Harist menghirup nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya dengan lega. Dia menatap sawah yang padinya mulai menguning, dan beberapa burung yang terbang karena petani telah datang.
Menyenangkan rasanya tinggal ditengah pedesaan, tidak ada polusi, udara segar, dan matanya dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Meskipun setelah bangun badannya terasa sakit semua karena tidur dilantai bersama paman dan saudara Aara yang lainnya.
Tadi malam juga menjadi saat yang asyik untuk laki-laki itu menguarkan penat selama seharian, dia bertukar pikiran cukup banyak dengan yang lain. Membicarakan dari desa sampai kota, dari becak sampai mobil Alphard, dari sawah sampai bangunan mewah. Sesuatu yang terlihat berbeda dan mempunyai jarak, ternyata jika disatukan akan lebih menarik, seperti pembicaraan mereka tadi malam.
Aara yang baru bangun, segera mencari keberadaan Harist. Dia khawatir laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan lingkungan rumahnya.
“Kamu disini,” Aara menghampiri Harist yang berada didepan rumah.
Harist pun menoleh dan melihat kaki perempuan itu, “Sudah enakan kakinya?”
Aara mengangguk sembari berdiri disamping Harist, “Sudah makan?” tanyanya.
“Sudah, tadi makan sama yang lainnya.” Jawab laki-laki itu sembari masih asyik menatap pemandangan yang ada didepannya.
“Kamu baik-baik saja kan?” ini sebenarnya pertanyaan yang ingin sekali diucapkan Aara.
Harist pun menoleh kearah Aara dan mengernyitkan alisnya dengan bingung, “Tentu, kenapa?”
“Nggak apa-apa, mungkin saja tidurmu nggak nyenyak, atau masakannya nggak enak.” Ucap Aara.
“Aku menyukai semua yang ada disini.” Jawab laki-laki itu dengan lugas, seolah tidak ada keraguan. “Mungkin nanti aku akan memilih tinggal disini saja.” tambahnya yang membuat Aara gelagapan.
“Ma-maksudnya?”
Kenapa Aara menjadi berpikir yang tidak-tidak, kenapa dia berharap yang dimaksud Harist adalah mereka menikah dan memilih tinggal didesanya.
“Ya mungkin aku akan cari rumah disini.” Jawab Harist datar.
Hei, tolong ya hati. Jangan suka terbawa perasaan dengan ucapan laki-laki itu!
“Oh.”
“Oh?”
“Ha?” Aara tidak mengerti maksud laki-laki itu lagi. Sepagi ini dia harus dibuat ketar-ketir oleh seseorang disampingnya itu. “Mmm, yasudah aku siap-siap berangkat kerja dulu ya.” Aara mengalihkan pembicaraan.
“Loh heh!” Harist langsung menarik tangan Aara yang hendak beranjak. “Siapa yang menyuruhmu bekerja? Aku acc kamu cuti.” Tambahnya.
“Tapi aku nggak mengajukan cuti.” Balas Aara. “Lagian pekerjaanku masih banyak, dan harus dikontrol langsung.”
“Aku akan menyuruh bu Okta untuk menunjuk yang lainnya menggantikan kamu sementara, lagian apa yang bisa kamu lakukan dengan kaki seperti ini? Dan melewati banjir lagi?” Harist geleng-geleng kepala. “Aku nggak mau dibantah.”
Keras kepala laki-laki itu kembali kambuh. Tapi memang sepertinya Aara harus menuruti.
“Terus kamu gimana? Apa kamu sudah hubungi driver untuk jemput kamu?” Aara bertanya, dia juga penasaran apa laki-laki itu akan tetap berada di rumahnya atau pulang secepatnya.
“Sampai siang nanti aku tetap disini, driver harus mengantar Mama dan Ayah check up, tadi juga aku coba minta tolong ke Alvyan tapi dia masih ada meeting pagi ini. Jadi nanti siang Alvyan baru jemput.” Jelas Harist.
“Alvyan yang jemput?” tanya Aara.
“Iya, kenapa?” tanya balik Harist.
“Nanti dia tau rumahku dong.” Jawab Aara.
Perempuan itu berpikir akan berbahaya jika Alvyan tau Harist menginap dirumahnya dan semakin menimbulkan prasangka buruk terhadapnya dan Harist. Alvyan akan semakin berpeluang membocorkan rahasia pertemanannya ke karyawan yang lain.
“Hah, iya dong.” Harist juga baru menyadari.
Laki-laki itu mencemaskan sesuatu; Alvyan, teman yang diketahuinya selama ini suka bermain perempuan, akan mengkhawatirkan jika tau rumah Aara. Bisa saja tanpa sepengetahuannya, Alvyan menjemput ke rumah Aara langsung dan mengajaknya jalan.
Tidak tidak!
“Sebentar, aku batalin aja.” Harist langsung mengambil ponselnya, dan mengirim pesan ke Alvyan untuk tidak menjemputnya. “Untung belum shareloc.” Laki-laki itu menghembuskan nafas lega.
Aara mengernyitkan alis bingung, kenapa Harist menjadi sepanik itu, seperti dirinya. Apa laki-laki itu juga mengkhawatirkan hal yang sama?
“Terus gimana kamu pulangnya?” tanya Aara lagi.
Harist memasukkan ponselnya kembali ke kantong celana, kemudian dia tersenyum kearah Aara. “Mungkin setelah driver mengantarkan Ayah check up. Jadi aku tetap berada disini.”
“Pekerjaanmu?” tanya Aara.
“Tidak masalah.” Harist mengajak Aara berbalik untuk masuk kedalam rumah. “Mandilah, dan istirahat.”
***
Naomi sudah sampai di rumah ibunya, wanita paruh baya itu hanya ditemani oleh adik perempuannnya yang sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Jadi bagaimanapun juga, wanita itu tinggal sendirian dan hanya sesekali ditengok oleh adiknya.
“Kamu jadi menetap disini lagi kan, Nak?” tanya wanita itu setelah sesuap bubur masuk dimulutnya.
“Buu, kunyah dulu makanannya.” Naomi berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Nak, biarkanlah yang sudah berlalu. Ibu disini sendirian, ibu butuh kamu.” Ucapnya yang membuat Naomi tidak kuasa menahan airmata.
“Iya bu, Naomi akan disini sampai ibu sembuh ya.” Jawab perempuan itu masih bersikeras.
“Apa kamu masih mementingkan luka daripada ikhlasmu, Nak?” pertanyaan itu begitu menohok hati Naomi. “Semua orang pernah terluka, bahkan ibu sendiri terluka melihatmu seperti ini. Mencobalah ikhlas dan berdamai dengan keadaan. Ibu tau itu tidak mudah, tapi ibu percaya kamu pasti bisa. Dengan kamu menghindar seperti ini terus, semuanya tidak akan pernah selesai.”
Perempuan itu hanya terdiam, logikanya setuju dan sepakat dengan yang dikatakan ibunya, tapi hatinya? Begitu kuat untuk menolak.
“Kamu tau, kenapa ibu kuat disini sendiri, meski Naomi tinggal keluar kota.” Ucapan ibunya adalah pertanyaannya selama ini. “Karena ada seseorang yang selalu datang setiap hari untuk menguatkan ibu.” Pandangan wanita itu menerawang jauh, mengingat banyak sekali momen yang harusnya ada Naomi disana.
Seseorang muncul dari balik pintu, dan berjalan menuju Naomi dengan ibunya.
Seseorang yang dengan suka rela menuai luka untuk kebahagiaanmu,
Menanti fajar dan mengikhlaskan senja pergi,
Silih berganti.
Sampai aku sendiri tidak mengerti,
Kapan semuanya berhenti, dan kamu mulai memahami;
Bahwa aku yang selama ini menunggumu kembali.
Seseorang yang terlanjur tulus mencintaimu.