"Sebenarnya apa, sih, yang ada di otakmu itu?" Reza menyentil dahi Livia menggunakan jemarinya.
Livia tersenyum sambil mengusap dahi yang kini sedikit berwarna merah karena ulah Reza itu. Akhirnya Reza memutuskan untuk memberi contoh kepada Livia. Dia tengkurap dengan lutut sebagai tumpuan.
Kedua tangan Reza kini memegang ab wheel dan mulai melakukan gerakan maju mundur dengan tangan menggenggam alat tersebut. Livia pun paham setelah ditunjukkan langsung oleh Reza. Selain menggunakan ab wheel, Livia juga diajari cara menggunakan alat lain yang berfokus untuk membentuk dan meratakan otot perut.
Sesi latihan itu berlangsung hingga hampir satu jam. Keringat mengucur membasahi tubuh Livia siang itu. Dia berganti pakaian dan berjalan ke arah tempat parkir.
"Kamu pulang saja satu mobil sama Pak Reza. Mobilmu akan kuantar ke apartemen. Aku akan menunggumu di sana!" ujar Anton yang kini bersandar pada badan mobil.
"Kenapa harus bareng Pak Reza lagi?"
"Kan aku sudah bilang kalau beliau ingin membahas sesuatu denganmu. Good luck, deh! Jangan sampai salah bicara lagi kalau nggak mau kesempatan yang kamu buat sia-sia!" Anton mengerlingkan sebelah mata kemudian masuk ke mobil.
Livia hanya bisa memandang mobilnya yang melaju semakin jauh. Ketika mobil tersebut tidak lagi nampak dalam pandangan, Livia mengembuskan napas kasar. Akan tetapi, embusan napas itu tak tuntas sepenuhnya karena tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah belakang tubuhnya.
"Kenapa? Seperti kecewa sekali!" ujar Reza tepat di telinga kiri Livia.
Sontak Livia menoleh ke samping. Kini Reza sedang berdiri di belakangnya dengan posisi sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badan dengan perempuan tersebut.
"Astaga!" teriak Livia sambil mengusap d**a.
"Pak, kalau mendekat minimal ada suara langkah kakinya dong! Macam hantu aja!" gerutu Livia seraya mengerucutkan bibir.
"Kamu yang kaget, kok, saya yang disalahin?"
"Pokoknya Bapak yang salah!" Livia berjalan menjauhi Reza untuk keluar dari area parkir.
Akan tetapi, tiba-tiba Reza menarik lengan Livia. Perempuan tersebut akhirnya masuk ke pelukannya. Tatapan mereka bertemu.
Hanya beberapa detik menatap wajah tampan Reza membuat jantung Livia berdetak begitu kencang. Dia juga menelan ludah kasar ketika tatapannya fokus pada bibir tipis merah milik Reza. Tak lama kemudian, Reza melepaskan pelukannya dari pinggang Livia.
"Aku ingin menanyakan beberapa hal. Jadi, tolong ikut denganku." Reza berdeham sambil menyugar rambut.
"Ba-baik, Pak."
Mobil Reza pun berhenti di depan mereka. Sopir lelaki itu hendak keluar dari mobil, tetapi Reza memberi isyarat agar dia tetap ada di balik roda kemudi. Kali ini sang pengusaha tampan itu yang membukakan pintu mobil untuk Livia.
Bahkan Reza menggunakan salah satu telapak tanganmya untuk melindungi puncak kepala Livia agar tidak terbentur bagian atas mobil. Livia tersipu malu mendapat perlakuan yang menurutnya istimewa itu. Bahkan selama menikah dengan Arya, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis itu.
Setelah memastikan Livia duduk dengan tenang di dalam mobil, Reza menutup pintu dan berjalan memutari kendaraan tersebut. Lantas lelaki itu duduk di samping Livia. Reza pun meminta sang sopir untuk bergegas melajukan mobil.
"Jadi, apa yang ingin Pak Reza bicarakan dengan saya?" tanya Livia tanpa basa-basi.
"Aku ingin bertanya soal Brilian. Apa benar dia dalang di balik kasus yang menjeratku?" tanya Reza dengan tatapan serius tak lepas dari Livia.
"Ya, bisa dibilang begitu, Pak. Bukankah Brilian resign setelah Anda selesai membahas proyek aplikasi ini bersama beberapa staf lain termasuk Brilian?" tanya Livia sambil tersenyum miring.
"Bagaimana kamu bisa ...."
"Pak, saya sudah bekerja di bidang ini bertahun-tahun. Saya memiliki tim ahli yang bisa diandalkan. Kemampuan penyelidikan mereka bisa dibilang setara dengan FBI!" seru Livia sambil terkekeh.
"Benarkah?" Reza mencembikkan bibir sambil melirik Livia yang kini mendongak penuh kesombongan.
"Baiklah, saya harap semua berjalan dengan baik. Saya harus segera datang ke kantor polisi untuk memenuhi wajib lapor."
Livia hanya mengangguk. Reza memang tidak ditahan untuk kasusnya kali ini. Bukti belum cukup kuat, serta lelaki itu orang berpengaruh dalam roda perekonomian negeri ini, khususnya kota Jakarta.
Banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh pihak kepolisian karena Reza merupakan salah satu orang penting di Jakarta. Jadi, dia hanya diminta untuk melakukan wajib lapor untuk memastikan tidak kabur ke mana pun. Sebenarnya Reza dirugikan dengan hal ini karena beberapa proyek besar dari luar negeri harus ditunda.
Tanpa terasa mobil mereka sudah sampai di apartemen Livia. Livia pun akhir ya berpamitan. Ketika keluar dari mobil, Anton sudah menunggunya dengan kunci mobil dalam genggaman.
"Ini kuncinya. Aku sudah memarkirkan di tempat biasa kamu parkir." Anton menyerahkan kunci mobil itu kepada Livia.
Livia tidak heran bagaimana Anton bisa mengetahui di mana dia biasa memarkirkan mobil. Livia menduga semua informasi tentangnya sudah didapat dari sang sahabat. Setelah Livia menerima kunci mobil, Anton pun berpamitan dan masuk ke mobil Reza.
Livia menatap mobil yang terus menjauh itu sambil melambaikan tangan. Setelah kendaraan yang ditumpangi oleh reza tak lagi terlihat, barulah Livia masuk ke lobi apartemen. Tanpa dia duga Arya sudah ada di sana dan langsung menghampiri Livia.
"Oh, jadi ini alasanmu yang sebenarnya kenapa menceraikan aku buru-buru? Kamu sudah menjalani hubungan dengan Pak Reza? Sudah berapa lama, Livia? Ha?" teriak Arya.
"Bukan urusanmu!" Livia mengabaikan Arya dan berjalan cepat ke arah lift.
Akan tetapi, suaminya itu mencekal pergelangan tangan Livia. Livia menghentikan langkah kemudian memutar bola mata. Dia menatap malas ke arah Arya yang kini ujung alisnya naik.
"Pak, tolong! Lelaki ini terus menggangguku! Aku merasa terancam!" teriak Livia ketika ada seorang petugas keamanan yang berjalan di dekat mereka.
"Nggak, Pak! Dia bohong! Saya suaminya!" teriak Arya.
"Nggak, Pak! Tolong saya! Dia penipu! Saya mau diculik dan dijual ke lelaki kaya yang sudah jompo!" Kali ini Livia mengeluarkan air mata sambil menangis histeris.
"Mana ada, dia bohong, Pak!" teriak Arya sambil menunjuk Livia.
"Pak Bonang tahu saya, kan? Saya selalu pulang dan pergi sendirian! Saya ini perawan tua, Pak! Saya masih belum memiliki suami!" Livia terus berakting untuk meyakinkan petugas keamanan.
"Pak, tolong jangan buat keributan di sini! Anda sudah mengganggu salah satu penghuni apartemen ini. Bu Livia merasa terancam dan tidak nyaman atas kehadiran Anda. Jadi, saya mohon keluar dari sini," pinta Bondan dengan nada bicara sehalus mungkin.
"Pak, Anda jangan mudah diakali oleh Livia! Dia itu tukang bual! Dia ...." Arya terus menuding Livia sambil berteriak sehingga menimbulkan kegaduhan di tempat itu.
"Pak, lihat dia! Bapak petugas keamanan, pasti paham mana yang benar dan salah! Semakin orang lain disalahkan, dia akan semakin panik dan memutar balikkan fakta!" seru Livia di antara isak tangis.
"Saya mohon Bapak kooperatif sebelum saya menggunakan cara kasar!" ancam Bondan.