Harist melewati pelataran rumah setelah memarkirkan mobilnya, dia melihat Naomi sudah menyambutnya dengan senyum bahagia, rasanya menjadi berat untuk mengatakan kebenaran dan merusak kebahagiaan perempuan itu. Namun Harist harus mengatakannya daripada akan semakin banyak yang tersakiti. “Sayaang, akhirnya dateng juga. Gimana? Urusannya udah beres?” tanya perempuan itu sembari melingkarkan tangannya dilengan laki-laki itu. Mereka berjalan menuju ruang tamu. “Udah selesai.” Jawab Harist. Setelah berada di ruang tamu, Harist melepaskan tangan Naomi yang sedang menggandengnya, membuat perempuan itu tercekat. Kenapa? Apa yang terjadi dengan laki-laki itu? “Naomi, aku ingin bicara serius.” Ucap Harist tanpa memanggil perempuan didepannya dengan sebutan sayang, seperti yang dilakukan oleh Na

