Setelah selesai menghangatkan makanan, Aara segera membawanya keruangan Harist. Laki-laki itu sudah menunggunya dengan perut lapar.
“Aku cepat-cepat pulang, untuk bisa makan bekalmu. Kamu malah makan dikantin sama Alvyan.” Ucap Harist yang sontak membuat Aara celingukan, takut ada yang mendengar. “Pintunya sudah aku kunci.” Tambahnya melihat rekasi perempuan itu.
“Aku tadi juga mau makan bekalnya, tapi Aqila mengajakku makan di kantin. Dan aku juga tidak tau kalau ada Pak Alvyan disana, aku cuma…”
“Sudah. Jangan membuatku tidak selera makan. Biarkan aku yang menggerutu, kamu tidak usah membalasnya.” Ucap laki-laki itu keras kepala.
Enak saja! dia bisa seenaknya marah-marah, sedangkan aku mau menjelaskan malah dilarang. Pikir Aara melihat betapa menyebalkannya seorang Harist yang sekarang sedang berada didepannya, memakan bekal yang harusnya dia makan.
“Buka mulutmu.” Harist menyodorkan sesendok nasi dan lauknya tepat didepan bibir Aara.
Perempuan itu terhenyak, namun segera dinetralkannya dengan mengalihkan pandangan kearah Harist.
“Kamu belum makan kan? Ayo sekalian makan juga.” Ucap Harist.
Karena perutnya sudah lapar dan melilit, Aara pun menyambut suapan Harist dengan suka cita, membuat laki-laki didepannya tersenyum gemas.
“Aku tidak memarahimu, aku juga tau kamu tidak mungkin punya hubungan apapun dengan Alvyan, aku hanya kesal kenapa kamu tidak menungguku untuk makan siang.” Sepertinya karena lapar, Harist jadi lebih banyak bicara ya.
“Aku pikir tadi bisa pulang pagi dan sarapan di rumahmu, ternyata disana masih banyak yang perlu diurus.” Jelas Harist yang menjadi pertanyaan Aara selama itu.
“Tapi gimana bisa secepat itu, malem kamu berangkat, sekarang udah balik.” Ucap Aara.
“Kamu tidak suka aku balik cepat?”
“Bukan gituu, akh percuma ya aku ngomong mesti sal..” Belum juga selesai bicara, mulut Aara sudah terisi oleh makanan lagi karena ulah Harist. “Bilang-bilang dong.”
Harist pun terbahak-bahak melihat Aara yang sangat menggemaskan. “Oh ya, aku mendengar berita akses jalan ke desamu kena banjir ya?” laki-laki itu memastikan berita yang baru dibacanya tadi.
Aara mengangguk, “Iya, tadi aja aku harus muter cari jalan yang nggak banjir.”
“Aneh ya, padahal seharian kemarin nggak hujan. Kenapa bisa banjir?” tanya Harist mengambil ponsel dan kembali mencari berita banjir yang dibacanya tadi pagi.
“Banjir disana tuh kiriman, jadi ada sebuah sungai yang setiap hujan itu mesti meluap, nah sungainya kan disebelah barat, karena daerah bagian timur tanahnya rendah, jadi airnya meluap kearah timur. Akses jalan disana selalu kena imbasnya, petani juga banyak yang gagal panen karena banjir ini.” Sepertinya tanpa membaca berita, mendengar Aara bercerita sudah membuat Harist mengerti.
“Kenapa nggak ada perbaikan?”
“Ah kalo masalah itu aku no comment.” Aara menyecap segelas air yang ada dimeja bosnya itu.
“Hei, itu gelasku.” Harist memperingati meski terlambat, Aara sudah menghabiskan setengah gelas.
“Loh iya, bekasmu hei.” Perempuan itu baru menyadari, tapi dia jauh lebih terkejut ketika melihat Harist juga meminum air digelas yang sama. “Loh heh, kok…”
“Kenapa? Lagian dari tadi juga kita udah sesendok berdua.” Ucap Harist sembari mengendikkan alisnya.
Aara baru menyadarinya, ternyata mereka dari tadi sesendok dan segelas berdua.
***
Aara membereskan tempat makannya dan memasukkan kembali ke tas bekal, dia berpamitan pada atasannya itu karena jam istirahat sudah selesai. Dia pun membuka kunci pintu dan membukanya, betapa terkejutnya Aara ketika melihat para karyawan perempuan sedang menguping dengan berbagai posisi.
Perempuan itu langsung keringat dingin, apa semua karyawan itu mendengar semua percakapannya dengan Harist?
“Ke-kenapa kalian ada disini?” tanya Aara yang sangat khawatir.
Respon mereka pun langsung menyerbu Aara, menyecar segala pertanyaan, apalagi Aqila.
“Kamu nggak apa-apa kan didalem Ra? Apa kamu dimarahin sama pak Harist? Apa ini karenaku ya? Maafin aku ya Ra..” Ucap Aqila.
“Tapi kenapa pak Harist nyuruh kamu bawa bekal ke dalam ruangannya?” tambah Niken.
“Kamu nggak dihukum kan, Ra?” tanya Okta seolah tau bagaimana sikap Harist selama ini.
“Tadi kita denger pak Harist tertawa kenceng banget.” Ucap yang lainnya.
Aara sedikit merasa lega karena karyawan lainnya tidak mendengar percakapan mereka, yang masih menjadi kekhawatirannya adalah; alasan apa yang membuat dia ada di dalam ruangan Harist dengan bekalnya.
“Ada apa kalian disini?” seseorang muncul dibalik tubuh Aara, semuanya pun terdiam begitupun dengan Aara.
“Tadi saya mendengar ada yang bertanya kenapa Aara membawa bekalnya ke ruangan saya.” Ucap Harist yang membuat Niken keringat dingin karena itu adalah pertanyaannya.
“Itu bukan bekal milik Aara, melainkan bekal yang saya suruh Aara memesannya di restoran, karena tau saya tidak sempat sarapan dan makan siang karena perjalanan dinas, jadi saya meminta Aara untuk menyiapkan makanan saya.” Jelas Harist.
Aqila pun menyenggol tangan perempuan disampingnya, “Kok kamu nggak bilang kalo pak Harist pesan makanan di kamu? Artinya kamu tau dong, kalo pak Harist akan pulang cepat.” Bisiknya menagih penjelasan dari Aara.
Perempuan disampingnya pun hanya bisa meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Sudah-sudah, kembali bekerja.”
***
“Iya, halo Bu?” Aara mengangkat teleponnya.
“…”
“Ha? Banjirnya dateng lagi? Terus aku lewat mana?”
“…”
“Tapi bisa kan bu lewat situ?”
“…”
“Iya aku akan hati-hati.”
“…”
“Ih ibu udah jangan mulai, Harist nggak akan nganterin aku. Udah ya, Assalamualaikum.” Aara menutup telponnya karena suara diseberang sudah mulai membahas Harist. Wanita tersebut berpikir Harist akan mengantarnya ditengah banjir.
“Kamu sedang menjelek-jelekkan namaku didepan ibumu?” ucap seseorang dibalik tubuh Aara.
Mendengar suara yang sudah sangat dihapalnya itu, Aara langsung celingukan melihat situasi dan kondisi.
“Cari apa? Semua udah pulang. Kamu belum jawab pertanyaanku, kamu baru saja menjelekkanku didepan ibumu kan?” Harist masih berusaha focus.
“Siapa juga yang menjelekkanmu, ibu tadi bilang kalo banjir makin besar, dan aku harus hati-hati pulangnya.” Jelas Aara.
“Tapi tadi aku mendengar namaku disebut.”
“Iya, tadi ibu bilang coba minta Harist nganter, tapi aku bilang…”
“Oke ayo!” Tanpa menunggu persetujuan dari Aara, Harist sudah menarik tangan perempuan itu menuju parkiran.
Harist hendak membuka pintu mobilnya, namun dihentikan oleh Aara.
“Kamu melewati banjir dengan mobil?” tanya Aara yang dijawab Harist dengan anggukan.
“Kamu tau akibat dari naik mobil disaat banjir?” Tanya Aara.
“Supaya nggak mogok.” Jawab Harist.
“DASAR MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI.” Ucap Aara penuh dengan penekanan.
“Hei heiii, turunkan nada suaramu didepan atasan ya.” Harist merasa Aara sudah menyebalkan. Tapi sebenarnya menggemaskan.
“Karena salah satu memakai mobil bisa merugikan banyak orang, pertama karena mobil bisa menghasilkan ombak besar yang semakin kencang ke rumah-rumah warga dan alhasil penekananya membuat kaca-kaca jadi retak, kedua karena banjir sering terjadi macet ditengah-tengah, mobil menghalangi motor dibelakang untuk bergerak, sedangkan orang yang memakai motor di keadaan banjir gasnya nggak boleh turun dan harus stabil. Jadi akibatnya motor bisa mogok karena mobil berhenti didepannya.”
“Iya iyaa, panjang amat. Mana kuncinya?” Harist menyerah, dia meminta kunci motor perempuan itu.
“Ha?”
“Aku bonceng.” Harist menambahkan.
“Kamu bisa pakai motor?” tanyanya sembari mengeluarkan kunci motor dari sakunya.
Tanpa basa-basi Harist langsung mengambil alih kunci dan langsung menaiki motornya.
“Ayo. Keburu malam.” Ucap Harist menarik perempuan itu untuk segera naik motor, tidak peduli security terus memperhatikan mereka.
Aara pun naik ke motor dengan perasaan yang was-was, dia tidak pernah tau laki-laki itu mengendarai motor, sekarang dengan percaya dirinya Harist mau membonceng Aara.
Dengan pasrah Aara sudah dibawa dalam boncengan Harist keluar dari perusahaan.
Beberapa menit, tidak ada yang terjadi. Aara yang tegang sejak tadi, sedikit lebih santai. Tapi laki-laki didepannya tidak bersuara sama sekali.
“Kamu nggak apa-apa kan? Aman kan? Apa aku aja yang bonceng, atau aku pulang sendiri aja.” Ucap Aara yang mengkhawatirkan Harist.
Terlihat Harist menggeleng, “Aku baik-baik saja, sudah kubilang aku bisa mengendarai motor.”
“Memangnya kapan terakhir kali kamu pakai motor?” Aara jadi penasaran.
“Hmmm, sepertinya sewaktu aku di SMA. Delapan tahun yang lalu tepatnya.” Jawab Harist dengan enteng.
“Apa? Selama itu?” Aara mengeratkan pegangannya, dia yang tadinya mulai tidak tegang, sekarang merasa khawatir lagi dengan nyawanya. “Rist, sebaiknya aku pulang sendiri aja deh.”
“Udah deh, kamu nggak percaya sama aku?”
“Percaya sih percaya, tapi ini masalah nyawa.”
Tidak menggubris ucapan Aara, laki-laki itu tetap focus dengan apa yang sedang dikendarainya sekarang. perjalanan yang tadinya hanya setengah jam menjadi lebih lama karena mereka harus putar arah, apalagi Harist yang membonceng dan panah speednya hanya berada diangka empat puluh, perjalanan semakin lama hingga memakan waktu satu setengah jam.
Takut menggerutu, Aara hanya memijat pahanya yang kelelahan. Apalagi Harist ya? Pasti dia lebih merasa lelah darinya. Tapi Aara tidak mendengar satu kata pun dari laki-laki itu, sesekali bertanya arah pada perempuan dibelakangnya, lalu kembali focus menyetir.
“Hooooh.” Ucap Harist yang mengejutkan Aara.
“Kenapa?”
“Didepan ada banjir, tinggi banget lagi airnya.” Jawab Harist melihat air mengalir cukup deras melewati jalanan, beberapa pengendara ada yang memilih turun dari motor dan menuntunnya melewati banjir, ada juga yang tetap menyalakan mesin sembari berjalan lirih. Sedangkan mobil truk masih saja boleh melintas dengan keadaan banjir yang sudah tinggi.
Mereka sudah berada ditepi banjir, Harist tiba-tiba ragu untuk menyebrangi air yang terlihat berwarna keruh.
“Pasti banyak kuman disana,” Harist melihatnya dengan perasaan yang tidak karuan.
“Eh ayo tunggu apa lagi.”
Harist mengalihkan pandangannya kearah Aara yang ternyata sudah turun dengan kaki telanjang, sepatunya ditenteng dan celananya sedikit dinaikkan sampai selutut.
“Kamu ngapain?” tanya Harist.
“Melewati banjir dengan sepatu akan menyulitkan kita. Sini sepatumu aku bawakan.”
“Eh enggak enggaaaak.” Harist menolak. “Lihat airnya saja kotor, gimana keadaan kaki kita nanti.” Bisik Harist kepada Aara.
“Kamu ya, jadi nganter aku nggak ini?” tanya Aara sedikit menggoda, karena melihat ekspresi Harist yang seolah tidak pernah melihat air banjir.
“Kalo kamu mau airnya bersih, kita ke kolam aja. Sekalian berenang disana. Namanya juga air banjir.” Tambah Aara.
“Kok kamu jadi nyolot sih.” Harist terpaksa turun dari motornya, dan mulai melepas sepatunya lalu memberikannya ke Aara untuk perempuan itu bawa.
Harist mengambil alih motor lagi dan menyalakan mesinnya.
“Kamu yakin yang bawa motor?” tanya Aara memastikan.
Harist mengangguk, sedikit tidak yakin dengan kemampuannya. Melihat Harist yang mulai hilang rasa percaya dirinya dan terlihat ragu, Aara merasa senang dan terhibur. Kurang ajar memang.
Tidak seperti awalnya, Aara malah berantusias naik motor dan bersemangat melewati banjir.
Perlahan Harist melajukan motornya, hingga berada ditengah-tengah banjir. Kakinya benar-benar masuk kedalam air yang keruh tersebut. Seperti yang didengarnya ketika Aara bercerita, motornya harus dalam keadaan terus digas, tidak boleh turun dan harus stabil. Awalnya setengah jalan mereka berhasil melewati banjir, namun karena mobil didepannya tiba-tiba berhenti, Harist harus mengerem dadakan, dan spontan gasnya dia turunkan.
Blebeb blebeb
Terdengar suara knalpotnya yang sudah terisi air, dan mesinnya mengeluarkan asap, saat itu juga mesin motornya mati. Harist menjadi sangat panik.
“Ra, gimana inii? Motornya mati.” Harist terus berusaha menyalakan motornya lagi, tapi tidak berhasil.