Bab 13. Tak Menyangka

1046 Words
Bukan Arya namanya kalau mau mendengarkan ucapan orang lain. Apalagi Bondan hanyalah seorang petugas keamanan sebuah apartemen. Nyali Arya terlalu besar sehingga melupakan aturan yang berlaku di suatu tempat. "Arya, kamu nggak bisa terus bertindak seenaknya! Pak, tolong blacklist orang ini! Saya akan membayar lebih untuk mencegahnya masuk ke apartemen ini!" Livia balik kanan kemudian melangkah menuju lift. Arya terus berteriak layaknya orang kesetanan. Namun, Bondan dengan seorang rekan kerjanya langsung mencengkeram lengan Arya. Dia diseret dengan posisi membelakangi petugas keamanan, sehingga masih bisa melihat Livia yang masuk ke lift. Livia pun bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu diusir dengan cara memalukan. Livia melipat lengan di depan d**a sambil tersenyum miring. Perempuan itu mengacungkan jari tengah ke arah Arya sebelum pintu lift tertutup. "Perempuan brengs*k! Ja*lang! Awas, kamu, Livia! Nantinya kamu akan memohon di kakiku untuk kembali bersama!" teriak Arya penuh emosi. Setelah Arya berhasil diseret keluar dari lobi apartemen. Lelaki itu dilepaskan oleh para petugas keamanan. Dia terus mengumpat sambil menendang pot bunga besar yang menghiasi depan gedung apartemen mewah itu. "Sialan! Dia bahkan memiliki unit apartemen di tower ini! Dia menyembunyikan banyak hartanya dariku! Dasar wanita licik!" teriak Arya sambil terus mengacak rambut frustrasi. Tanpa sadar ketika Arya sibuk menggerutu serta mengumpati Livia, Kurnia berjalan melewati lelaki itu. Perempuan berusia 60 tahunan tersebut tersenyum miring seraya melirik menantunya melalui ekor mata yang tertutup kacamata hitam. Kurnia merasa puas melihat orang yang mengkhianati putrinya perlahan hancur. Kurnia terus berjalan masuk dan mendekati lift. Ketika menunggu lift turun ke lobi, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara perempuan muda yang menyapa Kurnia. Dia balik kanan dan melepaskan kacamatanya. "Tante!" sapa Sandra. Perempuan cantik itu langsung menghambur ke pelukan Kurnia. Kurnia pun mengusap punggung gadis yang terasa seperti putri kandungnya itu sendiri. Ketika pintu lift terbuka, mereka pun masuk bersamaan. Sandra lebih banyak bercerita tentang kesehariannya sehingga membuat Kurnia terus tertawa sepanjang perjalanan menuju unit apartemen Livia. Saat mereka sampai di lantai tempat Livia tinggal, keduanya keluar dari lift dan berjalan beiringan menuju apartemen Livia. "Ckckck, kamu mencuri ibuku?" Suara Livia menyapa pendengaran keduanya dari arah kanan. Kini Livia sedang berpakaian sederhana dengan rambut diikat tinggi. Dia terlihat berjalan dari arah tempat pembuangan sampah khusus lantai tersebut. Kurnia membuka lebar lengannya, tetapi dicegah oleh Sandra dan justru dia yang kembali masuk ke pelukan ibu dari sahabatnya tersebut. "Dia ibuku!" seru Sandra sambil menjukurkan lidah. "Enak saja!" Livia akhirnya berlari ke arah ibu dan sahabatnya. Akhirnya mereka bertiga berpelukan sebentar, kemudian kembali berjalan menuju apartemen milik Livia. Sandra dan Livia mengobrol seru di depan televisi sementara Kurnia sibuk menyiapkan makan. "Via, gas nikahi duda tampan itu!" seru Sandra secara tiba-tiba. "Maksudmu?" Livia mengerutkan dahi sambil mengambil botol air mineral dan menenguknya perlahan. "Kata Anton, dia membeli tempat fitness langganan dan meminta pemilik tempat itu mencari tempat baru!" Sontak air yang ada dalam mulut Livia menyembur keluar. Sandra yang tidak siap gagal menghalau air itu sehingga kini wajahnya basah kuyup. Livia langsung mengambilkan tisu dan membantu Sandra membersihkan wajah dari semburan mautnya. "Livia jorok!" Sandra terus menggerutu sambi setengah merengek. "Sorry, San. Aku benar-benar nggak nyangka! Pantas saja pas aku sama Pak Reza sampai, Anton menyerahkan bukti pembayaran. Aku pikir itu bukti pembayaran untuk pekerjaan atau proyek. Aku benar-benar tidak berpikir kalau Pak Reza membeli tempat itu!" "Bukan cuma tanah dan bangunannya, Via! Dia membayar kontan semua isi pusat kebugaran itu!" seru Sandra sambil terus mengeringkan wajah menggunakan tisu. "Astaga! Nekat banget, sih! Apa maksudnya coba? Buang-buang uang! Mana itu tempat sepi banget setelah dibeli!" "Ya, memang akan digunakan untuk tempat olah raga pribadi kata Anton." Sandra tersenyum, lalu menyandarkan punggung pada kepala sofa. "Gila!" Keseruan mereka terus berlanjut ketika membahas Reza. Sampai akhirnya hari berganti menjadi malam. Livia tinggal sendiri berteman dengan sepi setelah ibu dan sahabatnya pulang. Bayangan pengkhianatan Arya dan Nadira kembali mencuat. Air mata Livia pun tumpah. Rasa sakit itu masih membekas di hatinya. Livia mengira Arya lelaki yang tulus karrna dia mengaku hanyalah anak yatim piatu ketika mulai menjalin kasih dengannya. Dia juga bersembunyi dari khalayak kalau dirinya merupakan ahli waris tunggal Kurnia Hutomo. Pemilik firma hukum terbesar di kota Jakarta bahkan Indonesia. "Setelah melihat perempuan dengan prospek kekayaan lebih banyak, ternyata aku dibuang juga pada akhirnya." Livia tersenyum kecut kemudian menghapus air matanya. "Sudah, Via! Tuhan menunjukkan kepadamu seperti apa Arya sebenarnya! Masih untung kamu belum memiliki anak dengannya! Tuhan memang paling tahu yang terbaik untuk umat-Nya!" Livia menyemangati dirinya sendiri agar tidak kembali berlarut-larut patah hati. Livia akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata. Keesokan harinya dia bangun dengan kondisi badan yang terasa remuk redam. Semua bagian tubuhnya terasa begitu sakit luar biasa. Bahkan hanya untuk berpindah posisi badan, Livia kepayahan. Akan tetapi, Livia harus datang ke sidang perceraiannya dengan Arya. Jadi, dia memaksakan diri agar bisa datang ke sana dan menghadiri persidangan. "Aduh, aku nggak bisa ini kalau mengendarai mobil sendiri. Aku harus menghubungi Sandra buat minta tolong antar ke pengadilan." Livia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia langsung menghubungi sang sahabat. Akan tetapi, Sandra tidak bisa mengantar Livia karena ada pekerjaan lain. "Baiklah, San. Aku pesan taksi online saja. Aku mandi dulu kalau begitu." Livia mengakhiri sambungan telepon dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap, Livia langsung memesan taksi online melalui aplikasi. Sambil menunggu taksi datang, Livia memanggang roti. Di saat bersamaan, terdengar bel apartemen yang berbunyi. Livia berjalan pelan menuju pintu apartemen dan melihat siapa yang datang melalui layar kecil yang ada di depan pintu. Ternyata ada Anton dan Reza sudah ada di depan apartemen. Melihat pemandangan itu, sontak Lovia mengerutkan dahi. Anton terlihat kembali mengetuk pintu. Livia akhirnya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia pun membukakan pintu untuk mereka. "Pak Reza? Ada keperluan apa?" tanya Livia. "Apa tidak sebaiknya kita mengobrol dulu di dalam?" Reza mengeluarkan suara baritonnya yang terdengar dingin. Akhirnya mau tidak mau Livia memiringkan badan sehingga dua lelaki itu masuk ke huniannya. Reza terlihat menatap sekeliling apartemen Livia. Bibirnya tampak lurus dengan mata yang terus mengedarkan pandangan ke setiap sudut apartemen. "Selera yang lumayan. Dilihat dari apartemen ini, sepertinya kamu bukan seorang pengacara biasa. Benar begitu?" tanya Reza seraya menyipitkan mata. "Maksud Pak Reza?" Livia mengerutkan dahi dan menyipitkan mata. "Sepertinya kamu ...." Reza menggantung ucapannya di udara sambil tersenyum penuh arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD