Persimpangan Jalan (13)

1743 Words
“Jadi aku bisa kapan saja datang ke rumahmu kan?” Ucap Harist sebelum Aara keluar dari mobil. Perempuan itu pun mengangguk pasrah, “Tapi jangan sering-sering, jarak dari rumahmu kesini itu jauh.” “Jadi kamu keberatan?” Harist mulai mendebat Aara lagi. Yang alhasil dibalas perempuan itu dengan tatapan kesal. “Jangan mulai!” Aara memperingatkan. Harist pun meringis, mendebat Aara sepertinya menjadi hobi baru bagi laki-laki itu. “Tapi besok aku tidak bisa datang dan menjemputmu?” Ucap Harist yang membuat Aara berhenti beranjak, dia langsung menoleh laki-laki itu untuk memastikan. “Yang bener? Kenapa? Ada masalah?” tanya Aara khawatir. Bukannya segera menjawab pertanyaan yang dicecarkan oleh Aara, Harist malah melempar senyum menggoda. “Khawatir ya?” ucapnya sembari menyentil lengan perempuan itu. “Apaan? Mana ada.” Aara berusaha mengelak, tapi memang tidak bisa disembunyikan lagi. Harist masih punya banyak rahasia yang tidak diketahuinya, dan hal-hal itu lah yang membuat Aara khawatir. “Sudah lah, keliatan banget loh.” Harist masih belum juga menjawab rasa penasaran Aara. Dia masih ingin menggoda perempuan itu. “Atau kamu takut kangen ya?” “Harist Hawwan, bisa sedikit serius?” “Kenapa serius? Kita tidak sedang membicarakan rencana pernikahan kan?” ucapan Harist itu sontak membuat Aara mendelik. ‘Ada apa dengan hatiku, hei’ Perempuan itu tidak bisa mengontrol hatinya lagi. Harist juga kenapa menggodanya seperti itu. Ini bukan perkara serius atau tidak, tapi pintu hatinya itu sudah tidak digembok lagi, takutnya hembusan angin membuatnya terbuka lebar. Melihat Aara yang langsung diam, Harist membenarkan ucapannya. “Aku malam ini akan berangkat ke Jakarta, ada urusan dengan partner kerjaku disana, aku juga mau bertemu dengan vendor bahan baku, infonya harga jualnya lebih murah daripada disini.” Jelasnya. Aara pun mengangguk menandakan bahwa dirinya sudah paham, dan sepertinya itu bukan ranah yang perlu diketahui secara detail olehnya. Dia melemparkan senyum kepada laki-laki disampingnya. “Semangat ya, semoga lancar semuanya disana. Kalau tau kamu malam ini berangkat ke Jakarta, harusnya kita tidak pergi ke taman tadi, waktumu bisa dibuat istirahat dan prepare dulu.” Ucap Aara yang merasa bersalah karena mengajak laki-laki itu pergi ke taman. “Setidaknya dengan ke taman kamu sudah bisa memaafkanku.” Balas Harist dengan tersenyum. Aara pun lagi-lagi tersenyum, “Aku masuk dulu kalau gitu ya.” “Hmm,” Harist mengangguk, “Titip salam juga ya untuk ibu dan mbak, aku belum bisa mampir.” “Iya, yaudah dah..” Aara pun turun dari mobil. Entah kenapa hari ini menjadi bagian terindah yang sulit dilupakan, bersama seseorang yang datang ketika aku sedang berada dititik berhenti. Aara berbalik memasuki rumah ketika memastikan Harist sudah pergi. Dia kembali memegangi dadanya, disana ada yang sedang berteriak bahagia. Hati, apakah aku akan suka rela membiarkanmu jatuh kembali? Pada seorang tuan yang belum tentu juga menjatuhkan hatinya padaku. Hmm, aku tidak bisa memintanya untuk setuju; pada perasaanku ini. Tapi semoga saja dia dapat memahami, meski tidak dapat membalasnya. Apakah ini keterlaluan? Perempuan itu memasuki kamarnya, setelah menerka hatinya; dia mengerti sekarang, bahwa dia sedang jatuh hati. Pada seseorang yang mustahil bisa membalas perasaannya. Aku percaya semua yang mengalir akan menuju ujung yang tentram. Jadi malam itu, Aara memutuskan untuk membiarkan hatinya menerima semua kebaikan Harist. Pertahanannya selama ini sudah runtuh, pintunya sudah terbuka lebar oleh angin malam itu. Aara sudah tidak bisa lagi menyuruh hatinya untuk menahan, karena sekarang logikanya sendiri sudah mengatakan bahwa; rasa itu sudah tumbuh, secepat itu. *** “Pagiii.” Aara menuju meja makan untuk sarapan, setelah membereskan rumah dan mandi serta bersiap-siap berangkat kerja. “Pagi, dimana Harist ya? Kemarin dia bilang akan sarapan disini.” Ibunya Aara masih mengingat ucapan laki-laki itu. “Harist ada kerjaan luar kota, kemarin malam berangkatnya.” Jelas Aara. “Ya Rabb, kasian banget. Pekerja keras ya si Harist ini, totalitas banget sama kerjaannya.” Ucap kakaknya. “Iya lah mbak, kalo bukan dia, gimana perusahaannya bisa maju.” “Artinya dia udah bertanggung jawab banget sama pekerjaannya. Apalagi nanti kalo udah punya istri.” Ucap kakaknya lagi sembari memasang wajah menggoda ke adiknya yang masih menyendok nasi. “Mbak, udah deh jangan mulai.” Sama dengan dirinya, Aara juga tidak mau keluarganya berharap besar pada Harist. Tidak ada jaminan apapun harapan mereka terkabul. “Tapi loh ya emang bener sih Ra..” sahut ibunya yang sejak tadi diam. “Coba bayangin, katamu rumahnya Harist itu jauh dari sini, tapi kenapa setiap pagi dia menjemputmu?” “Itu karna dia sebelumnya ada urusan dengan orang disekitar sini, jadi sekalian bareng sama aku.” Aara masih berusaha menjelaskan. “Raa, kamu percaya sama kita deh, yang punya pengalaman lebih banyak dari kamu. Harist itu menyukaimu…” “Meja makan ini rasanya seperti meja panas ya. Aku kayak diinterogasi.” Aara memotong pembicaraan kakaknya yang semakin lama semakin dalam. “Aku berangkat aja ya, Assalamualaikum.” Setelah memakan dua suap nasi dan lauknya, serta menenggak segelas air putih, perempuan itu beranjak dan pamit. “Mesti, kalo diajak bicara ginian ngehindar mulu. Waalaikumsalam.” Gerutu ibunya. “Udah udah, nanti gigi ibu sakit lagi loh.” Kakaknya Aara mencoba menenangkan meskipun tidak berhasil. *** “Akhirnya kamu bebas hari ini, Ra..” ucap Aqila. “Kenapa memangnya?” tanya Aara sembari masih menatap layar computer. “Pak Harist keluar kota, jadi dia tidak ngantor hari ini. Akhirnya kamu bisa makan siang bareng aku, tanpa direcokinya.” Ucap Aqila seolah ikut merasakan lega menjadi Aara. Aara pun tertawa melihat reaksi temannya itu, “Kirain apa, Qil.. Iya nih, aku juga seneng banget denger berita itu. Semoga aja lamaan pak Harist diluar kotanya.” “Kayaknya sih lama, soalnya ada banyak urusan disana.” Jelas Aqila yang disetujui Aara. Karena perempuan itu juga sudah tau jadwal laki-laki itu saat diluar kota, banyak sekali yang harus diselesaikan olehnya. *** “Waktunya makan siang.” Aqila menggandeng Aara dan membawa perempuan itu keluar ruangan. “Kamu bahagia banget sih.” Aara cekikikan terus melihat aksi temannya itu. Seolah mendapatkan hadiah kejutan, Aqila sangat antusias. “Tapi aku juga udah bawa bekal dari rumah.” “Nggak apa-apa, karena aku lagi senang, jadi aku beliin kamu.” Ucap Aqila yang dirasa sangat berlebihan. Setelah mereka sampai di kantin, yang baru kedua kalinya dikunjungi oleh Aara itu, mereka menuju bangku yang sudah ada laki-laki disana, dia berbalik membelakangi Aara dan Aqila. “Kenapa kesitu? Kita cari tempat duduk lain aja.” Aara menunjuk bangku lain yang kosong. “Laaah, kita kesini juga mau ketemu sama dia. Dia sering tanya-tanya tentangmu loh, kayaknya dia menyukaimu deh, Ra..” ucap Aqila yang membuat Aara mengernyitkan alis. Siapa sih? Sesampainya dibangku yang mereka tuju, Aara sedikit terhenyak setelah mengetahui siapa laki-laki yang disebut oleh Aqila. ‘Alvyan’ Ucap Aara dalam hatinya setelah mengetahui siapa laki-laki itu. “Halo, Pak. Boleh gabung disini?” ucap Aqila begitu percaya diri. ‘Anak ini masih aja kayak dulu narsisnya. Kenapa dia membawaku ke Alvyan, gimana kalo tiba-tiba Alvyan ngomongin pertemananku dengan Harist.’ Alarm peringatan langsung mendengung ditelinganya. “Eh, sepertinya kita pindah bangku aja deh, Qil. Nggak enak kan mengganggu di…” “Nggak apa-apa, saya nggak merasa terganggu kok. Duduk aja.” Sahut Alvyan yang mengetahui Aara akan menolak semeja dengannya. “Tuhkan, udah ayo duduk aja.” Bisik Aqila sembari memaksa Aara untuk duduk sepertinya.”Eh Ra, aku pesen dulu ya.” Belum juga duduk, perempuan itu sudah beranjak meninggalkan Aara dengan Alvyan berdua. “Loh..” Belum juga selesai berbicara, Aqila sudah pergi begitu saja. Aara pun mengalihkan pandangannya kearah Alvyan yang ternyata sudah memperhatikannya sejak tadi. “Maaf, sepertinya saya pindah tempat saja pak.” “Nggak perlu, tetap disitu saja. Kenapa canggung? Seperti dengan orang lain saja, kamu kan juga dekat dengan Ha…” “Eh pak, paaaak!” Aara memotong ucapan Alvyan, sehingga membuat laki-laki itu keheranan. “Pak, saya minta tolong ya, jangan bilang siapa-siapa kalo saya dan pak Harist berteman, saya nggak mau orang lain tau.” Aara benar-benar mengecilkan suaranya, hingga membuat Alvyan harus sedikit mendekat untuk mendengarnya. “Kenapa?” tanya Alvyan. “Ini demi pekerjaan saya pak.” Ucap Aara yang masih membuat bingung Alvyan, pertanyaannya belum benar-benar terjawab. “Tapi kenapa?” tanya Alvyan mengulang pertanyaannya lagi. “Pokoknya saya mohon pak Alvyan, jangan bicara ke siapapun.” Aara masih berbisik, dan Alvyan masih berusaha mendengarnya dari dekat. “Apanya yang jangan bicara ke siapapun?” suara itu mengejutkan Aara dan Alvyan. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Harist sudah ada disamping Aara, dengan wajah yang kurang tidur, laki-laki itu masih memasang wajah yang arogan dan keras. “Loh..” Aara bingung bagaimana bisa laki-laki itu sudah pulang dari luar kota? “Loh apa? Apa yang tadi kamu bicarakan sama Alvyan? Kenapa harus berbisik dan dekat-dekatan?” Harist mencecar pertanyaan pada Aara yang ada disampingnya. Sedangkan Alvyan hanya tersenyum penuh makna melihat sikap Harist. “Kamu,” Harist mengalihkan pandangannya ke Alvyan. “Harusnya kamu bisa menjaga jarak dengan karyawan lain. Dengar ya, di perusahaan ini, dilarang sesama karyawan pacaran!” “Pacaran?” Aqila datang membawa dua piring makanan miliknya dan Aara. Dia kaget karena Harist sudah pulang dari luar kota, dan dia juga kaget mendengar Aara dan Alvyan dituduh pacaran. Harist memijat pelipisnya saat Aqila datang, “Apa lagi ini,” Gerutunya. Dia pun melihat sekeliling kantin yang memusatkan perhatiannya kearah mereka. “Sudah, selesaikan makan kalian dan kembali bekerja.” Harist beranjak dari tempat duduk, menyudahi sikapnya sebelum makin banyak karyawan yang melihatnya. Aqila pun mengambil alih duduk disamping Aara. “Ada apa sih Ra?” tanyanya karena bingung dengan yang terjadi. “Nggak apa-apa, salah paham aja.” Jawab Aara. “Aara, ikut keruangan saya!” suara itu masih bisa didengar meski pemiliknya sudah melangkah meninggalkan kantin. “Lah, apanya yang nggak apa-apa. Kamu dipanggil itu.” Aqila memasang wajah sedih melihat temannya itu. Aara pun beranjak dari bangkunya, kemudian mengikuti Harist yang sudah melangkah jauh didepannya. *** ”Duduk.” Perintah Harist. Aara pun duduk seperti perintahnya. “Bawa bekal?” tanya laki-laki itu. “Iya pak.” Jawab Aara. “Hangatkan dengan microwave, dan bawa sini.” Perintah Harist lagi. “Ha?” “Ha apa lagi? Belum jelas? Bawa bekalmu kesini, aku juga ingin memakannya. Tadi pagi aku belum sarapan di…” “Baiklah, pak. Sebentar.” Sebelum Harist mengatakan belum sarapan dirumah Aara, perempuan itu sudah memotong ucapannya. Dan langsung pergi keruangannya untuk mengambil bekal dan membawanya ke ruangan Harist.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD