aara tersenyum, “Aku sudah mengikhlaskannya, setidaknya kesalahan itu pernah membuatku bahagia. Tapi bukan itu yang sesungguhnya terjadi. Karena Ketika aku bahagia, saat itu juga ada perempuan yang sedang dikhianati.” Ingatan perempuan itu menerawang jauh, dimana Dhanis pernah mengisi penuh hatinya. Bahkan saat banyak laki-laki lain mendekatinya, dia tidak menghiraukan karena sudah terlanjur nyaman dengan Dhanis. “Ya, maafkan aku mengingatkanmu lagi tentang hal ini… Kita dengarkan cerita ayah dan mamaku setelah bertemu denganmu kemarin saja ya.” Harist mengalihkan pembicaraan, dan itu membuat Aara langsung melihatnya. “Ha? Memangnya kalian membicarakanku?” tanya Aara. Harist mengangguk pasti, “Iya. Mereka memintamu kapan-kapan datang ke rumah lagi. Dan membawakan buah srikaya, yang selalu disuguhkan saat aku kerumahmu.” “Hei, kamu cerita juga ibu selalu nyuguhin buah srikaya?” Tanya Aara yang tidak menyangka. “Iya lah, buah itu manis banget, enak, meskipun bijinya banyak. Pasti ayah dan mama juga menyukainya.” Ucap Harist begitu antusias menceritakan rasa dari buah yang selalu disuguhkan ibunya Aara. “Kenapa kamu tidak beli saja di toko buah? Kenapa harus menungguku yang membawa ke rumahmu?” tanya Aara. “Karena aku bilang buah itu langsung panen di depan rumahmu, pasti lebih segar.” Jawab Harist. “Pokoknya jangan mendebatku, ini permintaan dari ayah dan mama.” “Baiklaaah, akan aku bawakan buahnya ke rumahmu.” “Kapan? Besok ya?” Harist sangat antusias sekali. “Hei, jangan buru-buru. Aku harus mengumpulkan mentalku lagi. Menakutkan tau datang ke rumahmu.” “Kamu kira, rumahku itu rumah hantu? Ayah pocong dan mama kuntilanak gitu?” ucap Harist yang membuat Aara cekikikan. “Bukan aku yang bilang loh yaa.” Aara menggoda laki-laki itu. Rasanya sudah lama tidak berada ditaman itu, bahkan banyak yang berubah. Bukan tempatnya, tapi statusnya. Beberapa bulan lalu Harist adalah laki-laki yang dikenalnya tanpa sengaja ditaman itu, bersikap aneh dan ternyata menyenangkan diajak bicara. Sekarang, setelah dirinya bekerja, Harist pun berubah tidak hanya menjadi temannya, tapi juga sebagai bosnya. Hubungan pertemanan yang tadinya simple, sekarang terkesan begitu rumit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD