Aara yang tadinya melangkah menjauh dari Harist, kembali berbalik kearah laki-laki itu. "Tunggu, apa yang kamu bilang tadi? Seriusan kamu 'hmm' sama aku?" Tanya Aara meyakinkan perasaannya. Harist pun mengangguk, "Aku nggak pernah bohong kan?" Aara lalu menghamburkan tubuhnya untuk memeluk laki-laki yang sudah beberapa hari ini dirindukan. "kenapa nggak dari awal siiiiih." Dia merasa kesal sekali, tapi rindunya jauh lebih besar. "Kamu sih nggak mau menungguku sebentar lagi." Harist tetap saja keras kepala, tidak mau disalahkan. "Aku nih yang salah?" Aara juga tidak mau disalahkan. Menunggu? Sudah berapa lama perempuan itu menunggu. "Enggak enggak, maafin aku ya." Harist memeluk perempuan itu lebih erat. "Jangan pergi lagi, aku takut kehilanganmu." Ungkapan itu yang harusnya sejak du

