Livia terkesima melihat pahatan Tuhan pada wajah lelaki tersebut. Alis tebal dengan hidung mancung. Bibir tipisnya pun tampak menggoda. Melihat Livia terus melongo membuat lelaki tersebut berdeham.
Mendadak kesadaran Livia pulih. Dia mengerjap beberapa kali kemudian berusaha kembali berdiri tegap. Perempuan tersebut memukul kepalanya sendiri ketika bayangan Arya kembali terlintas di benaknya.
"Maaf, Pak. Saya buru-buru dan tidak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf!" Livia terus menunduk berulang kali.
Namun, Livia tidak mendapatkan respons dari lelaki di hadapannya itu. Justru pria matang yang memiliki wajah sangat tampan itu kembali mengayunkan langkah dan keluar dari lobi. Livia menggerutu kesal.
Setelah tubuh tegap lelaki tersebut menghilang di balik pintu, Livia kembali melanjutkan niatnya untuk menemui sang suami. Perempuan itu langsung menekan tombol berangka 4, karena lantai itu merupakan tempat sang suami bekerja. Suara deru mesin lift memecah kesunyian malam itu.
Ketika pintu terbuka, terlihat lorong sepi dengan pencahayaan remang-remang di hadapan Livia. Tidak ada tanda aktifitas di lantai tersebut. Akan tetapi, Livia nekat mengayunkan langkah demi mencapai kantor sang suami.
"Ya Tuhan, kenapa Mas Arya tetap bekerja sampai larut begini? Semua karyawan tampaknya sudah tidak ada di tempat!" Livia mengamati setiap ruangan dengan sekat-sekat yang ada di sepanjang lantai itu.
Lantai tersebut digunakan untuk kantor divisi keuangan perusahan tempat Arya bekerja. Arya merupakan manager keuangan yang khusus mengatur cashflow perusahaan. Dia mendapatkan kepercayaan untuk mengelola keuangan setelah bekerja di sana secara loyal dan jujur selama tujuh tahun terakhir.
Livia menghentikan langkah ketika sampai di depan pintu kantor Arya. Pintu di hadapannya sedikit terbuka sehingga cahaya dari ruangan tersebut keluar melalui celah sempitnya. Livia tersenyum lebar ketika membayangkan betapa bahagianya Arya saat mendapat kejutan darinya.
Livia mengeluarkan kue kecil yang sudah dia siapkan sejak tadi sore. Perempuan itu memasang lilin di atasnya, kemudian menyalakan benda tersebut menggunakan korek api. Satu tangan Livia menyangga kue, dan satunya lagi bersiap untuk membuka pintu.
"Mmmh, pelan-pelan saja, Sayang."
Suara lirih seorang perempuan kini tertangkap oleh indera pendengaran Livia. Jantungnya berdegup begitu kencang. Pikiran buruk timbul tenggelam dalam benak Livia.
Perempuan cantik tersebut langsung meletakkan kue yang dia bawa ke atas meja sekretaris yang ada di luar ruangan sang suami. Ada sebuah papan nama di sana. Nadira Stevia Cakrabumi, sekretaris dari Arya Prawira. Ingatan tentang aduan sang sahabat yang melihat Arya bermesraan dengan perempuan muda kembali terlintas di benak Livia. Namun, dia menepis semua bayangan buruk itu dan berusaha terus berpikir positif.
Perempuan cantik itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Tangannya sedikit gemetar ketika menggenggam gagang pintu. Perlahan Livia membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara.
"Iya, Sayang. Di sana ... terus ...." Suara parau seorang perempuan kini menyapa pendengaran Livia.
Pencahayaan di ruangan itu kurang terang sehingga membuat Livia kesulitan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Perempuan tersebut akhirnya mengeluarkan ponsel lalu menyalakan kamera tanpa lampu flash. Dia memberbesar layar video ketika merekam untuk memastikan siapa yang berani berbuat tak senonoh di ruangan sang suami.
"Astaga!" seru Livia lirih hampir tak terdengar.
Perempuan tersebut terbelalak ketika mendapati siluet seorang perempuan berambut panjang sedang duduk di atas meja kerja Arya. Kepala gadis itu sesekali mendongak sambil mendesis layaknya ular berbisa yang tengah mencari mangsa. Kenyataan yang lebih menyakitkan adalah saat dia melihat wajah Arya sesekali terlihat sedang jongkok di bawah meja.
Livia enggan menyaksikan tontonan tak bermoral itu lebih lama. Dia akhirnya mengumpulkan kekuatan dan memilih untuk balik kanan. Dia kembali menutup pintu ruangan itu secara perlahan.
Satu langkah, dua langkah, dan di langkah ketiga tubuh mungil Livia ambruk ke atas lantai. Dadanya terasa begitu sesak, tetapi air mata enggan keluar dari sana. Dia terus memukul d**a berharap sesak yang mengimpit sirna.
"Mas Arya, kamu tega!" seru Livia dengan suara lirih.
Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Namun, dia tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Livia harus segera bangkit dan pulang.
"Air mataku terlalu berharga untuk ditumpahkan!" Livia mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian mengumpulkan kekuatannya untuk sekedar berdiri.
Livia meniup lilin yang ada di atas kue, kemudian membungkusnya lagi dengan rapi. Dia berusaha untuk menguatkan diri sendiri. Livia akhirnya meninggalkan kantor itu dengan langkah gontai.
Fokus Livia terbelah ketika mengendarai mobil. Sepanjang perjalanan pulang dia lebih banyak melamun. Beberapa kali dia hampir saja menabrak kendaraan yang melaju di depannya atau keluar dari marka jalan.
Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah truk besar sudah melaju tepat di depan mobil Livia. Tanpa Livia sadari, dia sudah mengendarai mobil hingga melanggar garis tengah jalan. Beruntungnya sebuah mobil di belakang Livia dengan sengaja berjalan mengiringi mobilnya di sisi kanan lalu menabrakkan badan kuda besi tersebut.
"Minggir!" teriak seseorang dari dalam mobil.
Livia akhirnya berhasil menepikan mobil dengan tangan gemetar. Dia mematikan mesin mobil kemudian menunduk di atas roda kemudi. Dia tetap saja menangis meski terus berusaha untuk kuat.
Livia merasa perjuangan selama lima tahun mendampingi Arya dari nol seakan sia-sia. Dia merasa sang suami tidak lagi menginginkannya. Rasa cinta yang dia pupuk selama lima tahun terakhir mendadak hancur karena hadirnya orang baru yang menyusup ke dalam rumah tangganya dengan Arya.
"Buka pintunya!" Samar terdengar suara seseorang di antara ketukan pada kaca jendela mobil Livia.
Livia menurunkan kaca mobilnya, lantas menoleh ke arah lelaki yang kini berdiri samping mobilnya. Tubuh Livia yang masih gemetar dan lemas membuatnya harus menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Tak lama berselang, pintu samping kanannya diketuk. Lagi-lagi Livia menurunkan kaca. Laki-laki yang dia temui tadi di kantor sang suami memaksa Livia untuk membuka pintu mobilnya.
"Perampok!" teriak Livia.
"Perampok? Untuk apa aku merampok mobil jelekmu ini? Sementara aku memiliki super car harga puluhan milyar?" Lelaki tampan tersebut menaikkan satu alisnya sambil tersenyum miring.
Sontak Livia melirik spion mobil. Benar saja sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna black diamond ada di sisi kanan mobilnya, tetapai agak sedikit ke belakang. Badan mobil tersebut tergores akibat berusaha menghentikan laju mobil Livia agar tidak tertabrak truk.
"Pak, saya tidak memiliki uang untuk memperbaiki body mobil Anda." Livia mengembuskan napas kasar kemudian bahunya merosot.
Trauma akibat hampir celaka ditambah melihat kondisi mobil orang yang menyelamatkannya, membuat Livia semakin lemas dan kehilangan kekuatan. Lelaki itu kembali mendesak Livia agar geser dari kursi kemudi. Akhirnya mau tak mau perempuan tersebut melepas sabuk pengamannya dan duduk bergeser ke kursi penumpang yang ada di sisi kiri.
"Saya akan mengikuti Anda dari belakang, Pak!"
"Baik, Ton. Perempuan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ah, perkenalkan. Saya Reza Cakrabumi."
Mendengar nama itu membuat mata Livia terbelalak seakan hendak copot. Tubuhnya semakin lemas bagai tak bertulang. Bagaimana tidak, pria yang ada di hadapannya itu ternyata pemilik perusahaan tempat Arya bekerja.
Melihat ekspresi perempuan di sampingnya membuat Reza terkekeh. "Tenang, aku tidak akan meminta ganti rugi atas lecetnya mobilku. Aku hanya ingin imbalan karena aku sudah menyelamatkanmu." Reza mulai melajukan mobil dan membelah jalanan kota Jakarta yang tak pernah sepi itu.
"Saya tidak memiliki banyak harta seperti Anda, Pak. Bapak pengusaha yang bergerak di bidang teknologi nomor satu di kota ini. Harta saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang Bapak miliki. Jika meminta imbalan berupa uang atau aset, saya tidak punya, Pak." Livia tersenyum kecut sambil menatap sendu Reza yang masih terus fokus dengan jalanan di hadapannya.
"Kalau begitu, beri aku imbalan yang lain!" seru Reza sambil tersenyum penuh arti.