Bab 3. Bau Pelakor

1117 Words
Livia langsung menyilangkan lengan di depan d**a. Dia melotot sambil menatap lelaki di hadapannya itu penuh curiga. Reza pun terkekeh. "Apa yang ada di benakmu? Temani aku bersantai saja. Makan mi sambil minum es. Mau?" Livia mengerjap beberapa kali. Dia masih kesulitan mencerna apa yang diinginkan oleh lelaki tampan di sampingnya itu. Lagi-lagi Reza terkekeh saat melihat ekspresi Livia. "Hari ini hari kematian istriku. Dia mengalami kecelakaan tunggal saat kami bertengkar melalui sambungan telepon. Setelahnya, aku sangat menyesal." Reza terus menatap lurus ke depan sambil tersenyum kecut. Livia merasakan kesedihan kini menghinggapi hati lelaki tersebut. Terdengar dari suaranya yang sedikit bergetar, serta tatapan mata yang terlihat sendu. Akhirnya Livia mengembuskan napas kasar. "Baiklah, aku juga merasa sedang butuh hiburan. Ini hari yang sangat berat bagiku." Livia tersenyum kecut dengan tatapan menerawang lurus ke depan. "Aku tahu, berat, ya? Sampai mau bunuh diri?" Reza tersenyum miring sambil melirik perempuan di sampingnya itu. Livia menunduk menatap ujung kakinya. Bayangan bagaimana Arya dan Nadira b******u kembali terlintas. Hati Livia terasa seperti diremas dan dadanya negitu sesak. Reza akhirnya memilih untuk diam. Dia sudah lama tidak dekat dengan wanita mana pun kecuali putri semata wayangnya. Jadi, lelaki itu seakan lupa cara memperbaiki perasaan wanita yang sedang patah hati. "Yuk, makan dulu. Nangisnya lanjut nanti saja. Nangis juga butuh tenaga, bukan?" Reza menepikan mobilnya kemudian melirik Livia yang sudah berderai air mata. Livia mendongak, lalu mengusap air mata. Keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke sebuah warung. Mereka langsung memesan mi serta minuman. Setelah itu mereka duduk di bangku yang ada di sudut ruangan. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua. Livia terus melamun menatap kosong udara di depannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata perempuan itu sehingga membuat pandangannya kabur. "Kalau sedih, nangis saja. Nggak usah ditahan-tahan. Wajar kok, manusia sedih dan meluapkan perasaan sedihnya. Walau tidak menyelesaikan masalah, terkadang menangis bisa sedikit meringankan rasa sesak dalam d**a," ucap Reza saat melihat mata Livia yang mulai berkaca-kaca. Pertahanan Livia langsung runtuh seketika. Air matanya kini mengalir deras membasahi wajah. Hatinya berteriak, tetapi bibir Livia tetap bungkam menahan sesak yang seakan berhenti di kerongkongan. Reza mulai menggerakkan tangannya berniat menepuk punggung Livia, agar perempuan tersebut sedikit lebih tenang. Namun, dia tidak mampu karena mereka hanya dua orang asing yang baru saja mengenal nama. Akhirnya tangan Reza hanya menggantung di udara selama beberapa detik dan berakhir dengan menariknya dan kembali ke posisi semula. "Sudah nangisnya? Minum dulu, nih!" Reza menyodorkan segelas es teh yang sudah datang sejak tadi, ketika Livia sedang tenggelam dalam tangis. "Sebenarnya ini aib, Pak. Aku malu untuk menceritakannya." Livia tersenyum kecut, lalu menyedot es dalam gelasnya. "Anggap saja setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Ah, kalau tidak, anggap saja aku hanyalah kucing jalanan yang sedang kamu beri makan untuk diajak curhat." Reza tersenyum lebar sehingga menampilkan deretan gigi putihnya. Meong! Seakan ada suara kucing yang kini menggema di kepala Livia usai Reza mengucapkan kalimat tersebut. Dia akhirnya menceritakan semua yang terjadi, tetapi tetap menutup identitas suaminya serta Nadira dari Reza. Livia berbicara dengan derai air mata dan suara yang terbata-bata di antara isak tangis. "Kalau memang suami kamu hanya bisa menyakiti kamu, ceraikan saja dia! Tapi, kalau kamu belum siap menceraikannya, balas rasa sakitmu itu." "Membalasnya? Dengan cara apa, Pak?" "Selingkuhi dia! Jangan tunggu Tuhan bekerja dengan karma-Nya. Kalau kamu bisa membalasnya sendiri, kenapa harus merepotkan Tuhan?" Livia yang sejak tadi menangis pun seketika menghentikan paksa tangisannya. Entah kenapa, perkataan Reza seolah membuatnya jadi lebih kuat. "Benar juga. Aku nggak boleh lemah! Lihat aja, Mas! Aku pasti akan membalasmu! Jangan salahkan aku selingkuh." Setelah bermonolog sendiri, Livia kembali menatap Reza. Perempuan itu mulai mengulas senyum, walau tampak singkat di mata Reza. "Terima kasih atas saran Anda, Pak." Livia akhirnya diantar pulang oleh Reza. Reza keluar dari mobil Livia ketika berhenti di depan rumah perempuan tersebut. Setelah itu, Livia kembali ke kursi kemudi dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Perempuan itu mengambil kotak kue yang ada di kursi penumpang bagian belakang sambil tersenyum kecut. Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia memutuskan untuk tetap merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Arya, karena hari ini akan jadi momen terakhir kali bagi mereka. Livia merogoh tas kemudian memasukkan anak kunci ke lubangnya. Begitu melangkah masuk ke ruang tamu, tiba-tiba lampu menyala. Arya berjalan dari arah tangga sambil membawa sepotong kue coklat kesukaan Livia dengan satu lilin kecil menancap di atasnya. "Selamat hari pernikahan yang ke-lima, Sayang!" seru Arya. Seharusnya momen ini membuat Livia terharu dan bahagia. Akan tetapi, dia justru merasakan hal sebaliknya. Kejutan yang diberikan oleh Arya terasa begitu hambar di hati Livia. Hati Livia seakan sudah mati. Tak ada perasaan apa pun yang membuat jantungnya berdegup kencang seperti biasa ketika melihat Arya. Orang yang ada di hadapannya ini memang sama, tetapi perasaan terhadap Arya sudah berubah. Livia akhirnya melangkah mendekati Arya. Dia berusaha tersenyum lebar, meski rahangnya terasa kaku. Perempuan tersebut mulai memejamkan mata dan meniup lilin yang menyala. "Terima kasih," ucap Livia tanpa senyum. Livia mengangkat lengan menunjukkan kotak kue yang sudah dia bawa ke sana kemari sejak tadi. Arya tersenyum lebar, kemudian memeluk tubuh Livia. Sebenarnya perempuan itu merasa jijik disentuh oleh Arya. Livia merasa ketika jemari sang suami sudah menyentuh perempuan lain, akan meninggalkan jejak noda di tubuhnya ketika Arya membelai dengan tangan yang sama. Akan tetapi, Livia berusaha menahan semua itu. Mereka berjalan beriringan ke ruang makan. Livia meletakkan kue yang dia bawa ke atas meja makan, begitu juga dengan Arya. Livia membuka tudung saji, sehingga beraneka macam hidangan yang tadi dia masak membuat pupil mata Arya melebar. "Kamu siapkan semua ini, Sayang?" tanya Arya sambil tersenyum lebar. "Iya, ayo, makan!" seru Livia kemudian menarik kursi dan mendaratkan b****g ke atasnya. Kebiasaan buruk Livia ketika sedang marah kambuh. Dia makan dalam porsi banyak. Perempuan tersebut tidak lagi memikirkan lambungnya yang bisa saja pecah karena terlalu banyak makan. Arya terlihat khawatir ketika Livia terus mengunyah dengan rakus tanpa jeda. Akhirnya lelaki itu menarik piring Livia yang masih penuh dengan makanan. "Stop it, Via!" teriak Arya. "Kamu kenapa, sih? Ada masalah apa?" tanya Arya sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Livia. Akan tetapi, Livia lagi-lagi menghindar. Dia beranjak dari kursi kemudian membereskan meja makan. Arya terus mengekor di belakang Livia berusaha membantu sang istri. Namun, niat baik Arya tidak digubris oleh Livia. Dia terus menolak bantuan dan tidak bicara sepatah kata pun. Setelah selesai, Livia langsung berjalan ke arah anak tangga untuk masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, Livia mengambil baju ganti serta handuk. Saat hendak membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba Arya memeluknya dari belakang. Lelaki tersebut mengecup leher Livia dengan tangan yang mulai bergerilya. "Lepas, Mas. Aku mau mandi! Atau kamu duluan aja yang mandi? Kamu bau pelakor!" seru Livia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD