Persimpangan Jalan (15)

2969 Words
Aara tertawa terbahak-bahak, dia baru kali ini melihat Harist panik dan takut. Perempuan itu pun turun dari motor. “Ayo turun, kita dorong motornya sampai diujung.” Ajak perempuan itu antara pasrah juga gemas melihat Harist. “Apa?” laki-laki itu melihat ke depan, dan ujung dari banjir itu masih sangat jauh. “Kamuy akin kita bisa?” “Katamu aku harus percaya kamu.” Aara mengingatkan lagi ucapan Harist. “Iya, tapi sekarang aku sendiri ragu untuk percaya.” Jawab laki-laki itu pasrah, dia melihat belakang dan sama jauhnya untuk kembali. “Ini seperti lautan, sungguh.” Tambah laki-laki itu yang tidak habis pikir bisa terjebak dibanjiran. Aara semakin kencang tawanya, kenapa laki-laki itu sangat lucu. Dia kira Harist tidak takut dengan apapun, eh ternyata hanya banjir saja dia sudah merasa ketakutan seperti itu. Tapi dia juga memakluminya, Harist berasal dari keluarga yang berada, hidupnya tenang dengan kemewahan, dan menerobos banjir apalagi dengan motor seperti hari ini adalah hal pertama dan membuatnya merasa tidak nyaman. Perempuan itu berhenti tertawa ketika Harist menatapnya dengan tatapan mengancam, seolah berkata ‘awas kamu setelah sampai ujung’. “Maaf ya, ayo kita dorong.” Aara mengambil alih motornya, dan mulai mendorongnya sendiri. “Eh, biar aku saja.” Harist masih saja bersikeras untuk melakukan apapun, meski dia sudah merasa tidak nyaman. Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai diujung. Kerjasama antara Harist dan Aara membantu mereka sampai dengan keadaan selamat, dan sedikit mengurangi rasa lelah. “Ternyata nggak terlalu melelahkan ya?” ucap Aara begitu bahagia. Sedangkan Harist merasa kakinya gatal-gatal, dia yakin kumannya sedang menjelajahi kulitnya dan masuk kebulu-bulu kakinya. Dia mengalihkan pandangannya ke kaki perempuan yang sejak tadi tidak merasa kelelahan itu, bagaimana bisa Aara malah terlihat sangat bahagia dan menikmati perjalanan mereka menerobos banjir. Tapi Harist sangat terkejut, ketika ada darah mengucur dari telapak kaki perempuan itu. Darah berwarna merah pekat itu terus mengalir. “Ra, kakimu berdarah.” Harist segera membawa perempuan itu ketepi, dan melihat telapak kaki Aara yang terus mengeluarkan darah. “Tunggu sini dulu,” Harist berlari ke warung yang tidak jauh dari sana. Aara sekarang merasakan sesuatu yang perih ditelapak kakinya, dia melihat darah disana dan membuatnya seketika lemas. Sejak kecil perempuan itu takut akan darah, matanya langsung kunang-kunang. Dia melihat Harist sudah kembali dengan air mineral dan obat merah. “Gimana bisa kamu nggak kerasa kakimu luka kayak gini,” Harist membersihkan lukanya dengan air mineral yang dibelinya tadi. Aara meringis kesakitan, dan membuat Harist mengalihkan pandangannya kearah perempuan itu. “Tahan dulu ya, sedikit sakit.” Dengan telaten, Harist akhirnya menemukan lukanya, dan segera menuangkan sedikit obat merah. Perempuan itu merasakan perih sekali ditelapak kakinya, Harist terlihat sangat khawatir. Sedikit ditiupnya luka itu, kemudian dia menyobek kemejanya untuk dibalutkan keluka Aara. “Ini sementara untuk menghambat keluarnya darah, setelah itu kita ke dokter.” Aara mengangguk dengan wajah yang sudah pucat. Selesai membalut lukanya Aara, Harist kembali melihat kearah perempuan yang ada didepannya. Disodorkan air mineral yang masih tersisa setengah itu, “Minumlah dulu.” Aara mengambil air mineral itu dengan tangan yang bergetar, seolah sudah tidak berdaya menahan tubuhnya sendiri. Harist pun berdiri dan langsung duduk disamping perempuan itu, menahannya didalam rangkulan. Beberapa orang disana menawarkan tumpangan untuk mereka ke dokter, tapi Aara tidak mau. “Kamu masih kuat kan? Kita bisa ikut mobil orang dulu ke dokter ya.” Disaat seperti ini Harist sangat hangat. Aara merasa dirinya aman disamping Harist, laki-laki itu masih terus menyediakan dadanya untuk Aara. Ditatapnya laki-laki itu, dan Harist mengendikkan alisnya sembari tersenyum, berusaha menenangkan. Seolah tau bahwa perempuan yang ada dalam rangkulannya itu takut akan darah. Seperti bayangannya setiap melewati banjir, akan ada laki-laki yang menolongnya saat kesulitan. Laki-laki itu akan rela melakukan apapun agar Aara tidak terluka. Hal yang mustahil itu benar-benar terjadi hari ini, dan seseorang itu adalah Harist, sosok yang tidak pernah diduganya. “Kamu sudah sedikit enakan? Ada orang yang menawari kita tumpangan.” Ucap Harist yang membuyarkan lamunan Aara. Perempuan itu pun memperbaiki sikapnya, lalu dia mengangguk. Orang baik yang mau menumpangi mereka pun berhenti dan membantu menaikkan motor Aara di mobil pick up, sedangkan perempuan itu berusaha untuk berdiri. Namun lagi-lagi Aara dibuat terkejut dengan Harist yang membopongnya menuju mobil pick up. Seolah impiannya begitu sempurna terjadi hari ini. Aara mencoba menekuk kakinya, terasa kebas karena terus diluruskan. Tapi tiba-tiba Harist menahannya, dia mengambil posisi jongkok dan menopang kaki perempuan itu dengan pahanya. “Jangan banyak bergerak,” ucap Harist sembari menghentikkan Aara yang hendak menolak. Perlakuan Harist hari ini benar-benar membuatnya bingung, terlebih pada hatinya sendiri. Kenapa semua kebaikan laki-laki itu diartikan berbeda jika sudah masuk ke hati. Tanpa disadari, Aara berharap kebaikan Harist adalah tanda bahwa laki-laki itu memiliki perasaan padanya. Apalagi hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini, rela Harist lalui untuk Aara. Dari mulai menerjang banjir, hingga naik di mobil pick up dengan penampilan yang sudah kotor dan lusuh. “Kenapa?” tanya Harist karena melihat Aara terus memperhatikannya. Mengetahui bahwa Harist sadar sedang diperhatikan, Aara langsung salah tingkah. “Hmm, aku minta maaf sudah membuatmu jadi kotor dan repot.” Ucap Aara. Harist hanya tersenyum mendengarnya. Aara sangat yakin laki-laki itu sedang mengumpat dan menahan emosinya karena sudah banyak direpotkan. Iya, sangat yakin. “Aku menyukainya.” Jawab Harist pada akhirnya, dan membuat Aara membelalak. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu? “Apa rumah sakitnya masih jauh?” tanya Harist yang sebenarnya juga sudah lelah kakinya terus menjadi topangan. “Disini nggak ada rumah sakit, adanya bidan desa.” Jawab Aara. “Jadi disini nggak ada rumah sakit?” tanya Harist memastikan lagi. “Bener-bener terpencil daerah ini.” Bisiknya sendiri. “Terima kasih ya. Daerahku memang TERPENCIL.” Aara masih bisa mendengar ucapan Harist meski lirih. Harist hanya tertawa kecut, “Lain kali kalo tau banjir gini, mending kamu nginap di rumahku saja. ada kamar kosong yang bisa kamu tempati.” Sarannya. “Jangan khawatir juga, nanti aku pamitkan ke ibu dan mbak, mereka pasti ngasih ijin. Daripada kamu kayak gini, resikonya besar. Syukur ada aku, misalkan nih orang lain nolong kamu, tapi malah mau macem-macem gimana?” “Kok jadi kesitu siih. Nggak mungkin juga lah macem-macem sama orang yang kesakitan.” Elak Aara yang tidak habis pikir ternyata pada akhirnya laki-laki itu narsis juga. “Ya kita nggak tau kan, semuanya bisa terjadi.” “Kamu aja yang berpikiran buruk.” Elak Aara lagi, namun dia langsung berhenti karena Harist menatapnya dengan tajam. “Oh ya Rist,” Aara ingat sesuatu. “Hmm?” Harist mengubah posisi, mengganti posisi kakinya yang kanan menjadi penopang. Ternyata melelahkan juga terus jongkok dengan celana kerja. “Aku pernah denger cerita dari karyawan lain tentangmu sama…” “Naomi?” Potong Harist yang sama persis dengan pertanyaan Aara sebenarnya. “Kok kamu tau?” tanya Aara keheranan. “Iya, kehidupanku yang mereka tau cuma hal itu.” “Dan aku baru mengetahuinya sekarang.” Gantian Aara yang menatap laki-laki itu dengan tajam. “Aku ini siapamu? Kenapa kamu nggak cerita?” “Itu semua sudah menjadi masa lalu, kenapa harus diceritakan.” “Bahkan masa laluku semuanya sudah aku ceritakan ke kamu. Apa memang aku yang terlalu berlebihan.” “Berlebihan apa?” “Berlebihan percaya. Aku tau mungkin setelah mendengar cerita masa laluku, kamu jadi ragu untuk percaya denganku,” “Ngomong apa sih.” Harist membenarkan posisinya lagi. Mobil tiba-tiba berhenti, ternyata mereka sudah sampai di depan tempat praktek bidan desa. “Sudah sampai ya?” “Iya mas, mari saya bantu.” Ucap seseorang yang sudah baik membantu mereka. Ada dua orang, setelah menurunkan Aara dan Harist, mereka menurunkan motornya juga. “Terima kasih banyak ya, Pak.” Ucap Harist sembari memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu. “Wah mas, ndak usah repot-repot. Kita cuma membantu, kebetulan searah juga.” Ucap salah satu dari mereka. “Nggak apa-apa pak, sebagai tanda terima kasih. Tolong diterima ya.” Ucap Harist dengan sopan tanpa menyinggung perasaan orang. Aara sangat menyukai sikap laki-laki itu. Bisa menempatkan diri dengan baik. Jika diperusahaan dia terlihat arogan dan perfeksionis, tapi jika turun dan bersosialisasi dengan orang biasa, dia bisa bersikap sangat lembut dan sopan. Setelah menerima uang tersebut, orang yang membantu mereka pun pergi. Harist kembali memapah Aara memasuki tempat praktek tersebut. “Loh Aara kenapa?” tanya bidan tersebut. “Tadi ada kecelakaan kecil sewaktu melewati banjir, bu.” Jawab Harist. “Yaudah ayo dibersihkan lukanya dulu.” Bidan tersebut pun membawa Aara masuk ke tirai berwarna hijau. Suara ponsel berbunyi dari tas Aara. Awalnya Harist tidak menghiraukan, karena ponsel tersebut masih menjadi privasi Aara, dan dia tidak bisa seenaknya saja membuka atau mengangkat telepon. Tapi pikirannya langsung tertuju pada keluarga perempuan itu, pasti mereka khwatir karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah Sembilan, sedangkan sejak tadi Aara tidak mengabari keluarganya karena sedang menahan sakit. Harist pun mengambil ponsel Aara didalam tasnya, dan memang benar, ada banyak panggilan tidak terjawab. Laki-laki itu pun menghubungi kakaknya Aara. “Halo, mbak.” *** “Sudah selesai, lukanya nggak terlalu dalam kok. Mungkin butuh waktu lima sampai enam hari bisa kering. kalau kena air atau keringat segera dibersihkan ya, supaya tidak memperlambat penyembuhan, jangan lupa obatnya juga di minum untuk meredakan nyeri dan mempercepat penyembuhan.” Ucap bidan tersebut sembari membantu Aara turun dari ranjang periksa. “Iya bu, terima kasih banyak ya.” Ucap Aara berjalan keluar dari ruang praktek dengan dibantu bidan. “Didepan itu pacar kamu ya?” tanya bidan tersebut penasaran. Aara hanya meringis, “Bukan bu, dia atasan saya.” “Atasan? Wah keren sekali peduli sama karyawannya.” Bidan itu menimpali lagi. ‘Kalau dipikir sebagai atasan memang Harist sangatlah baik karena peduli dengan karyawannya. Tapi Harist juga temanku, sudah seharusnya dong membantuku.’ Ucap Aara dalam hati. Aara menuju tempat Harist berada, laki-laki itu langsung berdiri dan mengambil alih untuk memapahnya. “Bagaimana bu kondisinya?” tanya Harist. “Lukanya tidak terlalu dalam, butuh sekitar enam hari sudah bisa kering. yang penting obatnya diminum teratur dan jaga kebersihan.” Jawab bidan tersebut. “Baiklah, Bu. Terima kasih ya, kami pamit.” Aara menyudahi percakapan Harist dan bidan desa tersebut, dia tidak mau Harist terlihat sangat khawatir. *** Beberapa waktu kemudian, Aara dan Harist telah sampai di rumah. Keluarga dan kerabatnya sudah berada didepan rumah semua, menunggu kedatangan mereka. “Ada apa ini?” bisik Aara pada Harist melihat rumahnya penuh dengan orang-orang berwajah khawatir. Harist pun menggeleng, “Aku hanya memberitau ibumu kalo kamu mengalami kecelakaan kecil sewaktu melewati banjir, aku juga sudah memberitau agar nggak terlalu khawatir karna kamu udah dibawa ke bidan desa. Tapi…” laki-laki itu juga tidak tau kenapa bisa mengundang banyak orang dalam rumah itu. Dia masih berpikir apa ucapannya tadi salah? “Raaaaa… gimana kaki kamu?” kakaknya berlari kearah Aara yang sedang menuruni motor, dan memapah adiknya itu. Kemudian yang lain membantu Harist juga. Mereka seolah selesai berjuang di medan perang dan telah meraih kemenangan, sehingga disambut oleh banyak orang. Aara dibawa ke kamarnya dan dirawat oleh kakak dan saudara yang lainnya. Sedangkan Harist diberi baju ganti oleh paman Aara, lalu disiapkan minyak angin. Kemudian keduanya disiapkan makan malam oleh ibunya. Mereka pun bersama-sama makan, dengan satu nampan besar yang berisi nasi tumpeng beserta lauk pauknya, sebelum menyantap makanan tersebut, paman Aara memberikan sambutan. “Syukuran kecil-kecilan ini sebagai rasa terima kasih pada Allah SWT karena telah memberi keselamatan pada Aara dan Pak Harist sehingga bisa berkumpul lagi dengan keluarga.” Ucap pamannya. SUNGGUH! Ini benar-benar mereka seperti pulang dari tempur. Aara dan Harist hanya pulang dari melewati banjir, bukan mempertaruhkan nyawa untuk berjuang demi kemaslahatan negara. Harist yang sejak tadi bingung menjadi lebih tidak mengerti, dia menatap Aara, namun perempuan itu malah membalasnya dengan tatapan yang ambigu. Karena Aara sendiri juga bingung. *** Setelah acara makan-makan tersebut selesai, Aara menghampiri Harist yang sedang duduk digazebo depan rumahnya. Melihat laki-laki itu, Aara langsung melemparkan senyum meringisnya. Harist yang sedang menyecap teh hangat, sedikit menggeser tubuhnya ke kiri untuk memberi tempat untuk Aara duduk. “Kenapa keluar? Harusnya kamu istirahat.” Tanya Harist. “Apa selama acara itu kamu punya pertanyaan yang sama denganku?” Aara menahan tawanya. Harist pun mengangguk dan mengalihkan perhatiannya. “Kenapa mereka melakukannya?” Perempuan itu menggeleng, “Aku juga nggak tau, kenapa mereka bisa berlebihan seperti itu. Tapi jadinya kocak sekali sih.” Akhirnya Aara tertawa. “Perasaan aku membeitau ibumu agar nggak terlalu khawatir.” Harist masih berusaha mengingat apa ucapannya tadi salah. “Yasudah lah. Oh ya, kamu beneran mau menginap?” tanya Aara karena saat di acara makan-makan tadi, pamannya mengajak Harist untuk tidur bersama-sama dengan saudar-saudaranya di rumah Aara. “Iya, gimana lagi. Udah malem, dan dekat sini juga nggak ada penginapan.” Jawab Harist. “Lagian aku menginap nggak sendirian juga kan? Ada paman dan yang lainnya.” Aara mengangguk membenarkan, “Tapi nanti tidurmu diruang tamu sama yang lainnya loh.” “Maksudnya?” “Ya nanti kalian tidur dilantai, alasnya karpet aja. Karna nggak ada kasur juga disini, udah kepake semua.” “Kamu yakin?” tanya Harist tidak percaya, apa kabar dengan pinggangnya nanti. Aara mengangguk lagi sembari meringis. “Oh ya, kita belum menyelesaikan pembicaraan yang tadi.” Aara mengingat lagi, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Harist. “Hmm, aku kedalam dulu ya,” laki-laki itu sudah punya firasat tidak enak, dia pun beranjak. Namun Aara segera menghentikannya, “Duduk nggak?” Harist pun dengan terpaksa menuruti permintaan Aara. “Iya kenapa?” tanya Harist tidak bersemangat. “Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu sama Naomi? Apa yang dibicarakan karyawan lainnya itu benar?” sepertinya Aara benar-benar penasaran. “Iya benar, semua yang kamu dengar dari mereka itu benar. Aku dan Naomi memang pernah berpacaran, dia karyawan diperusahaanku sendiri. Awalnya memang hubungan itu berjalan biasa saja, tapi semakin lama semakin hambar rasanya, Naomi perlahan menjadi orang yang berbeda, dan pada ujungnya, dia ketahuan selingkuh dengan temanku sendiri. Mereka aku pergoki berada di kamar hotel. Dan setelah itu semuanya selesai, Naomi mengajukan pengunduran diri, lalu dia menghilang sampai sekarang.” Harist menjelaskan keseluruhan cerita agar perempuan disampingnya itu puas dan tidak bertanya lagi. “Terkesan begitu cepat ya? Apa itu beneran terjadi?” ternyata tidak seperti perkiraan Harist, Aara masih mengajukan pertanyaan. “Menurutmu?” “Apa selama itu kamu masih menjadi orang yang kaku, keras kepala dan perfeksionis?” tanya Aara. “Kamu sedang bertanya, atau sedang mengataiku ya?” tanya balik Harist yang sekarang tidak terima dibilang seperti itu. “Ayolaah, jawab aja.” “Ya.” Jawab Harist. “Aku rasa ini semua bukan murni kesalahannya Naomi.” Ucap Aara. “Gimana bisa kamu menilai seseorang tanpa melihat atau mengenalnya?” Harist semakin tidak habis pikir dengan Aara, kenapa sekarang dia merasa sedang disudutkan. “Aku perempuan, dan aku bisa merasakan posisi Naomi saat itu.” Ucap Aara. “Apa selama hubungan itu terjalin, Naomi menuntutmu untuk berubah?” Harist terdiam, menerka apa yang terjadi dahulu. “Tidak.” Jawabnya. “Itu artinya Naomi benar-benar mencintaimu, dia nggak ingin merubah orang yang dia cintai, meski dia sendiri nggak suka dengan sifat kamu. Dia menerimamu apa adanya.” Ucap Aara yang malah membuat hatinya tiba-tiba sakit. Kenapa? Apa karena dia sedang membela perempuan yang pernah ada dalam hidup Harist? “Apa kamu pernah berpikir kenapa dia bisa berselingkuh? Padahal dia bisa menerima kamu dengan sifat yang seperti itu?” Harist kembali terdiam. “Mungkin saja waktu itu terjadi kesalahpahaman, tapi kamu nggak mau tau.” Tambah perempuan itu. “Seandainya besok kamu bertemu lagi dengan dia, apa kamu masih mau beri dia kesempatan?” Aara benar-benar mengutuk dirinya sendiri, hatinya saja sudah menolak mengatakan itu, kenapa masih terus dia ucapkan.s “Kenapa kamu banyak omong? Semuanya sudah berlalu, dia pun sudah nggak ada disini lagi. Lagian, seseorang yang benar-benar mencintai bukan hanya menerima apa adanya, tapi dia mampu merubah orang yang dicintainya menjadi lebih baik tanpa keterpaksaan dan tuntutan. Serta merta karena saling mencintai.” Ucap Harist setelah membiarkan Aara banyak bicara. “Sudah, ayo masuk. Kamu perlu banyak beristirahat.” *** Di tempat lain, seorang perempuan sedang mengemasi barang-barangnya. Dia terpaksa kembali ke kota kelahirannya, karena ibunya sedang sakit dan sendirian. Dia harus kembali ke kota dimana luka itu terbentuk hingga menyakitinya sampai hari ini. Perempuan itu membuka koper lamanya yang akan dia gunakan untuk menyimpan beberapa pakaian. Namun didalamnya dia menemukan dua bingkai foto yang berisi kenangan tak terlupakan bersama seseorang. Foto pertama, ketika dia bersama seseorang tersebut berada disebuah taman dekat persimpangan, dimana menjadi tempat pertama mereka bertemu. Dan foto kedua; ketika mereka sedang melakukan photoshoot berdua, begitu terencana dan indah, yang ternyata menjadi kenangan paling terakhir dengan seseorang itu. Dua bingkai foto yang akan selalu mengingatkannya akan kesalahan terbesar dalam hidupnya, yaitu; berkhianat. “Sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, Rist.” Disentuhnya dengan pelan permukaan foto yang mulai berdebu. Naomi, nama perempuan itu. Hampir sudah dua tahun dia pergi dari kota yang membesarkannya, tempat yang membuatnya menemukan cinta sempurna namun dihancurkan oleh dirinya sendiri. “Jika saja aku bisa sedikit bersabar dengan sifatmu, semuanya tidak akan terjadi.” Cinta sempurna itu telah menghempaskannya, dan dia terjatuh. Bahkan ternyata rasanya sangat menyakitkan daripada bersabar dengan sifat Harist pada saat itu. Air mata itu dihapusnya. “Tapi, aku selalu berdoa, agar kamu mendapatkan yang lebih baik dariku, yang bisa bersabar dengan sifat dan sikapmu. Yang selalu membuatmu bahagia…” suaranya tercekat, perempuan itu begitu naif. Bahkan dengan menghapus airmatanya bukan berarti dia merelakan semua itu. Hari ini Naomi akan kembali ke tempat dimana bisa saja dia bertemu dengan Harist. Dan sebenarnya, hingga sekarang, dia masih belum siap. Kenangan yang membuatku menjadi tidak waras, Kenangan juga lah yang membuatku menjadi pecundang, Tapi karena kenangan, aku tidak mau menjadi seseorang yang culas, Yang terus mengharapkanmu meski dalam bayang.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD